
"Hai Rik, sudah mulai publikasi nih !" goda Citra sambil melirik ke arah Mira yang sedang berbincang dengan Roni.
Erik hanya menarik sebelah sudut bibir nya sedikit, dia tak bisa menggambarkan suasana hatinya sekarang ini, di satu sisi dia senang karena mempunyai kesempatan untuk mengobrol dengan wanita yang masih sangat dia rindukan itu, namun di sisi lain hatinya seperti merasa tak nyaman saat Roni dengan seenaknya membawa Mira menjauh dari sisinya.
"Apa maksud bajingan itu, apa dia ingin pamer padaku kalau semua wanita yang dekat dengan ku bisa dia miliki ?" geramnya dalam hati.
Eh, tunggu tunggu, wanita yang dekat dengannya ? pikir Erik memprotes pikirannya sendiri yang secara tidak sadar mengakui kalau Mira sosok wanita yang kini dekat dengan dirinya.
Citra menangkap ketidak tenangan di raut wajah Erik, dia sungguh sudah hafal dengan gelagat dan gerak gerik mantan suaminya itu, jujur ada sedikit perasaan tak suka saat melihat Erik yang seperti membagi perhatiannya pada wanita lain selain dirinya, karena semenjak dahulu dirinya selalu menjadi yang utama dan satu satunya pusat perhatian bagi Erik.
"Ah, bagaimana kabar anak mu ?" tanya Erik berbasa basi.
"Baik, putera kami baik baik saja, sehat dan menggemaskan !" jawab Citra, matanya langsung berbinar cerah saat Erik menanyakan tentang kabar bayi mungil kebanggaan nya.
"Oh, syukurlah !" ujar Erik dengan senyum kakunya.
Tak lama Citra menggampiri Roni yang sudah selesai berbincang dengan Mira, dan meninggalkan Erik yang kini celingukan karena mencari cari sosok Mira yang tiba tiba menghilang dari pandangannya.
Erik mengedarkan pandangan nya ke setiap penjuru ruangan pesta, banyak nya tamu yang hadir membuat dirinya kesulitan mencari sosok Mira di antara semakin banyaknya tamu yang datang.
"Ah, gadis bodoh itu menyusahkan ku saja, sudah ku bilang jangan jauh jauh dariku, ini malah menghilang !" kesal Erik menggerutu karena tak juga menemukan Mira di sana.
Sementara Mira, sang gadis yang kini sedang di cari cari oleh Erik justru sedang menikmati segelas wine di balkon ruangan yang sedikit agak tersembunyi letaknya dari tempat pesta, dia memilih menyendiri di tempat itu daripada harus tetap di dalam ruangan dan menyaksikan Erik berduaan dengan mantan istrinya.
Cemburu ? Tentu saja jawabannya iya, sebenarny bukan hanya cemburu, tapi hati Mira rasanya seperti kesal dan tak rela saja bila Erik harus terus terusan seolah tenggelam di masa lalu yang tak berujung, padahal Mira tahu kalau itu sangat menyiksa Erik.
"Boleh aku bergabung, Nona ?" tanya seorang pria muda mendekat ke arah dimana Mira berdiri.
__ADS_1
Mira hanya melirik sekilas lalu matanya kembali menatap langit malam ibukota yang di penuhi jutaan bintang, malam yang indah meski tak seindah suasana hatinya sekarang ini.
"Apa kamu juga melarikan diri dari pesta ? Kamu juga di paksa ayah mu untuk menemaninya ke sini ?" pria muda itu terus bertanya meski tak pernah mendapat jawaban bankan respon sedikitpun dari Mira yang hanya terus memandangi langit sambil menikmati minuman di gelas nya.
"Kau di sini rupanya, bukan nya sudah ku bilang kalau kau jangan jauh jauh dari ku ?" ucap Erik sedikit membentak, saat menemukan gadis yang di carinya sejak tadi.
"Maaf om, mungkin putri om merasa bosan di dalam, karena kami sebagai anak muda sepertinya tidak cocok berada di acara formal seperti itu," ucap pria muda itu pada Erik yang dia kira ayah dari Mira.
Erik hanya melirik sinis dan galak pada pria muda yang di nilainya sok tau itu.
"Ayah mu masih muda ternyata, kau beruntung ayah mu nikah muda dulu, jadi usia kalian pasti tidak terpaut jauh, kalian masih bisa nongkrong bareng beda sama ayahku yang udah tua, pemikirannya kolot lagi !" oceh pria itu tak berhenti bersuara.
"Hey kau ! Siapa yang kau bilang ayah nya ? Aku calon suaminya !" ucap Erik mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal menahan marah.
