Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Kau Cantik,


__ADS_3

Para karyawan pria mau pun wanita tersenyum kaku saat Mira melewati mereka dan hendak menuju ruangan Kemal mengambil berkas berkas yang masih tertinggal di ruang kerja kemal yang di tinggal pemiliknya selama dua minggu kedepan.


Mira sedikit merasa bingung dengan tingkah para karyawan yang bsersikap aneh menurutnya.


Bagaimana tidak, mereka seperti terlihat takut dan hati hati sekali saat Mira tersenyum bahkan menyapa mereka.


"Hai kak !" sapa Mira saat berpapasan dengan Arman ketika dirinya baru saja keluar dari ruang arsip.


"Eh, ya,,, hai Mir !" jawab Arman sedikit kaku dan terbata menjawab sapaan Mira, padahal kemarin dia terasa begitu hangat dan rame saat makan siang bersama di kantin.


Tapi Mira tak ambil pusing, dia hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Erik, namun ketika kakinya baru beberapa langkah melewati senior kampusnya itu, Arman memanggilnya dengan ragu ragu.


"Emh,,, Mi- Mira, kalau kamu tak keberatan, boleh kita bicara sebentar ?" ucap Arman sedikit terbata.


Mira membalikkan badannya,


"Iya kak, tentu saja !" jawab Mira sambil mengangguk.


"Ada apa, kak ?" tanya Mira saat merasa Arman yang meminta berbicara dengan nya justru terlihat diam seperti sedang merangkai kata tapi tak kunjung usai.


"A- aku sebenarnya mungkin tak pantas mengatakan ini pada mu, tapi,,, aku tetap harus minta maaf atas perbuatan asisten ku padamu," ucap Arman pelan.


"Asisten kakak ?" Mira mengernyitkan dahinya, dia tak mengerti apq yang sedang Arman bicarakan saat ini padanya.


"Iya, Santi asisten ku, aku rasa dia hanya salah paham, hingga dia sampai berbuat nekat seperti itu," kata Arman yang masih saja belum juga Mira mengerti bahasan apa yang sedang Arman bicarakan padanya.


"Sebentar kak, aku benar benar tak mengerti apa yaang sedang kakak bicarakan, Santi ? Aku ga paham semua ini !?" polos Mira.


"Kamu benar benar tak tahu kalau Santi di pecat bos besar ?" Arman sedikit tak percaya kalau Mira tak tahu menahu tentang di berhentikannya Santi dari perusahaan, sementara seluruh karyawan di perusahaan tahu tentang isu di pecatnya Santi.


"Jadi bukan kamu yang mengadu tentang kejadian kemarin dan mengusulkan pada bos untuk memberhentikan Santi ?" Lanjut Arman memastikan.


"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi !" pinta Mira yang sudah tak sabar lagi mendengarkan cerita yang seolah hanya menambah pusing dirinya.


"Jadi, Santi tadi di panggil bagian HRD, dan dia di berhentikan secara tidak hormat karena telah mengunci mu di toilet kemarin, kata bagian HRD itu perintah langsung dari bos besar," beber Arman.


"Demi Tuhan aku tak tahu masalah ini, dan aku harus menanyakan dulu tentang kebenaran nya pada bos, jujur aku tak bisa berkata apa apa sekarang !" ucap Mira yang sungguh merasa kaget mendengar penjelasan dari Arman.


"Aku permisi, kak. Aku harus segera bertemu bos !" pamit Mira meninggalkan Arman yang kini merasa serba salah, ketakutan kalau apa yang di bicarakannya pada Mira akan berimbas juga padanya.


Brakkk !


Mira membuka pintu ruangan bosnya dengan kasar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Erik hanya melirik sekilas tanpa protes sedikit pun, dia tak peduli, tangan dan matanya masih terus serius tertuju pada gambar rancangan bangunan yang ada di hadapannya.


