Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Do'a Ibu


__ADS_3

Erik memijat pelapisnya, setelah seharian lelah bekerja di kantor, belum lagi rasa rindu di karena hari itu Mira sudah mulai cuti kerja, karena hari pernikahannya sudah mulai hitingan jari, jadi dia ingin Mira di rumah saja istirahat, perawatan diri arau apapun yang membuat hati gadisnya itu senang, tapi ternyata kenyataan yang terjadi tak seperti yang dia harapkan, karena kini Tita dan Alisha jelas jelas sedang menguji kesabaran calon istrinya yang tak lagi ingin sabar menghadapi sikap menyebalkan ibu dan adik tirinya itu.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini, aku tak mau mood calon istriku rusak gara gara kedatangan kalian, dan aku yakin kalian memang sengaja ingin membuat keributan dengannya di sini !" ucap Erik tak memang tak pernah bisa berbaik hati pada orang orang yang dia tahu selalu menyakiti Mira, dan selalu membuat calon istrinya itu dalam kesulitan setiap mereka datang.


"Hey, yang kau sebut calon istri mu itu adalah anak ku, sudah sepatutnya kau juga menghormati ku, karena aku akan menjadi mertua mu !" protes Tita mengacungkan telunjuknya ke arah Erik.


"Dari awal aku mengenal calon istri ku ini, dia hidup sendiri dan tak punya siapa siapa, kenapa anda tiba tiba muncul dan minta di akui sebagai mertua ?" Erik tersenyum sinis.


"Berapa mahar yang akan kau berikan saat pernikahan nanti ? Jumlahnya harus besar dan harus sepengetahuan ku, karena jika jumlahnya tidak fantastis, aku tak akan memberikan restu ku pada mu, aku bisa saja menikahkan anak ku dengan orang lain !" pembicaraan Tita semakin melantur dan tak tau malu.


"Kami tak perlu restu mu, ibu ! Hidup ku sudah sangat bahagia tanpa mu, dan kedatangan mu selalu memnciptakan nestapa di hidup ku, jadi lebih baik kita jangan pernah saling seperti yang selalu ibu minta padaku !" Mira semakin geram rasanya mengikuti arah pembicaraan Tita yang di pastikan ujung ujungnya akan berakhir pada uang dan uang.


"Cih, sombong ! Kau durhaka pada ibu mu ini, aku yang mengandung dan melahirkan mu, jika saja aku tau akan seperti ini sikap mu saat dewasa, sudah ku gugurkan sejak kau dalam kandungan ku ! Alisha yang tidak lahir dari rahim ku saja bisa menyayangi ku seperti ibunya sendiri, sementara kau, yang di aliri darah ku di tubuh mu, bersikap seolah aku orang asing bagi mu ! Kau tau, bila seorang ibu sakit hati, maka doanya akan di kabulkan, apa kau ingin aku sumpahi agar hidup mu tak pernah bahagia, huh ?!" Tita bersumpah serapah, menyumpahi Mira yang kedua matanya sudah mulai berair, mungkin hanya dengan satu kedipan mata saja bendungan air mata yang sekuat tenaga Mira jaga sedari tadi agar tak menetes akan jebol.


"Bu, dari dulu aku tidak pernah membenci mu, aku tau suami ibu tak suka jika aku ikut bersama ibu ke sana, makanya aku mengalah untuk hidup sendiri di sini, dan ibu memutuskan komunikasi kita, mengatakan dengan jelas kalau tak ingin di ganggu oleh ku, kapan aku menentang mu bu ? Aku mengalah demi kebahagiaan mu, tapi apa yang selalu ku dapat dari mu ? hinaan, makian, dan kini,,, sumpah serapah dari mulut mu untuk ku yang kau sebut darah daging mu,!" ucap Mira dengan suara bergetar menahan rasa sakit di dadanya.


"Terimakasih bu, atas semuanya, dan maaf jika Tuhan menakdirkan aku sebagai anak mu, maaf membuat mu menyesal telah mengandung dan melahirkan ku," lanjut Mira, tangannya meremas erat jemari Erik, meminta saluran kekuatan dari genggaman tangan calon suaminya itu.

__ADS_1


Erik tentu saja sangat marah dengan calon ibu mertuanya yang memperlakukan Mira dengan sangat keterlaluan, kata kata yang tak pantas keluar dari mulut seorang ibu terlontar begitu saja dengan entengnya, entahlah,,, apa masih pantas wanita seperti Tita menyandang gelar sebagai ibu atau tidak.


***


"Sial, mereka berdua sungguh sombong dan kurang ajar, aku tak terima di perlakukan seperti ini !" kesal Tita yang kini berada di apartemen Alisha karena Erik memanggil security untuk mengusir kedua wanita itu dari tempat tinggalnya.


