Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Menikahlah dengan ku


__ADS_3

Erik memandangi selembar kertas yang berada di tangannya, pria itu terlihat serius membaca kata demi kata tulisan yang ada di atas kertas itu seakan tak ingin satu huruf pun terlewat dari pandangan mata tajamnya.


"Kau yakin, ini bisa di pertanggung jawabkan ?" tanya Erik pada kemal, saat ininmereka berada di ruangan Kemal.


Erik sengaja memilih mengobrol di ruangan Kemal, agar dirinya leluasa mengobrol tanpa ada yang mengganggu atau pun mendengar obrolan rahasia mereka.


"Yakin seribu persen, bos !" jawab Kemal tegas.


"Baiklah, aku percayakan semuanya pada mu, tetap waspada !" ucap Erik mengakhiri pembicaraannya dan segera kembali ke ruangannya, dia tak Ingin Mira menaruh curiga padanya karena sudah dia tinggal terlalu lama.


"Kamu dari mana saja ? Tadi aku mencari cari mu," tanya Mira saat Erik baru saja masuk ke ruangan mereka, tak biasanya Erik pergi tanpa pamit padanya.


"Ah, aku dari ruangan Kemal, ada hal yang harus di diskusikan dengannya, apa kamu sangat merindukan ku, sampai harus mencari cari ku ?" goda Erik.


"Ish, bukan begitu, ada berkas yang harus segera kamu tanda tangani, karena harus selesai hari ini juga." Mira menyodorkan beberapa berkas ke hadapan Erik untuk di tanda tangani.


"Hmm,,, aku pikir aku di rindukan mu, ternyata hanya karena tumpukan kertas ini !" cebik Erik memasang wajah kecewa nya.


***


"Bagaimana keadaan mu ?" tanya Niko yang baru saja sampai di apartemen Alisha,


"Seperti ini lah, lumayan membaik !" jawab Alisha berjalan dengan kaki kanan yang setengah di seret karena belum begitu pulih benar.


"Ayo, hari ini jadwal mu kontrol, kau sudah siap ?" ajak Niko yang ternyata kedatangannya terkait dengan jadwal kontrol kaki Alisha ke rumah sakit.


Jujur saja Niko merasa jengah menghadapi Alisha yang selalu saja menawarkan jasanya untuk menyatukan dirinya dengan Mira, andai saja Niko tidak sedang dalam posisi bersalah karena telah menyerempet wanita itu, Niko sebenarnya enggan untuk bertemu terus terusan dengan Alisha, namun dirinya juga tak ingin menjadi laki laki tak bertanggung jawab dengan membiarkan Alisyang hidup sendirian itu begitu saja, dia tak sampai hati untuk berbuat sekejam itu pada nya.


Mereka keluar dari pintu apartemennya Alisha untuk menuju rumah sakit, saat keluar dari lift saat turun, secara tak sengaja, mereka berpapasan dengan Mira dan Erik yang juga sedang menunggu pintu lift terbuka karena akan naik ke unit apartemennya.

__ADS_1


Erik secara otomatis menarik bahu Mira agar tak bersenggolan dengan Niko yang hendak keluar dari benda kotak itu.


"Kak Erik !" sapa Alisha sok imut dengan memasang senyum yang paling manis.


Namun sayangnya, pria yang di sapanya justru diam saja, alih alih menjawab sapaannya, Erik malah terlihat sibuk menatap Mira tanpa memperdulikan orang orang di sekelilingnya.


Sementara Niko hanya menganggukan kepalanya dan sedikit tersenyum ke arah Mira, meski gadis itu pun tak berani membalas senyuman Niko, dan hanya tertunduk saja untuk menghindari masalah yang mungkin saja akan terjadi antara dirinya dan Erik bila dirinya sampai ketahuan membalas senyuman Niko, padahal Mira tak pernah punya niat apa pun dan tak punya perasaan apapun pada laki laki yang sering di sebutnya sebagai pria manja itu.


"Haish, apa kau tak bisa sedikit menyembunyikan sifat murahan dan urakan mu itu jika bertemu Erik ?" protes Niko yang merasa risi karena sapaan centil Alisha pada Erik yang terkesan seperti wanita murahan dan urakan di matanya.


"Ish,,, ish,,, paling bisa emang kalo ngomongin orang, sendirinya ketemu kak Mira bibirnya spontan otomatis langsung nyengir !" ejek Alisha.


"Itu bukan nyengir, tapi senyum ! Lagi pula aku tersenyum pada mereka berdua, bukan hanya tersenyum pada kakak mu saja, Erik salalh satu kolega bisnis ayah ku juga !" kelit Niko.


"Bagaimana, sudah kamu pikirkan baik baik ? mau kan, aku bantu agar kamu bisa lebih dekat dengan kak Mira ? Apa kamu tak ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kekasih kak Mira ?"bujuk Alisha.


"Aku bukan perusak hubungan orang lain, pantang bagi ku menjalin hubungan dengan wanita yang sudah punya kekasih, aku bukan kau !" sinis Niko seraya membanting pintu kendaraannya dengan keras karena kesal, meskipun entah kesal karena apa.


