
Jakarta, sehari sebelum tahun baru.
"Bagaimana keadaan nya disana ?" tanya Erik yang sedang berbincang dengan salah satu anak buahnya yang dia tugaskan untuk menjaga Mira di Bali.
Erik terpaksa tak bisa menyusul kekasih nya cepat cepat karena diaa ngin semua urusannya tentang Citra dan Jemi sudah selesai di Jakarta, jadi dia tidak membawa sisa masalah apapun saat bertemu dengan Mira.
"Bagaimana keadaan Jemi ?" tanya Roni yang kondisinya semakin membaik, laki laki itu merasa sedikit aneh ketika mengetahui ada Erik di ruang rawat anaknya.
"Jemi sudah baik baik saja, sayang !" jawab Citra.
"Oh iya, Erik sengaja datang menengok anak kita !" lanjut Citra saat menyadari kalau Roni sepertinya merasa tak suka dengan kehadiran Erik yang fia lihat beberapa kali di rumah sakit.
"Kenapa menjenguk kok, rasanya aku hampir setiap saat melihatnya ada di sini !?" sinis Roni.
"Itu karena aku---" belum selesai Erik berbicara, Citra sudah memotong pembicaraan nya dengan cepat.
"Itu karena Erik memang juga sedang ada keperluan di rumah sakit ini, jadi kebetulan sering mampir," sambar Citra berbohong.
Erik menatapnya tajam, matanya seakan meminta penjelasan dari wanita yang tengah membuatnya semakin amerasa bingung itu.
"Ah, Erik,,, bukannya kamu ada pertemuan penting di kantor ? Sudah ada Roni yang menemani ku, kamu bisa pergi sekarang !" ucap Citra setengah mengusir.
"Kau mengusir ku !" ujar Erik membelalak tak percaya.
Namun dengan secepat kilat Citra menarik Erik ke luar ruangan dengan paksa
"Tolonglah, jangan bicara apapun pada Roni tentang masalah Jemi, aku mohon !" pinta Citra.
"Apa maksud mu ? Kau akan tetap membiarkan suami mu menganggap anak ku sebagai anaknya ?" wajah Erik memerah menahan buncahan amarah di dadanya.
"Tolonglah,,, aku sangat mencintai nya, aku tak ingin dia meninggalkan ku jika sampai tau tentang kebenaran ini," sungguh kata kata Citra itu bak menabur garam di luka hati Erik, rasanya sangat perih tak terkira.
__ADS_1
"Lalu untuk apa kau memberi tahu tentang kebenaran ini pada ku ? Apa kau se yakin itu aku tak akan mengatakannya pada suami mu ? Apa kau yakin aku tak akan berusaha mengambil anak ku dari mu ?" ucap Erik setengah mengancam.
"Aku yakin kau tak akan mampu melakukan itu semua, karena aku tau kalau kau sangat mencintai ku dan tak mungkin tega membiarkan aku terluka !" tantang Citra dengan penuh keyakinan.
"Cih, kau terlalu percaya diri !" decih Erik sinis.
Erik pergi meninggalkan Citra yang seperti terlihat kaget karena untuk pertama kalinya Erik bersikap seperti itu padanya.
Entah apa maksud Citra mengatakan tentang kebenaran status anaknya pada Erik, namun dia menutupi kebenaran itu dari Roni, yang jelas Erik tak ingin lagi terhanyut pada pusaran permainan yang sedang Citra ciptakan saat ini, dia juga tak ingin gegabah menghadapi Citra yang di nilainya semakin licik, Erik yakin kalau Citra mempunyai motif lain di balik aksi jujur dan tes DNA secara diam diam tanpa seijin dirinya itu.
Tapi Erik tak akan terjebak dengan permainan Citra, dia sudah tau langkah apa yang harus di ambil nya, dia hanya perlu bertemu Mira dengan saat ini, menceritakan semua yang terjadi danvmenyerahkan pada nasib Tuhan, apa Mira mau menerima dirinya kembali atau mundur dari hubungan yang sudah mereka jalain selama ini, Erik sudah sangat siap dengan semua kemungkinan yang akan dia terima, yang terpenting dirinya menceritakan semuanya dengan gamblang tanpa menutupi satu hal apapun lagi pada kekasihnya itu.
Cukup sudah kemarin dia melakukan kebodohan yang pasti itu akan dia sesali di sepanjang hidupnya, karena dengan bodohnya dia membohongi Mira yang mengakibatkan dirinya di tinggalkan oleh gadis kesayangannya itu.
***
Pukul 7 malam Erik sudah berada di pulau dewata menyusul Mira, dia langsung menuju hotel yang sudah di pesan anak buahnya.
"Nona belum keluar dari penginapan lagi setelah tadi keluar sebentar hanya untuk mencari makan," jawab salah satu anak buahnya.
"Kerja bagus, awasi terus jangan sampai lengah !" titah Erik bergegas menuju kamar yang sudah di persiapkan untuknya.
Badannya terasa lelah, dia inginmembersihkan diri dan beristirahat sebentar saja, namun tepat pukul setengah sebelas malam anak buahnya mengabari kalau Mira menuju sebuah klub malam.
