Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Bertemu Dengan nya


__ADS_3

"Ini uang yang anda minta, nyonya. Silahkan pergi dari sini dan jangan membuat keributan !" ucap Erik dengan wajah datar tanpa ekspresinya menyerahkan selembar cek pada Tita sang emak durjana.


Tita melongo melihat selembar cek yang kini telah berpindah ke tangannya itu, dia tak menyangka jika pria yang terlihat lebih dewasa dari anaknya itu bisa dengan mudahnya mengeluarkan cek dengan nominal yang tidak sedikit menurut ukurannya itu.


" I- ini asli kan ?" ucap Tita tergagap sambil melihat selembar kertas di tangannya itu dengan seksama.


"Kenapa ? Anda pikir aku penipu ?" Erik yang di kenal pelit bicara pada lawan jenis itu benar benar sudah merasa risih meladeni Tita, namun entah mengapa tidak biasanya dia mau terlibat dengan masalah yang tak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.


"Bos, ada apa ?" tanya Kemal yang terhenti langkahnya saat hendak menemui Erik di apartemen nya karena ada satu dokumen yang harus di tandatangani bosnya itu.


Erik merampas kembali cek yang berada di tangan Tita dengan kasar,


"Kemal, berikan wanita ini uang satu milyar tunai, kalau bisa pakai pecahan receh semua ! Jangan bertanya apa apa dulu pada ku, dan jangan berkata apapun pada wanita itu !" titah Erik.


"Tapi bos !" protes Kemal.


"Jangan banyak bertanya, cepat urus dia !" bentak Erik, yang langsung membuat semua yang ada di sana ketakutan.


Tanpa sadar Erik menarik pergelangan tangan Mira untuk pergi dari tempat itu, dia sudah sangat tidak nyaman menjadi tontonan banyak orang di sana.


"Kau benar benar menyebalkan, kau hanya memberi ku masalah, mulai sekarang tak boleh dekat dekat lagi dengan ku ! Kau paham !" gerutu Erik di sepanjang jalan menuju mobil nya dengan wajah yang kesal.


"Kenapa kau diam saja ? dan kenapa kau terus mengikuti ku ?" ucap Erik dengan nada tinggi.


Lalu Mira menghentikan langkahnya, dan secara otomatis Erik yang sedari tadi menarik pergelangan tangan Mira ikut berhenti.


Erik baru menyadari kalau dari tadi dia menarik tangan gadis yang lebih banyak terdiam itu.


"Huaaa.....!" Mira malah menangis meraung raung.


Karena kaget dan takut di kira sedang berbuat yang tidak tidak pada wanita itu, Erik akhirnya menyeret Mira masuk ke dalam mobilnya, dia tak mau kalau sampai mendapat masalah lagi jika orangvorang salah sangka terhadapnya.


Mira tak berhenti menangis di dalam mobil mewah itu, sampai Erik merasa pusing karena suara tangisan gadis itu.


"Diam ! Apa kau tak bisa diam ?! Kepala ku mau pecah mendengar tangisan mu !" gertak Erik yang tetap tak membuat Mira berhenti menangis, meski suara tangisan nya sudah tak se keras tadi.


Erik menghentikan kendaraannya di basement sebuah gedung megah dan tinggi.


Lama Erik terdiam di dalam mobil sambil mengotak atik ponselnya.


beberapa menit kemudian, Mira menarik narik tepi lengan baju Erik yang duduk di belakang setir.


"Apa ? Sudah puas membuat tuli telinga ku ? Atau masih ingin menangis seperti bayi ?" ketus Erik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang sedang serius dia perhatikan sedari tadi.


"Om gak berniat menjual ku, kan ? Ini di mana ?" tanya Mira dengan suara yang masih serak karena tak berhenti menangis sejak tadi.


"Kalau kau menangis lagi, kau benar benar ku jual ke kebun binatang, biar di jadikan pakan macan !" ucap Erik asal.


"Tapi daging ku gak enak, pait, kebanyakan minum alkohol, macan pasti gak doyan, om !" cicit Mira.

__ADS_1


"Hapus air mata mu, ikut aku !" ajak Erik sambil menyodorkan tissu pada gadis itu.


"Kemana ?" tanya Mira lagi.


"Kandang macan !" ketus Erik sambil keluar dari mobil dan di ikuti Mira di belakangnya.


"Waaah,,,, apakah ini yang di namakan surga dunia ?!" pekik Mira saat memasuki sebuah ruangan besar dengan rak lemari kaca yang menarik perhatiannya dan membuat matanya langsung berbinar melupakan tangisan nya.



Mata Mira tak lepas dari isi lemari kaca itu, berbagai minuman beralkohol dari berbagai merek sungguh membuat gadis yang tadi menangis meraung raung itu menyunggingkan senyum manisnya.


"Apa di otak mu hanya ada alkohol ?" tegur Erik membuyarkan lamunan Mira dengan wajah 'mupeng' nya.


"Ish, Om mengagetkan ku, saja !" cicit Mira.


"Duduk di sana, dan jangan berulah. Aku mau bekerja !" Erik menunjuk sofa mewah berwarna putih yang berada di ruangan itu, dan Erik sendiri langsung menuju meja kerjanya yang tak jauh dari sofa itu.


Mira hanya menuruti semua ucapan Erik tanpa membantah sedikit pun.


Lelah karena acara wisuda dan pertengkarannya dengan sang ibu, Mira terlelap di sofa empuk itu, entah berapa lama Mira tertidur dengan nyaman di sana, namun saat membuka mata, terlihat Erik yang sedang duduk di hadapannya dengan segelas minuman di tangannya.



"Lelap sekali tidur mu sepertinya, nona !" sinis Erik sambil menuangkan minuman ke gelasnya.


