Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Kita Tak Seakrab Itu,


__ADS_3

Kemal membuka pintu ruang kerja Erik sesaat setelah dia mengetuk pintu itu dan di persilahkan masuk, tapi dia segera menutup pintunya kembali dan keluar dari ruangan itu.


"Kemal !" teriak Erik dengan suara menggelegar memanggil asisten nya yang mengurungkan diri untuk masuk itu.


Kemal kembali membuka pintu ruangan itu perlahan, sang asisten itu menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan aneh nya.


"Apa yang kau cari ?" tanya Erik heran melihat tingkah Kemal yang menurutnya aneh dan tak seperti biasanya.


"Tuhan,,,, apa aku berada di akhirat, dunia lain, atau di dunia mimpi ?!" racau Kemal sambil meraup wajahnya sendiri.


"Ada apa, pak dos ?" Mira ikut berkomentar, karena dirinya pun tak luput dari pandangan tajam Kemal sang mantan dosen pembimbingnya itu.


Sebelumnya Erik memang sudah menceritakan tentang Kemal yang juga bekerja di sana sebagai sahabat sekaligus asisten pribadinya itu, agar Mira tak kaget saat bertemu dengan Kemal di sana.


"Bos, ini masih ruangan kerja mu, kan ?" pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja dari mulut Kemal yang biasanya berkata dan berpikiran cerdas itu.


"Apa maksud mu, tentu saja ini masih ruangan kerja ku !" jawab Erik galak.


Kemal mendekat ke arah bos nya, dan membungkuk di sisi Erik yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu.


"Bos, sejak kapan kau sembuh ?" bisik nya di telinga Erik yang langsung melotot ke arah asistennya itu.


Mendapat pelototan dari bos nya, Kemal langsung terdiam ketakutan tak berani bertanya lebih jauh lagi.


Seumur umur dirinya bekerja di kantor itu, ini pertama kalinya dia melihat Erik berduaan di dalam ruang kerjanya selain dengan Citra sang istri.


Menjelang makan siang, Erik meninggalkan ruang kerjanya, sudah menjadi kebiasaan setelah dia berpisah dari Citra, setiap jam makan siang Erik pasti akan pergi ke sebuah kafe di sebuah mall yang letaknya tak jauh dari kantor tempatnya bekerja.


Bukan tanpa alasan laku laki gagah itu selalu kesana, itu karena tepat di seberang kafe itu adalah butik milik sang mantan istri, yaitu Citra.


Bagi Erik, hanya memandangi Citra diam diam meski dari kejauhan, itu akan sangat menyenangkan, dan membuat hati laki laki itu merasa tenang.


Citra sebenarnya tau dengan kelakuan Erik setiap hari yang suka memandangi nya dari kafe itu, namun Citra memilih untuk pura pura tak tahu atas sikap menyedihkan mantan suaminya itu, Citra tak ingin terlibat apa pun dengan Erik karena baginya kehidupan baru nya yang sekarang bersama Roni lebih berarti dan membahagiakan dan tak ingin cerita lamanya mengusik semua kebahagiaan yang tengah dia rasakan saat ini.


"Pak dos, memang nya si bos sakit apa ?" tanya Mira pada Kemal yang sedang makan berdua dengan nya di kantin gedung perkantoran itu.


"Sakit ?" Kemal mengerutkan keningnya.


"Iya, tadi pak dos kan bertanya sama bos, tentang kesembuhan si bos !"


"Oh, itu,,,! bukan apa apa. Eh, sebenernya ada yang ingin aku tanyakan pada mu, ada hubungan apa antara kamu dan Erik ?" tanya Kemal penasaran.


"Hanya hubungan kerja, dia bos saya, saya kerja sama dia, itu pun karena saya punya hutang sama bos, atau pak dos mau bayarin utang saya? satu em lho !" seloroh Mira enteng.


"Ish, kenapa jadi aku yang harus bayar ?" elak Kemal.

__ADS_1


"Lagian, kamu sudah bukan mahasiswi ku, masih saja memanggil ku pak Dosen !" cicit Kemal.


