Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Kejutan


__ADS_3

Waktu begitu cepat rasanya berjalan, bila di lalui dengan rasa suka cita dan penuh cinta kasih seperti padangan Erik dan Mira, hari hari mereka hanya di isi dengan goresan kisah indah di antara mereka.


"Sayang, minggu depan kita liburan bareng sekalian merayakan tahun baru bersama," ucap Erik.


"Benarkah ? Aah,,, seneng baget !" seru Mira berhambur ke pelukan Erik.


Tiga hari lagi Erik juga berulang tahun, Mira ingin memberikan kejutan romantis pada pacar kesayangannya itu.


Sampai akhirnya hari ulang tahun Erik tiba,


"Mas, aku pulang duluan ya, aku mau ada sesuatu yang di kerjakan di rumah, jangan lupa nanti langsung pulang ya, aku ada kejutan buat kamu !" kata Mira siang itu berpamitan pulang terlebih dahulu karena ingin mempersiapkan makan malam dirinya dan Erik di rumah, di hari ulang tahun Erik.


"Oke, aku pasti pulang, aku tak sabar ingin segera melihat kejutan mu !" Erik mencium bibir Mira sekilas, dia sungguh gemas dengan Mira yang selalu bisa menaikan mood di setiap harinya itu, tak ada sehari pun yang di laluinya tanpa cinta dan perhatian Mira padanya, dan itu membuat dirinya semakin bergantung pada Mira, bahkan untuk sekedar pemilihan baju yang akan di pakai setiap harinya Erik berpasrah pada tangan terampil Mira yang selalu dengan cekatan mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan Erik.


Itu sungguh suatu hal baru yang Erik dapatkan dari pasangan nya, karepna hanya dari Mira dia mendapatkan semua itu.


Sayangnya Erik masih belum mau mengajaknya ke jenjang yang lebih sakral, yaitu pernikahan, dia terlalu nyaman dengan apa yang dia jalani saat ini, terlebih Mira pun tak pernah menuntutnya untuk segera menikahinya.


Semua persiapan kejutan hari ulang tahun Erik sudah selesai, meja makan yang di hias dengan tampilan dan suasana yang menjadi romantis dengan perpaduan warna merah dan hitam yangvmembuat ruang makan menjadi terkesan mewah dan elegan, tegas, dan mempesona, cocok seperti karakter Erik.


Mira sudah bersiap dengan dres merah yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih, Mira juga berdandan dengan gaya make up natural, sehingga kecantikan yang alaminya tetap menonjol meski tak di poles make up tebal.


Tak berapa lama suara pintu depan seperti terbuka, Mira yakin kalau itu pasti Erik, karena tak ada irang lain yang tau kode akses pintu apartemennya.


Tapi setelah di tunggu beberapa saat, tak terdengar suara derap langkah Erik yang biasanya terdengar memasuki ruangan,


Suasana apartemen kembali sunyi setelah terdengar suara pintu yang kembali menutup.

__ADS_1


'Ah, Erik pasti mau mengerjai ku !' pikir Mira dalam hati,


Mira kemudian mengendap endap, berjalan dengan kaki yang berjinjit dengan tujuan ingin mengagetkan Erik dan penasaran apa yang sedang laki laki itu perbuat sehingga dari tadi tak terdengar suaranya sama sekali.


Namun, saat Mira sampai di ruang makan, tak ada tanda tanda Erik di sana, pun begitu saat dia memeriksa ruang tamu, ruang tengah sampai ke kamar nya, naamun tak ada Erik di sudut manapun di apartemen itu.


"Mas,,, Mas Erik ! Kamu di mana ? Tolong jangan bercanda, ini tidak lucu !" teriak Mira sambil terus mencari Erik di setiap ruangan, bahkan Mira membuka lemari pakaian ada di rumah itu, takut kalau ternyata Erik sedang mengerjainya dengan bersembunyi di tempat tempat yang tidak dia duga.


Akhirnya Mira memutuskan untuk menghubungi kekasihnya itu, namun sayangnya beberapa kali di hubungi Erik tak juga mau menerima panggilannya, sampai akhirnya ada sebuah pesan masuk ke ponselnya dari Erik yang mengatakan kalau dirinya akan pulang terlambat karena ada suatu hal yang harus dia selesaikan.


Baru saja Mira hendak membalas pesan Erik, sebuah panggilan video dari Regan tampak di layar ponselnya, tak biasanya dia panggilan video, biasanya dia hanya cukup mengirim pesan atau panggilan telepon biasa saja.


Tanpa membuang waktu, Mira langsung menerima panggilan video dari Regan, tampak wajah pucat Regan yang berbicara degan nada suara yang bergetar seperti menahan tangis.


