Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Pergi


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya,


Baru saja Erik sampai ke apartemen nya, dia sengaja meninggalkan beberapa pekerjaan yang masih menumpuk karena tak sabar ingin bertemu Mira yang menjanjikannya sebuah kejutan di hari ulang tahunnya ini.


Erik memasukan kode akses untuk membuka pintu apartemennya, namun baru saja pintu terbuka, sebuah panggilan di ponselnya mangalihkan perhatiannya seketika, karena tak biasanya yang menelponnya adalah sang mantan istri yaitu Citra.


Erik segera menerima panggilan telepon itu, dia yakin pasti ada yang sangat mendesak sampai Citra menghubunginya.


Benar saja, suara tangisan Citra pecah saat Erik menerima panggilannya, tentu saja Erik menjadi panik dan hawatis saat mendengar suara tangisan histeris Citra.


"Citra, sa---" Erik menghentikan ucapannya, hampir saja dia kebablasan memanggil mantan istrinya itu dengan sebutan sayang, untung dia dapat mengerem tepat pada waktunya.


"Apa yang terjadi Citra ?" Erik mencoba menenangkan dirinya sendiri, dia tak ingin terbawa suasana, oleh kisah yang telah berlalu.


"Erik, tolong aku, aku kecelakaan, Roni masih di UGD dan Jemi sangat membutuhkan mu ! Ku mohon, kemarilah !" pinta Citra dalam isak tangisnya.


"Aku akan segera kesana !" Erik menutup kembali pintu apartemen yang baru saja berhasil di bukanya.


Pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk, hilang sudah rasa penasaran atas kejutan yang sudah di persiapkan Mira sang pacar yang sedari radi sangat membuatnya penasaran.


Erik memutar badannya dan berjalan kembali ke arah luar, membelokan arah dari tujuannya semula.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit ponselnya rak berhenti berbunyi, Erik sungguh tak punya nyali untuk menerima panggilan itu saat melihat nama Mira terpampang jelas di layar ponselnya.


Kecamuk di hati Erik semakin tak menentu, dia sungguh tak tau apa keputusan yang di ambilnya saat ini benar, apa ini keputusan tepat,, menghampiri Citra dan meninggalkan Mira begitu saja di apartemen, padahal gadis itu sudah mempersiapkan kejutan di hari ulang tahun dirinya.


Erik memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Mira, dia berbohong dengan mengatakan bahwa ada urusan urgent yang harus dia selesaikan secepatnya.


Sungguh sebenarnya dia tak ingin membohongi Mira, hanya saja, itu satu satunya ide yang ada di kepalanya yang sedang kalut.


Nanti kalau sudah bertemu Citra dan memastikan semua baik baik saja, dia akan segera pulang dan menemui gadisnya itu, pikirnya.


Hati Erik ternyata begitu lemah, saat melihat Citra duduk menangis sendirian di depan ruang UGD sungguh dirinya merasa iba, hatinya terasa ikut sakit, apalagi saat Citra melihat kedatangan dirinya di tempat itu, sang mantan istri kesayangannya itu langsung berlari memeluk dirinya yang sedikit terasa canggung.


Entah mengapa pelukan Citra yang biasanya hangat dan seharusnya sangat di rindukannya itu terasa biasa saja, layaknya pelukan seorang sahabat yang lama tak jumpa, belum lagi rasa bersalah pada dirinya karena merasa menghianati Mira kini menyiksanya.

__ADS_1


Erik mengurai pelukan Citra, dan itu kontan membuat Citra terperangah kaget, ini adalah hal pertama yang Erik lakukan padanya, selama dia kenal dan menjadi istri Erik, baru kali ini pria itu melepaskan pelukannya, terasa sedikit perih di hatinya, tapi balik lagi Citra sadar, rasa sakit yang sudah dia berikan pada Erik pasti melampaui rasa sakitnya saatvini, bahkan mungkin jutaan kali lipat rasanya.


"Maaf, aku tak ingin ada pandangan atau pikiran buruk dari orang lain bila melihat kita seperti ini !" ucap Erik yang melihat guratan wajah kecewa dari ekspresi Citra.


Citra mengangguk pelan, lantas dia mulai menceritakan apa yang terjadi, termasuk cerita tentang kemungkinan kalau Jemi adalah anak kandung Erik, mengingat golongan darah dirinya dan juga Roni tak ada yang sama dengan Jemi, ironisnya justru malah Erik yang memiliki golongan darah yang sama dengan Jemi.


Walau dengan hati yang berkecamuk, Erik mendonorkan darahnya, pikiran dan hatinya sungguh benar benar kacau tak bisa berpikir apapun.


"Boleh aku melihat Jemi ?" ijin Erik, yang lantas di angguki oleh Citra.


Erik masuk ke ruangan tempat bayi yang belum genap satu tahun itu di rawat, Jemi sudah di pindahkan ke ruang rawa saat ini.


Tampak seorang bocah laki laki tampan dengan mata terpejam di atas ranjang, selang infus menempel di tangan mungilnya.


Erik menatap lekat wajah bocah yang seperti cerminan dirinya itu, mata, hidung, dagu dan bibirnya semua sama persis dengan dirinya.


Mungkinkah anak ini benar benar anak ku ? pergolakan batin tak dapat Erik hindari, tak ada yang bisa di sangkalnya jika wajah dan golongan darahnya saja sama persis seperti dirinya.


