
"Sayang, aku mencintai mu, sangat mencintai mu, menikahlah dengan ku !" ucap Erik kembali melummatt bibir kekasihnya yang sudah agak membengkak akibat ulahnya itu tanpa membiarkan gadis itu menjawab ajakannya untuk menikah.
Tanpa terasa air mata Mira menetes lalu menjadi lelehan bening di pipinya, hati Mira menghangat di tengah keterkejutannya mendengar ajakan menikah Erik.
"Apa ini sebuah lamaran ?" tanya Mira susah payah mengeluarkan suara di tengah dirinya menahan tangisnya agar tak semakin menjadi.
"Aku bukan pria romantis, hanya ini yang mampu aku lakukan, bisa jadi ini merupakan sebuah lamaran," kata Erik mengusap lelehan air mata Mira di pipi gadis itu.
"Atau kamu ingin aku melamar mu dengan cara lain ? Aku bisa mengabulkannya, di atas kapal pesiar ? di dalam jet pribadi ? Atau menyewa sebuah pulau ?" tanya Erik.
"Aku tak peduli di mana tempat aku di lamar, mau itu di kapal pesiar, di jet pribadi, di pulau, atau bahkan di atas meja makan seperti ini sekali pun, selama yang melamar ku adalah Erik Wijaya, aku pasti akan menjawab YA, AKU MAU !" ucap Mira dengan senyum merekahnya.
"Ah sayang ! Terimakasih, aku bahagia sekali, kita akan segera menikah, aku tak ingin menunda nya !" wajah Erik seketika berbinar cerah dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
***
Tak pelak, kabar rencana pernikahan Erik dan Mira tersebar begitu cepatnya, termasuk juga sampai ke telinga Citra yang tiba tiba merasakan sedih yang teramat sangat dan itu entah mengapa, karena sepengetahuan dirinya, tak ada lagivperasaan untuk Erik, karena perasaannya dari dulu tak pernah berubah hanya untuk Roni.
'Ada apa dengan hati ku ? Kenapa rasanya sakit sekali di sini, saat mendengar Erik sudah menemukan jodohnya dan akan melangsungkan pernikahan dengannya, aku tidak sedang cemburu, kan ? Ah, tidak mungkin, harusnya aku merasa senang karena dia tak akan mengharapkan ku lagi !' monolog Citra dengan hatinya terus terjadi akibat tersebarnya berita rencana pernikahan Erik dan Mira yang sampai ke telinganya.
Citra menjadi sangat tidak tenang hatinya, pun saat ini, ketika dirinya yang membawa serta Jemi sedang berada di mall mengecek butiknya yang lama dia tinggal, wanita itu seperti tidak bisa fokus pada pekerjaannya, sikapnya terlihat gelisah, mencerminkan suasana hatinya yang memang sedang resah saat ini.
Namun kedua netra nya seketika membelalak saat mendapati Roni sang suami yang semalaman tak pulang itu sedang berjalan sambil memeluk mesra bahu seorang wanita yang dia kenal sebagai model di perusahaan Erik, mantan suaminya.
Citra berlari ke luar butik, tak lupa mendorong stroller bayi yang berisi Jemi yang sedang terlelap di dalamnya, wanita itu mengejar sang suami dengan perasaan yangvsemakin tak menentu.
"Roni !" panggilnya, saat Citra sudah berada tepat di balakang sang suami yang tangannya masih memeluk bahu si model cantik Dinda.
__ADS_1
Roni seketika membalikan tubuhnya, saat terasa baju bagian belakangnya di tarik seseorang dari belakang.
"Citra ?! Apa yang kamulakukan di sini ?" tanya Roni dengan suara sedikit gugup.
"Hah ? Bukannya seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu di sini, berjalan jalan sambil bergandengan mesra dengan seorang wanita yang bukan istrinya, padahal dari kemarin kamu tak pulang ke rumah, dengan alasan sibuk dan lembur, sibuk mengajak model ini jalan jalan ? Lembur bersama wanita ini ?!" semprot Citra tak dapat lagi menahan amarah di dadanya, dia sampai tak memperdulikan kalau saat ini dia sedang berada di tempat umum dan banyak pasang mata sedang menonton dirinya yang sedang meneriaki suaminya itu.
Roni melihat ke arah kiri dan kanan, dan sekelilingnya, beberapa orang terlihat memusatkan perhatian pada Citra yang sedang memarahi dirinya, yang menurutnya sangat tak etis mengumbar masalah rumah tangganya di depan umum seperti itu.
Rahang Roni seketika mengeras dengan gigi yang bergemeretak karena menahan marah pada istrinya yang sedang murka padanya itu.
"Kau memalukan, kampungan ! Bisa bisanya kau teriak teriak di tempat umum seperti ini, kelakuan mu sungguh tak dapat aku maafkan ! Kau sungguh keterlaluan !" ucap Roni dengan mata tajam yang seakan pedang yang langsung menghunus jantung Citra.
