Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Ku Kira Cupu, Ternyata...


__ADS_3

"Apa kamu serius, sayang ? Niko ?!"


Begitu kira kira reaksi Erik saat Mira menceritakan tentang pertemuannya di kafe siang tadi yang berakhir dengan sedikit terbukanya tabir siapa ayah dari janin yang di kandung Alisha itu.


Tidak ada perasaan lega atau apa pun yang di rasakan Mira saat ini, karena sedari awal dia sudah tau kalau bayi yang di kandung Alisha itu mustahil merupakan hasil perbuatan suaminya.


Mira cukup mengenal Erik, meski kebersamaan mereka masih dalam hitungan bulan, dan masih dapat di hitung dengan jari, namun sangat mudah bagi Mira untuk memahami karakter Erik yang tidak akan mudah jatuh cinta ataupun bermain api dengan wanita secara sembarangan.


"Iya, Niko ! Kenapa ?" jawab Mira sambil tertawa tawa geli.


"Ku kira cupu, ternyata,,," seloroh Erik di akhiri tawa renyah pasangan suami istri itu yang sejujurnya merasa tak habis pikir, Niko yang mereka anggap polos dan anak manja itu ternyata di balik itu semua mampu melakukan hal yang tak terduga, sungguh kita tak bisa menilai orang hanya dari tampilannya saja.


"Baiklah, kita harus bersiap. Sebentar lagi kamu temani aku rapat, karena Kemal sedang mengurusi pekerjaan lain," pungkas Erik, tak ingin memperpanjang obrolan yang menurutnya tak penting itu, justru baginya hal itu sedikit membuatnya lega, karena Niko kemungkinan besar tak akan mengharapkan cinta Mira lagi, karena akan segera terikat oleh Alisha.


Raut wajah Mira langsung berubah sedikit kecut saat masuk ke ruang rapat dan mendapati Hartono, yang tak lain adalah ayah dari Niko sudah berada di sana, Mira memang sedikit menaruh dendam pada kolega bisnis suaminya itu, karena kejadian rapat di bar waktu itu, dan Hartono dengan sengaja mengumpankan Dinda si model untuk Erik, agar bisnis nya dengan Erik berjalan mulus.


Mira duduk bersebelahan dengan Erik, dan bersebrangan sengan Hartono yang juga duduk bersama sekretaris sekssinya.


"Wah, pengantin baru di tempel terus ya, gak bisa aku suguhin yang manis manis nih, buat pak Erik kalau di jaga ketat begini," canda Hartono yang malah terdengar seperti ejekan dan kurang ajar di telinga Mira.

__ADS_1


Mira mengangkat wajahnya yang sejak duduk tadi memfokuskan diri pada lembaran kertas yang belum sempat dia pelajari semuanya.


"Saya di sini sebagai sekretaris pak Erik, saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang sekretaris, bukan sebagai istri !" tegas Mira, tatapan matanya menyalang ke arah Hartono seakan menantang.


"Ah, ingin menciptakan suasana romansa di tempat kerja, rupanya, yaah,,, alasan pengantin baru ngelesnya bisa saja, padahal nanti malam kita mau lanjut ke tempat kelap kelip lo,, gak mau ikut nih, pak Erik ?!" gurauan Hartono semakin berani dan tak mengindahkan kata kata Mira yang jelas jelas menunjukkan rasa tak sukanya pada candaan pria setengah baya itu.


"Dari pada ke tempat hiburan malam, lebih baik anda mempersiapkan diri untuk resepsi pernikahan anak anda, dan sebentar lagi anda akan menjadi kakek, sebaiknya bersikaplah selayaknya seorang kakek !" sinis Mira.


Hartono mengerutkan keningnya, baru saja dia membuka mulutnya untuk bertanya apa maksud perkataan Mira, namun dengan cepat Erik mengambil alih suasana, dengan buru buru membuka rapat, karena peserta rapat juga sudah lengkap dan berkumpul semua.


