
Mira yang pantang menyerah pada sebuah tantangan itu bertekad akan menaklukan hati Erik sekuat tenaga agar laki laki itu bisa melihat dan tertarik padanya, dia juga bersumpah pada dirinya sendiri kalau dia akan membuat Erik move on dari cinta masa lalunya.
"Ponakan lo ganteng juga, ya !" puji Mira saat mengantar Regan menengok bayi abang nya, yaitu Roni di rumahnya.
Regan memang tak serumah dengan Roni, Regan memilih tinggal di rumah peninggalan almarhum kedua orangtua nya, sedangkan Roni, semenjak dia kelas 3 SMU sudah sekolah dan tinggal di luar negeri, karena beasiswa yang di terima nya, sampai dia pulang ke dalam negeri dan mendirikan perusahaannya sendiri,
Roni terbilang sukses menjalankan usaha jasa shipping nya, semua berkat kerja kerasnya yang pantang menyerah, sebenarnya Roni sudah mengajak Regan ikut bergabung bekerja di perusahaannya, namun Regan menolaknya, karena passion nya adalah di dunia bartender, meski dia sendiri kuliah mengambil jurusan bisnis.
"Jeelas lah, om nya aja ganteng banget gini, pasti lah ponakan nya juga ganteng !" jawab Regan sambil membusungkan dadanya sendiri.
"Sstt, bini nya abang lo bekas istrinya bos gw ya ?" bisik Mira di telinga Regan, takut terdengar oleh Roni dan juga Citra yang saat itu berada rak jauh dari mereka.
"Bos lu ?" Regan mengernyitkan dahinya.
"Ishh, om Erik ! Yang sering ke klub !" terang Mira.
"Oh, ternyata bos yang miara lo itu om om itu ? yang tiap hari teler di klub, kok bisa !?" ucap Regan terhenyak, dia memang tau kalau Mira sang sahabat itu sudah bekerja, namun baru tau kalau bos yang memperkerjakan nya itu adalah Erik yang dia kenal sering mabuk mabukan di tempat kerjanya hampir setiap malam.
"Enak aja lo bilang gw piaraan, lo kira gw kucing, di piara !" Mira menoyor kepala sahabatnya yang bermulut lancang itu.
"Sepertinya kita pernah bertemu !" sapa Citra pada Mira.
Mira tersenyum kaku, jujur,,, hatinya agak kesal melihat Citra yang sumringah bahagia dengan keluarga baru nya itu, sementara dia melihat dengan mata kepala nya sendiri kalau hidup Erik hancur dan hatonya terluka akibat perselingkuhan Citra dengan Roni.
Bukannya tak mau ikut berbahagia dengan kebahagiaan Roniv dan Citra atas kelahiran putra pertamanya itu, hanya saja bagi Mira itu sungguh ironi dengan keadaan Erik saat ini yang bahkan masih memuja mantan istrinya setengah mati.
"Ah, iya,,, waktu itu ke butik sama om Erik, terus di rumah sakit juga !" jawab Mira.
"Kamu,,, ?" Citra ingin memastikan hubungan antara Mira dan mantan suaminya itu.
"Aku bekerja di kantor nya, tapi bentar lagi otewe jadi pacarnya !" seloroh Mira serius di balut candaan.
"Eh cumi, lo kan emang simpenan nya dia, dia menjual dirinya 1 em, bang !" adu Regan pada abangnya.
__ADS_1
"Eh itu mulut lemes banget ya, gw cabein tau rasa !" ucap Mira seraya menabok mulut Regan yang sering berkata seenak jidatnya itu.
"Mir ?" tatapan Roni menyalang galak penuh tanya pada gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu.
"Enggak bang ! Aku kerja beneran di sana, sebagai arsitek bang, ni emang mulut si monyet suka nyablak !" tunjuk Mira ke arah Regan yang cengar cengir tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kalian hanya sebatas hubungan kerja ?" Roni memastikan.
"Saat ini iya, tapi bentar lagi jadi hubungan kekasih, do'ain ya bang, mba !" Mira juga melirik ke arah Citra yang yang terlihat serba salah dan ada tatapan tak suka saat mendengar ucapan Mira barusan.
"Kegatelan lu, kaya sekretaris penggoda bos yang di tv !" ejek Regan.
"Bodo amat, bos gue duda, bebas lah mau gw godain kek, gw ciumin kek, habisnya dia ganteng banget sih !" Mira makin sengaja memanas manasi keadaan saat melihat wajah Citra semakin menunjukkan rona tak enak saat mendengarkan celotehannya.
***
"Ini gaji pertama mu !" Erik melemparkan sebuah amplop coklat berisi lembaran uang seratus ribuan yangnlumayan cukup tebal.
Tak terasa sebulan sudah Mira bekerja di perusahaan itu, namun sayangnya dia masih belum bisa menaklukan hati bos dingin dan galaknya itu.
