Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Healing


__ADS_3

"Boleh aku tinggal di sini semalam saja, aku ingin menikmati suasana laut dan pantai, rasanya sudah puluhan tahun aku tak pernah melihat suasana se indah ini, lagi pula,,,, aku juga malas bertemu ibu ku !" bujuk Mira yang masih ingin menikmati suasana laut.


"Terserah, aku akan menyewakan mu sebuah resort untuk kau tinggal dan menginap di sini," ucap Erik.


"Aku ? Hanya aku ? Lantas Om ?" tanya Mira.


"Aku bukan pengangguran seperti mu, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, nanti sore atau malam aku kesini lagi, setelah semua pekerjaan ku selesai !" kata Erik yang kemudian mengotak atik ponselnya entah berkirim pesan dengan siapa.


"Okay bos ! Terimakasih, gak usah buru buru ngerjain pekerjaannya, aku setia menanti di sini, kok !" goda Mira seperti biasanya.


"Sekali lagi kau kegatelan seperti itu, aku tak akan kembali ke sini !" ancam Erik.


Tapi ancaman Erik hanya di sambut senyuman oleh Mira yang seakan ketagihan menggoda Erik yang selalu menggemaskan jika sedang kesal padanya.


Erik membawa Mira ke sebuah resort mewah yang menghadap ke laut, resort yang cukup nyaman, Erik juga meminta seorang pegawai resort untuk menemani Mira selama dirinya pergi.


"Jangan macam macam, jangan pergi jauh jauh, tunggu aku kalau mau pergi ke mana mana, dan satu lagi, no alkohol !" pesan Erik terdengar begitu panjang, entah mengapa pria itu tiba tiba menjadi sangat cerewet saat hendak pergi meninggalkan gadis yang selalu membuatnya kesal itu.


"Iya, aku hanya ingin berdiam diri sambil menikmati pemandangan dari sini saja, kalau anak muda jaman sekarang bilang healing om, healing !" oceh Mira.


Erik pun dengan berat hati meninggalkan Mira sendirian di resort, banyak tugas yang harus dia selesaikan hari ini, dan tak bisa di tunda.


"Om !" panggil Mira saat Erik sudah hampir sampai pintu keluar.


Erik menghentikan langkah beratnya dan membalikan badannya menghadap Mira yang tiba tiba memanggilnya.


"Apa ?" tanya nya.


"Kok langsung pergi aja sih !" protes Mira.


"Apa lagi ? Makanan sudah aku pesan kan, kalau butuh apa apa kamu bilang ibu penjaga resort yang akan menemani mu selama aku belum datang !" kata Erik.


"Kamu gak cium aku dulu gitu ? Kita berpisah lama lho, sampe malem !" cengir Mira.


Erik menggelengkan kepalanya sambil meraup wajahnya kasar, lagi lagi dirinya kena di kerjai gadis menyebalkan itu.

__ADS_1


Erik melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Mira yang mengekornya di belakang dengan wajah ceria dan penuh kegembiraan.


"Bye Om, hati hati,,,, kalo kangen jangan lupa telpon ya !" teriak Mira sambil melambaikan tangannya saat mobil Erik melaju meninggalkan halaman resort.


***


Mira sungguh benar benar membawa energi positiv dalam diri Erik, sepanjang perjalanan dari resort menuju apartemen nya bibir Erik tak lepas dari senyuman, apa lagi saat dirinya mengingat kejahilan dan keusilan Mira yang tiba tiba membuat dadanya menghangat saat potongan potongan memori itu melintas di pikiran nya.


Perjalanan panjang di temani lamunannya tentang Mira telah berakhir, karena kini Erik sudah sampai di basement apartemennya, setelah memarkirkan mobilnya, Erik bergegas memasuki ruangan loby dimana Kemal, dan beberapa anak buahnya sudah menunggu, ada juga Tita dan Alisha yang sepertinya ikut menunggu kedatangan Erik seperti yang lainnya.


"Mana anak kurang ajar itu ? Kenapa tak ikut ke sini ?" sewot Tita.


"Aku mewakili dia !" ucap Erik singkat.


"Apa apaan ini, bukannya harusnya ada dia di sini, dia anak ku, kau tak berhak atas dia, kau bukan suaminya !" maki Tita


"Kemal, kau sudah jelaskan semua padanya ?" Erik tak meladeni ocehan Tita, dia justru berbicara pada Kemal yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan aneh.


Semalam Erik memerintahkan Kemal untuk membawa ibu dan adik tiri Mira ke hotel, lalu siang ini Erik sengaja mengadakan pertemuan dengan mereka demi sebuah surat perjanjian.