Erik tau kalau di biarkan, istri bar barnya itu akan menguliti Hartono sampai habis di depan semua orang di ruangan itu, dan Erik tak mau istrinya mendapat masalah baru karena hal itu, Erik cukup mengenal siapa Hartono, pria serakah yang haus akan kekuasaan dan uang, dia juga tak akan segan segan menyingkirkan siapa pun yang mengusik dirinya, keluarganya, dan juga perusahaannya.


Sepanjang berlangsungnya rapat, Hartono terlihat gelisah, nampak jelas di wajahnya kalau dia sangat penasaran dan tak sabarvingin rapat segera berakhir, lalu menanyakan maksud dari perkataan istri kolega bisnisnya itu.


Benar saja, begitu rapat usai, Hartono langsung bangkit dari kursinya, dan menghampiri Mira yang sedang membereskan berkas sisa rapat tadi yang berserakan di atas meja, sedangkan Erik masih duduk di kursinya.


"Nyonya Erik, apa maksud perkataan anda tadi ?" tanya Hartono to the point.


"Perkataan saya yang mana, pak ? saya banyak berkata kata semenjak tadi !" jawab Mira, tanpa melirik sedikit pun wajah Hartono yang sedang mengajaknya bicara.

__ADS_1


Sangat terlihat jika Hartono menahan marahnya, andai saja Mira bukan istri Erik, mungkin pria tempramen itu sudah menampar mulut Mira yang di rasanya lancang dan sangat menyepelekannya saat di ajak berbicara olehnya.


"Nyonya, jangan pikir karena anda istri dari pak Erik, lantas saya tidak bisa memaksa anda berbicara, ya !" geram Hartono yang merasa Mira masih mengabaikannya.


Bruaaaakkkk !


Erik menggebrak meja rapat yang besar itu, suaranyya sangat nyaring dan menggema terdengar di ruangan itu.


Erik berdiri dan mencengkram kerah kemeja depan Hartono, mata elangnya seakan mengeluarkan api, menatap tajam Hartono yang kaget dan setengah ketakutan.


"Anda lancang sekali mengancam istri ku, bahkan di hadapan mata ku, apa anda siap kehilangan semua klien besar perusahaan anda ? Ingat, sekali saja aku berbicara pada para klien untuk meninggalkaan perusahaan mu, maka mereka akan dengan senang hati memutus kerja sama kalian !" ancam Erik.


"Nyawa perusahaan mu ada di tangan ku, jadi tak ada salahbya untuk bersikap baik dan sopan pada ku dan juga istri ku !" Erik mendorong tubuh pria berbadan agak gempal itu dengan kencang hingga pria itu tersungkur ke atas meja.


"Jangan sombong Erik Wijaya, karena kejayaan mu itu sebentar lagi akan tumbang, kau tak tau saja kalau para pengusaha membicarakan skandal mu di belakang mu, lagi pula,,, skandal menjijikan mu itu sudah membuat harga saham perusahaan mu anjlok, sok suci menolak wanita dari ku, ternyata tertangkap basah membawa wanita ke hotel, ah,,, permainan mu sungguh amatiran, tak rapi !" ejek Hartono, sengaja mengejek Erik, dia tak ingin terkesan takut, dan harga dirinya semakin di injak Erik.


"Hati hati ucapan mu berbalik pada dirimu sendiri, jangan jangan sebentar lagi, kau sekeluarga yang akan menjadi gunjingan semua orang, siapkan hati dan mental mu, ingat tadi yang istri ku bilang, sebentar lagi kau akan menjadi kakek !" Erik tersenyum miring.


"Hei,,, apa maksud ucapan kalian itu, hah ?" teriak Hartono karena pasangan suami istri yang menjadi lawan seterunya itu melenggang begitu saja meninggalkan dirinya yang sibuk mengelus elus pinggangnya yang merasa ngilu karena terbentur meja tadi.

__ADS_1


"Tanyakan saja pada anak kesayangan mu !" teriak Erik sambil berlalu.


__ADS_2