"Hehe, lebih enak manggil gitu, mulut saya rasanya kaku kalau harus manggil pak Kemal !" cengir nya.


Kemal hanya mengeleng gelengkan kepalanya, dia sudah cukup paham dengan kelakuan absurd Mira, bahkan saat berada di kelas Mira memang selalu selengean, namun di balik itu Kemal mengakui kalau mantan mahasiswi nya itu berotak encer.


Kemal pun hanya bisa menerka nerka dan menghubung hubungkan sendiri seperti apa sebenarnya hubungan Erik dan Mira, dan kenapa Erik bisa sedekat itu dengan Mira yang baru saja di kenalnya itu.


***


"Hai Om ! Ngapain di sini, pasti nyariin aku ya,,,,!?" sapa Mira, saat sedang mengantri di kasir mini market yang berada di lantai 1 apartemen nya malam itu.


Erik yang malam itu terlihat tampan dengan setelan santai nya hanya melirik sekilas ke arah Mira dan tak merespon sedikit pun, dia fokus menyelesaikan pembayaran barang belanjaan nya lalu bergegas meninggalkan Mira yang menatapnya sebal karena di abaikan laki laki yang kini menjadi bos nya itu.


"Om ternyata tinggal di sini juga ?" tanya Mira lagi saat melihat Erik hendak memasuki salah satu unit apartemen yang ternyata masih satu lantai dengannya itu.


Erik masih tak menggubris ocehan Mira, dia hanya menyilangkan tangannya di dada sambil menatap tajam gadis yang menurutnya sangat annoying itu.


"Om, sebenernya om itu ganteng lho, cuma sayangnya, nyebelin !" umpat Mira sambil memonyongkan bibir nya dan bergegas menuju unit apartemen nya yang ternyata letaknya tak berapa jauh dari unit milik Erik.


'Dasar om tua gila, menyebalkan,! Pantas saja di tinggal istrinya pergi, kelakuannya nggak banget, meskipun wajah nya ganteng banget, sih !' umpat Mira sambil membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


Namun baru saja dia hendak menutup pintu nya, wajah laki laki yang sedang di umpatnya itu terpampang jelas di ambang pintu yang hendak Mira tutup itu.


"Astaga,,,,! Kenapa ngagetin seperti itu, sih !" jerit Mira kaget.


"Hey Om ! Permisi kek, masuk rumah orang, elah,,, ga punya sopan santun amat nih orang tua !" kesal Mira ngedumel.



"Kau bocah tengil, jangan sok akrab kalau tidak sedang berada di kantor, ingat, kita tidak se akrab itu !" ucap Erik, dia tak ingin berurusan lebih jauh dengan wanita mana pun termasuk Mira, hanya saja Mira masih terikat pekerjaan dengannya, jadi mau tak mau dia tetap harus berinteraksi jika sedang di kantor.


Setelah menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya itu, Erik pun keluar dari ruangan dan lagi lagi meninggalkan Mira sendiri dengan wajahnya yang me merah akibat menahan marahnya pada Erik.


"Bos tua gila !" teriak Mira sambil membanting pintu.


***


Hampir seminggu Mira mengerjakan proyek yang di percayakan Erik pada Mira, hampir tak ada kendala yang di hadapi Mira dalam pengerjaan proyek itu, meski terkadang tetap meminta saran dan pertimbangan Erik sang bos galak nya.


"Mira, ikut aku menemui klien !" ajak Erik.


"Kenapa saya, bos ?" protes Mira, karena biasanya Kemal yang menemani bos nya itu dalam urusan pekerjaan yang di kerjakan di luar kantor, lagi pula pekerjaannya masih menumpuk hari itu.


"Kemal ngajar !" jawab Erik singkat.

__ADS_1


Dengan malas akhirnyq Mira patuh,


Mereka menuju ke sebuah restoran di salah satu hotel berbintang, karena klien nya yang dari luar kota itu menginap di sana.


