
Satu bulan sudah Mira menjadi asisten pribadi kedua Erik setelah Kemal, dan mereka juga sudah menempati apartemen baru yang lebih luas di banding sebelumnya yang hanya mempunyai satu kamar tidur saja, meski masih di gedung yang sama, kali ini Erik memilih menempati unit apartemen yang terdiri dari dua kamar tidur, untuk mereka tempati bersama.
Entah seperti apa konsep hubungan mereka, yang jelas mereka semakin dekat meski sampai saat ini belum terikat satu komitmen yang pasti.
Erik benar benar merasa trauma dengan sebuah hubungan, baginya luka yang di berikan Citra padanya itu terlalu dalam menggores di hatinya sehingga bekasnya saja masih terasa perih jika tak s engaja tersentuh.
Mira pun tak ingin terburu buru dan memaksakan Erin untuk membawa hubungan mereka ke arah yang lebih serius, Mira selalu merasa kalau dalam hal ini porsi cintanya pada Erik lebih besar di banding perasaan Erik padanya yang mungkin saja hanya perasaan semu atau pengisi di saat dirinya kesepian saja.
Ting tong !
Suara bel pintu unit apartemen berbunyi pagi itu di tengah Erik dan Mira sedang menikmati sarapan paginya sebelum berangkat kerja.
"Biar aku saja !" kata Erik yangblangsung beranjak dari kursi dan menghentikaan kegiatan makannya.
Mira mengangguk dan melanjutkan suapan demi suapan makanan mulut nya.
"Mira !" seru Erik dari depan, saat membuka pintu dan ternyata yang kini berdiri di depannya adalah Alisha si adik tiri Mira.
Merasa di panggil Erik dari depan, Mira segera menghampiri laki laki itu yang masih berdiri di ambang pintu.
Mira mengerutkan keningnya selama lebih dari sebulan, baru kali ini adik tirinya itu datang ke tempatnya.
"Ada perlu apa ?" ketus Mira, tak mengijinkan perempuan yang lebih muda darinya tiga tahun itu untukasuk ke dalam ruangan.
"Aku ada perlu dengan Kak Erik !" ucap Alisha membuang pandangannya dari Mira dan beralih melirik ke arah Erik.
"Oh, aku pikir mencari ku, dia mencari mu, tuh !" seloroh Mira sambil membalikan tubuhnya hendak masuk dan melanjutkan kembali makannya.
Tapi dengan cepat Erik menarik belakang blouse Mira sehingga gadis itu tak bisa melanjutkan langkahnya namun mundur beberapa langkah karena tarikan tangan kekar Erik.
Erik membelalak ke arah Mira dan memberi kode agar Mira menangani Alisha itu untuk nya.
"Ada perlu apa dengan Erik ?" tanya Mira.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu posesive kak, aku hanya ingin berbicara dengan kak Erik, tapi kau menghalangi ku ?" gumam Alisha yang kesal karena Erik terkesan enggan berbicara dengannya, namun Alisha meluapkannya pada Mira.
"Apa maksud mu ? Apa mata mu buta, jelas jelas Erik yang tak mau menemui mu, dan lihat ini, dia yang menarik baju ku dengan paksa agar aku menemui mu !" kata Mira sambil menunjuk ke belakang bahunya dimana tangan Erik masih meremas erat baju Mira dari belakang.
"Kak Erik, aku ada tugas mewawancarai pebisnis sukses, dan tugasnya harus sudah di kumpulkan hari ini, apa kaka punya waktu untuk aku wawancara ?" Alisha tak memperdulikan Mira dan tetap berbicara pada Erik.
"Tidak !" jawab Erik tegas, ketus dan galak.
"Kau dengar ? Masih berani bilang aku posesive ? Atau perlu ku tunjukan bagaimana kalau aku sedang bersikap posesive ?" ucap Mira berapi api.
Beberapa derik kemudian Alisha tak dapat melihat apapun di hadapannya selain kayu bercat putih karena secepat kilat Mira telah menutup pintu apartemen yang dia tempati bersama Erik.
Alisha mengepalkan kedua telapak tangannya kesal, setelah menghentakan kakinya dia lalu pergi meninggalkan tempat itu, berbagai cara dia lakukan untuk menarik perhatian Erik, namun selalu gagal, laki laki itu tak pernah sedikitpun menoleh padanya, apalagi sampai tertarik dengannya.
"Sial, kenapa kak Erik malah lebih tertarik pada Mira yang jelas jelas tak ada apa apanya di banding aku, apa mata Erik bermasalah sehingga tak bisa melihat kecantikan dan kemolekan tubuh ku ? Aku akan mendapatkan apapun yang aku mau !" gerutu Alisha yang ternyata sedari awal dia bertemu Erik sudah sangat tertari pada pesona duda tampan itu, terlebih setelah dia mencari tahu tentang siapa kah sang duda tampan itu sebenarnya,
Alisha semakin tergila gila ketika tahu kalau Erik merupakan salah satu pebisnis tersukses dan kaya raya di negara ini.