***


"Aku tak suka dengan cara anak si Hartono itu menatap mu, seakan akan dia sengaja meledek ku dengan memberikan senyuman segala !" oceh Erik yang terus mengomel di sepanjang jalan menuju unit apartemennya.


"Yang penting aku tidak membalasnya, kamu lihat, kan tadi aku diam saja ?" elak Mira yang merasa dirinya sudah melakukan hal yang benar menurutnya.


"Sepertinya dia menaruh hati pada mu !" ucap Erik.


"Tapi sayangnya hati ku sudah terisi penuh oleh mu , sepertinya aku sudah tak membutuhkan laki laki lain manapun lagi, karena kamu sudah cukup buat ku !" kata Mira mengekor Erik yang terlebih dahulu masuk saat pintu berhasil terbuka.


"Apa kamu yakin ?" ucap Erik yang tanpa Mira sadari dia sudah memutar tubuh nya menjadi saling berhadapan.

__ADS_1


"Auww !" pekik Mira saat wajahnya menabrak dada bidang Erik yang tiba tiba berhenti di depannya tanpa dia sadari.


"Kamu tau, bagaimana beratnya jadi diriku karena harus serumah dengan mu, ?" tanya Erik dengan tatapan mata yang terkunci di netra indahilik Mira.


"Apa aku sangat menyusahkan mu ?" lirih Mira.


"Iya, kamu selalu menyusahkan ku, aku sangat bersusah payah menahan gairah kelelakian ku saat bersama dengan mu, kamu tau,,, kamu selalu hampir meruntuhkan iman ku !" bisik Erik sengaja sangat dekat di telinga Mira agar hembusan napasnya bisa langsung di rasakan gadis nya itu.


Tubuh Mira meremang, apa lagi saat Erik sengaja menjillat ujung daun telinganya, rasanya seperti seluruh bulu bulu halus di tubuhnya berdiri semua.


Belum selesai dirinya merasakan sensasi tubuhnya yang meremang, Mira kini harus terkesiap karena tiba tiba Erik melingkarkan tangannya si pinggang rampingnya,


Mira menjadi sangat gugup ketika hidung bangir Erik menyentuh lehernya, dia dapat merasakan Erik menghirup aroma parfum di bagian tubuhnya itu dalam dalam, setelah itu Erik mengecup dan menjiilati kulit lehernya dengan gerakan yang membuat Mira yang masih awam dan polos itu serasa sedang di terbangkan ke awan.


"Ah, sayang !" rintih Mira menggelinjang geli saat bulu bulu halus di dagu Erik seperti sedang menggelitik kulit lehernya.


Erik beralih melluumatt bibir merah Mira sesaat setelah gadis itu mengeluarkan rintihannya, suaranya membuat Erik semakin merasa terpacu dan semakin membuat dirinya semakin tak dapat mengendalikan dirinya.


Tangan Erik tak diam begitu saja, kedua tangan itu sibuk bergerilya menyusup ke balik blouse yang di pakai Mira, mengusap punggung licin Mira yang kini berada dalam dekapannya, dan dengan sedikit usaha tali pengait di punggung Mira pun berhasil Erik lepas, tangannya semakin leluasa menjelajahi punggung Mira tanpa hambatan, sementara bibir mereka masih saling terpaut semakin dalam.


Mereka bahkan sepertinya tak menyadari kalau mereka masih berdiri di ruang tamu apartemennya, napsu Erik ssudah terlalu memuncak sampai tak dapat membendung gelombang geloranya.


Mira mendesis pelan saat Erik memainkan dadanya dengan telapak tangan yang terasa hangat laki laki tampan itu menggenggamnya dengan gemas, sesekali Erik memainkan ujung dada nya dengan memutar dan mencubitnya pelan, sehingga membuat Mira beberapa kali mengulang desisan nya.


"Sayang, aku tak bisa berada di situasi seperti ini terlalu lama, aku akan gila !" Erik menggendong tubuh kecil Mira di depannya, sehingga menyerupai bayi koala, lalu membawa kekasihnya itu ke dalam meninggalkan ruang tamu yang menjadi saksi panasnya kegiatan mereka barusan.


Erik mendudukan Mira di meja makan yang tingginya sebatas pinggang dirinya.


Di pandanginya wajah kekasih cantiknya yang kini wajahnya memerah karena sepertinya merasa malu itu.

__ADS_1


"Sayang, aku mencintai mu, sangat mencintai mu, menikahlah dengan ku !" ucap Erik kembali melummatt bibir kekasihnya yang sudah agak membengkak akibat ulahnya itu tanpa membiarkan gadis itu menjawab ajakannya untuk menikah.


Erik tak bisa menjamin dirinya bisa menahan hasratnya pada gadisnya itu, lagi pula, baginya tak ada lagi yang harus di tunggunya, hati dan perasaannya sudah yakin kalau Mira adalah orang yang tepat untuk menemaninya di sisa umurnya.


__ADS_2