"Jam berapa ini ?" tanya Mira terperanjat kaget.


"Sudah jam 7 malam, kenapa Om tak membangunkan ku ?!" kesal Mira sambil menyambar gelas berisi minuman di tangan Erik.


"Ckk, kau sungguh tidak sopan !" decak Erik kesal karena Mira dengan seenaknya mengambil minuman yang ada di tangannya, dan dapat di pastikan hanya Mira yang berani berbuat lancang seperti itu kepadanya.


"Kau pikir aku pengangguran, hanya mengurusi mu ? aku juga baru selesai mengerjakaan pekerjaan ku,!" sinis Erik.


"Om, tentang uang itu,,, sisa uang penjualan rumah, aku hanya punya empat ratus juta di deposito, itu sisa aku beli apartemen dan bayar kuliah dulu," terang Mira.


"Lantas ?" tanya Erik


"Harusnya Om biarkan aku di laporkan dan di penjara saja, lagi pula, bebas pun tetap saja kan, aku harus bingung mencari cara bagaimana membayar uang yang Om berikan pada ibu ku !" oceh Mira.


"Tak perlu bingung, kau hanya perlu kerja, lalu bayar hutang mu !" jawab Erik.


"Om, utang ku satu milyar, kerja sampai aku punya cucu baru lunas ! Itupun kalau aku cepat dapat pekerjaan !" protes Mira.


"Ya itu urusan mu, bukan kah kalau hutang itu wajib hukumnya untuk di bayar ?!" kata Erik.


"Baiklah Om, sepertinya aku harus menjual ginjal ku agar bisa membayar utang ku segera !" ucap Mira asal sambil menuang kembali gelasnya yang sudah kosong di sesapnya.


Erik lantas melemparkan sebuah dokumen ke hadapan Mira.

__ADS_1


"Jangan bahayakan nyawa orang lain dengan menjual ginjal mu yang sudah rusak karena kebanyakan alkohol !" ejek Erik.


"Apa ini ?" Mira membolak balikan dokumen itu lalu membacanya lembar demi lembar.


"Itu proyek pekerjaan ku, proyek itu bernilai sebesar sepuluh milyar, kalau kau bisa menyelesaikan proyek itu, hutang mu lunas, tapi kalau kau gagal, hutang mu jadi sebelas milyar, apa kau berani mengambil tantangan ini ?" tanya Erik.


"Cih, cuma gini ? Om tadi denger kan, aku lulusan arsitektur dengan nilai terbaik di kampus ku ? Aku terima tantangan mu, Om ! " ucap Mira dengan penuh keyakinan atas kemampuannya.


Mira memang pintar dan berbakat, apalagi tantangan yang di berikan Erik adalah pekerjaan sangat di kuasai dan di sukainya yaitu dunia arsitektur seperti jurusan yang di ambil nya.


"Oke, deal !" ucap Erik seraya mengulurkan tangannya mengajak Mira berjabat tangan tanda sepakat.


Namun alih alih menerima uluran tangan Erik, kedua tangan Mira malah meremas perutnya, wajahnya pucat dan keringat mulai bercucuran dari wajahnya yang meringis menahan sakit.


"Are you okay ?" tanya Erik panik, saat tiba tiba Mira kehilangan kesadarannya, dengan sigap Erik menangkap tubuh Mira agar tak terjatuh ke lantai.


"Hey kau ! Jangan bercanda, bangun ! ini tidak lucu !" Erik menepuk nepuk pipi Mira yang tetap terpejam.


Tanpa basa basi lagi, Erik membopong tubuh gadis mungil itu dan membawanya ke dalam mobil dengan panik, Erik melajukan kenadaraannya seperti sedang kesetanan menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Mira langsung mendapat pertolongan, sementara Erik mengurus administrasi di tempat lain.


"Nama pasien ?" tanya petugas rumah sakit yang sedang mendata identitas pasien itu.


"Mira, Mira Anisa !" jawab Erik, dia masih ingat saat nama Mira di panggil waktu akan menaiki podium saat wisuda.


"Usia, tanggal lahir, golongan darah ?" tanya petugas itu lagi.


Erik terdiam, dia benar benar tak tau apa apa tentang Mira selain nama panjangnya saja.


"Bisa kah kau urus dulu keselamatan pasien, baru bertanya ini itu ? ini kartu identitas ku, atau aku akan mengadu pada paman ku, dokter Husen ?!" ancam Erik.


Dokter Husen adalah pemilik rumah sakit itu dan merupakan adik dari almarhum ayahnya .


Petugas administrasi rumah sakit itu pun terdiam saat Erik mulai menelpon pada pamannya.


Dia tak punya cara lain selain menggunakan kekuasaan keluarganya, untuk menutupi ketidak tahuannya tentang Mira, pasien yang di bawanya ke sana.


"Bagaiman keadaan nya dok ?" tanya Erik pada dokter yang baru saja memeriksa Mira.


"Anda ?"


"Saya temannya !" ucap Erik


"Oh, pacar anda asam lambungnya naik, tolong di ingatkan untuk berhenti dulu meminum minuman beralkohol untuk sementara waktu ini, karena akan membahayakan nyawa nya !" jelas dokter itu.


"Teman dok, bukan pacar !" elak Erik sambil meninggalkan dokter yang masih berdiri di hadapannya itu dengan kesal.


Erik bergegas menemui Mira yang sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.

__ADS_1


Saat hendak memasuki ruang tempat Mira di rawat, Erik berpapasan dengan Citra sang mantan istri dengan perutnya yang sudah terlihat membesar, Citra bergandengan mesra dengan suami baru nya, terlihat aura kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang sumringah dan tak lepas dari tawa yang menghiasi bibir merah yang hangat nya masih sangat dia rindukan.


__ADS_2