"Aku pasti bisa mengambil kekasih mu yang menggairahkan itu, kakak tiri ku tersayang !" cicit Alisha yakin.
"Kamu mengerikan !" seloroh Erik saat bersiap untuk berangkat ke kantor dan melihat wajah Mira yang masih di tekuk akibat kekesalannya pada Alisha yang belum juga hilang dari hatinya.
"Siapa orangnya yang tak kesal, pagi pagi udah di ganggu dan di buat kesal oleh wanita tak tau diri itu, dia sudah mengambil ibu ku, tempat tinggal ku dan kini mau ambil kamu juga ?!" ceroscos Mira.
"Ambil aku ?" tanya Erik.
"Emh, ah iya aku lupa, kita bukan siapa siapa ! Ternyata wanita itu memang benar, aku yang posesive," lirih Mira.
"Maafkan aku yang belum berani memulai suatu hubungan !" ucap Erik dengan hati yang terasa mencelos saat mendengar suara lirih Mira yang terlihat sedih.
Bukannya Erik tak tau kalau Mira menyukainya dan bukannya Erik tak ingin membalas perasaan Mira padanya, dia hanya belum bisa menghilangkan trauma itu dari dalam dirinya.
Jujur saja, dirinya sudah sangat terpaut dengan sosok Mira, dia bahkan sering berpikir kalau dirinya telah semakin sangat bergantung pada Mira, setelah Kemal mengurus pekerjaannya yang berada di luar pulau.
__ADS_1
"Aku mengerti bos, aku hanya sedang kesal saja, maaf !" lirih Mira, suasana hatinya sungguh kacau, sungguh hari yang tidak menyenangkan bagi Mira, pagi pagi moodnya sudah rusak.
Erik menghela nafas berat, kesan galak dan otoriternya kini seakan tiba tiba hilang saat berhadapan dengan Mira yang sedang bad mood.
Seharian Mira tak seperti biasanya, dia lebih banyak diam, tidak ada kejahilan yang selalu gadis itu biasanya lakukan, tak ada sekedar ledekan spontan yang dia tujukan pada Erik yang terkadang membuat Erik kesal, tapi juga tak jarang membuat hat Erik menghangat.
"Mira, kamu baik baik saja ?" tanya Erik.
"Ya,!" jawab Mira singkat dengan mata yang terus tertuju pada layar komputer di hadapannya.
"Apa kamu marah pada ku ?" tanya Erik lagi yang hari itu berubah menjadi lebih cerewet dari biasanya.
"Tidak !" jawab Mira lagi masih dengan jawaban jawaban singkat nya.
Erik mendekat ke arah Mira,
"Mir, boleh aku bicara dengan mu ?" pinta Erik.
Belum sempat Mira menjawab pertanyaan Erik yang di lontarkan padanya, terdengar pintu ruangan kerja yang di ketuk dari luar, sekretaris Erik membuka pintu setelah dipersilahkan untuk masuk.
"Maaf mengganggu bos, ada tamu yang mencari Mira," ucap sekretaris laki laki itu melaporkan.
"Mencari saya ?" Mira sedikit bingung, "Tapi siapa ?" tanya Mira yang hampir tak pernah ada orang yang mencarinya selama dia bekerja di sana kecuali Erik.
"Aku kak," Alisha menyela pembicaraan dan tiba tiba menampakan dirinya dari balik tubuh sang sekretaris.
"Aku sibuk, tolong suruh dia pergi !" ketus Mira kembali memfokuskan dirinya ke layar komputernya.
"Kak, tolonglah, aku mohon ini menyangkut nilai ku, aku hanya butuh mewawancarai kak Erik sekitar lima belas menit saja, boleh ya !?" rengek Alisha yang sengaja memelas dan memohon pada kakak tirinya karena dia tau ada banyak pasang mata yang melihat mereka dari pintu ruangan Erik yang terbuka lebar.
"Apa yang kalian lihat ? Kembali ke tempat kerja kalian masing masing !" bentak Erik pada beberapa karyawan yang asik mencuri dengar pembicaraan Alisha dan Mira.
Sebelum menemui Mira di ruangan Erik, Alisha memang sengaja bergosip dengan beberapa karyawan wanita di sana menjelek jelekan Mira dengan menghembuskan kabar kalau kakak tirinya itu hidup serumah dengan Erik tanpa ikatan, dan lebih parahnya, Alisha juga berkoar koar kalau Mira sebenarnya penyebab perceraian Erik.
__ADS_1
Alisha nemang sungguh pintar memanfaatkan situasi, dia tau, sebagian besar karyawan wanita di perusahaan itu membenci Mira, jadi tak susah untuk nya mencari dukungan dan membuat Mira semakin menjadi public enemy di perusahaan itu.