"Ini draft kerja sama yang klien itu ajukan pada perusahaan kita, baca dan pelajari !" Erik menyodorkan beberapa lembar kertas untuk Mira pelajari.


"Bukan kah saya hanya menemani, bos ? Kenapa seperti nya saya yang akan bernegosiasi dengan klien ?" protes Mira lagi.


"Sudah lah, kau menurut saja jangan banyak tanya dan lakukan perintah ku, ingat,,, nanti kau yang mewakili ku menghadapi klien itu !" titah Erik.


Saat sampai di tempat pertemuan, seorang wanita cantik tinggi semampai dengan pakaian sangat minim menyambut kedatangan Erik dengan hangat, sedangkan keberadaan Mira yang datang bersamaan dengan Erik saat itu tak dia pedulikan sama sekali, namun bukan Erik bila dia membalas kehangatan klien cantik nya itu, Erik tetap memasang wajah datar dan menjaga jarak seakan tak ingin tersentuh.


Mira mulai mengerti, kenapa dirinya yang harus mewakili nya, ternyata alasannya klien nya seorang wanita, Mira mulai mengerti dengan kebiasaan apa saja yang di lakukan Erik, dan hal hal apa saja yang di hindari laki laki itu.


"Maaf nona, saya mewakili bos saya, jadi untuk pembicaraan kerja sama ini silahkan nona bicarakan dengan saya," ucap Mira membuka pembicaraan, karena Erik terdiam seribu bahasa.


"Kenapa kamu ? Ini proyek besar, banyak hal yang harus saya bicarakan dengan Erik, ya, paling tidak,,, dengan Kemal asisten pribadinya yang pantas berbicara dengan saya !" ketus wanita itu.


"Bagai mana bos ? Apa bos bersedia membicarakan nya dengan nona cantik ini ? Karena katanya saya tak pantas berbicara dengan nona ini !" ucap Mira melirik ke arah Erik yang menatap nya tajam.


"Kau terlihat tidak meyakin kan, dan aku tidak nyaman berbicara bisnis dengan gadis ini !" Wanita itu menatap jijik Mira.


"Ish, apa yang salah dengan saya nona, saya hanya menjalan kan tugas dari bos saya, kalau nona tidak berkenan berbicara dengan saya, silahkan anda mencoba untuk berbicara dengan bos saya !" kesal Mira, dia paling tidak bisa di tindas, apa lagi oleh orang yang tak di kenal nya.


"Kita batalkan kerja sama ini !" ucap Erik sambil menarik lengan Mira dan meninggalkan wanita yang merupakan klien nya itu.


"Bos, lepas ! Kenapa meninggalkan klien begitu saja, bukan kah itu klien besar ?" pekik Mira saat Erik menarik dengan kasar tangannya.


"Dia menghina mu, aku tak suka," ketus Erik.


"Bos, aku tak apa apa !" Mira meyakinkan Erik kalau dirinya baik baik saja.


"Tapi akau tak suka !" keukeuh Erik.


"Bos, bukan nya kata anda kita tak seakrab itu, kenapa bos memilih untuk membela saya dan membuang proyek besar itu ?" ledek Mira.


"Aku bukan melakukannya untuk mu,! Aku hanya malas berurusan dengan wanita gatal semacam dia !" oceh Erik membuka pintu mobilnya untuk kembali ke kantor.


"Haish,,, tapi nona itu cantik lho, bos !" goda Mira.


"Cih, buat ku semua wanita sama saja, penghianat !" cibir Erik.


"Eits,,,! Memang nya bos udah nyoba semua wanita ? gak semua wanita sepertiyang ada di pikiran bos !" tepis Mira mengingatkan.


"No ! Semua sama saja !" sinis Erik.

__ADS_1


"Tapi kan, bos belum pernah mecobanya dengan saya, bisa aja saya ternyata berbeda !" ucap Mira sambil tergelak.


Sementara Erik langsung memberinya tatapan elang pembunuh andalannya, yang bisa membuat semua orang merinding ketakutan, kecuali Mira !


__ADS_2