
"Sayang, bisa jelaskan ini semua pada ku ?!" tatapan Mira yang biasanya teduh, kali ini berubah dingin dan sedikit mengintimidasi suaminya.
Erik tersenyum, "Apa kamu yakin dan percaya kalau aku bisa tertarik padanya ? Jangan bilang kamu cemburu pada Alisha !" ejek Erik.
"Bukan seperti itu, tapi ini sudah menggiring opini jelek tentang kamu, aku juga jadi kebawa bawa nanti !" elak Mira memberengut.
"Apa perlu saya bereskan semua berita ini, bos ?" tawar Kemal.
"Jangan ! Aku sudah tau, kemarin ada seseorang yang sembunyi sembunyi mengambil foto saat aku sedang menolong Alisha yang pura pura terjatuh," cegah Erik tenang.
"Lantas, kenapa kamu memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan ini semua ?" kesal Mira.
"Mereka lupa kalau di hotel itu terdapat banyak kamera cctv, yang akan menjawab semua kebenarannya," kata Erik.
"Apa saya perlu minta rekaman cctvnya pada pihak hotel sekarang, lalu merilisnya ke media ?" ucap Kemal.
"Aku sudah dapat rekamannya dari kemarin, dan tak perlu merilisnya ke Media, belum saatnya !" cengir Erik.
"Maksud, anda ? Anda akan membiarkan berita ini menggelinding begitu saja seperti bola panas yang sewaktu waktu bisa saja menyerang anda ?" Kemal terlihat sedikit hawatir.
"Tenang saja, aku rasa ini justru akan mendatangkan sedikit keuntungan bagiku, karena sepertinya aku akan menepuk nyamuk dan lalat secara bersamaan, lebih baik kita nikmati saja pertunjukan ini," Erik terkekeh sendirian, karena Kemal dan Mira tak mengerti apa yang lucu dari kalimat yang di lontarkan Erik sehingga membuatnya tertawa geli seperti itu.
"Oh iya bos, tentang penculik nyonya saat malam pengantin, mereka sudah tertangkap, dan mereka mengaku kalau perbuatan mereka hanya demi uang, mereka Tadinya ingin meminta uang tebusan pada anda, tapi rasanya saya tidak percaya, dan masih akan saya dalami," lapor Kemal.
"Kerjakan dengan baik dan teliti, aku tunggu perkembangannya !" titah Erik yang langsung di jawab dengan anggukan oleh asisten nya itu.
"Erik,,,!" rengek Mira merasa hawatir pada keputusan suaminya itu.
Tentu saja dia sangat percaya pada Erik, dia bukan tipe pria genit yang gampang tergoda begitu saja.
"Kamu tenang saja, sayang. Selama kamu percaya padaku, semua akan baik baik saja !" Erik mengelus pucuk rambut istrinya yang masih terlihat sedikit cemberut, namun tak bisa berbuat apa apa selain mengikuti apa yang di katakan suaminya.
***
"Dasar wanita jallanng ! Bisa bisa nya dia mencuri start dari ku, dia bergerak lebih cepat, bocah siaal !" umpat Citra saat melihat berita yang sedang heboh tentang perselingkuhan Erik dan Alisha di ponselnya.
Beberapa teman nya bahkan ramai berbondong bondong mengirimi link berita itu padanya lewat pesan di ponselnya, membuatnya semakin merasa kesal bukan main.
__ADS_1
"Aaaahhhh !!!!" teriak Citra seperti kesetanan.
"Citra, apa kau sudah gila, anakmu sedang tidur dia bisa terbangun dan menangis mendengar kegilaan mu !" Lisa yang tengah berdiam diri di kamar seketika keluar ketika mendengar suara teriakan anak perempuannya.
Mata Lisa juga terbelalak saat melihat keadaan ruang tengah rumahnya yang porak poranda akibat amukan Citra yang melempar barang ke sembarang arah.
"Kau hanya bisa marah marah pada ku, menyuruh ku kembali pada Erik, tapi tak pernah membantu ku agar bisa mendapatkan dia kembali," sewot Citra menyemprot ibunya dan melimpahkan kekesalannya pada Lisa.
"Dasar anak tak tau diri, kurang ajar, kau yang berulah, aku yang harus semuanya, menampung kau dan anak mu yang di tendang oleh suami pilihan mu itu, sekarang kau baru menyesal ? Siapa suruh kau berselingkuh dengan pria tak jelas seperti si Roni itu, huh ??!" Lisa tak kalah sewot, bahkan beberapa kali wanita tua itu melayangkan pukulannya ke tubuh Citra karena saking kesalnya.
"Bu, aku bukan anak kecil lagi tak perlu kau pukuli seperti ini, cepat kasih solusi, kepala ku mau pecah memikirkan ini semua !" Citra berusaha menepis setiap pukulan ibunya.
"Memang sudah sepantasnya aku pecahkan sekalian kepala mu yang tak berotak itu, dasar anak tak berguna !" maki Lisa semakin menjadi.
***
Wajah Alisha berubah pucat, kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri secara berulang, dia tak percaya atas apa yang di lihatnya saat ini.
