Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Wanita Tak Tau Diri


__ADS_3

"Erik !" Citra berlari dan mencoba memeluk mantan suaminya itu, kedua tangannya sudah dia rentangkan siap mendekap tubuh Erik yang dulu selalu memeluknya erat.


Namun Erik yang melihat gelagat tak baik dari Citra segera menghindar dengan mengulurkan tangan kanannya ke depan seraya menahan tubuh Citra agar tak mendekat pada tubuhnya.


"Tolong hargai calon istri ku, jangan seperti ini !" tegas Erik sambil melirik ke arah Mira yang terdiam karena tak tau harus berbuat apa, meski begitu, dia cukup merasa bangga karena Erik tak mengabaikan kehadiran dirinya di antara mereka.


"Aku akui kalau aku memang bersalah pada mu, tapi saat ini aku sangat membutuhkan pertolongan mu, kamu pasti tak akan tega jika aku dan Jemi harus menggelandang di jalanan, kan ?" ratap Citra mencoba mengambil simpati Erik.


Tapi Erik tak bergeming, dirinya tak merasa terenyuh sedikitpun dengan cerita mantan istrinya itu.


"Roni berselingkuh, aku tak kuat lagi hidup dengannya, aku memutuskan untuk pergi dari rumah itu, aku tak tau harus kemana, karena Ibu ku pasti tak akan mau menampungku, pilihan terakhir satu satunya hanya rumah ini " urai Citra mulai menjual kesedihannya pada Erik, berharap laki laki yang menurutnya masih mencintai dirinya itu akan menyimpan iba dan merangkulnya kembalin ke dalam pelukannya, sungguh besar harapan Citra, terlebih ketika melihat suasana rumah yang sama sekali tidak Erik rubah, dan itu tidak menutup kemungkinan jika hati Erik pun belum berubah, masih mencintainya seperti dulu.


"Maaf, tapi kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi, untuk masalah rumah tangga mu sebaiknya kau selesaikan sendiri dengan suami mu, aku hanya orang luar," tepis Erik tak ingin masuk terlalu dalam pada masalah yang terjadi antara Citra dan suaminya, meski dirinya tahu kalau Roni memang sedang sering terlihat bersama Dinda, tapi baginya itu di luar konteksnya sebagai mantan suami Citra, masih banyak hal lain yang harus Erik urus, masalah pekerjaan yang tak ada habis habisnya saja sudahsangat menyita pikiran Erik, di tambah lagi mengurusi rencana pernikahannya dengan Mira, rasanya dia tak berminat sedikitpun untuk menambah pikiran untuk kepalanya, apa lagi itu masalah Citra yang di nilainya tidak penting sama sekali.


"Erik ayolah,,, bantu aku, ijinkan aku tinggal di sini untuk beberapa hari saja, aku butuh waktu untuk menenangkan pikiran ku, aku benar benar butuh bantuan mu !" rengek Citra setengaha memaksa.


"Aku tidak ingin terlibat dengan masalah mu, jadi tolong jangan libatkan aku dalam hal ini !" tegas Erik seraya menggenggam tangan dan menautkan jemarinya dengan jemari Mira, dia merasa tak enak hati karena sepertinya Mira berada di posisi yang tidak mengenakan saat ini,


Namun Erik tak ingin mengulang kekonyolannya, dengan menemui mantan istrinya itu sendirian tanpa sepengetahuan Mira sang calon istri, dia tak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka, baik atau pun buruknya Mira harus tahu, pikirnya.

__ADS_1


Karena sebentar lagi Mira akan menjadi bagian dari hidupnya, jadi mau tidak mau harus siap juga bila suatu saat kisah masa lalu atau pun orang orang dari masalalunya datang mengusik, meski Erik tak akan membiarkan itu terjadi.


"Erik, tolonglah ! Aku harus kemana lagi, harus meminta tolong pada siapa lagi, selain kamu ? Setidaknya lihatlah Jemi, demi Jemi !" Citra menggunakan anaknya yang sedang terlelap di troller bayi.


"Kau sudah mengambil keputusan dan jalan mu sendiri saat kau melangkah ke luar dari rumah ini hari itu, aku sudah melarang dan mencoba mempertahan kan mu untuk tetap di sini, tapi kau tak peduli, jadi apapun yang terjadi pada dirimu saat ini, semua bukan urusan ku, dan di luar tanggung jawab ku, kau paham ?!" geram Erik.


"Aku memang mungkin bukan tanggung jawab mu lagi, tapi ingat, kau punya tanggung jawab yang lain, rencana pernikahan mu dengan gadis itu akan hancur jika aku mengungkapkan yang sebenarnya !" ancam Citra yang terpaksa menggunakan cara itu demi untuk mendapatkan belas kasihan Erik.


