Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Aku Mundur


__ADS_3

Erik memandangi meja makan yang sudah tertata rapi dengan berbagai makanan yang terhidang cantik di atasnya.


Sebuah cake kecil juga tersaji di sana, sudah dapat di pastikan Mira mempersiapkan ini semua dari jauah jauh hari sebelumnya,


"Oh,,i feel so guilty !" sesal Erik yang kemudian duduk di kursi yang sudah di hias sedemikian rupa oleh Mira, hatinya terasa begitu nyeri memikirkan bagaimana kecewanya Mira saat ini karena semua usaha untuk menyenangkan dirinya terasa sia sia dan tak di hargai sama sekali.


Erik bergegas keluar dan menghampiri unit apartemen milik Mira terdahulu yang kini di tempati Alisha, dua kali memijit bel, pintu langsung terbuka dari dalam.


Senyuman manis Alisha mengembang begitu sempurna saat mengetahui kalau yang bersiri di hadapannya saat ini adalah Erik, laki laki yang selalu hadir di mimpi dan lamunannya.


"Kak Erik, ada perlu apa tengah malam begini, ayo masuk,,,!" Ajak Alisha.


"Apa Mira di sini ?" tanya Erik to the point.


"Kak Mira ? Tidak, apa kalian bertengkar ?" mata Alisha berbinar, menerka nerka apa yang terjadi pada hubungan kakak tirinya itu.


"Apa perlu aku laporan padamu, tentang apa yang terjadi pada kami !?" sinis Erik melengos dan lalu meninggalkan Alisha yang terpaku menatap wajah tampan Erik dari jqrak dekat.


"Semoga kak Mira tidak di temukan, dan kalian putus !" umpat Alisha.


Erik yang mendengar ucapan Alisha secara samar samar itu sebenarnya sangat ingin menampar mulut wanita tak tau malu itu, namun mencari Mira sepertinya lebih penting saat ini baginya.


Di tengah keputus asaannya, Erik mengingat satu nama yang kemungkinan besar tau di mana Mira berada.


Regan, ya,,, laki laki sahabat dekat Mira itu pasti tau keberadaan Mira saat ini.


Erik bergegas kembali ke rumah sakit tempat Citra sekeluarga di rawat, tadi sepertinya Erik melihat keberadaan Roni sekilas di sana, meski tak sempat bertegur sapa.


Erik tak bisa menghubungi laki laki sahabat pacarnya itu karena Erik tak mempunyai nomor telepon Regan, dan merasa tak begitu penting mempunyai kontak adik dari laki laki perebut istrinya itu.

__ADS_1


"Regan, nama mu Regan kan ?! Apa kau tau di mana kekasih ku berada kini ?" tanya Erik dengan arogannya, saat dia baru saja tiba di rumah sakit dan mendapati Regan sedang di ruang rawat Roni, menjaga abang kesayangannya.


"Pacar anda ? Apa aku ada hubungannya dengan pacar anda ?" ucap Regan malas, dia memang tak begitu suka dengan sifat Erik yang angkuh dan sangat arogan di matanya.


Jika saja Erik bukan kekasih sahabatnya dan jika saja Erik bukan pelanggan VVIP di klub tempatnya bekerja, tak sudi rasanya dia berramah tamah dengan pria menyebalkan itu.


"Mira, kau pasti tau di mana Mira saat ini, kan ?" kesal Erik, merasa Regan segaja bermain kata dengannya.


"Lho,,, bukannya tadi dia pulang bersama anda dari sini ? Kalian datang bersama kan tadi kesini ?" Regan balik bertanya, Regan pikir Mira tadi datang bersama Erik, karena dia sempat melihat pria arogan itu sekilas di lorong rumah sakit saat Mira datang.


"A- Apa ? Mira dari sini ?" pekik Erik tak percaya.


"Bukankah kalian tadi sama sama menunggu di depan ruang UGD saat Jemi masih kritis," terang Regan yang sukses membuat mata Erik terbelalak tak percaya dengan apa yang di katakan Regan barusan padanya.


"Shiiiittt,,,,! Di depan ruang UGD, itu berarti saat aku dan Citra---- Aaah,,, sial !" kesal Erik mengumpat dirinya sendiri dan juga kebodohannya.


Erik duduk di dalam mobilnya, lalu membuka rekaman cctv apartemen yang terhubung dengan ponselnya, mengecek apa saja yang terjadi hari itu selama dirinya di kantor dan di rumah sakit.


Erik memperhatikan dengan seksama gambar Mira yang sibuk mempersiapkan ini itu dan termasuk memasak sendiri hidangan yang akan di hidangkan untuk ulang tahun dirinya, wajah Mira terlihat sumringah dan penuh semangat mempersiapkan semuanya, bahkan dia terlihat sangat cantik dengan dress merah yang sangat pas di tubuhnya.


