
Erik terlihat tak tenang menunggu kabar dari Kemal yang di tugaskan mencari tahu keberadaan Mira saat ini, berulang kali pria itu melirik layar ponselnya, namun tak juga ada tanda tanda Kemal akan menghubunginya.
Sampai jam delapan pagi Kemal baru menghubunginya, sementara Erik yang sama sekali belum memejamkan matanya semenit pun langsung menyambar ponsel dengan nama Kemal tertera di layarnya itu.
"Bos, Mira berangkat ke Bali tadi pagi, penerbangan pertama," lapor Kemal.
"Urus semua keberangkatan ku kesana, aku akan menyusul Mira," titah Erik seperti biasa pada Kemal.
Dengan semangat 45 Erik langsung mengambil beberapa lembar baju dan memasukan ke dalam koper, dia bersiap untuk berangkat menyusul sang pujaan hati yang menurut Kemal kini berada di pulau dewata itu.
Erik sudah membulatkan tekad untuk meminta maaf pada kekasihnya itu, dia akan melakukan apapun agar Mira memaafkan kesalahannya dan kembali ke sampingnya.
Namun di tengah perjalanan menuju bandara, Citra menelponnya, memintanya untuk segera datang ke rumah sakit.
"Maaf Cit, aku sudah menunaikan tugasku untuk mendonorkan darah ku untuk anak mu, aku punya urusan sendiri yang harus segera ku selesaikan, karena ini menyangkut masa depan ku !" tegas Erik dan segera mengakhiri pembicaraannya dengan Citra.
Erik terhenyak dan menghentikan laju kendaraannya secara tiba tiba saat membuka sebuah pesan dari Citra yang berisi sebuah surat keterangan yang menyatakan kalau Jemi adalah benar benar anak kandungnya, 99 persen akurat.
"Apa ini ? Kapan aku melakukan tes DNA ? Kenapa ada surat seperti ini ?" kesal Erik yang merasa tak pernah melakukan tes DNA untuk dirinya dan anak itu.
Perang batin pun tak dapat di hindari oleh Erik, rasanya dia tak ingin memilih satu di antaranya, sungguh benar benar tak enak berada di posisi seperti yang sekarang sedang Erik alami.
Dengan segala kegalauan hati, Erik memutar arah, pria itu memilih untuk bertemu dengan bayi tak berdosa yang di sebut sebut sebagai darah daging dirinya oleh Citra.
Kenyataan ini terlalu mendadak, hati Erik tak siap tiba tiba menjadi seorang ayah dari wanita yang pernah memberinya luka, di saat dia perlahan mulai menyingkirkan masa lalu yang pahit itu dari hati dan pikirannya.
Mengapa takdir memaksanya untuk kembali terjerembab pada lembah luka yang baru saja hampir berhasil dia lewati dengan mengukir kisah baru bersama Mira, apa Tuhan tak mengijinjannya untuk bahagia ?
__ADS_1
Berjuta pertanyaan bergolak dalam batinnya, seakan alam tak pernah berpihak padanya, ingin sekali Erik marah dan menyalahkan takdir, tapi apa itu bukankah berarti sama saja Erik menolak darah dagingnya sendiri ?
"Erik tolonglah, anak kita kritis, mungkin dengan bertemu dan di temani oleh mu Jemi akan lebih tenang dan membaik," mohon Citra menarik paksa lengan Erik untuk melihat Jemi yang berbaring degan beberapa selang terpasang di tubuh mungilnya dari balik sekat kaca.
Erik terdiam kaku, haruskah dia menyangkal atas kehadiran bocah tak berdosa itu ?
Kenapa dulu dirinya seakan di depak begitu saja karena kehadiran bayi di dalam rahim Citra yang di gadang gadang sebagai anak dari hasil perselingkuhan nya dengan Roni.
Kini Erik seakan sengaja di tarik paksa untuk menerima anak yang mereka renggut paksa darinya sejak awal kehadirannya.
"Kamu berharap aku bagaimana ? Kamu ingin aku bersikap seperti apa ? Bukankah sejak awal kamu mengatakan bahwa anak itu adalah anak hasil perselingkuhan mu ? Lalu sekarang tiba tiba saja---- kamu anggap apa aku ini ? Kenapa kamu mempermainkan perasaan ku seenak dan sesuka hati mu ?" sinis Erik, matanya terus tertuju ke depan di mana Jemi berbaring, sungguh dirinya tak sudi melirik Citra sedikit pun, hatinya terlalu sakit saat ini.
Citra bukan saja menggoreskan luka pada masa lalunya, tapi dia juga berpotensi menghancurkan masa depan yang sudah di rancangya dengan indah bersama Mira, ini terlalu kejam bagi Erik dan tak adil untuk Mira.
