Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Amatiran


__ADS_3

Liburan akhir tahun sudah selesai, Erik dan Mira sudah kembali ke ibukota dan siap beraktivitas seperti biasanya lagi, mereka sepakat untuk melanjutkan hubungan mereka, dan berjanji tak akan ada kebohongan apapun di antara mereka.


"Sayang, apa nanti malam kamu bisa menemani ku makan malam di rumah paman ku ?" tanya Erik yang baru menyadari kalau akan ada makan malam keluarga di rumah pamannya.


"Paman mu ?" beo Mira.


"Ya, dikter Husen, adik dari ayah ku," terang Erik sambil menggeret kopernya masuk ke dalam kamarnya.


"Ayahnya Nana ?" tanya Mira lagi, dengan raut wajah yang menunjukan tidak begitu tertarik.


"Kalau aku tak ikut, boleh ?" tawar Mira, dia malas bila harus bertemu dengan musuh bebuyutannya dari jaman sekolah itu.


"Kenapa ? Jangan kekanakan, kalian sudah sama sama dewasa kenapa masih saja bermusuhan ?" kata Erik mendekati Mira yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Memangnya kamu tau, apa permasalahan antara aku sama adik sepupumu itu ?" cebik Mira.


"Paling juga tak jauh dari rebutan cowok !" ejek Erik mencubit hidung Mira gemas.


"Ish,,, mana ada kaya gitu !" kesal Mira membalikan tubuhnya dan beranjak pergi dari sana, namun tangan Erik tak kalah sigap, dia menarik pinggang Mira sampai beradu dengan tubuh kekarnya.


Erik mengunci tubuh kekasihnya itu dalam kungkungannya, tangannya meraih surai rambut Mira yang menjuntai di pipinya, lalu menyelipkannya di sela telinga gadis itu, perlahan Erik menjauhkan tubuh Mira dari dadanya, dan merapatkan punggung gadis itu ke dinding, wajahnya mendekat ke arah wajah Mira yang terlihat pasrah.


"Sayang, aku ingin memperkenalkan mu pada keluarga ku, aku ingin mereka dan dunia tau kalau aku kini sudah punya seorang kekasih yang cantik dan hebat seperti mu !" bisik Erik tepat di samping telinga Mira.


Mira pun seketika meremang, karena hembusan napas yang terasa jelas dan dekat, belum lagi Erik juga mengakhiri kalimatnya dengan ciuman lembut di ujung telinganya, sungguh itu sukses membuat wajah Mira memerah karena malu, geli dan merasakan gelenyar gelenyar aneh, seakan ada ribuan kupu kupu yang menari nari di perutnya.


"Wajah mu memerah, kamu sangat menggemaskan ! Rasanya aku ingin memakan mu saat ini juga !" geram Erik tertahan.


Erik mengunci kedua tangan Mira ke atas kepalanya, bibirnya mulai mendekat ke leher jenjang Mira,


Sementara Mira memejamkan matanya saat terpaan napas dari hidung Erik berhembus mengenai kulit lehernya.


Erik mulai menempelkan bibirnya di kulit mulus itu, rasanya Erik ingin mengecupi setiap inci dari kulit putih yang aromanya sangat khas itu.


Beberapa detik kemudian Erik sudah terpaku di depan wajah Mira, menatap matanya yang masih terpejam menikmati sapuan bibir Erik, pipi nya yang memerah, hidung bangirnya dan bibir sensualnya yang selalu membuatnya merasa ingin menyesapi benda kenanyal nan manis itu.


"Kenapa melihat ku seperti itu ?" tanya Mira dengan napas yang masih sedikit tersenggal saat membuka mata dan mendapati Erik sesang menatap lekat dirinya.


"Kamu cantik, sangat cantik, semua yang kamu miliki teramat cantik," ucap Erik melepaskan kuncian di tangan Mira, lalu dia mengusap pipi mulus Mira, lalu menyapukan ibu jarinya di bibir merah Mira yang sepertinya terasa sangat manis.


