
Suara dentuman musik keras memenuhi seisi ruangan klub, malam itu.
Mira berjalan sendiri memasuki ruangan gelap penuh asap rokok dan bau pekat alkohol di mana mana.
Sudah lama rasanya, sejak lulus dan wisuda dia tak pernah lagi bermain main di tempat sarang maksiat itu. Regan bahkan berkali kali memintanya datang, namun karena kesibukannya yangvkini menqngani proyek demi membayar hutang, Mira belum sempat memenuhi undaangan sahabatnya itu.
Malam ini kebetulan ladies night, hari rabu yang di tunggu tunggu para wanita penikmat dosa, dan pemburu bahagia dimana mereka bisa mendapatkan banyak gratisan khusus untuknpara kaum hawa.
"Cumi,,,! Lo udah jadi wanita karier trus jadi gak doyan joget sambil teler nih ?!" sapa Regan menyambut kedatangan sahabatnya sambil menyodorkan segelas vodka.
"Uhh,,, badas ! Baru dateng gue udah di suruh minum yang berat berat nih, mau bikin gue mabok cepet nih ceritanya ?!" cengir Mira seraya menerima gelas yang di sodorkan Regan sang sahabat sambil mengangkatnya setinggi kepala lalu meneguknya sampai tandas.
"Wah, kemampuan minum lo masih oke ternyata !" ucap Regan memberi tepuk tangan.
"Cih, gitu doang mah berasa ngedip gue !" sombong Mira.
"Kasih gue sebotol dong !" pinta Mira.
"Gak masuk list gratis yang ini, tapi kalo lu mau gue yang bayarin aja, gak apa apa !" kata Regan.
"Gak usah, gue bayar sendiri !"tolak Mira.
"Ishhh, yang udah kerja,,, ngeri ya belum sebulan udah kaya raya aja, jadi simpenan bos, lo !?" goda Regan.
"Ckk, gue kerja bakti di sana, gue punya utang, gara gara si Tita tuh minta duit se- em,!" umpat Mira pada ibu nya.
"Mak lu minta duit se milyar ? gila apa tuh emak emak, gimana ceritanya ? Eh, tapi lo gak jual diri, sama bos lo, kan ?" tanya Regan menghentikan aktivitasnya sejenak karena merasa penasaran dengan cerita sahabatnya.
"Anjirrrr lah, gue kerja, kerja beneran. Jelek banget pikiran lo, monyet !" kesal Mira yang lalu di balas tawa renyah Regan yang seperti nya puas karena sudah membuat kesal sahabatnya itu.
Namun baru saja Mira mengangkat botol vodka dan akan menuangkan minuman pada gelasnya yang kini sudah kosong, sebuah tangan kekar menyambar botol minuman yang berada di tangan Mira.
"Eh, apaan sih lo !" hardik Mira galak sambil menengok kasar ke arah orang yang lancang mengambil minumannya itu.
"Apa ?!" pelotot Erik yang kini sudah berdiri di samping Mira dan menguasai minumannya.
"Om, anda kan seorang bos, kaya raya pula, uang anda berserakan di mana mana, kenapa mesti minta minuman saya ? Beli sendiri napa !"sungut Mira dengan nada suara yang menurun, pandangannya pun tak segalak tadi, saat tau yang merampas minumannya adalah bos arogant nya.
Erik hanya diam, dia juga merebut gelas di tangan Mira lalu menuangkan isi botol minuman itu dan menyesapnya tanpa memperdulikan ocehan Mira yang kini melongo melihat minumannya berpindah tangan.
"Bos, itu gelasnya bekas saya, padahal saya belum gosok gigi selama empat hari lho...!" cicit Mira.
__ADS_1
"Eh cumi, jorok lu ! Empat hari gigi lu gendut tuh berjaket jigong !" sambar Regan ketawa ngakak sambil melempar serbet ke arah Mira yang masih memasang tampang wajah memelasnya.
"Hai Mir !" sapa seorang wanita berpakaian dress mini sambil tersenyum ke arah Regan yang menyibukan diri dengan pekerjaan nya.
"Masih jomblo aja lo ?" sambung wanita itu.
"Pengen tau banget lo, Dora !?" ucap Mira melengos setelah tau yang menyapa nya yaitu Nana, musuh bebuyutan nya semenjak mereka di bangku SMU, sebenarnya masalahnya hanya karena Nana yang naksir Regan, namun Regan menolaknya, dan semenjak itu Nana merasa Mira adalah satu satunya wanita yang harus di bencinya seumur hidup karena dia selalu bisa berdekatan dengan Regan sang gebetan.
"Sialan lo, masih aja manggil gue dengan sebutan Dora !" kesal Nana, karena Mira selalu menyamakan dirinya dengan tokoh kartun anak anak dengan jargon 'berhasil, berhasil' itu karena rambut bob pendek berponi nya.
"Gue denger denger lo udah lulus, trus udah kerja di perusahaan gede, tapi dandanan lo masih nge gembel aja, masuk klub kaya mau ke pasar induk, masuk pas gratisan, pula !" nyinyir Nana.
"Ga usah banyak omong deh, lu ! Mulut lo bau kentut !" sungguh Mira sangat malas meladeni iblis betina satu itu.
"eh, nih anak songongnya gak sembuh sembuh ya,!" kesal Nana yang lalu menyadari kehadiran Erik disana.
"Hai bang ! Gak nyangka bisa ketemu di sini, kok gak pernah ke rumah lagi sih !?" rengek Nana manja, bergelendot ke lengan kekar Erik.
"Lepas !" bentak Erik.