"Bos, wajah mu terlihat sangat ceria, apa ini wajah orang yang sedang jatuh cinta ?" ledek Kemal berbisik karena tak ingin para pekerja yang sedang memindahkan barang Mira.


"Diam, atau kau ikut berkemas juga karena akan ku pindahkan tempat kerja mu di kutub utara !" semprot Erik.


"kak, tolong sampaikan maafku pada kak Mira, aku sebenarnya tidak bermaksud merebut tempat tinggal kak Mira, aku bisa tinggal di mana saja, tapi ibu memaksa ku, mungkin salahku yang memilih kuliah di sini, karena aku ingin lebih mengenal tempat kelahiran almarhum mama ku !" Alisha tiba tiba mendekati Erik dan berbicara seperti itu pada pria yang selalu bersikap dingin dan memagari diri dengan tembok tinggi saat berbicara dengan lawan jenis, kecuali Mira !


"Maaf, bila memang ada yang perlu di sampaikan, anda bisa membicarakannya dengan saya, nona !" ucap Kemal seperti biasa menjalankan tugasnya sebagai asisten, berperan sebagai tameng yang mewakili bosnya saat ada lawan jenis yang mendekati dan mencoba berbicara dengan bos dinginnya itu.


"Oh, maaf ! Aku tak punya maksud lain, hanya berusaha akrab dengan kekasih kakak tiri ku saja !" ucap Alisha seraya mencuri pandang ke arah Erik yang tak terkesan tak tertarik sedikit pun menoleh pada gadis blasteran itu.


Almarhum ibunya Alisha memang asli Indonesia, jadi tak heran jika gadis indo itu fasih berbahasa Indonesia, karena sang ibu dulu sering mengajarinya bahasa Indonesia.


***


Acara pemindahan barang barang Mira sudah selesai, hari sudah beranjak sore, setelah selesai mandi dan membawa beberapa baju yang mungkin di butuhkan Mira Erik segera bergegas membelah jalanan kembali, menuju resort tempat Mira kini berada, seharian bahkan dia tak bisa fokus mengerjakan apapun karena terus kepikiran Mira yang dia tinggalkan di sana karena harus mengurus kepindahan barang barang Mira.

__ADS_1


Sekitar jam tujuh malam Erik sudah sampai di halaman resort, pria itu berjalan memasuki resort yang entah mengapa sangat ingin dia kunjungi sejak tadi siang.


Namun saat dirinya memasuki resort itu, suasana sunyi, semua ruangan kosong,


Erik mengeluarkan ponselnya dari saku dan mulai menghubungi Mira berulang kali, sial nya ponsel Mira ternyata berbunyi di atas meja makan


Erik sedikit hawatir, apalagi ibu penjaga resort yang dia tugaskan untuk menemani Mira juga tak di temukan di sana.


"Hai om, aku pikir tengah malam baru akan sampai ke sini lagi !" sapa Mira yang baru saja masuk dari arah luar pintu utama.


"Lain kali kalau pergi, benda ini di bawa, jangan fi tinggal begitu saja,!" Erik mengacu gkan ponsel Mira yang tak sengaja tertinggal di rumah.


"Ah, iya lupa ! Lagi pula, aku hanya keluar untuk membeli ini !" Mira juga mengangkat tinggi tinggi plastik berisi makanan yang baru saja dia beli.


"Apa itu ?" tanya Erik.


"Nasi gorwng seafood pedas !" jawab Mira sambil memindahkan nasi goreng yang di bubgkus kertas minyak itu ke sebuah piring.


"Dan kau hanya beli sebungkus ?"protes Erik.


"Aku gak tau, kalau om akan kangen secepat ini, tau tau jam segini udah nongol aja !" seloroh Mira.


"Egois !" cibir Erik.


"Kita bisa makan barengan kalau om mau, biarp keliatan lebih akrab !" Mira menyodorkan piring berisi nasi goreng itu ke hadapan Erik yang juga ikut duduk di meja makan menemani dirinya.


"Kenapa di kasiin aku, katanya barengan ?" tanya Erik bibgung, karena piring itu di sodorkan ke hadapannya.


"Iya barengan, tapi aku di suapin om aja !" cengir Mira.


"Ngelunjak !" omel Erik sambil tetap menyendokan nasi goreng di piring, dan membawanya ke depan mulut Mira.


Entah lah, terkadang Erik pun tak mengerti mengapa mulut dan tubuhnyq selalu tak bisa di ajak kompromi jika itu menyangkut Mira si gadis konyol.


Mulut nya mungkin selalu berkata tidak, tapi tindakannya selalu melakukan hal yang sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2