
Citra tak habis pikir, dirinya memutuskan untuk menikah dengan Roni pada waktu itu karena pertimbangan Roni sudah memperlihatkan perilaku baik padanya, pria yang di cintainya itu banyak berubah ke arah yang lebih baik, apa lagi sekarang ada anak di antara mereka, seharusnya Roni menjadi semakin lebih baik dan lebih betah dengan keluarga baru nya.
"Ron, sebenarnya dari mana saja kamu gak pulang dua hari ini, kamu bahkan tak bisa di hubungi," tanya Citra pelan, menekan segala emosinya yang sudah dua hari ini dia tahan di dada.
"Aku sibuk, kamu tau, kan pekerjaan ku lagi banyak banget !" jawabnya melempar tas kerja yang di bawanya ke sofa.
"Kamu kan bisa mengabari ku," ucap Citra.
"Apa kalau aku mengabari mu lantas pekerjaan ku jadi sedikit ? Jadi selesai ?" sinis Roni.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, kasihan Jemi, dia hampir tak pernah bertemu dengan mu !" rengek Citra.
"Apanya yang kasihan ? Aku pergi setiap hari mencari uang untuk membiayai hidup kalian, aku memastikan kalian hidup layak, tak kekurangan makan dan kekurangan apa pun apa yang perlu di kasihani ? Jangan ngaco, deh !" suara Roni meninggi.
Citra menghela napas dengan beratnya, sangat ingin dia melawan dan membantah semua kata kata suaminya itu, namun sepertinya energi yang dia punya sudah terkuras habis karena mengurus Jemi, mengurus rumah plus tidak tidur selama dua malam karena menunggui kabar dari suaminya itu, jadi dia memutuskan untuk diam dan tak melawan lagi apa pun yang di ucapkan Roni padanya.
"Baiklah, yang penting ke depannya kamu tidak mengulangi lagi, jangan menghilang tanpa pesan !" pinta Citra lirih.
"Tergantung ! Sikap ku pada mu, tergantung bagaimana sikap mu pada ku !" ucap Roni berteka teki.
"Apa maksud mu ? Bukankah selama ini aku selalu menomor satukan mu, bahkan aku rela meninggalkan semuanya demi kamu, suami, harta, bahkan ibu ku," Citra sedikit kaget dengan apa yang di ucapkan Roni padanya.
"Pikirlah sendiri, yakin,,, kau sudah benar benar jujur pada ku ? Yakin, kau sudah benar benar jujur pada diri mu sendiri ? Pikirkan lagi !" Roni menunjuk keningnya sendiri seraya mengatakan kalau Citra sebaiknya memakai otaknya untuk berpikir dengan tatapan dan senyuman sinisnya.
Citra tak ingin menebak nebak kemana arah pembicaraan suami ya itu, yang jelas, pernyataan sinis Roni cukup sukses membuatnya ketar ketir memikirkan apa maksud dari perkataan pria yang kini menjadi suaminya itu.
***
Citra sedang menemani Erik bertemu klien di salah satubrestoran hotel berbintang sore itu, meskipun Kemal sudah kembali dan menemaninya di pertemuan itu, Erik bersikeras Mira tetap harus ikut bersama mereka, semenjak kejadian pertemuan tak sengaja kekasihnya dengan Niko di rumah sakit waktu itu, Erik hampir tak pernah membiarkan Mira berkegiatan sendirian, selalu ada saja alasan untuk mereka tetap bersama.
"Mas, aku pamit ke toilet sebentar," bisik Mira pada Erik, yang lalu di jawab dengan anggukan pelan pria tampan itu.
__ADS_1
Mira berjalan menuju toilet restoran yang letaknya tak tauh dari tempat nya duduk tadi, namun dari kejauhan matanya menangkap pemandangan yang tak sengaja dia lihat.
Dari kejauhan Mira melihat Roni yang keluar dari lift hotel dengan menggandeng mesra pinggang seorang wanita, dan wanita itu bukan Citra sang istri, melainkan Dinda si model terkenal itu.
Dengan perasaan yang masih sedikit terkejut dan rasa penasarannya yang merajai hatinya, Mira mengurungkan niatnya untuk ke toilet dan bergegas menyusul abang dari sahabatnya itu, namun sayangnya Roni dan Dinda menghilang saat Mira baru saja keluar dari pintu resto, kebetulan di sekitar sana juga sedang banyak tamu rombongan, jadi pasangan mencurigakan itu dapat degan mudahnya hilang dari pabdangan Mira.
Beberapa pikiran buruk terlintas di kepalanya, namun dia berusaha menepisnya,
'Mungkin mereka sedag ada urusan kerja !' pikirnya setelah tak menemukan lagi jejak kemana mereka berdua pergi.
Mira sempat terdiam sejenak sambil memperhatikan sekali lagi orang orang di sekitar sana, matanya awas memandangi beberapa orang yang sedang mengobrol dan berlalu lalang di hadapannya, namun mereka benar benar seperti menghilang begitu saja dengan cepatnya.
"Apa yang kamu cari ? Toilet ada di dalam sana, bukan di sini !" tanya Erik yang tiba tiba berada di belakangnya, dan menunjuk ke arah dalam restoran.
"Ah, itu,,, tadi sepertinya aku melihat bang Roni, tapi mungkin saja aku salah lihat !" kelit Mira, tak ingin memperpanjang cerita namun juga tak ingin berbohong kenapa dia berada di luar restoran saat ini.
