
Sudah seminggu lamanya Citra dan Jemi tinggal di rumah Lisa sang ibu, tapi tak ada tanda tanda sedikit pun Roni berusaha mencarinya, apalagi datang menjemputnya, laki laki itu seperti tak kehilangan apa pun dalam hidupnya, meski dia di tinggalkan oleh anak dan istrinya, untuk sekedar menelpon atau berkirim pesan pun tidak sama sekali dia lakukan.
"Suami mu itu sepertinya sudah gila, masa dia tak pernah mencari atau menanyakan dimana keberadaan mu dan anaknya !" pagi pagi sekali Lisa sudah memulai pidato nya.
Citra yang masih ngantuk akibat tak tidur karena mengurus Jemi semalaman yang rewel karena sedikit demam, hanya bisa menghela napas panjang, dan kembali memejamkan matanya, meski telinganya terasa penging dengan omelan Lisa di pagi pagi buta itu.
"Sudah lah bu, Jemi baru saja tidur, aku juga belum sempat memejamkan mata karena semalaman dia rewel, tolong berhenti berteriak teriak, kepalaku rasanya mau pecah !" lawan Citra, berusaha membuat ibunya itu terdiam.
"Dasar anak durhaka, berani beraninya meninggikan suara mu pada ku, lihat,,, siapa yang menampung mu saat kau dalam keadaan terpuruk seperti ini ? Tetap saja kau kembali pada ibu mu, kan ?!" gerutu Lisa.
"Bu !" teriak Citra, dia sampai tak tau harus berkata apa lagi untuk membuat ibunya itu diam dan tak terus mengomel padanya.
"Aku tak akan berhenti mengomeli mu sebelum kau kembali mendapatkan Erik kembali ke pelukan mu, awas saja kalau sampai tambang uang ku itu jadi menikahi wanita lain, kau tak akan pernah lagi ku ijinkan untuk menginjakan kaki mu lagi di sini !" ancam Lisa yang sudah mendengar gosip tentang rencana pernikahan Erik sang mantan menantunya itu.
"Maka bantu aku untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka, jangan bisanya hanya mengomel tak jelas !" tantang Citra yang otaknya terasa semakin kusut karena terlalu banyak masalah yang dia tampung di sana.
"Kau ? Kau juga mengharapkan pernikahan mereka tak terlaksana dan Erik kembali pada mu ?" Lisa menyeringai senang.
"Tak usah banyak tanya, bantu aku kalau ibu ingin mendapatkan kembali sumber uang mu," Citra akhirnya menyerah, dia merasa kalau ternyata cinta nya pada Roni mungkin hanya napsu sesaatnya, godaan dari sebuah perkawinan.
Semalaman Citra menimbang nimbang dan memikirkan, sepertinya dia memang masih mencintai Erik, dan tak rela jika mantan suaminya berpaling pada perempuan lain, tak peeduli dia akan di katakan menjadi sangat serakah atau apapun, tapi memang itu yang dia rasakan, dia belum siap melihat Erik bersanding bersama wanita lain.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan anak itu, apa Erik bisa menerimanya ? Atau kau serahkan saja anak itu pada si Roni agar merawatnya !" Lisa menunjuk Jemi, cucunya yang sedang terlelap di kasur dengan tenangnya.
Entah apa yang ada di pikiran Lisa sampai dia tidak peduli pada cucunya sendiri hanya demi kesenangan pribadinya, hanya demi uang diarela menyerahkan cucunya sendiri pada Roni, karena fi anggap akan menghambat rencananya untuk menjerat Erik kembali untuk anak perempuan nya.
"Ibu tak usah mengurusi masalah Jemi, itu urusan ku, yang harus ibu lakukan hanya membuat rencana pernikahan Erik gagal ! Selebihnya, serahkan pada ku !" ucap Citra ketus.
