
Mira sebenarnya merasa miris dengan Citra yang seperti terus terusan mengemis cinta dan berharap Erik kembali padanya, namun untuk hal yang satu itu, Mira pun tak akan menyerahkan Erik begitu saja, dia pemilik sah Erik saat ini, jadi tak ada wanita manapun yang bisa mengambil suaminya dari tangannya.
"Mas, kamu sering ke vila ini sebelumnya dengan mba Citra ?" tanya Mira saat mereka sedang menikmati menonton film bersama di ruang tengah vila.
Ucapan Citra tadi siang yang mengatakan kalau mereka sering memadu kasih di vila yang mereka tempati bersama sekarang, lumayan mengganggu ketenangan hati dan pikiran Mira.
"Aku rasa Citra sudah gila, dia bahkan tidak pernah tau kalau aku mempunyai vila di sini, karena vila ini dulu milik paman ku yang dia berikan padaku sebagai ganti biaya perbaikan salah satu kliniknya, karena aku tak mau di bayar saat itu, dia hanya ingin membuat mu marah saja," terang Erik.
Mira sedikit terpaku mendengar penjelasan Erik,
"Tapi, kenapa dia bisa tau kita tinggal di vila ini ?" gumam Mira dengan dahi yang mengernyit.
"Tentu saja dia mencari tau, aku rasa kehadirannya di kota ini juga bukan bukan suatu kebetulan," ucap Erik yang terlihat seperti santai saja menanggapi kejadian tadi siang.
"Maksudnya, mba Citra sengaja mengikuti kita sampai ke sini ? Tapi, kenapa dia sampai berbuat senekat itu ?" pekik Mira setengah tak percaya.
"Entahlah ! Yang penting kamu jangan sampai termakan hasutannya, dia akan sangat senang bila kita sampai bertengkar gara gara omong kosongnya, sayang !" urai Erik.
Mira mengangangguk angguk, dia mulai menyusun strategi untuk menghempaskan para wanita yang secara terang terangan ingin merebut suami tampannya itu.
"Emh, tidak semudah itu ! Aku tak akan membiarkan wanita wanita gatal seperti mereka bertepuk tangan dan merasa senang dengan keberhasilan cerita bohong mereka, !" ucap Mira mendengus kesal.
"Nyonya Erik Wijaya memang keren, terima kasih karena memilih untuk tetap bersama ku, dan percaya pada ku !" Erik mengecup dalam bibir Mira.
"Tapi kalau sampai suatu saat aku tau kamu berbohong, aku tak akan berpikir dua kali untuk pergi meninggalkan mu !" ancam Mira dengan tatapan galaknya.
"Iya,,,,aku mana berani membohongi mu !" jawab Erik dengan senyum khasnya.
***
__ADS_1
Citra menatap nanar vila yang kini sedang di tempati Erik dan Mira dari hotel tempatnya menginap yang kebetulan bersebrangan dan berhadapan langsung dengan vila milik Erik itu.
Citra memutar otak, mencari cara bagaimana agar dia bisa kembali merebut perhatian Erik, dia tak akan mundur selangkah pun, meski Erik berulang kali terang terangan menolak dan bersikap dingin padanya. Baginya, apa yang pernah menjadi miliknya, harus tetap menjadi miliknya, tak boleh ada orang lain yang memiliki nya.
Citra tersenyum miring, sebuah ide tiba tiba terlintas di benaknya. Wajahnya yang kuyu, kembali bersemangat, seakan gairah hidup yang semula hilang kini berkobar lagi.
"Kau tidak akan semudah itu membuang ku begitu saja, karena kau milik ku, dan akan selalu menjadi milik ku, Erik !" gumamnya dengan kedua matanya yang terus menatap vila di sebrang jalan.
***
Jakarta,
"Pak Kemal, tolong katakan pada saya di mana kak Mira dan kak Erik sekarang, ibu sangat ingin bertemu dengan kak Mira, dia sakit !" ucap Alisha terus mengekor langkah Kemal yang tak memperdulikan pertanyaannya semenjak tadi.
"Alisha !" sapa Niko yang kebetulan sedang di utus ayahnya untuk bertemu Kemal siang itu, sedikit heran karena Alisha sedang mengikuti kemana pun langkah asisten pribadi Erik itu pergi.
"Niko, anda sudah datang, mari kita bicara di ruangan saya !" ajak Kemal tanpa memperdulikan kehadiran Alisha di antara mereka.
"Ah, itu,,, pak Kemal sedang ada urusan dengan Alisha ?" tanya Niko penasaran.
"Tidak, dia mencari kakaknya yang sedang pergi bersama suaminya," jawab Kemal.