'Ah Mira,,,!' pekik Erik dalam hatinya, saat ini dirinya sungguh merasa seperti pecundang yang tak bisa menentukan sikap.
***
'Mungkin sekarang dia sedag berbahagia bersama anak nya, bagaimana pun, mba Citra adalah cinta sejatinya. Apalagi sudah ada anak seperti sekarang ini, Erik pasti tak akan pernah melepaskan lagi mba Citra,' batin Mira perih.
Mira menyusuri pantai sendirian, tak terbayangkan olehnya akan merasakan patah hati secepat dan sesakit ini, pupus sudah segala angan angan tentang menghabiskan malam pergantian tahun berdua bersama Erik, dirinya harus mulai mempersiapkan diri menjalani hari esok dan seterusnya tanpa sosok Erik yang selama ini telah mengisi hari hari nya.
Mira kembali harus menjalani kesendiriannya,
'It's okay Mira, kamu sudah terbiasa bertahun tahun hidup sendiri, ini pasti akan kamu lalui dengan sangat mudah,' ucap Mira menenangkan dirinya sendiri.
"Selamat malam dunia, ku siap tuk berpesta !" penggalan lirik lagu lawas milik jikustik itu terus Mira dendangkan untuk menghibur lara hatinya.
__ADS_1
Walau langkahnya tak terasa ringan seperti biasanya, tapi Mira cukup bersemangat untuk melewati pergantian tahun dengan berpesta sepanjang malam, Mira akan menutup tahun seiring dengan menutup kisah cintanya bersama Erik, meski dia yakin itu tak akan mudah, tapi tetap harus dia hadapi.
Sebuah klub malam terbesar dan mewah menjadi pilihan Mira menghabiskan malam ini, dia bersumpah akan mabuk sampai tak mengingat apapun tentang Erik malam itu.
Suara alunan musik dari dj ternama menggema keras begitu Mira memasuki ruangan luas yang terlihat sesak karena ratusan orang berkumpul menjadi satu di sana, ingin menghabiskan malam dengan sorak sorai suka cita.
Mira menengok ke kiri dan ke kanan, tak ada seorang pun yang di kenalnya, semua wajah asing itu asik dengan kesenangan mereka sendiri, beberapa bule juga terlihat membaur di sana.
Seperti biasa, Mira memilih duduk di area long bar yang terlihat tidak begitu ramai karena hampir sebagian banyak pengunjung memilih untuk berkumpul di lantai dansa.
Mira langsung memesan sebotol black label, rasa panas alkohol yang melewati tenggorokannya saat itu tak ada apa apanya di banding rasa panas dan perih di hatinya, se sloki demi se sloki dia minum minuman memabukan itu hampir tanpa jeda, menyesapnya bak sedang menikmati jus buah yang manis.
"Boleh aku bergabung, nona !?" Suara seorang pria terdengar sangat dekat di telinganya, seolah orang itu sengaja berbicara dengan menempelkan mulutnya di telinga Mira.
"Siapa kau ! Jangan kurang ajar, !" hardik Mira memicingkan matanya yang mulai sedikit samar melihat wajah orang yang kini berdiri di sampingnya itu.
"Jangan galak galak, bukannya kamu berjanji akan bersedia di traktir oleh ku jika kita bertemu lagi, dan sekarang aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri, ?" ucap pria itu menarik kursi tepat di sebelah Mira.
"Ah Niko Hartono si anak manja itu rupanya ! Kenapa diluasnya belahan dunia ini, aku harus bertemu dengan mu di tempat ini, ?!" racau Mira.
"Mungkin kita berjodoh !" ucap Niko enteng.
"Dan satu lagi, aku bukan anak manja seperti yang kau bilang, karena sekarang aku sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri, aku juga sudah bisa mentraktir mu minum sepuasnya malam ini !" lanjut Niko dengan cengiran khas nya.
Cih, Jodoh,,,! Minuman jenis apa itu Jodoh ?!" umpat Mira kesal, dirinya kini sudah tak dapat mengendalikan dirinya sendiri, di samping suasana hatinya yang sedang tidak menentu, efek alkohol yang dia minum pun sepertinya mulai bereaksi.
"Kamu mabuk nona ? Sepertinya kamu sedang patah hati !" ejek Niko.
__ADS_1
"Aku belum mabuk, aku akan minum banyak malam ini sampai perusahaan papa mu bangkrut karena tidak bisa membayar tagihan minuman ku !" teriak Mira.
Niko hanya menggeleng, sangat jelas terlihat kalau wanita di sampingnya itu sedang tidak baik baik saja.