Mira terdiam untuk sejenak, membiarkan matanya terpatri pada tatapan hangat Erik, namun Erik memaksanya untuk kembali terpejam saat pria itu memiringkan wajahnya dan menautkan bibir mereka dengan lembut.

__ADS_1


Semakin lama, ciuman Erik berubah menjadi semakin rakus seiring dengan napasnya yang terdengar memburu.


Mira memukul dada Erik pelan, Erik pun dengan terpaksa melepaskan pagguttan mereka, sambil menatap penuh harap.


"Kenapa ?" tanya nya dengan suara berat menahan gairah.


"Kamu bisa membunuh ku, aku tak bisa bernapas !" cicit Mira seraya menghirup oksigen sebanyak banyaknya setelah tautan bibir mereka terlepas.


"Selalu seperti itu, dasar bocah amatiran !" cengir Erik mencolek hidung Mira gemas.


"Kamu mau kemana ?" tanya Mira ketika melihat Eeik langsung menjauhinya dan bergegas masuk toilet yang berada di kamarnya.


"Aku harus menuntaskan apa yang tidak kamu tuntaskan, sayang !" seru Erik yang sudah menghilang di balik pintu toilet yang kini tertutup rapat.


Mira hanya mengendikkan kedua bahunya dan kembali ke kamarnya untuk bersiap ke acara makan malam di rumah pamannya Erik.


***


Malam itu Erik menunggu Mira keluar dari kamarnya dengan tidak sabar, berulang kali lehernya memutar melihat pintu kamar Mira yang masih saja belum terbuka.


Namun beberapa menit kemudian sosok gadis yang di tunggunya sejak tadi keluar juga dari kamarnya, gadis itu membuat Erik sangat terpesona dengan gaun panjang elegan warna biru senada dengan kemeja biru yang Erik pakai saat itu.


Tangan Erik terulur dan badannya sedikit membungkuk, Mira menyambut uluran tangan pria itu, dan Erik mengecup punggung tangan gadis itu dengan tatapan mata yang tak lepas dari Mira.


"Tidak sia sia aku menunggu mu lama sekali, kamu secantik bidadari, sayang !" puji Erik.


"Aku tau, kamu orang yang ke sekian ratus yang mengatakan itu pada ku !" ledek Mira.


"Tapi dari sekian ratus orang yang memuji mu, hanya aku yang beruntung bisa mendapatkan mu, dan mencuri ciuman pertama mu !" ucap Erik tak mau kalah.


Mira menngerucutkan bibirnya.


"Jangan coba coba menggoda ku, kalau tak ingin riasan bibir mu rusak karena ku ciumi sampai habis !" ancam Erik mengeratkan gigi giginya menahan gemas.


***


Mobil yang Erik kemudikan berhenti di sebuah rumah mewah dengan halaman yang cukup luas, belasan mobil mewah berjajar di sana, tanda makan malam itu tidak hadiri oleh orang yang sembarangan.


Rasanya Mira ingin pulang atau menghilang saja dari sana, dia begitu malas harus turun dari kendaraan dan masuk ke acara yang membuatnya sangat canggung, bertemu dengan keluarga besar Erik yang entah seperti apa mereka, entah baik atau malah tidak menerima kehadirannya di tengah tengah mereka.


"Sayang, ayo,,, semua akan baik baik saja !" ucap Erik meyakinkan setelah mbukakan pintu untuk ratunya itu.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mengatur napasnya agar tidak grogi, dia segera turun dan melingkarkan tangannya di lengan kekar Erik, mereka berjalan berdampingan bak raja dan ratu dari negeri dongeng, membuat siapa pun yang melihat mereka akan merasa iri dengan keserasian mereka.


"Hai,,, Erik ! Selamat datang !" sambut dokter Husen dari dalam rumah sambil merentangkan kedua tangannya seraya memeluk keponakan kesayangannya.


"Abang !" seru Nana yang langsung berhambur ke pelukan Erik.


