
Matahari sudah sangat tingggi ketika Alisha membuka matanya, terbukti dari silaunya cahaya yang mengintip dari celah celah gorden yang tidak tertutup rapat dan sebagian lagi menembus gorden kamar yang tidak terlalu tebal itu.
Alisha merentangkan kedua tangannya ke atas seperti sedang melakukan peregangan saat akan berolah raga, seluruh badannya terasa begitu pegal dan lemas bak habis melakukan kegiatan yang sangat menguras tenaga sebelumnya.
"Hah, kenapa seperti ini ?" ucapnya kaget saat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang ternyata sudah polos di balik selimut tebal itu.
"Shiiiitttt, aku terlalu mabuk semalam, sampai berhalusinasi ber cinta dengan Erik," cicitnya lagi tersenyum geli memikirkan kegilaannya berhalusinasi semalam sampai dirinya melepas semua pakaiaanya seperti itu.
Tapi tunggu,,, mengapa pangkal pahanya terasa pegal dan sedikit perih, apa dia semalam melakukan hal gila sakung terobsesinya dengan Erik, semalam.
Tring,,,trang,,,!
Terdengar suara orang yang sedang beraktivitas di luar kamarnya, Alisha buru buru memakai kembali dalaman bagian bawah dan kaos oblongnya tanpa memakai dalaman bagian atas.
Setengah berjinjit perlahan lahan Alisha berjalan menuju pintu dan membukanya pelan, Alisha mengintip dari celah pintu yang sedikit dia buka itu, tampak seorang pria yang sedang memunggunginya dan sibuk di depan meja makan
"Pagi, Alisha ! Aku menyiapkan sarapan dan teh madu untuk meredakan pusing akibat mabuk mu semalam," sapa Niko yang mendengar suara handle pintu di putar dan terbuka.
Alisha menutup mulutnya yang ternganga kaget, dia segera berlari menghampiri Niko yang terpaku melihat Alisha yang berlari ke arahnya dengan hanya memakai kaos oblong tanpa bawahan, jujur saja pagi itu Alisha terlihat sekkssi di mata Niko.
"Hey, kurang ajar, jaga mata mu !" teriak Alisha yang baru menyadari kalau dirinya berlari dengan pakaian yang tak lengkap dan tak selayaknya.
"Cih, untuk apa kau tutupi ? semalam bahkan kau membuka semuanya di hadapan ku !" decih Niko tersenyum kaku saat Alisha berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya dengan menarik narik kaos yang di pakainya sampai mulur ke bawah.
"Kau ?! Dasar pria bajing an ! Bisa bisa nya kau memanfaatkan aku yang sedang mabuk, benar benar bukan pria sejati !" hardik Alisha.
"Hey, kau yang memperrkkosa ku semalam, untung saja tidak ku laporkan pada yang berwajib !" elak Niko.
"Tidak mungkin, semalam yang bersama ku kak Erik, bukan kau ! Dasar pria mesum !" Alisha melempar apa saja yang ada di hadapannya ke arah Niko.
"Tak usah seolah olah seperti anak perawan yang baru kehilangan kegadisannya, aku yakin kau sering melakukan hal itu sebelumnya !" ucap Niko yang masih ingat kalau semalam saat melakukan itu dengan Alisha, dia yakin kalau dirinya bukan orang pertama yang melakukan itu pada Alisha.
__ADS_1
"Tentu saja, itu merupakan hal yang wajar di negara ku !" Alisha membuang jauh pandangannya dari Niko yang seolah sedang mempermalukannya, entah mengapa dirinya merasa tak berani menatap mata pria di hadapannya itu.
"Lantas mengapa kau begitu heboh, sudah tidur dengan ku, apa jangan jangan kau ingin mengulangnya lagi pagi ini ?" goda Niko setengah mengejek.
"Kau ! Pergi jauh jauh dari hadapan ku, jangan pernah menampakan lagi wajah mu di hadapan ku, aku benci dan muak melihat wajah mu, anggap saja kita tak pernah saling mengenal sebelumnya !" usir Alisha dengan membelalakan matanya karena sangat marah pada pria yang di anggapnya tidak bersikap gentleman, karena memanfaatkan dirinya yang tengah mabuk berat semalam.
"Oke, jangan mencari ku lagi setelah ini !" ucap Niko dengan senyum jahil nya sambil berlalu menuju pintu keluar.
"Pergi,,,,!" teriak Alisha melempar bantal sofa yang sebelumnya dia gunakan untuk menutupi sebagian tubuhnya yang terbuka.
***
Sebulan berlalu, Mira sudah kembali ke kantor melakukan aktivitas nya seperti biasa, dia memang memutuskan untuk tetap bekerja karena merasa tidak betah jika harus berdiam diri di rumah menunggu suami pulang.