"Bang ! Cuma megang doang ! Punya kakak kok kaya es batu, dingin !" cebik Nana yang merupakan anak dari dokter Husen, paman Erik, pemilik rumah sakit ternama itu.
Mira menganga saat mendengar pengakuan Nana yang mengatakan kalau Erik adalah kakaknya.
"pulang,!" ucap Erik yang tiba tiba terdengar dari arah bekang tempat Mira duduk.
"Apa sih, anda memang bos saya, tapi ini bukan di kantor, saya juga memang punya utang sama anda, tapi kan saya sedang berusaha membayarnya !" ketus Mira yang merasa terganggu dari keasikannya.
"Besok ada tugas tambahan ke lokasi proyek, ntar ga masuk kerja alesan sakit, lagi !" ucap Erik.
"Eits, saya mah profesional bos, mabok ya mabok, kerja ya kerja, kalo gak bisa kerja gara gara mabok, minum jamu aja, gak usah minum alkohol !" racau Mira yang sudah setengah teler itu.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Nana memperhatikan Erik yang sedang mengobrol dengan Mira, wanita itu penuh dengan rasa penasaran di hatinya mencari tahu ada hubungan apa kakak sepupunya dengan musuh bebuyutannya itu.
***
"Bos mau traktir apa nih ? Kok, saya di bawa ke mall ?" tanya Mira siang itu yang di ajak Erik ke kafe tempat biasa dia memperhatikan Citra setiap hari nya.
"Gak usah banyak tanya, diam dan pesan makan kalau kau ingin makan, jika tak ingin makan, ya tutup mulut !" Erik menempelkan telunjuknya ke bibir tanda dia meminta Mira untuk diam.
Lama Mira memperhatikan sikap Erik yang menurutnya terkesan aneh itu, laki laki itu hanya diam mematung, matanya selalu menuju ke arah butik sebrang kafe, sampai akhirnya Mira menyadari sesuatu, pandangan mata sang bos itu terkunci pada sosok wanita yang tengah hamil di dalam butik itu.
__ADS_1
"Hmm,,, pantesan anteng, ternyata matanya nyangkut di mantan !" sindir Mira yang tak mendapat respon apapun dari bos yang sedang di sindirnya itu.
"Hayu om, anter aku sebentar !" ajak Mira yang sudah sedikit kesal dengan tingkah menyedihkan bos nya itu menarik pergelangan tangan Erik dengan paksa.
"Hey, mau di bawa ke mana ?" Erik sedikit berontak saat ternyata Mira membawanya ke butik tempat dimana Citra sang mantan istri berada.
"Diam, jadi cowok kok lemah banget, mau sampe kapan melototin istri orang sambil nangis di pojokan ?" omel Mira sambil terus memaksa Erik masuk ke butik itu.
Erik melotot tak terima saat Mira mengatakan kalau dirinya melototin istri orang sambil nangis di pojokan, apa dirinya se menyedihkan itu di mata Mira ? pikirnya.
"Hai Rik, tumben main kesini. Ada perlu apa ?" tanya Citra ramah.
"Ah itu,,,aku---" ucap Erik tergagap.
"Bos saya mau mencari gaun untuk acara makan malam, " sambar Mira asal.
"Makan malam ?" beo Citra.
"Iya, mau nge date katanya,,,!" cengir Mira ngeledek.
"Ish, Mira !" pekik Erik tertahan.
"Oh ya ! Selamat,,, aku ikut senang kamu sudah punya pacar, semoga langgeng dan berbahagia ya !" ucap Citra tulus dengan mata berbinar.
Deg, hati Erik terasa di hantam pukulan kencang, Citra bahkan tak peduli dirinya sudah bersama orang lain, sementara Erik sendiri masih tersesat bersama kenangan tentang wanita hamil itu.
Mira dan Erik keluar dari butik itu dengan menenteng beberapa tas belanjaan, Citra bahkan memilihkan gaun gaun cantik untuk teman kencan mantan suaminya itu.
"Kenapa bos diem aja ? Bos marah ya karena aku ajak ke butik itu ?" tanya Mira.
"Kenapa ? Kau mau menertawakan dan mengasihani aku gara gara aku masih belum bisa merelakan mantan istri ku itu ?" sinis Erik.
"Bos, aku hanya ingin membuka mata bos, kalau mantan istri bos sudah tak perduli sama bos, dia juga sepertinya sudah bahagia dengan bang Roni, lihat saja, auranya begitu bersinar dan ceria !" urai Mira.
"Kau tau apa tentang perasaan orang !" ketus Erik.
"Bos, mau sampai kapan bos terjebak dalam perasaan bos itu, cari kebahagiaan bos sendiri, biarkan dia bahagia bersama laki laki pilihannya, Tuhan tau yang terbaik untuk kalian !" ucap Mira sok bijak.
"Aku bahagia !" elak Erik.
"Bahagia ? Wajah irit ekspresi seperti ini di bilang bahagia? Aku yakin bos juga lupa caranya tersenyum !" ejek Mira.
__ADS_1
Erik terdiam, dia hanya pura pura serius mengemudi saat perjalannan nya kembali ke kantor, padahal dia sedang mencerna apa yang di katakan Mira, ini pengalaman pertamanya ada orang yang berani mencemooh sikapnya secara terang terangan seperti Mira, bahkan Kemal sekali pun tak pernah berani memprotes sikapnya.
Satu yang saat ini dia pikirkan, dia sedang megingat ingat, kapan terakhir kali dirinya tersenyum, sungguh dirinya tak ingat kapan itu terjadi, 'se menyedihkan itu kah dirinya ?' tanya Erik dalam hati.