"Ya, terpaksa. Menurut kesepakatan harusnya gak dapet gaji, tapi,,, daripada kau berkoar koar di luaran sana kalau kau hanya kerja bakti di kantor ini tanpa di beri gaji ?" sindir Erik menirukan ucapan Mira yangvdia dengar saat di klub benerapa minggu yang lalu.
"Hehe,,, canda kali bos ! Makasih ya bos, anda memang the best, udah ganteng, baik hati lagi, jadi makin lope aja nih !" godanya yang langsung mendapat pelengosan dari Erik.
Erik seakan sudah sangat terbiasa dan kebal dengan godaan dan rayuan Mira selama ini, dan sampai saat ini hatinya masih belum pernah tergerak untuk merespon tingkah laku dan ucapan Mira, itu semua terasa bagai angin lalu saja bagi nya.
Sudah banyak cara yang Mira coba untuk menaklukan hati bos galak dan dinginnya itu, namun semua tak ada yang berhasil, mulai dari membawakan makanan yang di masaknya tiap hari untuk sarapan sang bos di kantor, menemani makan siang, dan selalu berusaha nebeng saat pulang kantor agar bisa berduaan dengan bos yang Mira juluki sebagai manusia setengah singa itu.
"Mir, dua minggu ke depan kau gantikan posisi Kemal untuk sementara, karena dia harus mengurus proyek di luar kota, kau bisa, kan ?" tanya Erik.
"Bisa, apa sih yang nggak buat bos !" cengir Mira.
"Jangankan menggantikan posisi Kemal, menggantikan posisi dia di hati mu aja aku siap !" cicit Mira lirih.
__ADS_1
"Aku bisa mendengar ucapan mu ! Dan itu tak akan mungkin !" ketus Erik.
Mira memang pandai mempelajari hal apa pun, termasuk dengan menghandle pekerjaan Kemal yang tak semua orang sanggup, karena Erik termasuk bos yang perfeksionis dan susah di tebak keinginannya, Mira dengan lancar dan hanya beberapa kali di briefing Kemal, dia bisa mengatasi pekerjaan itu.
Mira juga menjadi satu satunya karyawan wanita yang bisa berhubungan langsung bahkan di ijinkan berada dekat dengan Erik di antara banyaknya karyawan wanita lainnya yang bekerja di perusahaan itu.
Tentu saja hal itu kadang membuat karyawati lain merasa iri dengan Mira yang di kenal sebagai orang baru yang langsung bisa mendapat kepercayaan dari bos dingin mereka.
Siang ini Mira memutuskan untuk makan siang sendiri di kantin kantor, karena Erik sedang tidak ingin makan siang, laki laki itu akan melupakan semua hal bila sedang serius mengerjakan suatu pekerjaan yang menurutnya sangat menyenangkan itu.
Melakukan pekerjaan yang merupakan hoby kita itu memang memberikan keasikannya tersendiri yang orang lain tak akan mengerti.
Dua orang karyawan wanita yang tengah menikmati makan siangnya di kantin saling berbisik saat Mira mulai memasuki pintu kantin yang lumayan ramai siang itu.
Mira sudah biasa mendapat pandangan permusuhan dari para karyawan wanita di sana, tapi bukan Mira namanya kalau dia tak bisa cuek dalam menghadapi semua itu.
"Mir, duduk sini !" ucap seorang karyawan pria yang melihqt Mira celingak celinguk memcari tempat duduk kosong sambil membawa piring berisi makanan di tangannya.
"Oh, terimakasih !" ucap Mira tersenyum, lalu duduk di samping pria itu.
"Kamu gak kenal aku Mir ?" tanya lakinlaki itu.
Mira menggelengkan kepalanya ragu, sambil memperhatikan wajah lawan bicaranya,
'Lumayan tampan, meski tak setampan Erik !' gumamnya dalam hati.
"Aku Arman, senior mu saat di kampus," laki laki bernama Arman itu menyodorkan tangannya memperkenalkan diri.
"Ah, pantas saja, wajah kakak agak familiar, maaf tak mengenali tadi !" ucap Mira merasa tak enak hati.
"Tak apa, santai saja, aku gak nyangka kita bakal kerja satu kantor, tapi posisimu sudah jauh di atas ku sepertinya !" ucap Arman.
"Wah, kakak terlalu merendah, aku hanya kerja kontrak di sini kak, hanya menangani satu proyek bos yang tak sempat beliau pegang karena sibuk, setelah itu tak tau gimana nasib ku !" ucap Mira santai di selingi tawa renyah di sela makan siangnya.
__ADS_1
Obrolan mereka mengalir begitu saja, mulai dari bercerita tentang kampus, pekerjaan sampai tanpa di sadari sepasang mata memperhatikan dan menatap kebersamaan mereka dengan tatapan tidak suka.