Erik bersiap diri lalu segera menuju klub malam yang di sebutkan anak buahnya tadi,
Bagai mencari jarum di tumpukan jerami, suasana ramai dan riuh klub itu mbuat Erik merasa sedikit kesulitan mencari keberadaan Mira, terlebih dia sudah menyuruh para anak buahnya untuk menemui Mira sendirian dan membiarkan para anak buahnya untuk menikmati acara pergantian tahun mereka sendiri.
Erik memutar lehernya, menajamkan penglihatannya di ruangan yang berisik dengan lampu temaram itu, saat dirinya sedang sibuk mencari cari keberadaan Mira, tak sengaja matanya menangkap sosok perempuan yang berjalan setengah sempoyongan dengan sebotol minuman di tangannya di temani seorang pria menuju pintu keluar.
Erik menajamkan penglihatannya dari kejauhan, dan seperti ada kontak batik dalam dirinya, tiba tiba hatinya berkata untuk mengikuti kemana langkah gadis itu pergi.
__ADS_1
"Aku belum mabuk, aku tidak mabuk, wajahnya masih ada di sini, di sini, dan di sini, aku masih saja terus mengingat nya, mengingat pria yang mungkin sudah melupakan dan mencampakan ku itu !" terlihat Mira sedang meracau sambil menunjuk mata, kepala dan dada nya secara bergantian.
Erik menarik bibirnya hingga membentuk garis melengkung mendengar penyataan Mira dari kejauhan, konon katanya perkataan orang mabuk itu perkataan yang paling jujur, karena apa yang di rasakannya langsung di ungkapkan tanpa filter apapun.
"Lepaskan dia !" seru Erik saat Niko hendak mengangkat tubuh Mira yang hampir tak sadarkan diri akibat efek minumannya.
Niko berbalik ke arah Erik, dia sedikit terkejut mendapati kekasih gadis yang bersamanya itu ternyata berada di tempat yang sama dengan mereka saat ini.
Dengan sikap yang gentleman Niko menyerahkan Mira, dia tak ingin mempunyai masalah di kemudian hari dengan seorang Erik Wijaya, apalagi dirinya baru saja terjun di dunia bisnis yang nota bene merupakan dunia kekuasaan Erik, jika dirinya sampai ada masalah dengan Erik, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan masalah juga pada bisnis dirinya dan mungkin juga termasuk bisnis ayah nya.
Lagi pula, Erik merupakan kekasih Mira, jadi tak ada salahnya menyerahkan Mira padanya, karena nyatanya memang Erik lebih berhak atas Mira di banding dirinya yang tak ada hubungan apa apa dengan gadis itu.
"Kau apakan dia ? Kenapa dia jadi seperti ini ? Kau memberi sesuatu di minumannya, kan ?" tuduh Erik, karena setahu dirinya kekasihnya itu sangat kuat dalam hal minum alkohol.
"Tidak pak, dia hanya terlalu banyak minum, dan saya hanya wberusaha menolong saja !" elak Niko.
"Pak ?!!!" beo Erik tak terima karena Niko memanggil nya dengan sebutan pak.
"Maaf, saya tidak tau harus memanggil anda dengan sebutan apa !" Niko beralasan, padahal dalam hatinya dia tertawa sangat puas karena berhasil mengejek seorang pengusaha sekelas Erik Wijaya yang seakan tak tersentuh itu.
"Ckk,,, pergi sana, kau sudah tak di butuhkan di sini, aku akan mengurus calon istri ku sendiri !" usir Erik seraya mengibaskan tangannya agar Niko segera enyah dari hadapannya.
Erik membopong tubuh keksihnya yang setengah sadar namun sudah tak bisa menopang tubuhnya sendiri itu.
Sementara Niko hanya bisa menonton adegan romantis sepasang kekasih yang sebenarnya sangat tak ingin di lihatnya itu, dia merasa tak suka melihat Mira bersama Erik, hatinya tiba tiba terasa begitu kesal, namun sayangnya saat ini dia tak bisa melakukan apapun selain terima kenyataan.
Niko terus memandangi pasangan itu sampai mereka menjauh dan tak terlihat lagi karena di telan kegelapan malam.
"Kau nakal, bisa bisanya mabuk dengan pria lain sampai seperti ini, bagaimana kalau kau bertemu pria jahat dan memanfaatkan kondisi mu yang sedang seperti ini ?!" omel Erik, meskipun dia yakin kekasihnya itu tak akan mendengar dan mengingat apapun yang dia katakan saat ini.
Erik merebahkan tubuh kekasihnya itu di kasur king size nya, kemudian dengan telaten pria itu membuka satu persatu baju yang melekat di tubuh kekasihnya, baju itu sudah penuh dengan muntahan Mira, tanpa rasa jijik sedikit pun Erik menyeka tubuh Mira yang hanya menyisakan pakaian bagian dalam atas dan bawahnya saja.
__ADS_1
Pria dewasa itu terus saja mengumpat dalam hatinya, "Sial, mengapa kamu sungguh menggairahkan, andai saja kamu tidak mabuk, tak akan ku biarkan kamu beristirahat semenit pun sampai pagi !" gerutu Erik menahan gelora kelelakiannya yang sejak tadi meronta ronta karena melihat tubuh mulus Mira.