
Niko hanya menggeleng, sangat jelas terlihat kalau wanita di sampingnya itu sedang tidak baik baik saja.
Kemudian laki laki itu menarik gelas yang ada di tangan Mira, Niko tidak tega melihat Mira yang sepertinya mabuk berat itu.
"Apa ini ? Kau mau merampas minuman ku ? kau takut tak bisa membayari minuman ku ? Aku bisa membayarnya sendiri, aku tak butuh si bayari oeh mu, aku tak butuh siapa pun di dunia ini !" teriak Mira bersahutan dengan suara musik dan suara riuh para pengunjung klub yang bersorak karena kembang api mulai di nyalakan dan menghiasi langit dengan indah.
"Berhenti dulu minumnya, kita ke pantai melihat kembang api, kamu pasti suka !" ajak Niko setengah menarik tangan Mira agar bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak, aku kesini untuk mabuk, bukan untuk menonton kembang api, ke kanak kanakkan !" sinis Mira.
"Kamu boleh membawa minuman mu, yang penting kita keluar dari sini, ini terlalu ramai, aku pusing !" keluh Niko,
Entah hanya sebuah alasan saja atau memang benar benar pusing karena hingar bingar malam itu, bukannya laki laki itu sudah biasa dengan suasana klub malam, pastinya ini bukana kali pertama dia masuk tempat seperti ini, kenapa tiba tiba dia merasa terganggu dengan suasana ramai di sana.
Namun tak tau dengan alasan apa akhirnya Mira mau menuruti ajakan Niko untuk meninggalkan klub dini hari itu dan berjalan menuju pantai meski tangannya masih saja mencekik botol minuman dengan erat dan sesekali meminumnya walau jalannya sudah mulai sempoyongan, ini botol ke tiga yang wanita itu minum, sebotol dia minum sendiri, botol ke dua di minum bersama Niko, dan ini botol ke tiga yang dia jadikan syarat jika Niko mau mengajaknya jalan jalan di pantai, dia harus membawa minumannya.
"Aku belum mabuk, aku tidak mabuk, wajahnya masih ada di sini, di sini, dan di sini, aku masih saja terus mengingat nya, mengingat pria yang mungkin sudah melupakan dan mencampakan ku itu !" racau Mira sambil menunjuk mata, kepala dan dada nya secara bergantian.
Seraya mengatakan kalau wajah Erik masih terbayang jelas di pelupuk matanya, menari mari di pikirannya, dan masih bersemayam di hatinya.
"Apa yang terjadi ? Kau sedang ada masalah ?" tanya Niko, meski dia tau sia sia bertanya pada orang mabuk.
Niko hanya menyimpulkan sendiri kalau Mira sepertinya sedang ada masalah dengan Erik Wijaya, sang pengusaha sukses yang dia sebut sebut sebagai calon suami wanita itu.
Tentang bagaimana dan apa masalah yang Mira hadapi, tentu saja Niko tak dapat menebaknya secara tepat.
Lelah berceloteh dan meracau sepanjang perjalanan, Mira ambruk di atas pasir, meski matanya masih terbuka, namun pandangannya sudah membayang dan tak jelas karena mabuknya.
__ADS_1
Tak banyak yang Mira ingat, gadis itu hanya merasa tubuhnya ringan seakan melayang di udara, sepertinya seseorang sesang mengangkat tubuhnya dan berjalan membawanya entah kemana.
***
Tepat pukul sepuluh pagi Mira terbangun dari tidurnya yang sangat lelap, dia tak mengingat sedikit pun siapa yang membawanya ke tempat asing ini, sebuah kamar hotel mewah sekelas president suite room, yang jelas iru bukan kamar yang di sewanya, Mira yakin orang yang membawanya ke tempat itu bukan orang yang sembarangan, mengingat harganya yang cukup mahal di tambah lagi ini malam pergantiaan tahun, semua hotel pasti akan menaikkan tarifnya berkali kali lipat.
Mira menyingkap selimut tebal dan lembut yang menutupi tubuhnya, betapa kagetnya dia saat menyadari dia hanya mengenakan kemeja pria tanpa bawahan, hanya saja kain penutup bagian bawahnya masih utuh, begitu pun dengan penutup dada yang masih dapat dia rasakan kehadirannya melingkar erat di dada dan bahunya.
"Oh tidak, Niko ! Apa yang sudah laki laki itu lakukan padaku, ini pasti ulah anak manja itu !" kesal Mira meremas erat rambutnya, kepalanya masih terasa sedikit berat pagi itu, tapi sudah harus berpikir dan bermain tebak tebakan siapa yang membawanya, karena tak terlihat ada orang lain di kamar itu selain dirinya.
"Aaah,,, Niko sialan ! Awas saja kalau sampai kau berani berbuat macam macam pada ku semalam, ku bunuh kau !" teriak Mira.
"Apa kau akan kecewa jika ternyata yang bersama mu semalaman itu aku, bukan Niko Hartono !?" suara itu tiba tiba saja mengagetkannya saat seorang pria masuk ke dalam kamar tempat Mira yang masih terduduk di ranjang mewah itu.
