Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Kondangan,


__ADS_3

Dua hari berlalu, Citra tak ada lagi sedikitpun mengganggu lagi rumah tangga mereka, tidak merecoki dengan meminta atau memaksa dan menuntut agar Erik mengakui Jemi sebagai anak nya.


Citra bak di telan bumi, tak pernah menampakan dirinya lagi bahkan hanya sebatas menelpon atau berkurim pesan yang biasanya bisa wanita itu lakukan berpuluh kali sehari pada Erik, kini tak pernah lagi.


"Sayang, aku sudah memesan baju untuk kita pakai besok malam," ucap Erik di sela makan siangnya di kantor hari itu.


"Besok malam ? memangnya ada acara apa ? bukannya pertemuan makan malam dengan klien mu yang dari luar negeri itu baru akan di laksanakan minggu depan ?" Mira mengernyitkan dahinya.


"Besok malam kita akan menghadiri undangan pernikahan adik tercinta mu dengan pengagum rahasia mu itu !" seloroh Erik, seraya meledek sang istri.


"Alisha,? Dengan Niko ?" Mira terbelalak kaget.


"Iya lah, siapa lagi adik kesayangan mu danvpengagum rahasia mu kalau bukan mereka," cengir Erik jahil.


"Ishh, enak saja ! Tapi mereka beneran jadi menikah ? Kok, bisa ?" Mira masih tak percaya dengan apa yang di sampaikan Erik itu.


"Tentu saja beneran, apa kamu berharap aku yang akan menikahi adik tercinta mu itu ?" goda Erik lagi.


"Coba saja kalau berani, kamu akan kehilangan aku untuk selama lamanya, aku akan pergi jauh dan tak akan mungkin kamu temukan !" cebik Mira merajuk.


Namun Erik hanya tersenyum, lalu mengecup gemas pipi istrinya yang ranum itu.


"Mana mungkin aku berani, sayang. Aku akan menjadi manusia terbodoh di dunia ini bila sampai menghianati kamu !" ucap Erik membelai lembut rambut istrinya.


"Tapi, maksud ku, kok keluarga Hartono bisa segampang itu berubah pikiran, bukannya merwka tak mau menerima Alisha dan bayinya ?" tanya Mira masih penasaran.

__ADS_1


"Suami mu ini hebat, sayang ! Cuma bikin Hartono nenerima hal yang memang seharusnya dia terima itu hal kecil buat ku !" sombong Erik yang lalu di balas dengan timpukan remasan tisu dari istrinya.


"Haishhh, sombongnya !" cibir Mira, dan langsung di sambut gelak tawa hangat sang suami.


***


Dua hari sebelumnya,


"Bos, Hartono meminta bertemu dengan mu siang ini," lapor Kemal yang baru saja mendapat panggilan telepon dari Hartono yang sepertinya dari nada bicaranya sangat marah.


"Oke, atur saja jadwal ku untuk bertemu dia, tapi ingat, jangan sampai istri ku tau, aku tak mau dia cemas atau berpikiran yang tidak tidak, beban pikirannya sudah terlalu berat, biar aku saja yang menyelesaikan semua ini," urai Erik pada Kemal.


Kemal mengangguk dan segera melaksanakan apa yang di perintahkan sang bos padanya.


Setelah berpamitan pada Mira dengan alasan bertemu klien di temani Kemal siang itu, Erik menuju rumah makan yang menjadi tempat pertemuannya dengan Hartono.


"Jelas marah lah, lagi pula dia sudah terpojok dan mau tak mau harus menerima paket mantu plus cucunya itu," ucap Erik.


"Bos, harus paket banget ya, bilangnya ?!" Kemal menggeleng gelengkan kepalanya mendengar ucapan Erik.


Tiba di tempat pertemuan, terlihat Hartono sudah menunggunya dan menatapnya dengan tajam penuh kebencian walau dari kejauhan.


"Apa kabar, pak Hartono ?!" Erik tiba tiba bersikap ramah dan memberikan senyum hangatnya, meski tak menyodorkan tangan untuk berjabat tangan pada pria paruh baya yang seolah olah siap menerkamnya itu.