Mulut Niko membulat membentuk lingkaran seraya berbunyi Ooo,,,! Sambil manggut manggut,, namun tak ingin memperpanjang lagi obrolan tentang itu.
'Ternyata Alisha masih saja berniat merebut Erik dari tangan Mira, padahal jelas jelas mereka sudah menikah !' gumamnya dalam hati, tapi hatinya juga merasa sedikit iba dengan Alisha yang terkesan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Setelah urusan bisnisnya dengan Kemal selesai, tanpa Niko sadari, mobil yang di kendarainya mengarah ke apartemen Alisha.
Niko berdiri tepat di depan pintu unit apartemen yang dulunya milik Mira dan sekarang di tempati Alisha itu.
__ADS_1
Dengan sedikit rasa ragu Niko mengankat tangannya meraih bel yang berada di sisi pintu sebelah kanan.
Beberapa kali menekan bel, namun pintu tak kunjung terbuka, Niko membalikan badannya karena merasa tak ada jawaban dari dalam, dia berniat meninggalkan tempat itu segera.
Namun tiba tiba,
Bruaaaakkkk !
Terdengar suara sesuatu terjatuh dari dalam ruangan, sepertinya suara benda yang cukup besar yang jatuh, karena dari suaranya terdengar cukup kencang.
Karena merasa penasaran, Niko kembali mendekat ke arah pintu, dan menempelkan telinganya di pintu, berharap mendengar sesuatu dari dalam, samar samar telinganya mwenangkqp suara rintihan.
"Alisha ! Kamu baik baik saja ? Alisha, apa itu kamu yang di dalam ?" teriak Niko dari luar pintu, dirinya tiba tiba merasa panik, namun dia teingat nomor kode akses pintu itu, meski sedikit ragu, Niko segera memasukan beberapa angka di sana.
Ternyata Alisha belum mengganti kode akses pintunya, terbukti dengan berhasil terbuka nya pintu itu dari luar, Niko segera masuk ke dalam ruangan yang tercium bau alkohol menyengat itu.
"Ah, Alisha !" pekik Niko saat menemukan tubuh Alisha tergeletak di lantai, di depan pintu kamarnya.
Niko segera menggendong Alisha, dan membawanya ke dalam kamar lalu membaringkan tubuh wanita yang sepertinya mabuk berat itu di atas ranjangnya.
"Kak Erik ! Kamu akhirnya datang juga, aku hampir gila mencari kakak, aku belum pernah merasa jatuh cinta seperti ini pada siapapun, tapi mengapa kamu malah memilih si Mira berengsek itu, Mira yang selalu beruntung dalam hidupnya !" racau Alisha saat kedua matanya terbuka dan melihat ada Niko yang di pikirannya itu adalah Erik tepat di hadapannya.
Senyuman Alisha mengembang lebar, hatinya sungguh bahagia, karena dalam benaknya merasa kalau Erik saat ini menemuinya secara mengejutkan.
"Apa ini kejutan dari mu di hari ulang tahun ku ? Kakak sengaja menemui ku secara diam diam tanpa istri kakak tau ? Ayo selingkuh dengan ku kak !" oceh Alisha mengungkung tubuh Niko yang mematung, dia bahkan tak tau harus berbuat dan berkata apa.
"Tak ada yang mengucapkan selamat pada ku, bahkan tak ada yang ingat ini hari ulang tahun ku, untung saja kakak datang kesini, aku bahagia,,, bahagia sekali !" Alisha mendekatkan wajahnya ke arah Niko yang dalam bayangannya itu Erik.
Tanpa sempat menghindar, bibir Niko kini sudah di lumm mat Alisha dengan penuh nappssu, bahkan dengan cekatan, tangan Alisha pun sudah membuka seluruh kancing kemeja yang di pakai Niko, sementara kaos oblong yang di pakainya sudah dia lucuti sendiri sampai tubuh bagian atasnya topless.
__ADS_1
"Alisha, jangan seperti ini, sadar lah, aku bukan Erik !" Niko berusaha menyadarkan wanita yang seakan ingin memperko sanya secara brutal.
Namun alih alih menyadarkan Alisha, justru kini dirinya yang seakan kehilangan kesadaran karena melihat dada polos Alisha yang terpampang nyata di hadapannya, bagaimana pun Niko tetaplah laki laki normal yang mempunyai sahwatt yang sama seperti laki laki lainnya yang akan tergoda jika di suguhkan pemandangan indah seperti itu, apalagi kini Alisha menggerayangi tubuhnya dengan buas, tanpa memberinya ampun.