Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Hadiah Tuhan Terindah


__ADS_3

Erik mulai menceritakan apa yang terjadi tentang Jemi, dari awal sampai akhir, tak ada satu pun yang dia lewatkan, Erik ingin memperbaiki semuanya, dia tak ingin lagi menyembunyikan hal apa pun dari Mira.


"Aku tau, aku melihat mu berpelukan saat itu di depan ruang UGD," lirih Mira berhenti mengunyah roti sarapannya, lalu meletakkannya kembali di piring yang ada di hadapannya.


Selera makan Mira tiba tiba hilang saat mengingat kejadian di rumah sakit saat itu, dia juga masih sangat kesal karena Erik berbohong padanya.


"Sayang, maafkan aku,,,! Aku tau aku salah, aku sudah berbohong pada mu, aku menyesal !" sesal Erik merasa sangat bersalah pada gadis yang kini sedang merengut padanya itu.


Tapi Mira tetap diam, dadanya terasa penuh sesak, berisi kekesalan dan kekecewaan pada Erik.


"Kamu jahat !" seru Mira akhirnya meninggalkan Erik sarapan sendirian.


Erik menghela napas dengan berat, sepertinya di perlukan usaha dan kesabaran ekstra untuk menaklukan Mira yang sedang merajuk padanya itu.


Erik mengejar Mira yang keluar menuju balkon kamar, manatap pantai yang terlihat jelas dari sana, ruangan itu tiba tiba terasa sesak untknya, Mira ingin menghirup udara luar yang lebih bebas.


"Sayang, aku tau aku salah, aku juga sangat menyesal, makanya aku menceritakan ulang pada mu apa yang terjadi, aku berjanji tak akan menyimpan kebohongan sekecil apapun pada mu," bujuk Erik.


"Lantas kalau ternyata suatu saat kamu berbohong lagi, bagaimana ?" tanya Mira, jelas terlihat ada keraguan di wajahnya.


"Kau boleh melakukan apa pun pada ku !" tantang Erik.


"Kalau kamu berbohong lagi pada ku, aku akan pergi dari mu dan kamu tak boleh mencari ku, bagaimana ?" tanya Mira lagi.


"hmmhhh,,,, aku pastikan kamu tak akan pernah pergi meninggaalkan ku !" Erik membuang napasnya kasar, sungguh ancaman Mira terdengar begitu sangat menakutkan bagi dirinya.

__ADS_1


Erik melingkarkan tangannya di perut Mira, laki laki itu memeluk Mira dari balik punggungnya, menyandarkan dagu berbulu halus itu di ceruk leher Mira, sesekali Erik juga mencuri ciuman dari pipi dan bibir Mira yang selalu membuatnya ketagihan untuk terus dia kecup.


"Apa kamu masih mencintai mba Citra ?" tanya Mira tiba tiba.


Erik membalikan tubuh Mira agar menghadap padanya, dia menatap tajam mata Mira yang menunghu jawabannya.


"Apa kamu masih meragukan cintaku ? Jujur, sebelum beretwmu dan mengenal mu, aku merasa tidak yakin akan mampu melupakan Citra, bahkan cinta dalam hati ku bukannya semakin pudar, tapi seiring berjalan nya waktu cinta ku semakin besar meski dia sudah menghianati ku dan menjadi milik orang lain, namun setelah kamu datang dan menghiasi hari hari ku, tanpa aku sadari, rasa cinta ku pada Citra semakin pudar dan menghilang, di sini hanya ada kamu sekarang !" urai Erik meraih kedua tangan Mira dan meletakan ke dada bidangnya.


"Tapi kalian mempunyai anak, bagaimana jika suatu saat mba Citra mengajak mu kembali dan membesarkan anak kalian bersama, apa yang akan kamu lakukan ?" Mira membalas tatapan tajam Erik dengan tatapannya yang tak kalah tajam.


"Itu tak akan pernah terjadi, sudah tak ada tempat untuknya di hati ku, kamu boleh tak percaya pada ku, tapi aku akan membuktikan kalau apa yang aku katakan pada mu itu benar adanya," jawab Erik.


Kini gantian Mira yang menghela napas berat dan dalam, sungguh tak dapat dia pungkiri kalau rasa cintanya pada Erik memang begitu besar, tapi rasa takut kehilangannya pun sama besarnya, ketakutan Erik akan kembali pada cinta terdahulunya cukup mengganggu ketenangannya.