"Cumi, tolongin gue,!" ucap Regan dalam videonya.


"Gan, kenapa lo ?! Jangan bikin gue takut, lo di mana ?!" panik Mira melihat wajah sahabatnya yang terlihat pucat pasi itu.


"Apa ?! Gue kesana sekarang, lo tenang dulu ya !" ujar Mira.


Saat hendak mengakhiri pembicaraannya, tak sengaja layar ponselnya menangkap sosok seperti Erik melintas di belakang Regan, namun sambungan telepon keburu terpustus sebelum Mira melihatnya kembali dan memastikan sosok itu.


'Ah, sepertinya aku salah lihat, mungkin ini karena aku sedang memikirkan nya semenjak tadi, tidak,,, tidak,,, itu hanya mirip, bukan dia !' batin Mira menggelengkan kepalanya, dia tak ingin membuang waktu dengan memikirkan hal hal yang konyol, saat ini yang harus di lakukan adalah segera berangkatvke rumah sakit memastikan keadaan Roni dan keluarganya dan menguatkan Regan.


Tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu, Mira langsung bergegas menuju rumah sakit menyusul Regan yang sudah menunggunya di sana.


"Regan, bagaimana keadaan bang Roni dan yang lainnya ? Apa yang terjadi sebenarnya ?" cecar Mira saat bertemu Regan di depan loby rumah sakit.

__ADS_1


"Bang Roni masih dalam penanganan, mba Citra hanya cedera ringan, sedangkan Jemi terluka paling parah," terang Regan.


"Mereka mengalami kecelakaan saat hendak pergi makan malam bersama," lanjut Regan dengan mata yang berkaca kaca.


"Tenaglah, tak akan terjadi apa apa pada bang Roni dan Jemi," ujar Mira menenangkan sahabatnya.


"Tolong lo tungguin bang Roni di UGD, gue mau urus administrasi, mba Citra lagi fokus nungguin Jemi, soalnya," pinta Regan.


Mira mengangguk, dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit sendirian malam itu menuju ruang IGD.


Sebuah pemandangan yang sama sekali tak ingin dia lihat harus benar benar nampak di depan matanya, dari kejauhan dirinya justru menangkap kehadiran sosok Erik yang sedang memeluk mesra Citra di depan ruang UGD yang pintunya tertutup rapat tanda pasien sedang di tangani di ruangan itu.


Mira mengambil posisi yang agak tersembunyi dari pandangan Erik dan Citra, dirinya sengaja berdiri tak jauh dari pasangan mantan suami istri itu, Mira masih isa melihat dan mendengar pembicaraan keduanya meski mereka tak dapat melihat dirinya yang berdiri merapatkan tubuhnya ke dinding sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang tak karuan.


"Erik, tolong Jemi, dia butuh darah, hanya kamu yang bisa menolongnya !" pinta Citra sambil menangis tersedu di dada bidang Erik, membuat dada Mira merasa panas melihatnya.


"Jemi ? Anak mu ? Tapi kenapa aku yang harus mendonorkan darah untuk anak mu ?" tanya Erik bingung.


"Golongan darah Jemi tak coxok degan ku ataupun Roni, tapi golongan darahnya sama dengan golongan darah mu !" terang Citra.


"Apa, apa maksudnya ini ? Apa kamu mau bilang kalau anak itu adalah---" ucapan Erik menggantung.


"Ya, sepertinya dia anak mu, kau bisa tes dna setelah ini, yang penting saat ini Jemi selamat dulu, aku mohon, selamatkan anak kita !" mohon Citra.


Duar,,, !


Bagai sambaran petir di siang bolong kata kata yang keluar dari mulut Citra itu tak hanya mengagetkan Erik, tapi juga mengagetkan Mira yang ikut mendengarkan pembicaraan pasangan itu.

__ADS_1


Hampir bersamaan, Erik dan Mira merasakan lemas di lututnya walaupun di tempat yang berbeda, hati mereka pun rasanya seperti di remas sangat kencang, sakit luar biasa, meski mereka mempunyai alasan berbeda mengapa merasakan hal itu, tapi saat ini, kebenaran yang di katakan Citra sukses membuat Erik maupun Mira terjebak dalam perasaan yang sulit untuk di ungkapkan dan di gambarkan.


Erik bahkan tak bisa mengartikan situasi dan kondisi apa sebenarnya yang saat ini dia alami, apakah ini hadiah ulang tahun dari Tuhan, di mana dia di beri kado istimewa yaitu seorang anak, atau bahkan sebagai ironis dari Tuhan yang mengejeknya karena tak mampu mempertahankan anak dan istrinya agar tetap berada dalam sebuah keluarga yang utuh dan hangat.


__ADS_2