Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Sisa Rasa


__ADS_3

Niko tertunduk lesu, tak berani melihat ke arah Mira yang di bawa paksa oleh Erik, dia tau dengan posisinya yang seperti sekarang ini, dia tak punya hak apa pun untuk menghentikan Erik yang terkesan kasar di matanya saat membawa Mira keluar dari sana, sungguh hati kecilnya sangat ingin menghalangi Erik untuk menarik paksa Mira, namun dia lebih berhak atas Mira dan Mira sendiri pun sepertinya tidak keberatan di perlakukan seperti itu.


"Kamu suka kak Mira, ya ?" pertanyaan Alisha membuyarkan lamunan Niko.


"Ah,,, itu--- tidak seperti itu,!" kelit Niko.


"Tidak usah berkelit, aku bisa melihatnya dari raut wajah mu yang sepertinya kecewa karena kak Erik membawa pergi kak Mira, dan saat tadi pertama kali kamu melihat kak Mira datang wajah mu sangat berbinar !"pancing Alisha.


"Kau mengada ada, mungkin tadi kau salah lihat, aku hanya kenalannya saja, ngomong ngomong, apa Mira benar benar kakak mu ? Kalian---" Niko mengalihkan pembicaraan.


"Tidak mirip ? Dia kakak tiri ku, ibunya menikah dengan ayah ku !" Alisha seperti tau apa yang ada di pikiran Niko saat ini.


"Oh, pantas saja,!" singkat Niko mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Kamu suka dengan kakak ku, kan ? Jujur saja ! Kalau kamu jujur aku mungkin bisa membantu mu !" ucap Alisha tersenyum miring.


"Bantu bagaimana maksud mu ?" Niko mengernyitkan dahinya.


"Membantu mu agar bisa lebih dekat dengan kakak ku, bahkan membantu agar kalian menjadi sepasang kekasih !" celetuk Alisha.


Niko mulai terdiam dan berpikir, mencerna apa yang di katakan Alisha padanya barusan.


***


Di lain tempat, Erik yang sudah sampai di kantor masih mengunci rapat mulutnya, tak sepatah kata oun dia ucapkan pada Mira.


Sedangkan Mira yang merasa sudah tak kurang kurang menjelaskan tentang kesalah pahaman tadi di rumah sakit juga memilih untuk balas mendiamkan balik Erik.


Mira merasa dia dalam posisi tak bersalah, dan sudah menjelaskan kejadian sebenarnya tanpa di tambah atau di kurangi pada Erik, akan tetapi jika pria itu memilih untuk mendiamkannya, ya sudah, apa mau di kata, begitu pikirnya.


Saat waktu istirahat siang tiba, tanpa bicara apapun, Mira berdiri dari kursi kerjanya, perutnya terasa sangat lapar karena tadi pagi hanya sarapan sedikit, belum lagi menahan emosi seharian membuatnya kehilangan banyak energi hari ini.


"Kamu mau kemana ?" tanya Erik menghentikan pekerjaannya saat melihat Mira berdiri dan hendak nelangkahkan kakinya.


"Masih bisa bersuara rupanya, aku pikir pita suara mu rusak !" sinis Mira.

__ADS_1


"Apa maksud mu ? Kamu mendo'a kan pita suara ku rusak ?"


"Ya kali, habisnya kamu dari tadi pake mode bisu, aku mau makan siang, laper. Berdebat dengan mu tadi pagi menguras energi ku !" jawab Mira.


"Maaf, aku tau kamu tidak salah !" lirih Erik.


"Apa ? Kamu tau aku tidak salah lalu kamu masih mendiamkan ku seharian ?! Oh, pak tua,,, anda luar biasa,,,,!" kesal Mira.


Erik menyunggingkan senyum nya, lalu menghampiri Mira yang masih berdiri meminta penjelasan padanya.


"Aku hanya sedikit kesal, karena anaknya si Hartono, berani beraninya dia memegangi tangan mu !" kesal Erik.


"Niko ? Kesal sama siapa, yang di diemin siapa ! Hajar lah, kalau berani !" ledek Mira.


"Coba saja tadi bukan di rumah sakit, jelas sudah ku hajar habis habisan dia !" oceh Erik dengan nada kesal.


"Aku lapar, ayo kita keluar cari makan !" rengek Mira.


"Aku sudah memesan makanan, kita makan di sini saja, aku kangen seharian gak ngobrol sama kamu !" Erik memeluk tubuh Mira, seakan dia tak berjumpa gadis itu bertahun tahun lamanya.


***


Citra memandangi layar ponselnya berulang kali, sudah dua hari ini Roni tak pulang ke rumah, dia bahkan tak bisa di hubungi, dan beberapa pesan yang dia kirimkan pun hanya suaminya itu baca saja tanpa membalasnya sekali pun.


Memang terkadang cinta itu lucu, Citra melepaskan Erik yang jelas jelas sangat mencintai dirinya, bahkan masih bersedia menerima dan berusaha mempertahankan rumah tangganya meski dia sudah ketahuan selingkuh.


Lucunya, Citra malah memilih Roni, cinta pertamanya yang membuatnya selalu tergila gila meski berulang kali Roni yang memang dikenal playboy itu menghianatinya.


Bukan hanya sekali atau dua kali Roni kedapatan menjalin hubungan dengan wanita lain, dulu saat mereka masih pacaran, Citra kira sifatnya sudah berubah, tapi sepertinya Roni masih sering bermain wanita di belakangnya, meski untuk saat ini Citra memang belum mendapatkan bukti apa apa tentang perselingkuhan suaminya.