"Bos, kenapa bos memecat wanita bernama Santi itu hanya karena dia mengunci ku di toilet ? Bukankah itu terlalu sadis bos, sementara aku baik baik saja tak terluka sedikit pun !" protes Mira.

__ADS_1


"Tidak usah merasa besar kepala ! Aku melakukan itu semua bukan karena mu !" jawab Erik enteng.


"Lalu ?"


"Karena dia merugikan karyawan lain," jawab Erik


"Aku tidak merasa di rugikan !" jawab Mira.


"Sudah ku bilang, bukan kau !"


"Lalu siapa lagi yang di rugikan ?"


"Tentu saja aku, karena dia aku harus menggendong tubuh mu yang berat itu, kalau tangan ku keseleo dan tak bisa menggambar lagi, berapa besar kerugian yang akan di tanggung perusaan ini ?" ketus Erik.


Mira memutar bola matanya, ternyata Erik hanya memikirkan dirinya sendiri, semua itu bukan karena Erik peduli padanya.


"Tapi kan, bos,,, semua karyawan jadi mengira kalau aku yang sudah mengadu pada bos dan meminta bos untuk memecat Santi," lirih Mira.


"Apa aku terlihat se mudah itu untuk mengabulkan permintaan seseorang ?!" kilah Erik.


***


Seminggu berlalu, Mira menggantikan tugas tugas Kemal dengan baik dan nyaris tanpa komplain dari Erik, semua di lakukannya dengan sempurna.


"Mir, malam nanti kau temani aku menghadiri sebuah jamuan makan malam !" pinta Erik.


Ting tong !


Bel apartemen Erik berbunyi beberapa kali,


"Bukan kah aku sudah memberi tahubmu kode pintu ini ? Masih saja mengganggu ku !" kesal Erik yang membukakan pintu untuk Mira.


"Takut nya om lagi ngapain gitu, kan ngeri toba tiba masuk om lagi menangisi mantan gitu misalnya !" ledek Mira menahan tawanya.


"Hey, kau akan menemani ku ke jamuan pesta, kenapa pakaian mu seperti itu ?" protes Erik, dia tak ambil pusing dengan ledekan Mira yang sudah menjadi santapan sehari hari nya, dan justru semakin membuatnya kebal dan semakin menyadari kalau dirinya akan terlihat menyedihkan dan akan menjadi bulan bulanan Mira jika terus terusan terjebak di masa lalunya.


"Apa yang salah ?" Mira yang mengenakan dres babydoll putih sebatas lutut dengan ornamen bunga warna warni merasa tak ada yang salah dengan dres yang di kenakannya, dia bahkan terlihat inut dan menggemaskan dengan pita yang menghiasi rambutnya.


"Kau ingin semua orang mengira kalau kau itu anak ku ?" sinis Erik.


"Ooh, kalau itu jangan salahkan aku yang masih belia dan terlihat imut ini, om. Mungkin kalau om sedikit murah senyum dan wajahnya tidak tegang seperti itu, akan sedikit terlihat lebih muda !"lagi lagi Mira menggoda bos nya yang pelit senyum itu.


Erik menyodorkan sebuah gaun panjang mewah yang dulu di beli di butik Citra bersama dirinya.


"Ini kan ?" ucap Mira.


"Ya cepat ganti pakaian anak TK mu itu !" titah Erik.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Mira keluar dengan dres hitam panjang yang terlihat sangat pas dengan ukuran tubuhnya, rambutnya di biarkan tergerai tanpa ornamen pita yang sebelumnya menghiasi kepalanya,


Erik sedikit menyunggingkan senyumannya, tanpa di sadari hatinya memuji kecantikan Mira yang tampak natural.



"Kau cantik !" gumam Erik, kata kata itu meluncur begitu saja dalam keterpakuannya menatap Mira yang berdandan tak seperti biasanya.


"Apa, Om ?!" tanya Mira yang tak begitu jelas mendengar gumaman Erik.