Tanpa sengaja lelehan bening menetes dari sudut mata Erik, dia merasa menjadi orang paling jahat di dunia ini saat melihat Mira yang duduk sendirian di meja dengan wajah muram setelah beberapa saat menghilang dari apartemen karena ada panggilan telepon yang entah dari siapa, karena rekaman cctvnya haya berupa visual tanpa suara.


Terlihat pula adegan di mana Mira seperti menyanyikan lagu dan meniup lilin yang terpasang di cake yang sengaja dia persiapkan, rasa perih di hati Erik tak dapat tertahankan lagi, kini pria bertubuh atletis yang terkenal dengan sifat yang arogan itu menangis tersedu di balik kemudi, matanya tak lepas memperhatikan setiap gerak labgkah Mira di sana, sesekali bibirnya memanggil nama sang kekasih yang ternyata pergi meninggalkan dirinya.


Sangat jelas di tayangan itu Mira membawa sebuah tas ransel besar dan meninggalkan apartemen tempat mereka berbagi suka dan duka bersama, tak ada sosok Mira lagi di rekaman selanjutnya, Mira pergi dengan wajah yang muram dan langkah lunglainya, dan itu mencabik cabik hati Erik yang masih tersedu.


Erik membuka lagi pesan terakhir yang Mira kirimkan padanya.


'Oke, hati hati dan selamat ulang tahun, semoga kamu bahagia !' Bahkan Mira masih mengucapkan selamat ulang tahun dan mendo'akan kebahagiaan untuknya dengan tulus, padahal gadis itu tau kalau dirinya telah berbohong, dan tak menutup kemungkinan kalau kekasihnya itu melihat dan mendengar apa yang di bicarakannya dengan Citra tentang Jemi.

__ADS_1


"Aah,,,, Mira, kamu dimana, sayang ! Aku tak bisa kalau harus berpisah dengan mu," ratap Erik.


Puluhan kali sudah Erik menghubungi ponsel Mira, namun tak tersambung, ratusan pesan Erik kirimkan pada Mira, namun tak jua ada balasan.


Jurus terakhir satu satunya yang dia lakukan adalah menghubungi Kemal.


"Kau cari keberadaan Mira, aku tunggu kabar dari mu secepatnya, tinggalkan pekerjaan lain, cari Mira terlebih dahulu !" titah Erik pada Kemal yang langsung memutus pembicaraannya secara sepihak.


"Tinggalkan pekerjaan lain ? Dia pikir ini jam kerja, ini lewat tengah malam hampir subuh, jam tidur !" kesal Kemal yang hanya bisa mengumpat pada guling yang dia peluk saat ini.


Selalu begitu, Erik selalu memberinya perintah tanpa mengenal waktu, mungkin itu memang sudah menjadi jobdesk nya sebagai asisten pribadi yang harus mengurus segala kebutuhan seorang bos super sibuk dan memiliki tumpukan pekerjaan, termasuk ikut menyelesaikan masalah pribadi nya.


Mungkin itu yang dinamakan resiko pekerjaan.


***


Mira menyandarkan diri di sebuah kursi ruang tunggu keberangkatan bandara sambil mangku ransel yang dia letakkan di pahanya dan memeluk ransel besar itu dengan erat.


Keberangkatannya ke luar kota masih beberapa jam lagi, dia memilih pergi dengan penerbangan pertama pada jam setengah enam pagi, sedangkan sekarang waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, dia sudah memutuskan untuk pergi, dia tak ingin menjadi duri pada kebahagiaan Erik yang mungkin akan berkumpul bersama anak dan mantan istrinya yang mungkin saja kembali bersama.


Terlalu banyak kemungkinan di kepalanya memprediksikan apa yang akan terjadi selanjutnya pada kehidupan Erik, yang tentu saja tanpa melibatkan dirinya di dalamnya yang hanya 'orang luar' dan kebetulan terbawa arus ke pusaran permasalahan mereka.


Bukanya Mira pengecut dan melarikan diri dari masalah, tapi Mira ingin menenangkan dirinya sejenak, menghilang beberapa saat dari kehidupan Erik, biarlah Erik membiasakan diri hidup tanpa dirinya, dan Mira juga bisa menata hatinya, sehingga jika suatu saat bertemu lagi dengan Erik hatinya sudah sangat siap.


Pesan demi pesan masuk silih berganti ke ponselnya, dan semuanya beasal dari orang yang sama, yaitu Erik.


Namun Mira sengaja mengabaikan panggilan telepon dan pesan di ponselnya itu, hatinya terlalu kecewa atas kebohongan yang Erik katakan padanya, Mira sudah bisa menyimpulkan dari cara Erik membohonginya, pria itu memang tidak menganggapnya penting, seperti pentingnya Erik bagi kehidupan Mira.


'Aku mundur jika aku hanya akan menjadi penghalang kebahagiaan mu !' ucap Mira dalam batinnya.

__ADS_1


__ADS_2