"Tidak, tidak ! Ini tidak mungkin, kenapa harus sekarang, kenapa harus dia ?!" Alisha melemparkan alat tes kehamilan yang bergaris dua itu dari tangannya.
Sungguh di luar ekspektasinya, berharap bisa menjerat Erik, namun kenyataannya dirinya malah harus mengandung anak dari pria yang sama sekali tidak di inginkannya itu.
"Apa ini ?" Tita yang buru buru datang dari negara tempatnya tinggal hanya untuk menemui putri tirinya yang sedang menjadi sorotan berita di hampir semua media itu terkejut saat baru sampai di apartemen anaknya itu melihat alat tes kehamilan yang tergeletak di lantai tepat di depan pintu.
Tita memungut benda bergaris dua itu,
"Apa maksudnya ini, Alisha ?" tanya Tita mengacungkan alat itu tepat di depan wajah Alisha yang sedang duduk dengan tatapan nanar.
"Artinya aku hamil, mom bisa lihat kan, itu garisnya dua !" jawab Alisha sedikit ketus.
"Maksud ku, siapa ayah dari bayi ini ?" tatapan Tita penuh menyelidik.
"Erik lah, siapa lagi ! Apa mom tidak lihat berita yang sedang ramai akhir akhir ini ?" bohong Alisha.
Wajah Tita berubah merah padam, dia memasukan alat itu ke dalam tasnya dan bergegas pergi lagi meninggalkan Alisha yang masih termenung di kursinya.
***
__ADS_1
"Berhenti kalian !" bentak Tita yang semenjak satu jam yang lalu berdiri di lobi kantor Erik menunggu mereka keluar, karena dirinya tidak di ijinkan menemui Erik yang sedang rapat di ruangannya bersama benerapa kolega.
"Ah, ibu ! Apa ibu baik baik saja ?" kaget Mira saat melihat sosok ibunya yang beberapa saat lalu sempat di kabarkan sakit.
"Tentu saja baik, sangat baik malahan, hanya saja suasana hati ku yang tidak baik saat ini !" Tita melirik sinis ke arah Erik yang berdiri di sebelah Mira.
"Syukur lah kalau ibu baik baik saja, masalahnya aku dengar kalau ibu sedang sakit parah waktu itu," ujar Mira masih dengan nada datarnya.
"Apa kau menyumpahi ibu mu sakit parah ? Dasar anak durhaka ! Aku ke sini untuk meminta pertanggung jawaban dari suami bejat mu itu !" Tita menyodorkan alat tes kehamilan yang dia keluarkan dari dalam tasnya ke arah Mira.
"Apa ini ?" polos Mira bingung.
"Tentu saja itu alat tes kehamilan, Alisha hamil !" semprot Tita.
"Lantas, apa hubungannya dengan suami ku ?" Mira mengernyitkan keningnya.
"Anda mau bilang kalau Alisha hamil anak ku ?" Erik akhirnya angkat bicara, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang terasa seperti ejekan bagi Tita.
"Kau masih berani cengangas cengenges setelah menghamili anak ku ?" murka Tita sengaja meninghikan volume suaranya agar orang orang yang berlalu lalang di sekitar sana ikut mendengar ucapannya.
"Anda orang ke kesekian yang meminta ku bertanggung jawab atas kehamilan seorang perempuan yang bahkan tidak pernah ku sentuh sama sekali !" sinis Erik sambil tersenyum nyinyir.
"Kau ingin lepas tanggung jawab begitu saja ? Aku akan membeberkan masalah ini pada media !" ancam Tita.
"Aku saran kan untuk tanya sekali lagi anak kesayangan mu itu, siapa laki laki yang sudah menghamilinya, sebelum kau di permalukan, ibu !" tegas Mira.
Sungguh menyakitkan bagi Mira saat melihat ibu kandungnya membela dan melindungi anak tirinya mati matian, bahkan tega menyakiti dirinya yang notabene sebagai darah dagingnya dengan menuduh suaminya menghamili anak tiri kesayangannya, apa Tita tak peduli dengan perasaan Mira sedikit pun ?
"Aku katakan pada mu, ibu ! Anak kesayangan mu tidak akan pernah membuat suami ku bernapssu, jadi tidak mungkin dia menghamili anak mu yang liar itu !" sinis Mira seraya menarik lengan Erik dan mengajaknya pergi dan tidak memperdulikan Tita yang sudah membuka mulutnya hendak mengeluarkan caciannya, namun sayang Mira sudah keburu berlalu.
"Maafkan ibu ku ya, sayang !" ucap Mira menyandarkan kepalanya di bahu Erik.
"Ini resiko pria tampan, sayang. Banyak wanita yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan ku, kamu memang beruntung mendapatkan pria tampan ini, tapi kamu sudah harus mulai terbiasa menghadapi hal hal semacam tadi !" goda Erik menyeringai.
"Ish,,, narsis nya suami ku ini !" ucap Mira sambil tertawa hangat.
Erik memang paling bisa membuat hatinya merasa tenang dan bahagia meski di tengah terpaan badai masalah yang datang bertubi tubi menghampiri bahtera rumahtangganya yang baru saja mulai berlayar.
__ADS_1