
Saat saat yang di tunggu telah tiba, saat ini waktunya Mira menghadiri acara wisuda dirinya, namun tak ada tanda tanda Erik akan benar benar menjadi pendamping wisudanya, karena laki laki itu tak pernah berusaha untuk bertanya padanya tentang kapan dan di mana acara wisudanya di laksanakan.
Untuk itu, Mira tak ingin berharap banyak pada Erik, dia juga merasa kalau Erik sepertinya tak akan datang untuk mendampinginya di acara itu.
"Cumi !" panggil Regan dari luar pintu apartemen milik sahabat nya itu.
Mira membuka pintu dengan malas malasan,
"Ngapain lu kesini ?!" tanya Mira.
"Eh cumi, gue dateng kesini jemput lu ! Kasian gue, lu pasti dateng ke acara wisuda sendirian, jadi bareng gue aja ya !" cengir Regan yang hari ini sama sama di wisuda juga.
"Nah lu dateng sendirian juga ?" tanya Mira.
"Lo lupa kalo gue anak yatim piatu ? lo berharap arwah mak bapak gue yang datang dan dampingi gue wisuda ?" ketus Regan.
"Gak gitu, maksud gue kakak lo gak pengen dateng liat adek satu satunya lulus, gitu !" jelas Mira.
"Dia sibuk, lagi dinas luar kota, udahlah kita berangkat yok, keburu telat !" ajak Regan tak ingin memperpanjang obrolannya lagi.
Tepat jam 8 pagi, Mira dan Regan sudah sampai di tempat acara, mereka dengan percaya diri nya yang tinggi berjalan berdua di tengah orang orang yang datang bersama keluarga mereka.
"Eh buset, kita kayak anak ayam kehilangan induknya !" celoteh Mira.
"Lu aja anak ayam, gue mah anak emak gue meski mak gue udah almarhum," elak Regan tidak terima.
"Ya iya, gue juga anak emak gue, cuma masalahnya meski masih idup, mak gue gak mau nemenin gue,,,noh, liat orang orang normal lainnya, wisudaan di anter minimal sama sodaranya kek, pacarnya kek, nah gue,,, lu lagi,,, lu lagi, apes gue !" ratap Mira dalam candaannya.
Acara akhirnya selesai, Mira yang tak bisa menemukan Regan di antara lautan manusia yang memenuhi aula kampus tempat di adakannya acara itu akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri menggunakan taksi online.
Sedang serius menunggu kedatangan taksi yang di pesannya, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan nya.
Mira memasang tampang sok tak peduli, ketika mobil itu membunyikan klaksonnya berulang ulang, karena Mira merasa mungkin mobil itu sedang menunggu orang lain, bukan dirinya, namun saat sadar tak ada orang lain di sekitarnya, dia mulai celingukan sendiri,
__ADS_1
"Masa mobil se keren gini taksi online yang gue pesen,,,!?" gumam nya.
Merasa tak ada respon dari Mira yang di kode nya lewat bunyi klakson dari tadi, pemilik mobil mewah itu akhirnya turun dari kendaraannya, dengan kesal dan menghampiri Mira yang terpesona dengan ketampanan pria yang kini ada di hadapannya itu.
"Apa telinga mu tuli ? Dari tadi ku panggil malah diam saja !" ucap laki laki yang ternyata Erik itu kesal.
"Hey om, anda pikir saya satpam komplek yang di sapa hanya dengan membunyikan klakson ?" sewot Mira tak kalah kesal.
"Ayo cepat aku antar kau pulang, biar lunas hutang janji ku pada mu !" ajak Erik.
"Enak saja, lunas darimana ceritanya, om gak nepatin janji, aku tadi di acara sendirian !" protes Mira.
"Aku ada di sana, kau peserta nomor 113 yang di panggil ke depan, kan ? Kau juga hampir terjatuh saat menuruni tangga podium, kan ? Memalukan !" cibir Erik.
"Ish, kenapa om tau kejadian memalukan itu ? Semua gara gara sepatu sialan ini !" umpat Mira menyalahkan sepatu berhak yang tak terlalu tinggi yang tak biasa dia gunakan itu.
"Lagian, kenapa om tak menghampiri ku tadi, kapan lagi aku bisa pamer kalau aku di dampingi om keren seperti ini !" ucap Mira sambil meninju pelan lengan Erik sok akrab.
"Ish, menyebalkan ! Sana pergi, taksi yang aku pesan sudah datang, aku mau pulang !" usir Mira kesal.
"Ya sudah, aku juga mau pulang ! yang penting aku sudah tak punya hutang apa pun pada mu !" Erik masuk kembali ke dalam mobil sport mewahnya, sementara Mira menaiki taksi online yang di pesannya.
Sepanjang perjalanan wanita yang baru saja lulus dari universitas ternama ibu kota dengan nilai yang sangat memuaskan itu mengumpat dan menyumpahi Erik yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
Namun saat Mira turun dari taksi dan hendak memasuki loby apartemen nya, lagi lagi dia bertemu dengan laki laki yang dari tadi menjadi objek sumpah serapah nya di sepanjang jalan itu.