"Kau berani mengancam ku ? Maka lakukan, katakan padanya, asal kau tau,,, tak ada satu pun kebohongan di antara aku dan kekasih ku, dia tau semua cerita tentang diri ku, termasuk tentang anak itu !" Erik melirik Mira yang berdiri di sampingnya dan menjadi pendengar dan penonton setia pertikaian antara sepasang mantan suami istri itu.


Emosi Erik tiba tiba mereda saat mendapatkan senyuman manis dari Mira, gadis itu membuat hatinya yang semula panas menjadi adem seketika.


"Tunggu, bukan kah kau sudah berjanji untuk tak memberitahukan pada siapa pun tentang masalah ini ? Bagaimana jika dia mengatakan hal ini pada Roni ?" Citra mengarahkan pandangan tajamnya pada Mira yang seolah tak menyiratkan ketaakutannya pada Citra sedikit pun saat itu.


"Mira ada di rumah sakit saat kau memberi tahu ku tentang masalah itu, dan aku yakin dia bukan tipe wanita pengadu, lagi pula, kau pikir suami mu peduli jika tau masalah ini ?" ejek Erik tersenyum miring dan sinis.


"Sialan ! Roni mencintaiku seperti hal nya kau masih mencintai ku sampai saat ini, jika saat ini dia bermain wanita, aku yakin beberapa hari lagi juga dia akan segera kembali ke pelukan ku, aku hanya butuh tempat untuk istirahat beberapa hari saja, ini juga demi Jemi !" ucapan Citra terdengar putus asa.


"Aku rasa sebaiknya kau pulang ke rumah suami mu atau ke rumah ibu mu, aku tak akan pernah mengijinkan mu untuk kembali ke sini, sudah tak ada tempat untuk mu di sini !" tegas Erik lagi.

__ADS_1


"Cih, tak ada tempat untuk ku di sini kata mu ? Kau pikir mata ku buta, huh ? Kau pikir ingatan ku terganggu, huh ? Aku masih bisa melihat dan masih bisa mengingat letak barang barang yang masih tertata rapi seperti dulu, bahkan foto kebersamaan kita, foto pernikahan kita, semua masih utuh berada di tempatnya, apa arti semua itu kalau bukan kau masih menyimpan tempat teristimewa untuk ku di rumah ini dan juga di hati mu ?!" tanya Citra sengaja menjelaskan semuanya di hadapan Mira, berharap calon istri Erik yang baru itu mendengar dan mengetahuinya kemudian membuatnya marah atau paling tidak cemburu mendengar apa yang di katakannya.


Namun sayangnya Mira masih terlihat dengan raut wajah yang datar dan biasa saja, seperti tak terpancing sedikit pun dengan umpan yang sengaja di lemparkan nya itu.


"Cukup ! Kau boleh pergi dari rumah ini, aku tidak mengijinkan mu untuk berada di sini !" kesabaran Erik sepertinya sudah tak dapat lagi mentolerir ulah gila Citra yang semakin membuatnya muak, apalagi Erik tau, Citra sengaja mengatakan semua itu demi untuk membuat Mira cemburu dan terjadi pertengakaran antara dirinya dan kekasihnya itu.


"Jaja, Yanti, buang semua barang dan foto yang seolah olah aku masih menaruh hati padanya, aku akan mengganti semua perabotan di rumah ini, kalau perlu rumah ini ku hancurkan dan ku bangun lagi dengan bangunan yang baru agar tak terlihat lagi sisa sisa bangunan lama yang sebelumnya !" tukas Erik dengan suara lantangnya memerintahkan sepasang suami istri yang merupakan asisten rumah tangganya itu.


"Satu lagi, pastikan dia tak menginjakan kaki nya lagi di sini !" lanjut Erik memerintah.


"Kau !? Dasar tak punya hati, ayah yang kejam !" maki Citra kesal, namun Erik tak peduli, dia malah menggandeng mesra Mira untuk pergi meninggalkan rumah itu.


Kedua tangan Citra mengepal, sungguh dirinya merasa sangat terhina dengan perlakuan Erik yang di anggapnya kasar kepada itu.


Citra merasa kalau itu pasti disebabkan oleh pengaruh buruk Mira sehingga Erik yang sebelumnya selalu bersikap baik dan manis padanya, kini berubah drastis menjadi terkesan kejam padanya dan tak peduli lagi.


'Tunggu pembalasan ku, kau tak bisa merebut Erik begitu saja dari ku, kau hanya orang asing yang datang di antara aku dan Erik !' geram Citra dalam hatinya.


Begitu gampangnya wanita tak tau diri itu menyalahkan dan melimpahkan kesalahan pada orang lain, dia lupa kekejaman apa yang telah dia perbuat sampai Erik bersikap sedingin itu sekarang padanya.

__ADS_1


__ADS_2