Sakit dan perih tentu saja bagi Citra, karena setelah mengucapkan kata kata pedasnya, Roni memilih untuk tetap pergi meninggalkan dirinya dan Jemi, lantas melanjutkan acara jalan jalannya dengan Dinda.
"Roni,,,! Kamu yang keterlaluan, kamu lebih memilih model murahan itu, bahkan tak melirik sedikitpun pada anak mu, kamu jahat !" teriak Citra bercucuran air mata saat Roni berlalu begitu saja tanpa ada penjelasan kenapa dirinya yang semalaman tak pulang itu justru malah sedang asik asikan berjalan jalan dengan wanita lain, sebaliknya suaminya itu malah balik memakinya di hadapan orang banyak.
***
Ponsel Erik bergetar beberapa kali, mang Jaja dan Yanti bergantian menelponnya saat dirinya tengah memimpin rapat di kantor dengan beberapa staf nya.
Tak biasanya sepqsang suami istri yang di tugaskan untuk menjaga rumahnya itu menelponnya tanpa jeda, sepertinya ada urusan yangvpenting untuk di bicarakan.
Setelah rapatnya selesai, Erik menelpon balik mang Jaja, wajahnya langsung berubah seketika saat dirinya selesai berbicara dengan mang Jaja lewat telpon.
"Ada apa ? Apa ada hal buruk terjadi ?" tanya Mira hawatir.
"Lebih dari sekedar buruk, tapi sangat buruk ! Ayo ikut aku sebentar !" ajak Erik, dengan kemarahan di wajahnya yang tak bisa di sembunyikan.
__ADS_1
"Kemana ?" tanya Mira kebingungan.
"Mengusir tikus di rumah !" ketus Erik.
"Apa mang Jaja dan bi Yanti tidak berani mengusir tikus, sampai harus memanggil mu ?" polos Mira.
"Ya, harus aku !" jawabnya.
Sementara di rumah kediaman Erik yang dulu di tempatinya bersama Citra saat mereka masih berstatus sebagai sepasang suami istri itu, mang Jaja dan Yanti terlihat kebingungan karena Citra yang tiba tiba datang ke rumah itu membawa serta Jemi sang anak bersamanya dengan dua buah koper besar yang dia perintahkan kepada mang Jaja untuk menurunkannya dari dalam mobil.
"Kenapa kalian melihat ku seperti itu ? Aku dulu nyonya rumah ini, apa yang salah jika aku datang ke sini ?" ketusnya pada mang Jaja dan Yanti yang bengong.
Sepasang suami istri itu merasa kebingungan plus ketakutan, kebingungan bagaimana menghadapi mantan nyonya nya itu plus ketakutan jika sampai Erik menyalahkan mereka karena membiarkan Citra masuk ke rumah itu.
Citra memasuki pintu rumah yang setahun lebih bahkan mungkin hampir dua tahun di tinggalkannya, masih tergambar jelas, hari itu di ruang tamu yang sekarang ini dia sedang berdiri Erik berlutut dan memohon padanya untuk tetap tinggal saat dirinya memutuskan untuk pergi bersama Roni yang kini justru berbalik meninggalkannya.
Masuk lebih dalam lagi matanya berkaca kaca karena seluruh ruangan di rumah ini tak ada yang berubah sedikitpun, tatanan barang, lukisan, letak furnitur semua masih sama seperti saat dirinya masih menjadi nyonya di rumah itu.
Ada satu hal lagi yang membuat Citra semakin terharu, foto foto kebersamaan mereka, bahkan foto pernikahan mereka masih berada di tempatnya, tak ada satu pun yang bergeser dari tempatnya.
Berbagai pikiran menari di otaknya, mungkinkah Erik masih masih menyimpan rasa padanya, dan masih menatap foto foto kebersamaannya setiap hari, tapi bagaimana bisa Erik memutuskan untuk menikah dengan gadis lain, ketika semua kenangan tentang dirinya masih tersimpan rapi di rumah ini.
"Ma- maaf nyonya tapi apa nyonya sudah meminta ijin pada tuan, untuk berkunjung ke sini ?" tanya Yanti, biarlah dia di katakan lancang karena bertanya seperti itu, tapi saat ini dirinya dan mang Jaja yang bertanggung jawab atas rumah ini sekarang.
"Apa maksud mu ? Aku harus minta ijin masuk ke rumah ini ? Ini harta gono gini saat kami masih terikat pernikahan, dan aku ke sini bukan untuk berkunjung, tapi untuk tinggal !" Citra meninggikan suaranya.
"Ini rumah ku, jauh sebelum aku menikah dengan mu, aku sudah memiliki rumah ini, jadi ini tidak termasuk harta gono gini, lagi pula bukankah kau menolak semua harta yang ku tawarkan pada mu saat itu dan kau tukarkan dengan surat perceraian yang bisa kau jadikan tiket untuk menikahi selingkuhan mu ?!" ucap Erik yang baru saja masuk ke rumah itu di temani Mira yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
Mira merasa tak enak hati karena sepertinya dia akan terlibat pada petengkaran mantan suami istri itu bila di lihat dari rona wajah Erik yang terlihat sangat marah itu.