"Ayo masuk, jangan terlalu sibuk mengurusi urusan orang lain !" ucap Erik yang juga seperti tak terlalu mempermasalahkan apa yang di lakukan kekasihnya itu.
"Sudah ku bilang jangan mengurusi urusan orang lain !" tegur Erik yang melihat kekasihnya itu lebih banyak terdiam dan melamun.
"Ah, tidak, aku hanya---" Mira menghentikan kalimatnya sejenak berpikir akan memberi alasan apa pada Erik.
"Haya memikirkan Roni yang menggandeng mesra Dinda ?" tebak Erik, tepat kena pada sasarannya.
"Kamu tau ?!" Mira langsung berbalik dan menatap tak percaya pada Erik yang seolah biasa saja, padahal dia tau tentang apa yang tadi dia lihat di hotel.
"Tentu saja, bukannya aku selalu ada di hati mu, jadi apapun yanh kamu lihat, jelas pasti aku melihatnya juga, sayang !" seloroh Erik dengan cengir kudanya.
"Mas, jangan bercanda ! Kamu liat juga tadi ?" tanya Mira.
"Bukan cuma tadi, sebelumnya aku juga beberapa kali pernah lihat mereka berduaan!" ujar Erik dengan santainya.
__ADS_1
"Lalu ?!" tanya Mira penuh antusias.
"Apanya yang lalu ?! Lalu aku ya diam aja, ngapain ngurusi urusan orang lain !" ucap Erik.
"Kalau beneran apa yang aku pikirkan, bang Roni selingkuh sama Dinda, gimana ?" tanya Mira lagi.
"Ya gak gimana gimana, dia kan gak selingkuh sama kamu, gak ada urusannya sama aku, lah !" elak Erik.
"Bukan begitu maksud nya, kamu gak bakal pernah ngerti apa yang aku pikirin saat ini !" cebik Mira mengerucutkan bibirnya.
"Apa ? Apa yang kamu pikirkan, hem ?" Erik mencubit gemas bibir Mira yang sedang manyun saat ini, sungguh Erik sangat ingin melummat bibir menggemaskan itu jika saja dirinya tidak sedang menyetir kendaraannya saat ini.
"Aku itu takut, kalau bang Roni selingkuh beneran sama Dinda, terus bang Roni sama mba Citra jadi berantem, terus mereka berpisah, terus---- Mira menjeda ucapanya, berat baginya meneruskan kalimat selanjutnya--- terus, kamu sama mba Citra balikan lagi !" suara Mira lirih saat mengucapkan kata kata di akhir kalimatnya.
Erik segera menepikan kendaraannya di bahu jalan, melepas seatbelt yang di pakainya lalu memutar tubuhnya menghadap Mira yang kini kembali terdiam, dan tertunduk lemas.
"Sayang, apa kamu pikir aku pria yang tega berbuat seperti itu ? Kamu dengar, aku mencintai mu karena memang hati ku berlari ke arah mu, bukan karena pelarian atau sebagai pengisi kekosongan hati untuk sementara, dan di buang seenaknya saat sudah tak aku perlukan lagi," Erik menatap dalam wajah Mira yang seakan enggan balik menatapnya karena gadis itu terus saja menghindari tatapan matanya.
"Tapi aku takut,,, kamu begitu mencintai mba Citra, apa lagi kalian punya Jemi, sedangkan aku hanya orang baru yang memaksa masuk di kehidupan mu, ketika ada peluang untuk kalian kembali bersama itu pasti akan menjadi sebuah pilihan yang tepat untuk kehidupan kalian, karena tentu saja di bandingkan dengan dengan mba Citra dan Jemi, aku pasti bukan opsi yang tepat buat buat hidup mu !" cicit Mira panjang lebar.
"Sayang, aku tak pernah sekalipun berpikiran menjadikan mu sebagai sebuah opsi, karena bagiku kamu adalah prioritas, aku memang pernah mencintai Citra, tapi itu masa lalu, dan untuk masalah Jemi,,,, jika memang benar anak itu darah daging ku, aku harap kamu tak keberatan untuk sama sama menerima dengan ikhlas ketentuan Tuhan itu, tapi sekali lagi aku pastikan, di sini tak ada orang lain selain kamu," Erik menempelkan telapak tangan Mira di dadanya.
"Maaf, bukan maksud ku meragukan mu, aku hanya takut, aku takut menjadi seorang yang egois karena menjadi orang yang menghalangi kebahagiaan mu berkumpul kembali dengan anak dan mantan istri mu," ucap Mira.
"Sayang, kamu hanya ketakutan dengan pikiran pikiran jelek mu sendiri, karena kenyataannya kebahagiaan ku hanya saat aku berada bersama mu, percayalah !" Erik mencium kening gadis yang sedang di peluknya itu dalam.
Erik tak menyangka dirinya bisa se sayang itu pada bocah konyol yang belum lama di kenalnya itu, sebelumnya dia pikir, dirinya tak akan pernah bisa move on dari Citra, dan seumur hidupnya hanya akan di habiskan dengan kesedihan dan menantikan mantan istrinya itu kembali.
Namun sayangnya saat ini tak ada tempat untuk wanita lain di hatinya, seluruh ruang di setiap sekat di hatinya itu hanya di penuhi oleh gadis yang selalu membuat hidupnya semakin berwarna, gadis yang mampu menghapus jejak masa lalu di hatinya.
"Om, i love you !" seru Mira tiba tiba menyambar bibir Erik dan melumaattnya, sehingga pria gagah itu tak sempat membalas pernyataan cinta kekasihnya yang baru pernah dia dengar selama ini.
__ADS_1