
"Pulang !" titah Erik pada Mira yang masih terlihat santai.
"Kamu duluan saja, aku masih betah !" jawab Mira cuek.
"Apa maksud mu ? Cepat pulang !" ucap Erik penuh penekanan dalam bisiknya di telinga Mira.
"Tidak !" tegas Mira menolak ajakan Erik dengan keras.
Mira tiba tiba meradang begitu menyadari kalau dalam pertemuan itu Erik hanya di temani Dinda tanpa ada Kemal yang biasanya selalu bersamanya, kecurigaan dan rasa cemburu itu tiba tiba membakar dadanya, mengalahkan panasnya alkohol yang melewati tenggorokannya.
Mata Mira semakin membelalak kesal saat Dinda dengan terang terangan menyandarkan kepalanya di bahu Erik.
"Hey, apa yang kau lakukan !?" Erik menyingkirkan kepala Dinda dari bahunya.
"Oh, ayolah Erik,,, kepala ku pusing dan terasa berat sekali," rengek Dinda manja, dengan mata yang mengerling ke arah Mira seolah ingin membuktikan ucapannya tadi kalau Erik memang hanya bersamanya semenjak tadi
"Apa peduli ku jika kau pusing !?" hardik Erik menjauhkan diri dari Dinda yang terus terusan berusaha menempel pada Erik.
"Ayo cepat pulang, aku lelah !" ajak Erik lagi menarik tangan Mira.
"Urus saja wanita mu, tak usah memperdulikan ku, aku bisa pulang sendiri !" ketus Mira, tiba tiba bayangan bayangan jelek tentang kebersamaan Erik dan Dinda sejak tadi di ruangan vvip mengganggu pikirannya.
"Apa mksud perkataan mu ? Kenapa tiba tiba kau berbicara seperti itu pada ku ? Jangan bilang, kau sedang cemburu !" goda Erik melingkarkan tangannya di pinggang Mira, dan merapatkan tubuh gadis itu ke dadanya.
Erik baru menyadari kalau sepertinya gadisnya itu sedang merajuk, dia lupa kalau pacarnya saat ini adalah gadis abg yang belum genap berusia 22 tahun, tentu saja emosinya akan meledak ledak seperti yang dia dapati kini, Mira yang tiba tiba berubah ketus padanya.
Rasanya ini pengalaman pertama dia di cemburui oleh pasangan, karena sejak dulu, Citra tak pernah menunjukan perasaan cemburunya, biasanya Citra akan bersikap cuek, mungkin itu karena perasaan percaya dirinya yang begitu tinggi karena merasa Erik sangat mencintai dirinya dan tak mungkin bisa berpaling darinya.
__ADS_1
"Awas, jangan peluk peluk aku, kamu bau wanita itu !" oceh Mira sambil meronta melepaskan diri dari dekapan Erik.
"Kau mengusirku ? Apa kau ingin bersenang senang sendiri dengan pria di sebelah mu itu ?"kata Erik melirik Niko yang akhirnya berpamitan karena sang ayah sudah mengajaknya pulang.
"Aku pulang duluan, terimakasih traktirannya, jangan lupa janji mu, aku akan mentraktir mu suatu hari !" pamit Niko melambaikan tangan nya pada Mira dan tak memperdlikan keberadaan Erik di sana.
"Janji ? Apa kau janjian bertemu lagi dengan laki laki itu ?" selidik Erik.
Namun Mira hanya diam saja, apalagi Dinda si model itu masih setia berdiri tak jauh dari tempatnya dan Erik kini berada.
"Kamu biasanya di temani Kemal, kenapa kali ini hanya berdua saja dengan mak lampir itu?" kesal Mira.
"Aku di temani Kemal, hanya saja di tengah acara dia harus segera kembali ke luar kota karena besok pagi harus bertemu dengan salah satu klien besar di sana," kilah Erik memberi alasan.
"Dan satu lagi aku tak tau kalau dia juga ikut di pertemuan ini, aku yakin Hartono yang sengaja mengundangnya untuk menjamu ku, tapi aku tertarik sama sekali, kamu tau siapa yang selalu menarik di mata ku !" rayu Erik mencium ipi Mira sekilas membuat Dinda yang masih berdiri di sana kesal, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Kamu cantik kalau lagi marah,,,!" goda Erik lagi.
"Kamu menyebalkan kalau sedang merayu seperti ini !" sinis Mira, pura pura tak peduli, padahal hatinya sedang berbunga bunga, tak sia sia dia berakting marah pada duda tampan itu, karena hasilnya Erik memperlakukannya dengan sangat manis, sungguh ini moment yang sangat berarti untuk Mira.