Mereka juga kini sudah pindah ke rumah yang baru sajaq Erik beli untuk tempat tinggal mereka, mang Jaja dan Yanti juga kini ikut bersama mereka di rumah baru, karena rumah yang dulu mereka jaga sedang Erik bongkar untuk di bangun ulang.
Tak ada masalah berarti selama sebulan pernikahan mereka, Citra dan Alisha juga hanya sesekali mengganggu ketenangannya, itu pun hanya tergolong gangguankecil saja, pergerakan mereka tak se gencar dulu, mungkin mereka lelah, pikir Mira.
Namun diamnya mereka bukan sekedar diam, mereka seakan mundur selangkah untuk ancang acang lari seribu langkah dalam menyerang Erik dan Mira.
Saat sampai di loby hotel, Erik langsung menghubungi Kemal, menanyakan keberadaannya karena dia tidak menemukan asisten pribadinya itu di sana, padahal janji pertemuan mereka seharusnya sudah di mulai sekitar sepuluh menit yang lalu.
Sialnya dering ponsel Kemal sepertinya di matikan sehingga kemal tidak tau jika Erik sedang menghubunginya, itu memang kebiasaan sang asisten jika sedang mengajar atau rapat membahas pekerjaan dia akan menggunakan mode silent untuk ponselnya agar tak mengganggunya.
Ditengah Erik sibuk menghubungi Kemal berharap asisten nya itu mengangkat telponnya, Alisha yang saat itu tiba tiba muncul dan datang menghampirinya membuat Erik sedikit mengernyitkan keningnya.
"Kakak ! Aku pikir kaka sedang bersama pak Kemal di sana !" tunjuk Alisha ke sembarang arah.
"Kemal ? di mana dia ? Kau melihatnya ?" tanya Erik yang memang sedang mencari asistennya itu sedikit antusias.
"Ah, di sana ! Ayo aku anter kakak ke sana, aku juga mau kesana !" ajak Alisha.
__ADS_1
Erik yang tak menyimpan curiga apapun pada gerak gerik Alisha yang terlihat tidak menunjukan gelagat mencurigakan dengan patuh mengikuti adik tiri dari istrinya itu.
"Pak Kemal tadi aku lihat di sebelah sana," tunjuk Alisha ke sebuah ruang pertemuan yang tak jauh dari mereka berdiri,
Namun tiba tiba, "Aduh !" ringis Alisha yang tiba tiba terjatuh dan bersimpuh di lantai.
"Kau tidak apa apa ?" tanya Erik memutar kembali tubuhnya, lalu dengan ragu ragu mendekati Alisha yang terlihat seperti kesakitan memegangi pergelangan kakinya.
"Sepertinya aku terkilir, kak !" jawab Alisha sambil meringis menahan sakit.
Erik menolehnke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang mungkin bisa dia mintai pertolongan untuk membantu Alisha.
"Sebentar aku cari orang agar membantu mu " ucap Erik.
"Ah, tidak perlu, tolong antar ke kamar ku saja, kebetulan aku sedang menginap di sini bersama ibu," Alisha menunjuk pintu sebuah kamar hotel yang tak jauh dari tempat mereka saat ini berbincang.
Sebenarnya Erik sedikit ragu, namun mengingat Alisha yang kini tengah cedera kakinya, Erik memutuskan untuk membantu Alisha berdiri dan memapahnya sampai depan kamar.
"Terimakasih kak !" ucap Alisha tersenyum tulus lalu masuk sendiri ke dalam kamar hotel itu, karena Erik terlihat enggan mengantarkannya sampai dalam kamar.
Erik mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun, dan berlalu meninggalkan Alisha yang masih berdiri di depan pintu kamar hotel menatap kepergian Erik yang semakin menjauh, senyum puas nampak jelas di bibir tipisnya.
Keesokan harinya, Kemal masuk ke ruang kerja Erik dengan wajah paniknya.
"Bos, anda sudah melihat berita online hari ini ?" Kemal menyodorkan ponselnya.
Tampak jelas di layar ponsel itu berita Erik yang menjadi headline berita dari beberapa portal media online, gambar dirinya sedang memeluk Alisha dengan rangkaian judul yang sangat menggiring opini buruk tentang dirinya.
'Pengusaha properti terkenal tertangkap basah sedang memeluk seorang gadis muda dan keluar dari sebuah kamar hotel'
'Pengusaha ternama ibukota berselingkuh dengan gadis cantik di hotel mewah'
__ADS_1
Begitu kira kira judul yang di tulis beberapa media agar menarik pembaca untuk melihat artikel uang mereka buat, belum lagi foto foto dirinya yang seakan akan keluar dari sebuah kamar hotel dengan Alisha, tentu saja orang yang tak tahu akan langsung menyimpulkan kalau itu memang sebuah perselingkuhan.
"Sayang, bisa jelaskan ini semua pada ku ?!" tatapan Mira yang biasanya teduh, kali ini berubah dingin dan sedikit mengintimidasi suaminya.