"Kau lama ! Aku lelah menunggu mu di sini !" elak Erik yang baru saja menyadari kalau dia telah memuji kecantikan wanita lain selain Citra.


"Maaf Om, namanya juga cewek, dandannya lama, tapi aku terlihat cantik kan ?!" Mira memutar tubuhnya di hadapan Erik.


"Tidak ! Kau terlihat biasa saja, ayo cepat kita sudah terlambat !" Erik memalingkan pandangannya dari Mira yang sudah membuatnya merasa bersalah pada hatinya sendiri karena berhianat pada cinta sang mantan Istri.


Pesta jamuan makan malam yang di adakan di sebuah ballroom hotel berbintang itu sepertinya bukan sebuah jamuan makan malam biasa, itu lebih bisa di sebut acara pertemuan para pengusaha hebat dan terkenal, banyak wajah wajah pengusaha familiar diata Mira, karena wajah mereka sering muncul di layar televisi dan media online.


Hampir semua yang berada di ruangan itu memusatkan pandangan pada Erik yang baru saja memasuki ruangan di temani Mira, ini pemandangan tang sangat langka bagi mereka, karena ini pertama kalinya Erik membawa seorang wanita ke sebuah acara, biasanya dia hanya di temani Kemal sang asisten, bahkan Citra sang mantan istri pun hanya pernah terlihat beberapa kali saja menemani sang pengusaha sukses itu.


Erik merasa tak senang atas tatapan menyelidik orang orang di ruangan itu, dia merasa kalau orang orang sedang menatap Mira yang terlihat memukau malam itu.


Erik menarik pergelangan tangan Mira,


"Tetap di sini, jangan jauh jauh dari ku !" ucap Erik sedikit berbisik di telinga Mira.


Mira hanya mengangguk pelan, hatinya semakin dag dig dug tak karuan karena selain berdekatan dengan bos gagahnya itu, tangannya tak lepas dari genggaman Erik malam itu, sampai tiba tiba Erik melepas tangan Mira dan terlihat sedikit canggung ketika melihat Citra dan Roni yang juga hadir di acara itu menghampiri mereka.


Hati Mira yang yang baru saja terbang terbuai dengan sikap manis Erik, terasa langsung meluncur dan terjerembab jatuh ke dasar jurang.


"Hai Mir !" sapa Roni pada sahabat adiknya itu.


"Hai bang, hai mba Citra !" Mira membalas sapaan Roni dengan senyum yang di paksakan.


Citra seketika tersenyum manis saat tak sengaja matanya menangkap tangan Erik yang langsung melepaskan genggamannya di tangan Mira saat dia datang menghampiri, entahlah seperti ada rasa sorak kemenangan di hatinya.


Erik hanya terdiam saat Roni membawa Mira agak menjauh dari nya.


"Mir, ikut aku sebentar," titahnya, melangkah agak menjauh dari Erik dan citra yang terlihat kaku.


"Jangan bilang apa yang di katakan Regan itu benar, kalau kamu ada apa apa sama bos kamu ?" tuduh Roni.


"Apa sih bang, aku cuma gantiin Kemal asisten nya yang sedang tugas di luar kota," tampik Mira.


"Jangan berbuat aneh aneh, kalau kamu butuh uang atau apapun, kamu bisa bilang abang !" ucap Roni yang sangat tahu kalau sang adik sebenarnya menaruh hati pada gadis itu, dan Roni tak mau adiknya patah hati karena Mira memilih pria lain.


Terdengar sedikit egois, namun selain istri dan anaknya, kini hanya Regan yang dia punya dan harus dia bahagiakan di dunia ini.

__ADS_1


"Hmmm," jawab Mira malas, ujung matanya tak mau lepas dari sosok Erik yang kini sedang berdiri berhadapan dengan Citra sang mantan istri, entah apa yang sepasang mantan suami istri itu bicarakan di sana, yang jelas hati Mira kini terasa terbakar.


__ADS_2