"Iya bu, aku juga merasa sangat terhina dengan sikap mereka, tapi aku yakin ini semua karena pengaruh buruk kak Mira sehingga kak Erik menjadi se kasar itu, kalau kak Mira tadi setuju kita menginap di sana, kak Erik pasti mengijinkan kita, kak Mira itu mulai lupa daratan kakrena akan menjadi nyonya kaya raya !" Alisha seakan menjadi kompor bagi Tita yang kini sedang panas panasnya.


"Anak kurang ajar ! Lihat saja, hidup nya tidak akan pernah tenang selama aku masih ada di dunia ini, akan ku buat hidup nya penuh dengan masalah dan kesedihan !" ucap Tita yang tersulut emosi nya.


Sementara Alisha tersenyum puas dalam hatinya, karena merasa berhasil mengompori Tita sang ibu tiri.


"Itu sepertinya akan lebih menyenangkan, kalau kamu yang mendapatkan Erik, hidup kita akan terjamin, ibu juga bisa belanja dan berlibur sesuka hati dengan uang Erik," kedua mata Tita menerawang jauh, bibirnya bahkan mengulas senyuman saat pikirannya membawa dirinya membayangkan mendapat uang banyak dari Erik untuk belanja barang barang mewah dan liburan ke tempat tempat yang dia impikan selama ini.


"Makanya, ibu harus membantu ku, ibu juga harus ikut mensukseskan rencana ku nanti, ingat,,, ibu nanti akan ku belikan tas mewah, baju branded, sepatu mahal, mau kan ?" Alisha mengiming imingi Tita agar mau membantu menjalankan rencananya untuk merebut Erik dari sisi Mira.


Alisha sangat tau, kalau obu tirinya itu akan sangat lemah jika berhubungan dengan uang, barang mewah dan branded, jadi dia memanfaatkan kelemahan ibu tirinya agar turut membantu mewujudkan keinginan terbesarnya, yaitu memiliki Erik.

__ADS_1


Tita mengangguk anggukan kepalanya, pertanda dia setuju dan dengan senang hati akqn selalu membantu dan mendukung apa pun yang anak tirinya itu rencanakan dan inginkan.


***


"Sayang berhenti menangis, aku tak bisa melihat mu seperti ini," Erik mengusap punggung Mira yangasih tenggelam dalam pelukannya, dia tau kekasih tercintanya itu kini sedang terluka hatinya akibay ucapan Tita yang sangat kejam padanya.


"Bagaimana kalau ternyata sumpah serapah ibu menjadi nyata ? Aku tak keberatan jika aku yang harus menanggungnya sendirian, tapi aku takut jika kamu juga akan terkena imbasnya, bagaimana kalau kamu tidak akan mendapat kebahagiaan seperti yang di ucapkan ibu ?" tanya Mira yang masih menyembunyikan wajahnya di dada keras Erik yang tercium bau wangi parfum khas kayu kayuan yang biasanya selalu membuat Mira tenang, namun saat ini rasanya wangivitu tidak bekerja, karena Mira masih merasa gelisah dan ketakutan akan ancaman dan sumpah serapah yang di ucapkan Tita, sang ibu.


"Sayang, tujuan kita menikah dan bersama adalah baik, dan untuk kebaikan. Jadi jangan pernah takut hal buruk akan terjadi pada kita karena aku akan selalu menemani dan berada di samping mu dalam bahagia atau pun sedih, dalam hal baik maupun hal yerburuk sekali pun," lirih Erik mengecupi kepala Mira yang wanginya selalu membuatnya merasa rindu saat sedang tak bersama gadis kesayangannya itu.


"Tapi, bukan kah doa ibu itu biasanya akan terkabul ?" ujar Mira lirih.


"Kita hanya perlu selalu berbuat baik agar kebaikan itu kembali kepada kita, Tuhan tidak pernah tidur, sayang !" kata Erik,


"Ingat, everything we do, comeback to us !" lanjut Erik mengingatkan.


Mira mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Erik, sungguh dia merasa bahagia, Tuhan memberikan sosok Erik untuk menemani hidupnya, entah apa jadinya jika dia masih sendirian dalam menghadapi sikap ibunya itu, untunglah kini ada Erik yang selalu menguatkan dirinya yang sedang dalam keadaan rapuh itu.

__ADS_1


"Terimakasih, aku mencintai mu, sangat mencintai mu !" ucap Mira menghirup dalam dalam wangi tubuh Erik yang kini kembali berhasil membuatnya tenang dan siap menghadapi apapun yang akan terjadi di esok hari dan seterusnya.


__ADS_2