"Tak usah berbasa basi, terang saja kabar ku sangat buruk, kau pasti tau itu, karena itu semua akibat ulah mu !" ketus Hartono.

__ADS_1


"Aku ?" Erik menunjuk dadanya sendiri dengan wajah polos seperti tanpa dosa sedikitpun.


"Ya, kau sudah mengintimidasi dan mengancam ku agar aku menikahkan putra ku dengan jallang yang ternyata adik ipar mu itu !" ucapan Hartono masih bernada sarat dengan emosi.


"Hanya adik tiri, lagi pula bukankah itu memang yang sudah seharusnya di lakukan oleh mu sebagai kepala keluarga, sebagai seorang ayah, harus mengajarkan tanggung jawab pada anak laki laki nya yang sudah menghamili seorang wanita," kata Erik bersikap tenang seperti biasanya.


"Jadi bagaimana, kau mau menikahkan anak mu dengan wanita itu, atau aku berikan rekaman cctv rumah ku yang berisi pengakuan Alisha atas siapa ayah bayi yang di kandungnya ? tenang saja, aku akan mengambil alih tugas dan kewajiban mu dan anak mu sebagai kakek dan ayah, dengan memberikan biaya dan perlindungan pada mantu dan cucu mu itu, jika kau tak bersedia menikahkan mereka, nanti aku suruh Kemal urus untuk publikasi nya," urai Erik berusaha mempermainkan emosi Hartono yang memang sedang di puncak emosi itu.


"Ungkap saja ke publik, lagi pula publik sudah terlebih dahulu tau kalau jallanng itu simpanan mu !" tantang Hartono dengan wajah yang memerah.


"Oke, deal ? aku akan menikahi wanita itu, tapi aku tak menjamin dengan begitu, apakah aku menyelamatkan nama baik keluarga mu, atau justru sebaliknya malah menjatuhkannya nya jauh ke dasar jurang ? itu mungkin akan menjadi hal positive buat ku karena publik akan memujiku karena menyelamatkan seorang ibu dan anaknya, tapi hujatan kejam akan mengalir pada mu, apa kau siap menerimanya ? Belum lagi karena nama baik mu yang hancur akan berpengaruh pada bisnis dan perusahaan mu, tidak menutup kemungkinan para penanam modal di perusahaan mu akan menarik semua uaang mereka !" kata kata Erik yang penuh dengan ancaman itu jujur saja membuat Hartono merinding.


Hartono tak dapat membayangkan jika seluruh keluarganya akan di hujat oleh komentar komentar panas dan menyakitkan, terlebih dia juga tak akan bisa terima jika masalah ini berimbas pada bisnis yang sudah di rintisnya sedari puluhaan tahun yang lalu iti denhan darah dan keringatnya.


"Sial, kau memang bajingan ! oke, aku setuju menikahkan putraku dengan jallang itu, awas saja, jika ada kesempatan akan ku balas semua perbuatan mu ini !" ancam Hartono.


"Bagus, pilihan yang tepat ! aku tunggu undangannya segera dalam tiga hari ini harus sudah menikah, dan satu lagi, wanita yang kau panggil jallanng itu adalah ibu dari calon cucu mu !" Erik bangkit dari kursi nyamannya, setelah dirasa semua urusan sudah selesai dan tak ada yang perlu lagi di bicarakan dengan pria paruh baya itu.


"Ingat, aku akan membalas semua ini !" seru Hartono, dengan emosi, seolah kini dia sudah putus asa, tak ada pilihan lain selain menikahkan putra satu satunya itu dengan Alisha, dari pada dia harus kehilangan semuanya dan hancur.


"Halo, bu,,, persiapkan acara pernikahan untuk Niko dan wanita itu, dalam tiga hari ini harus selesai, dan tolong jangan banyak tanya, segera urus dan laksanakan perintah ku !" ucap Hartono pada istrinya lewat sambungan telepon.


***


jangan lupa dukung cerita othor yang baru ya kakak semuanya, judulnya Bodyguard Penjaga Hati

__ADS_1



__ADS_2