"Ka- kamu, kenapa kamu bisa di kamar ini ? Tidak tidak,,, aku pasti masih mabuk, kenapa wajahnya masih saja terbayang jelas, Tuhan,,,,!" pekik Mira yang segera menutupi wajahnya dengan bantal, dia merasa tak percaya karena justru kini sosok Erik yang tergambar di hadapannya.
"Sayang, maafkan aku,,, aku tak bermaksud membuatmu sedih, membuatmu kecewa dan terluka, aku hanya perlu menyelesaikan semuanya, aku tak ingin ada hal hal yang dapat mengganggu kebersamaan kita lagi di hari ke depannya," urai Erik memeluk dan menarik bahu Mira agar semakin mendekat padanya.
Perlahan Erik menurunkan bantal yang menutupi wajah Mira, di dekapnya tubuh gadis yang sangat di rindukannya setengah mati itu.
Mira mengerjapkan matanya perlahan, dia memastikan kalau ini nyata, bukan mimpi atau lamunannya saja, dan turunlah air mata yang sekuat tenaga di bendungnya sedari tadi akhirnya jebol juga bendungan itu, Mira tersedu sedu di dada laki laki yang juga dia rindukan itu, entah apa yang harus dia katakan pada pria itu, padahal rasanya jutaan kata sudah di rangkainya jika dia bertemu lagi dengan Erik, begitu banyak kata yang ingin dia sampaikan dan tersimpan di dadanya, namun tiba tiba semua itu seperti hilang begitu saja dari kepalanya ketika pertama kali matanya menangkap wajah Erik.
Hanya air mata yang terus berjatuhan tak terkendali, rasanya gadis itu tak bisa menghentikan tangisnya, entahlah, air mata itu semakin deras saja keluar dari kedua sudut matanya seakan mewakili setiap kata yang tak bisa terucap dari bibirnya.
"Hey, sayang,,, kamu terus terusan menangis apa kamu tak ingin bertemu dengan ku ? Kamu membenci ku ?" Erik memegang kedua bahu Mira dan menjauhkan dari dadanya, menatap wajah bermata sembab yang terus saja menghindar dari tatapan matanya.
Erik mengusap pipi basah Mira dengan ibu jarinya, pipi mulus itu terasa lembab di tangannya karena air mata yang terus saja mengalir di pipi gadis kesayangannya itu.
__ADS_1
"Aku,,, aku,,, aku pikir kita tak akan pernah bertemu lagi," ucap Mira dalam tangisnya,
"Aku pikir,,, kamu sudah tak memerlukan ku lagi, aku yakin kamu sudah bahagia bersama anak mu, dan aku sudah tak berarti lagi !" tangisan Mira kembali pecah pagi itu.
"Sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu, kamu dan Jemi sama berartinya bagi ku, Jemi darah daging ku, dan kamu kehidupan ku !" Erik mengusap usap punggung Mira yang kembali menangis dalam pelukannya.
"Kamu tak menyusul ku, kamu tak pernah lagi berkirim pesan padaku, tak pernah lagi menghubungi ku, aku merasa sudah di buang oleh mu !" rengek Mira dalam dekapan Erik.
"Aku menyusul mu, ini buktinya aku di sini, kamu pikir yang mendekap mu ini setan ?" goda Erik, sesekali dia mencium kening gadis itu gemas, Mira menjadi sangat menggemaskan saat sedang menangis dan mengomel padanya.
"Tapi bagaimana aku bisa tiba tiba berada di sini, bukankah semalam aku bersama Niko ?" Mira mengingat ingat kejadian semalam yang hilang dari memorinya.
"Apa kamu kecewa ? Kamu berharap saat membuka mata yang menemani mu si Niko itu ?" ketus Erik sedikit terlihat kesal.
"Bukan seperti itu, aku sama sekali tak menyadari kehadiran mu semalam, dan ini siapa yang memakaikan ini pada ku ? bagaimana aku bisa berpakaian seperti ini ?" Mira menunjukkan kemeja kedodoran yang sekarang di pakainya.
"Kamu sangat sekkssi memakai baju ku seperti itu, kamu sudah menyiksa ku semalaman menahan sesuatu," Erik mencium bibir Mira sekilas.
"Kamu mengganti baju ku ? Berarti kamu melihat ---" Mira meraih bantal dan menutupkan bagian depan tubuhnya.
"Apa kamu mau tidur dengan baju yang penuh dengan muntahan ?" ujar Erik.
"Tapi,,, kamu gak ngapa ngapain aku kan semalam ?" tanya Mira memicibgkan matanya galak.
"Apa enaknya meniduri wanita mabuk, tak ada perlawanan, aku belum ngapa ngapain kamu semalem !" celoteh Erik.
"Apa maksud mu belum ?" Mira terbelalak.
__ADS_1
"Itu berarti akan !" jawab Erik tersenyum jahil.