Tangan Erik terulur mencoba menyentuh bocah yang seperti tertidur lelap itu, namun belum sampai tangannya menyentuh ujung baju anak lelaki tampan itu, Erik kembali menarik tangannya yang terulur, dirinya belum siap dengan semua kenyataan yang mungkin saja akan membuat posisinya sangat sulit.


"Maaf, aku permisi !" pamit Erik, bergegas keluar dari ruangan itu.


Hati Mira terasa nyeri apa lagi saat Citra mengatakan dengan jelas "Tolong selamatkan anak kita !" kata kata itu begitu mengiris hatinya, dia merasa menjadi wanita yang sangat menyedihkan karena berada di antara ayah, ibu dan anak yang seharusnya bersatu dan berbahagia.


Tidak menutup kemungkinan hal itu akan segera terjadi, mereka bertiga akan segera berkumpul sebagai keluarga utuh, lalu bagaimana dengan dirinya ?


Mira berjalan lunglai setelah Erik dan Citra pergi ke ruang pengambilan darah.


"Cumi, gue cari cari ternyata lo di sini, bang Roni udah di pindah di ruang rawat inap biasa, lukanya tidak begitu parah, hanya tangan kanannya yang retak," ucap Regan membuyarkan lamunan Mira.


"Ah, iya tadi gue--- gue nyari ruang rawat bang Roni !" jawab Mira mencari alasan.


"Ayo ke ruangan bang Roni, !" Ajak Regan yang wajahnya tak sepanik tadi setelah tau abang kesayangannya itu ternyata baik baik saja.


Namun belum ada lima menit di ruangan Roni, saat melihat keadaan Roni yang sudah di anggapnya sebagai kakak nya itubaik baik saja, Mira bergegas pamit pulang.

__ADS_1


Mira bergegas menuju apartemen, dengan membawa luka hati yang hancur berkeping keping.


Ditatapnya meja yang sudah dia hias dengan makanan yang masih utuh namun sudah dingin karena tak tersentuh, dari siang Mira menyiapkan semua ini, dia hanya ingin membuat Erik bahagia dan tak merasa sendiri di hari ulang tahunnya.


Tapi ternyata Erik memang sepertinya saat ini sedang berbahagia dengan kenyataan yang baru saja di ketahuinya, dan dia juga tak akan pernah lagi merasa sendirian, karena mungkin anak dan istrinya akan menemaninya di setiap tahun saat merayakan kelahirannya.


Mira meraih ponselnya, saat satu pesan masuk ke ponselnya.


'Maaf sayang, sepertinya aku tak pulang, ada pekerjaan penting yang tak bisa aku tunda, love you !' begitu isi pesan yang di kirimkan Erik untuknya setengah jam yang lalu, dan baru Mira buka.


Kenapa harus berbohong ? Andai dia mengatakan dengan sejujurnya, Mira pun pasti akan mengijinkan Erik menemani putranya.


Mira semakin merasa tersisihkan, bahkan Erik tega berbohong padaya, rasa sakit di hati Mira seakan bertambah beratus ratus kali lipat saat ini.


"Kamu di mana ?" tanya Mira dalam balasan pesannya pada Erik.


"Di kantor," balasan yang singkat namun sangat berarti besar bagi Mira.


Kantor ? Lagi lagi Erik membohongi dirinya.


"Oke, hati hati dan selamat ulang tahun, semoga kamu bahagia !" Mira mengetik pesan dengan berurai air mata, pupus sudah harapannya untuk melanjutkan hubungan dengan Erik bila pasangannya sudah berani berbohong, Mira yakin akan ada kebohongan kebohongan lain yang menghiasi hubungannya kelak.


Sementara di tempat lain, Erik terpaku menatap layar ponselnya setelah membaca pesan terakhir yang di kirimkan Mira padanya.


Betapa dirinya sudah berlaku jahat dan tidak adil pada kekasihnya itu, Mira dengan tulus mendoakan dirinya, namun dirinya memilih untuk berada di tempat berbeda dengan dimana Mira menungguinya.


"Ah, Mira ! Maafkan aku, !" pekik Erik yang langsung beranjak dari tempatnya duduk dan terburu buru pulang, dia tak sabar ingin menemui Mira dan meminta maaf atas apa yang malam ini terjadi.


"Mira, sayang !" panggil Erik saat baru saja sampai dan masuk ke apartemen tempat mereka tinggal.


Tak ada jawaban dari gadis yang sangat ingin dia temui itu, semua ruangan terasa sepi.


"Sayang, apa kamu sudah tidur ? Aku pulang !" Erik mengetuk pintu kamar Mira yang tertutup rapat.


Karena tak juga mendapat jawaban, Erik membuka pintu kamar itu perlahan, namun ternyata kamar itu pun terlihat kosong.

__ADS_1


"Mira !" teriaknya saat menyadari kalau gadis itu tak berada di semua ruangan tempatmereka tinggal.


Erik yakin, terjadi sesuatu pada Mira, gadis itu tak pernah pergi tanpa meminta ijin padanya terlebih dahulu, Mira pasti mengatakan kemanapun dia akan pergi, tapi,,, kali ini pertama kali dia pergi tanpa sepengetahuan dirinya, apalagi ini sudah lewat tengah malam, Erik sungguh cemas dengan gadisnya itu.


__ADS_2