"Kau sudah besar, sudah tak pantas bersikap seperti ini !" Erik menjauhkan tubuh Nana yang menempel di dadanya.


Erik lantas melirik ke arah Mira danvmengapit pinggang ramping gadis itu meninggalkan Nana dengan segala kekesalannya.


"Ayo sayang, aku akan mengenalkan mu pada keluarga ku !" ajak Erik.


"What ??! Sayang ?!" mata Nana terbelalak, dia tak tau sejak kapan kakak sepupunya itu menjadi seromantis itu pada perempuan selain pada mantan istrinya, karena setahu dirinya, Erik merupakan laki laki yang sangat 'bucin' pada Citra sang mantan terindahnya itu.


Nana merasa bertambah membenci Mira, karena lagi lagi Mira merebut perhatian para pria yang berada di sekelilingnya, Regan, dan sekarang Erik,


Beberapa mata yang ada di ruangan itu tertuju pada Erik yang mengapit mesra pinggang Mira ke dalam ruangan dengan wajahnya yang berseri.


"Oh, Erik,,, kamu gagah sekali, lama kamu tak mengunjungi ibu mu ini !" ucap Lisa mantan ibu mertuanya alias ibu dari Citra, kebetulan Lisa salah satu teman dokter Husen yang sudah di anggapnya seperti keluarga, jadi dia di undang pada acara makan malam itu.


"Ehm saya kebetulan sibuk akhir akhir ini, bu. Oh iya, perkenalkan ini calon istri saya, dan Mira, ini tante Lisa, ibunya Citra," ucap Erik memperkenalkan Mira pada mantan ibu mertuanya.


Lisa menatap Mira dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan yang tak bersahabat bahkan uluran tangan Mira pun di abaikan oleh wanita paruh baya itu.


Erik langsung menggenggam uluran tangan Mira yang tak bersambut dari Lisa, lalu mencium tangan itu di hadapan Lisa yang langsung mendengus dan membuang muka tak ingin melihat adegan yang di pertontonkan oleh mantan menantu dan kekasih barunya itu.


"Menjijikan !" umpatnya sambil berlalu meninggalkan Erik dan Mira, kedua tangannya terkepal karena merasa kesal sang mantan menantu kaya rayanya sudah mempunyai wanita pengganti anaknya,


Padahal tadinya dia begitu yakin kalau Erik tak akan mungkin bisa berpaling dari anak semata wayangnya, dan suatu hari Lisa yakin kalau Erik pasti akan kembali rujuk dengan Citra setelah dirinya berhasil merusak hubungan antara anaknya dan Roni yang sama sekali tak pernah dia restui pernikahannya.


Tentu saja Lisa tak ingin membuang emas demi sejumput perak, baginya Roni tak ada apa apanya di banding Erik yang semua orang tau dan mengakuinya kalau seorang Erik Wijaya seorangbpengusaha sukses, meski Roni pun sama sama pengusaha dan memang levelnya masih jauh di bawah Erik.


Lisa bahkan tak habis pikir dengan pikiran Citra sang anak yang di sebutnya teramat sangat bodoh karena memutuskan untuk bercerai dari Erik dan bersedia tak mendapat harta apapun demi seorang Roni.


Mira menunduk, hatinya sedikit insecure berada di tengah keluarga Erik yang sepertinya tak welcome pada kehadiran dirinya.


"Sayang, angkat kepala mu, jangan pernah menunduk di hadapan siapa pun, kamu cantik, kamu pintar, apa yang membuat mu menundukan kepala seperti ini ?" Erik mengangkat dagu Mira pelan, agar tegap menghadapi semua orang.


"Mereka, keluarga mu, sepertinya tidak menyukai ku !" lirih Mira.


"Yang terpenting aku mencintai mu, mereka hanya keluarga ku, orang tua ku kalau masih ada, pasti akan sangat menyukai mu, percaya lah !" ucap Erik dalam senyum nya.

__ADS_1


__ADS_2