Suara belnpintu rumahnya membuyarkan lamunannya, Citra bergegas ke depan untuk membukakan pintu.


"Ya Tuhan,,,, lihat diri mu sekarang, sangat kumal dan tak terawat seperti ini, apa suami mu tak pernah memberi mu uang untuk perawatan diri di salon ?!" omel Lisa sang ibu yang baru saja masuk dan melihat penampilan Citra yang terkesan berantakan.


Citra hampir dua malam tidak bisa tidur karena memikirkan Roni yang tak pulang, belum lagi dia harus mengurus Jemi yang masih butuh perhatian ekstra karena dalam masa pemulihan, dia juga tak memakai babysitter dan asisten rumah tangga, karena Citra ingin melakukan semuanya sendiri, dia ingin merasakan menjadi ibu rumah tangga yang sebenarnya, karena pada saat menikah dengan Erik, bisa di katakan dirinya tak pernah menyentuh urusan pekerjaan rumah tangga sedikitpun, kecuali sesekali membuatkan sarapan untuk Erik bila dirinya sedang senggang, selebihnya para asisten rumah tangga yang mengurus semua kebutuhan Erik dan seisi rumah.

__ADS_1


"Aku baru selesai mengurus dan menidurkan Jemi, bu. Aku belum sempat mandi," kilah Citra.


"Bahkan urusan seperti itu harus kau juga yang mengerjakan ? Apa si Roni itu tak mampu membayar pengasuh untuk anak nya ?" suara Lisa meninggi.


"Aku tak percaya menyerahkan Jemi dalam pengasuhan orang lain, jadi aku lebih tenang jika mengurusnya sendiri !" jawab Mira.


"Kau itu memang wanita bodoh, sudah hidup enak dengan suami yang kaya raya, tampan, malah selingkuh dengan pengusaha nanggung seperti si Roni mu itu ! Semalam ibu bertemu dengan mantan suami mu, dia datang ke acara makan malam di rumah dokter Husen dengan membawa seorang wanita muda, dan mereka terlihat sangat akrab, katanya mereka berpacaran, malahan Erik memperkenalkan dia pada para tamu sebagai calon istrinya," cerita Lisa panjang lebar.


Entah mengapa tiba tiba hati Citra terasa seperti terbakar dan sesak, dia tak suka mendengar cerita ibunya tentang Erik yang membawa seorang gadis.


"Namanya Mira ?" tebak Citra penuh keyakinan.


"Ya, itu benar, namanya Mira. Kau tau juga ?" tanya Lisa lagi.


Citra mengangguk pelan, kini dada nya terasa seperti terhimpit batu yang sangat besar, sakit dan sesak, sungguh perasaan tang tak bisa Citra pahami, apa yang membuatnya tiba tiba merasa kan hal seperti itu, mungkinkakh masih ada sisa rasa tersimpan di hatinya untuk Erik ?


"Jujur pada ibu, kau masih menyimpan rasa cinta untuk mantan suami mu itu, kan ? Atau bahkan kini kau menyesal telah meninggalkanya ?" Lisa memicingkan matanya menyelidik ekspresi wajah anaknya yang sangat dia hafal.


"Tidak, aku sudah tidak punya perasaan apapun pada Erik, aku hanya mencintai suami ku !" elak Citra.


"Mulut mu boleh mengelak, tapi wajah mu mengatakan sebaliknya, aku ibu mu, yang merawatmu selama puluhan tahun, aku sangat tahu kalau hati mu sebenarnya masih menyimpan cinta untuk ya !" Lisa terus menekan sang anak.


"Cinta untuk siapa yang masih di simpan dalam hati mu itu, hem ?" seloroh Roni yang sudah berada di ruang tengan tempat Citra dan ibunya mengobrol, tanpa mereka sadari kedatangannya.


"Tentu saja cinta untuk mantan suaminya, untuk Erik ! Gara gara kau, anak ku harus bercerai dan menghabiskan waktu dengan laki laki kere seperti mu, kalau saja dia sekarang masih menjadi istri Erik, dia pasti tak se kumal ini !" berang Lisa.


"Bu, sudah lah ! Jangan memperkeruh suasana, aku dan Erik itu hanya masa lalu, sudah saatnya ibu merestui hubungan kami dan menerima Roni sebagai menantu ibu," ucap Citra tak ingin suaminya yang baru pulang setelah dua hari menghilang itu berpikiran yang tidak tidak padanya.


"Menerima dia ? Cih, tak akan pernah sudi !" seru Lisa sambil berlalu dan pulang tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Citra apa lagi Roni.


"Lihat ?! Aku sudah berulang kali mengingatkan mu, jangan berpenampilan seperti gembel, ujung ujungnya aku yang di salahkan oleh ibu mu !" kesal Roni.


"Kamu tak pulang selama dua hari, aku menunggu mu, menunggu kabar mu, sampai sampai lupa tidur, lupa makan dan lupa mandi !" cicit Citra.


"Siapa suruh menunggui ku, aku pasti akan pulang kalau aku sudah ingin pulang, jangan lupa,,, ini kan, rumah ku !" ucap Roni santai, seolah olah dirinya tak melakukaan kesalahan apapun pada istrinya yang di tinggalkan tanpa kabar.

__ADS_1


__ADS_2