"Om ngikutin aku kesini ya ? Idih, katanya aku gak cantik, gak mandi, tapi di kejar sampe sini, bae bae ketahuan istri, om ! Bisa tidur di luar nanti !" ceroscos Mira bersungut sungut.
"Siapa yang tidur di luar ? Apa apaan ini, jadi begini kelakuan mu selama ini ? Mau jadi apa kamu kecil kecil sudah kumpul kebo ! pantas kau menjual rumah dan membeli apartemen, ternyata agar bisa bergaya hidup bebas seperti ini ?!" sembur seorang wanita yang langsung memaki Mira dengan kasar di depan loby apartemen nya.
"Ibu !" lirih Mira, bertahun tahun tak berjumpa dan tak pernah bertukar kabar, sekalinya bertemu wanita yang selama ini dia rindukan itu malah memakinya di depan umum.
__ADS_1
"Mom kecewa dengan sikap binal mu ini, Mom tidak pernah mengajarkan mu menjadi wanita murahan yang bergaya hidup bebas, meski Mom tinggal di luar negri !" Tita ibunya Mira menatap Mira dan Erik dengan tatapan tajam secara bergantian.
"Anda salah sangka, nyonya !" ucap Erik berniat memberi penjelasan pada ibunya Mira karena sedikit merasa iba pada Mira yang di marahi di depan umum, dan banyak orang menonton mereka.
"Diam ! Kau laki laki dewasa harusnya mengajarkan hal yang baik jika memang kalian berpacaran, bukan sengaja memanfaatkan nya dan tinggal bersama !" umpat Tita sambil menunjuk ke arah Erik.
"Cukup bu ! Kemana saja ibu selama bertahun tahun ? Tak ingatkah ibu masih mempunyai anak di sini ? tak ingin kah ibu sekedar menanyakan kabar aku di sini, sehat kah, masih hidup kah ? Kenapa sekarang ibu datang seolah olah aku anak yang tak menuruti ajaran orang tua, bu,,, ibu tak pernah mengajari ku bagaimana caranya aku menjalani hidup !" teriak Mira dengan berurai air mata.
"Mom datang mencari mu ke rumah, dan ternyata sudah kau jual, kau tak membicarakannya dengan Mom !" protes Tita.
"Bu, ibu lupa kalau rumah itu sudah di berikan pada ku dengan syarat aku tak mengganggu ibu dan keluarga baru mu, mau aku jual atau aku bakar, itu sudah menjadi hak ku !" jiwa tengil Mira mulai keluar, karena merasa ibunya semakin kererlaluan memperlakukannya.
"Kau harusnya membagi dua hasil penjualan rumah itu, sekarang Mom meminta hak separo uang atas penjualan rumah itu, adik mu akan masuk universitas dan ayah tiri mu sedang kekurangan uang !" ucap Tita yang langsung memunculkan sisi iblis Mira.
"Kalau ibu meminta hak ibu, aku juga mau meminta hak ku yang di terlantarkan selama bertahun tahun, apa kau bisa memberikannya pada ku, ibu ?" lawan Mira geram, alih alih datang untuk menghadiri wisuda dirinya, ternyata ibunya datang hanya untuk meminta uang penjualan rumah yang sudah dia berikan sebelumnya pada Mira.
"Aku tak suka di panggil ibu, kampungan ! Panggil aku Mom !" ucap Tita.
"Mam Mom, mam mom ! Dari semenjak orok aku sudah memanggil mu dengan sebutan Ibu, biar saja panggilan Mom itu untuk anak anak mu yang lain, anak anak kesayangan mu !" cibir Mira.
"Pokoknya, aku meminta uang itu sekarang juga, kalau tidak, aku akan menuntut dan melaporkan mu pada polisi !" ancam Tita.
"Laporkan saja, aku tak takut ! toh selama ini aku hidup sendirian, bila pun harus masuk penjara karena tuntutan ibu, aku tak akan merasa takut sedikit pun !" tantang Mira.
Bukannya dia tak ingin memberikan separuh uang hasil penjualan rumahnya itu, hanya saja sebagian besar uang itu sudah dia pergunakan untuk kebutuhan hidup dan sekolah nya selama bertahun tahun, hanya dari sana dia bertahan hidup, karena dia belum bekerja.
Walaupun tidak habis sepenuhnya, uang itu masih ada, hanya saja dia deposito kan, dan bunga nya dia jadikan untuk biaya hidupnya setiap bulan.
"Berapa uang yang kau butuhkan ?" tanya Erik setelah sekian lama dari tadi dia berdiam diri menjadi penonton pertengkaran antara ibu dan anak itu.
"Apa kau mampu memberikannya ? Aku mendengar dari pemilik rumah yang baru, mereka membeli rumah itu seharga dua milyar, berarti bagian ku satu milyar !" tantang nya.
Erik mengeluarkan buku kecil dari dalam saku jas nya, lalu menuliskan sesuatu di sana.
__ADS_1
"Ini uang yang anda minta, nyonya. Silahkan pergi dari sini dan jangan membuat keributan !" ucap Erik dengan wajah datar tanpa ekspresinya menyerahkan selembar cek pada Tita sang emak durjana.