***
Roni varu pulang ke rumah setelah lebih dari satu minggu lamanya dia tak pernah pulang setelah pertengkarannya dengan Citra di mall waktu itu, melihat suasana rumah yang tampak sepi, Roni memeriksa setiap ruangan di rumahnya mencari keberadaan Citra dan Jemi yang biasanya sedang berada di kamar, atau bermain main di halaman belakang, tapi dia tak menemukan ibu dan anak itu di ruangan mana pun.
Roni duduk di kursi besi halaman belakang rumahnya, biasanya di sana dulu tempatnya duduk berdua bersama istrinya sekedar menikmati teh atau kopi sambil membahas obrolan yang ringan.
flashback on,
"Bagaimana dok, tidak ada hal yang fatal akibat kecelakaan itu pada anak saya, kan ?" tanya Roni saat menunggui anaknya siang itu, sementara Citra sedang menebus obat di lantai bawah.
"Keadaan anak bapak sudah semakin membaik, untunglah dia mendapatkan donor di saat yang tepat," kata dokter anak yang memeriksa ulang Jemi, memastikan kondisinya baik sebelum anak itu pulang.
"Ah iya, saya juga sangat ingin berterimakasih pada pendonor darah pada anak saya, apa saya bisa tau siapa orang baik itu ?" Roni tiba tiba tergelitik untuk menanyakan hal itu, karena saat bertanya pada Ciyra, istrinya itu tetap tak memberi tahunya dengan alasan hanya orang asing yang sudah di bayarnya, namun ternyata jawaban Citra itu justru membuat Roni semakin penasaran dengan si pendonor itu.
"Oh, kalau untuk masalah itu, silahkan bapak bertanya ke bagian donor darah, karena saya tidak mengetahuinya," jawab dokter itu mengarahkan Roni untuk bertanya pada tempat yang semestinya.
__ADS_1
Namun saat Erik sedang mencari dot di tas bayi yang tergeletak di sebelah ranjang bayi karena Jemi merengek, dirinya justru mendapati selembar kertas yang terlipat dan terselip di antara popok bayi dan dot milik Jemi.
Karena merasa penasaran, Roni membuka kertas itu, betapa tersentaknya Roni ketika membaca surat keterangan yang berisi tentang pernyataan kecocokan DNA antara Jemi dan Erik dimana angka nya menunjukaan 99 persen kesamaan dan akurat.
Roni buru buru melipat kembali kertas itu dan memasukannya ke dalam saku celananya, dia juga menitipkan Jemi yang semula di jaganya itu pada seorang suster jaga, dia bergegas menuju ruang donor darah, untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Jawaban yang sangat tak dia harapkan pun akhirnya dia dapatkan, bahwa benar orang yang mendonorkan darahnya pada Jemi adalah Erik, bahkan Roni sampai menunjukan foto Erik dari ponselnya untuk benar benar memastikan kalau itu benar benar Erik Wijaya yang di maksud.
Kecewa ? Tentu saja, bahkah kalau harus di jabarkan bagaimana hati Roni saat ini, lebih dari sekedar kecewa, tapi hancur berkeping keping.
Roni tadinya sudah merasa sangat senang karena Citra akhirnya bisa menjadi pelabuhan terakhirnya, meninggalkan dunianya terdahulu yang hampir setiap hari bergonta ganti wanita.
Sebenarnya dengan hadirnya Citra dan Jemi dalam hidupnya, Roni sudah merasa hidupnya sempurna, meski Lisa sang ibu mertua tak pernah merestui hubungan mereka sejak dulu, bahkan sampai saat mereka kini sudah menjadi sepasang suami istri.
Tapi Roni selalu yakin bisa melewati dan menjalani semua itu selama mereka bersama, jujur saja, dia sangat senang karena kini dirinya sudah menjadi seorang ayah, dia hanya ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab dan menjadi kebanggaan anak nya kelak.
Namun kenyataan pahit seakan menjatuhkannya dari atas gedung tinggi, sehingga kini dia terhempas dan kembali terjerembab pada dunia per cassanovaannya lagi.
Rasa kecewa yang menyelimuti dirinya membuat dia berbalik membenci Citra dan Jemi setengah mati.
Flashback off.
__ADS_1