Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Resiko Mencintai Duda


__ADS_3

Citra memberengut kesal, dengan wajah yang di tekuk dia meraih Jemi yang terbangun dan menangis, mungkin karena mendengar kegaduhan yang terjadi antara ibunya dan Erik tadi, sehingga mengganggu tidur lelapnya.


Mang Jaja dan Yanti sudah bersiap memasukan kembali dua buah koper yang tadi di turunkan dari mobil Citra, namun kedua orang itu merasa tak enak hati mengusir mantan nyonya tumahnya itu.


"Ma- maaf nyonya, tuan bilang anda harus segera---" Mang Jaja tak tega untuk melanjutkan kalimatnya.


"Apa kalian tak punya hati sedikitpun, kalian tak bisa lihat, anak ku menangis dan harus minum ? Aku hanya akan menyusui anak ku sebentar, serelah ini aku pastikan aku akan pergi dengan segera !" ketus Citra.


Mang Jaja dan Yanti saling berpandangan dan saling meminta pendapat dengan bahasa isyarat matanya masing masing.


"Baik lah nyonya, kami akan memberikan anda waktu untuk menyusui anak anda," Yanti akhirnya angkat bicara dan mengalah, hatinya tak tega bila itu menyangkut tentang bayi tak berdosa, meski dirinya belum di karuniai anak oleh yang kuasa, tapi jiwa ke ibuannya sangatlah kuat, apalagi secara tidak sengaja tadi dirinya mendengar persebatan tuannya dan mantan istrinya yang menyebutkan kalau bayi itu adalah darah daging dari tuannya, meskipun itu menjadi tanda tanya besar di benaknya, tapi sepertinya dia tak akan pernah punya nyali untuk menanyakan tentang kebenaran itu pada tuannya ataupun pada mantan nyonya nya


"Apa calon istri Erik tidak pernah protes, dengan foto foto ku bersama Erik yang masih banyak bertebaran di rumah ini ?" tanya Citra di sela dirinya memberikan dot berisi susu pada Jemi yang kini berada di dekapannya.


"Nona Mira, maksud anda ?" tanya Yanti memastikan.


"Ya, dia. Memangnya ada calon istri Erik yang lain selain wanita itu ?" sinis Citra.


"Maaf, setahu saya hanya nona Mira saja yang dekat dengan tuan, dan nona Mira sepertinya tidak pernah protes dengan hal itu, lagi pula nona yanya baru pernah dua kali ini ke rumah ini," terang Yanti.


"Dua kali ? Hanya baru pernah dua kali ke sini ?!" teriak Citra tak percaya, di pikirnya Mira sudah satu atap di rumah itu, atau paling tidak sering berkunjung menemui Erik di sana.


"Apa pacar tuan mu itu tak pernah mengunjungi mantan suami ku di sini ? Pacaran macam apa itu ? Malah koar koar mau menikah segala rupa, !" sinis Citra, dengan nada mengejek.


"Maaf, tapi tuan tidak sudah lama tidak tinggal di sini, semenjak berpisah dari anda, tuan tinggal di apartemen," terang Yanti.

__ADS_1


"Cih, apartemen studio yang sempit itu ?" ejek Citra karena dulu dia sempat tau kalau Erik punya apartemen dekat kantornya untuk sekali kali di tempati jika Erik sedang ingin menyendiri.


"Bukan apartemen itu, tuan sudah pindah ke apartemen yang lebih besar karena tinggal bersama nona Mira !" Yanti sengaja memanas manasi Citra, dirinya cukup di buat kesal dengan tingkah mantan istri tuan nya itu yang sombong dan terkesan selalu merendahkan orang lain itu.


"Me- mereka tinggal bersama ?" beo Citra.


Pantas saja foto foto dirinya dan barang barang di rumah ini masih di biarkan sama seperti saat dirinya masih menjadi nyonya di rumah itu, ternyata alasannya karena Erik memang sudah tak pernah lagi mengunjungi rumah itu, bukan karena Erik masih menyimpan perasaan untuknya.


'Aku yakin Erik masih belum bisa move on dari aku, aku sangat mengenalnya, cintanya pada ku itu sangat dalam, tak mungkin bila dia beralih dan menggantikan aku di hatinya dengan perempuan lain yang jelas jelas jauh di bawah kecantikan ku !' ucapnya dalam hati.


Sementara mang Jaja mulai sibuk menurun nurunkan bingkai foto dari dinding ruangan, dan menyimpannya pada sebuah kardus besar.


"Eh, mau kau apa kan foto foto ku ?" protes Citra saat satu persatu gambar dirinya di masukan ke dalam kardus.