***
Sementara di sisi lain kehidupan Erik dan Mira yang tengah berbahagia karena baru saja memutuskan untuk berkometimen menjadi sepasang kekasih, ada kehidupan Citra bersama suami barunya yaitu Roni, Kehidupan mereka bisa di bilang bahagia,
Bagaimana tak bahagia, bukankah pernikahan yang mereka inginkan kini sudah terwujud, walaupun harus mengorbankan kebahagiaan Erik demi merengkuh kebahagiaan mereka.
Namun hidup tak seindah cerita novel atau drama korea, sebesar apa pun mereka saling jatuh cinta, masalah pasti akan selalu ada, pun begitu juga dengan rumah tangga mereka,
__ADS_1
Seperti hari ini, Citra terlihat kesal pada Roni sang suami karena laki laki itu pulang larut malam, sementara dirinya harus di sibukan seharian mengurus anak lelaki mereka yang kini hampir berumur tujuh bulan, tentu saja di usia seperti itu anak memang memerlukan perhatian yang cukup ekstra, apalagi Citra memutuskan untuk mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan tenaga pengasuh, meski Roni berulang kali menawarkannya.
Citra memilih untuk meninggalkan semua pekerjaannya, butiknya, dia hanya ingin gokus mengurus Jemi sang buah hati.
"Sayang, kenapa kamu pulang selarut ini, ponsel mu pun tidak bisa di hubungi !?" protes Citra, wanita itu bersikap sangat posesive pada suami barunya, sangat beda perlakuannya seperti saat dia menjadi istri Erik yang seakan tak pernah peduli walau Erik tak pulang sekali pun.
"Aku baru selesai meeting, ada masalah cukup serius di kantor, tolong mengerti !" ucap Roni dengan wajah lesunya.
"Tapi setidaknya kamu mengabari ku, kalau tidak ada waktu menelpon ku, kamu kan bisa mengirim ku pesan, apa tak ada waktu sama sekali walau hanya untuk mengirimi ku pesan ?" omel Citra,
Dulu, sesibuk apapun Erik dia akan menelponnya paling lama dua jam sekali, sebaliknya Citra yang tak pernah mengabari dan terkadang mengabaikan panggilan telepon Erik, apa lagi jika dirinya sedang adik berdua bersama Roni saat itu.
"Aku kerja ! Aku lelah, tolong beri aku ketenangan, seharian aku sudah menghadapi masalah di kantor, jangan membuat masalah lagi dengan ku di rumah !" bentak Roni.
"Kamu berubah, kamu tak seperti dulu lagi !" lirih Citra.
"Apa kamu tak sadar diri, kamu yang berubah, kamu semakin cerewet, suami pulang di sambut dengan omelan, belum lagi kamu juga sudah tak pernah memperhatikan penampilan mu, lihat dirimu sekarang, berantakan !" sinis Roni.
"Aku seperti ini karena sibuk di rumah, mengurus anak kita, kamu tak pernah tau !" elak Citra.
"Aku mampu membayar pengasuh untuk mengurus anak kita, tapi kalau kamu menolak, jangan salahkan aku kalau suatu saat uangnya aku pakai untuk membayar wanita yang mampu membuat aku selalu betah berada di sisinya !" ucap Roni dengan entengnya dan segera masuk ke kamar tamu meninggalkan Citra yang duduk di tepi ranjang tempat tidur mereka karena tak ingin bertengkar lebih lanjut dengan istrinya itu.
Citra duduk sambil berlinangan air mata, tak pernah dia bayangkan jika pernikahan yang dia idam idamkan dan dia perjuangkan itu ternyata tak seindah bayangannya.
Rumah tangga yang dia bangun di atas penghianatan dan kesakitan suaminya terdahulu kini seakan berbalik menyakitinya,
Terkadang bayangan masa masa dirinya masih menjadi istri Erik kembali terlintas di pelupuk mata, betapa Erik selalu memperlakukannya bak seorang ratu, tak pernah sekalipun menyakitinya, bahkan walau sekedar meninggikan suara padanya.
__ADS_1
Tapi Citra sadar, ini pilihan nya, pilihan hidup yang di ambilnya, apapun konsekuensinya dia harus bisa dia pertanggung jawabkan, apa lagi ada anak di antara mereka, lagi pula Citra memang sangat mencintai Roni dari dulu, Roni adalah cinta pertamanya dan orang pertama yang mengambil mahkota paling berharga nya dulu jauh sebelum dia mengenal Erik, namun Erik dengan lapang dada menerimanya apa adanya.