"Uuh, malang benar nasib mu nona, sepertinya orang tua mu memiliki banyak hutang padanya sehingga kamu di jodohkan dengan lelaki tua seperti ini, untung saja dia ganteng !" pria itu menepuk bahu Mira saat tiba tiba Mira tersedak minumannya ketika mendengar Erik mengucapkan kalau dia adalah calon suaminya.
Erik hampir saja menghajar pria itu kalau saja Mira tak terbatuk batuk karena tersedak,
"Kenapa kau berkeliaran sendirian !" omel Erik menuntun Mira masuk kembali ke dalam ruangan ballroom,
"Aku tak ingin mengganggu reuni anda, bos. Sepertinya anda sangat menikmatinya tadi !" sindir Mira.
"Ckkk, aku hanya berusaha menyapa,tidak lebih !" decak Erik yang lantas menyesali ucapannya pada Mira barusan, tak seharusnya dia menjelaskan seperti itu, bukan kan itu tak perlu dia lakukan, mengingat Mira bukan siapa siapa baginya, jadi,,, apapun yang di pikirkan gadis itu tak ada hubungannya dengan dia, tak perlu dia mengelak seperti tadi.
"Tapi aku melihat binar kebahagiaan di mata bos saat kalian mengobrol tadi," ucap Mira, meski dia mengatakannya dengan mimik wajah yang datar, tapi hatinya terasa kesal dan sedikit perih.
"Tak usah berbicara ngawur, diam dan tetap di sini !" tegas Erik tak ingin membahas lagi masalah Citra atau apapun yang menyangkut masa lalunya.
__ADS_1
Seorang perempuan cantik tinggi semampai bak seorang model dengan gaun sekksi menghampiri Erik dan Mira yang sedang mengobrol dengan salah satu kolega bisnis nya.
"Hai Rik ! Lama tak jumpa, aku kaget tadi bertemu Citra di sana, ternyata dia sudah berpisah dengan mu, dan sudah menikah lagi, aku pikir kalian pasangan serasi yang tak mungkin terpisahkan, tapi ternyata,,," oceh wanita itu.
Erik melirik sekilas lalu meraih bahu Mira dan merapatkan tubuh gadis itu ke dekapannya.
Mira mendongak menatap wajah Erik yang lebih tinggi darinya itu kebingungan.
"Hay Dinda, kenalin ini calon istri ku !" ucap Erik, untuk kedua kalinya laki laki itu memperkenalkan Mira sebagai calon istrinya, entah apa maksudnya.
Perempuan yang di sapa dengan nama Dinda itu pun melemparkan tatapan sinis dan permusuhan pada Mira yang tak tau apa apa itu.
"Aku pikir setelah berpisah dari Citra, seleramu akan lebih bagus, kenapa malah seperti ini ?" ucap wanita itu memutar bola matanya.
"Aku mencari calon istri untuk menemani ku seumur hidup, bukan mencari model iklan untuk sebuah produk yang tampang dan tubuhnya di nikmati semua orang !" tegas Erik seraya memberi tatapan membunuhnya pada wanita yang baru saja mengusiknya itu.
Tanpa berkata kata lagi, wanita itu pergi dengan sendirinya menjauhi Erik yang menunjukan sikap tak ingin di ganggu.
"Hati hati bos, ucapan adalah do'a, ntar tau tau ucapan bos jadi kenyataan, lho !" goda Mira.
"Kau asisten ku saat ini, hal hal seperti barusan itu seharusnya sudah menjadi tugasmu, menjauhkan aku dari wanita wanita tak jelas seperti tadi, kau membuatku terpaksa harus berbicara dengan wanita itu !" ucapnya kesal, biasanya apabila terjadi hal hal seperti itu Kemal akan langsung menanganinya, dia akan langsung menjauhkan orang orang yang tak berkepentingan untuk mendekati bosnya, terlebih bila itu seorang wanita, Erik di kenal sangat anti berbicara dengan wanita setelah perceraiannya dengan Citra, dia menjadi pribadi yang sangat tertutup.
"Sepertinya wanita tadi wajahnya tak asing ?" Mira mengingat ingat dimana dia pernah melihat wajah wanita tadi.
"Tentu saja, wajahnya ada di kantor kita, karena dia salah satu model iklan di salah satu perusahaan property ku," ucapnya datar.
"Ish, calon suami ku ini memang hebat, seorang model ternama saja di cuekin !" ledek Mira.
__ADS_1
"Hentikan, jangan ucapkan kata kata itu, aku tak suka mendengarnya !" kesalnya.
"Kenapa ? Aku baru sekali bilang calon suami, anda bahkan sudah dua kali mengatakan kalau aku calon istri, aku biasa saja, tuh !" cicit Mira.'