"Saya hanya menjalankan perintah tuan, kalau anda menginginkan foto anda, boleh di ambil !" kata mang Jaja sambil terus melakukan tugas yang di berikan Erik tanpa terganggu sedikit pun.


***


Mira memang terlihat lebih banyak diam semenjak tadi di rumah lama Erik, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya.


"Ah, tidak ! Aku hanya sedikit berpikir, kenapa kamu tak mengijinkan mereka tinggal di rumah itu untuk beberapa hari saja, kalau bukan untuk mba Citra, setidakknya untuk Jemi," ucap Mira mengungkapkan rasa penasarannya dengan ragu ragu.


"Kenapa ? Kamu pasti kamu berpikiran kalau aku kejam ya ?" Erik tersenyum misterius.


"Bukan seperti itu, untuk masalah kamu sama mba Citra aku tak ingin ikut campur, tapi aku juga harus mengingatkan kalau kamu tidak boleh kejam dengan anak mu sendiri, aku tak keberatan kamu berbuat baik pada anak mu sendiri, bukan kah kita sudah pernah membicarakan nya, dan aku akan menerima Jemi setulus hati ku," Mira berargumen, sungguh dirinya tak ingin menjadi penghalangan hubungan antara ayah dan anak.

__ADS_1


"Sayang, aku tau kamu gadis yang baik, oleh karena itu aku memilih mu untuk menjadi calon istri ku, percayalah,,, aku pun setulus hati bersedia menerima Jemi, tapi untuk masalah ini, aku tak ingin terlibat di urusan rumah tangga Citra, jangan seolah olah ada masalah, lalu dia menjadikan ku tameng untuknya bersembunyi, aku sudah punya kamu, aku harus menghargai perasaan mu, bagaimana pun aku tak ingin melukai perasaan mu," urai Erik menjelaskan panjang lebar.


"Maaf, sudah menyeret mu dalam permasalahan masa lalu ku !" sesal Erik.


"Resiko, jatuh cinta sama duda !" cengir Mira.


Hatinya kini kembali tenang setelah mendapatkan penjelasan dari Erik, mungkin tadi dia hanya sedikit hawatir dan terlalu banyak ketakutan yang sebenarnya dia ciptakan sendiri di kepalanya.


Erik hanya tersenyum simpul sambil mengeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah gadis yang sebentar lagi di suntingnya itu.


"Bagaimana rencana pernikahan kita, apa aku sudah boleh meminta ijin pada ibu mu dalam waktu dekat ini ?" tanya Erik mengalihkan pembicaraan.


"Emh,,, aku kira sebaiknya tak usah melibatkan ibu ku, selama ini aku hidup bagai seorang anak yatim pintu, toh dia juga sudah membuangku," kata Mira sedikit tercekat, ada rasa nyeri dan sesak menghalangi tenggorokannya saat harus membahas masalah trntang Tita, sang ibu.


"Aku tak ingin memaksa mu, lakukan saja apa yang membuatmu nyaman," Erik mengusap kepala kekasihnya itu, dia sangat paham kalau Mira akan merasa sedih saat membahas ibu nya yang masih ada tapi seakan tak pernah ada di hidup anak gadisnya itu.


"Terimakasih, sudah sangat mengerti aku !"ucap Mira.


***


Citra akhirnya memboyong Jemi ke rumah ibunya, dia tak peduli jika harus mendengar omelan sang ibu yang pasti akan sangat tidak ramah untuk telinganya.


"Kamu minggat ? Atau otak mu sudah kembali ke jalan yang lurus, dan menyadari kalau suami mu yang sekarang initernyata tidak bisa memberikan kebahagiaan pada mu ?" benar saja, suara cempreng Lisa sang ibu sudah terdengar bahkan saat Citra baru saja turun dari mobilnya yang jaraknya cukup jauh dari lisa yang berdiri di ambang pintu rumahnya.


"Bisa gak, gak usah tanya ini itu dulu, aku lagi bete nih !" semprot Citra tak mau kalah dengan suara cempreng ibunya.

__ADS_1


"Anak tak tau diri, kau sudah menyengsarakan hidup ku, gara gara kau bercerai dengan Erik si tambah uang itu, hidup ku gak karu karuan, tak ada lagi jatah bulanan puluhan bahkan ratusan juta yang di kirim dari mantu kesayangan ku itu, mantu yang sekarang boro boro, gak nyakitin anak ku aja sudah bersyukur aku !" Lisa terus saja mengomel seakan kata katanya itu tak ada habisnya.


__ADS_2