"Tapi, bagaimana pun Jemi adalah anak mu, anak kandung mu, darah daging mu, aku juga tak mau memisahkan atau melarang mu untuk bertemu atau bersama dengan anak tak berdosa itu," lirih Mira.


"Aku tentu saja tidak keberatan dengan kehadiran Jemi, karena aku ingin mencintaimu utuh, jika benar Jemi adalah bagian dari diri mu, aku juga harus bisa mencintai dia tentunya." ucap Mira.


Erik spontan mendekap erat tubuh kekasihnya itu, betapa dia sangat bahagia, Mira mau menerima dirinya apa adanya, Mira juga mau menerima Jemi yang menurut Citra merupakan darah dagingnya itu.


"Tapi mas, maaf bukannya aku mau ikut campur masalah mu lebih jauh, tapi,,, menurut mu, apa tidak ada yang aneh dengan semua ini ?" Mira mengurai pelukan Erik, dia mengungkapkan ganjalan yang masih tersisa dalam hatinya.


"Maksud mu ?"


"Maksud ku, kenapa mba Citra terasa mencurigakan bagi ku, tiba tiba mengatakan Jemi anak kandung mu, tapi bang Roni tidak boleh tau masalah itu, lalu tiba tiba saja dia melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan mu, apa menurut mas ini tidak janggal ?" urai Mira.

__ADS_1


"Tentu saja aku juga berpikiran sama dengan mu, hanya saja untuk saat ini aku hanya perlu melihat permainan apa yang akan Citra mainkan setelah ini, lagi pula,,, dengan kamu berada di sisiku, aku rasa semua akan terasa mudah menghadapinya." Erik.


"Aku akan selalu ada di setiap suka dan duka mu, aku akan menjadi penyemangat saat kamu lelah dan bosan, akan jadi penghibur saat kamu sedih, akan berada di garis terdepan saat kamu ada masalah, dengan satu syarat, tidak ada kebohongan !" tegas Mira seraya ingin menegaskan sekali lagivkalau dirinya tak akan mentolerir lagi jika Erik coba coba membohongi dirinya lagi.


"Terimakasih sayang, aku bahagia. Aku tak menyangka Tuhan mengirimkan mu sebagai pengisi hatiku yang kini telah sempurna karena kehadiran mu," kata Erik tulus hatinya sungguh menghangat mendengar semua pernyataan Mira.


***


Jakarta,


Keadaan Roni sudah semakin membaik, pun dengan Jemi yang sudah lewat dari masa kritisnya lagi, dia juga belum beraktifitas di kantor seperti biasanya, Roni masih ingin menemani Jemi dan memastikan kalau anaknya itu baik baian saja.


"Maaf aku jadi tak bisa mendonorkan darah saat Jemi membutuhkan," sesal Roni.


"Tak apa sayang, aku dan Jemi tak akan menyalahkan mu, kondisi mu sedang sama tidak baiknya saat itu, lagi pula Jemi sudah mendapatkan donor tepat pada waktunya." Citra menenangkan Roni yang sangat merasa bersalah pada Jemi.


"Oh iya, siapa yang mendonorkan darah untuk Jemi ? Regan bilang, katanya saat ini stok darah yang cocok dengan darah Jemi sedang kosong di rumah sakit ini ?!" tanya Roni datar.


"Ah,,, itu, kebetulan ada keluarga pasien sini yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Jemi," kata Citra sedikit tergagap karena harus berbohong.


"Oh, syukurlah, masih ada orang baik yang mau sukarela mendonorkan darahnya untuk anak kita, andai aku tau siapa orangnya, aku akan berterima kasih secara langsung padanya," oceh Roni.


"Tidak perlu, aku sudah membayarnya agar orang itu mau mendonorkan darahnya untuk Jemi, dia pasti melakukannya demi uang !" tepis Citra, tak ingin Roni menyelidiki lebih lanjut siapa identitas si pendonor untuk Jemi.


Jantung Citra rasanya berdegup tak seperti biasanya, ada rasa takut kalau kalau Roni nekat mencari tahu identitas si pendonor, sesangkan jika sampai Roni tahu Erik si pendonor itu, entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka.

__ADS_1


Mungkin bisa saja mereka saling menghantam atau bahkan saling membunuh jika keadaan semakin memburuk.


"Sayang sekali, padahal aku hanya ingin berterima kasih saja atas aksi heroiknya itu"


__ADS_2