Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Rombongan Sirkus


__ADS_3

Niko berlari mengejar Alisha yang memilih pergi meninggalkan rumah kediaman keluarga Niko karena tak tahan dengan makian dan umpatan Hartono padanya, telinganya seakan terasa penging menerima hinaan yang teramat kasar baginya.


"Niko berhenti !" teriak Hartono menghentikan langkah putranya.


"Ayah !" protes Niko.


"Kau membantah ayah mu demi pelac cur itu ?" sorot mata Hartono bagai sinar laser yang menembus tajam ke arah putra semata wayangnya yang di gadang gadang akan menggantikan posisinya sebagai pemimpin di perusahaan yang sudah puluhan tahun dia dirikan, sungguh dia tak akan pernah membiarkan hanya karena seorang jallanng kecil merusak harapan dan reputasi dirinya dan juga seluruh keluarganya.


"Ayah, di perutnya ada anak ku, cucu ayah !" Niko berargumen.


"Kau terlalu naif, apa kau seyakin itu kalau janin di perutnya anak mu ? Apa kau yakin sudah mendapatkan kesuciannya saat kau menidurinya ?" tanya Hartono yang tentu saja tidak bisa di jawab oleh Niko.


Tentang yakin atau tidaknya kalau anak yang kini di kandung Alisha meski belum bisa di buktikan, tapi hatinya mengatakan kalau itu adalah anaknya, sedangkan untuk masalah kesucian, meski pengalaman Niko tidur dengan wanita tak begitu banyak, tapi dia sangat yakin kalau Alisha memang sudah tak suci lagi saat tidur dengan nya.


"Kenapa ? Kau tak bisa jawab ? Kalau kau tetap ingin memilih wanita liar itu, lupakan kami, jangan anggap kali sebagai orang tua mu lagi !" ancam Hartono.


Ira terdiam, tangannya memijit pangkal hidungnya yang terasa sakit, air matanya pun berjatuhan di pipi wanita setengah baya yang masih terlihat segar dengan garis kecantikan yang masih tampak terlihat jelas di wajahnya yang bersih terawat itu.


Menyaksikan suami dan anak kesayangannya beradu argumen memang sudah seperti makanan sehari harinya, tapi kali ini sungguh berbeda, ada masalah berat yang kedua laki laki itu perdebatkan, dan kali ini dia tak tau harus berdiri di sisi siapa.


"Bu, tolong aku !" rengek Niko, karena biasanya hanya Ira senjata terakhirnya yang paling ampuh untuk menjembatani apa yang tidak bisa dia ungkapkan pada ayahnya.


"Maaf nak, untuk kali ini ibu sepertinya sependapat dengan ayah mu, kamu tidak boleh gegabah, sebelum benar benar yakin kalau anak itu adalah anak mu, ibu melihat gelagat lain dari sorot mata ibu gadis itu !" urai Ira yang mulai menunjukan keberpihakannya pada sang suami.


Sungguh Ira sebenarnya tak ingin melukai perasaan Niko yang selama ini selalu dia lindungi, tapi menurutnya sikap yang di ambilnya kini juga merupakan bentuk perlindungan pada anak laki lakinya yang menurutnya masih sangat muda itu.


"Bu,,,,,!" protes Niko, tapi ibunya menggeleng pelan tanda keputusannya sudah final dan tak bisa di nego lagi seperti biasanya.

__ADS_1


***


Lama rasanya Alisha dan Tita berdiri menunggu di depan sebuah rumah mewah, yang merupakan tempat kediaman Erik dan Mira saat ini.


Mang Jaja yang memang sudah di wanti wanti untuk tidak menerima tamu siapapun yang tidak di kenal, tidak berani memberi ijin mereka masuk meski Tita ngotot berbicara kalau dia adalah Ibu dari Mira, nyonya pemilik rumah besar itu, entah dari mana mereka mendapatkan alamat rumah tinggal Erik dan Mira.


"Maaf bu, saya hanya menjalankan tugas," terang Mang Jaja tegas.


"Kau penjaga songong, lihat saja nanti kau akan menyesal saat tau kalau aku benar benar ibu dari nyonya mu !" tunjuk Tita pada Jaja yang memang baru pernah melihat wajah Tita saat ini, karena saat pernikahan tuan dan Nyonya nya Tita tidak hadir di acara.


"Auwhhh,,,,,!" teriak Alisha meringis kesakitan.


"Alisha, sayang,,, kenapa ?" panik Tita yang melihat Alisha tiba tiba tersungkur ke tanah.


Namun kepanikan Tita langsung sirna tat kala melihat kedipan mata Alisha yang mengisyaratkan kalau dia sedang berpura pura.


"Hei, lihat,,, dia adiknya Mira, sampai tergeletak di tanah begini, apa kau tak punya hati ? Cepat bantu angkat anak ku, dia sedang sakit !" titah wanita setengah baya yang sedang bermain peran itu.


Seketika Mang Jaja keluar dari pos penjagaannya dan membuka gembok gerbang, lalu menghampiri dua wanita yang mengaku ibu dan adik dari istri tuannya itu, jujur saja saat ini Jaja juga merasa serba salah, bila dia diamkan begitu saja, dia takut kalau ternyata apa yang di katakan kedua wanita itu benar adanya, dan dia pasti akan mendapat masalah dengan Erik karena menterlantarkan mertua dan adik iparnya yang sedang sakit itu.


"Apa lagi yang kau pikirkan, cepat bantu angkat anak ku ke dalam !" perintah Tita lagi membuyarkan lamunan Jaja yang sedang mempertimbangkan keputusan apa yang akan di ambilnya.


"Eh, iya, tapi saya harus menelpon tuan dulu, apa anda berdua di ijinkan masuk atau tidak," Jaja merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang dia taruh di sana.


"Tidak usah ! anak ku keburu mati, kalau kau membuang buang waktu dengan menelpon Erik !" cegah Tita yang tau pasti Erik maupun Mira tak akan mengijinkan dirinya dan Alisha masuk ke rumah mereka.


Dengan beberapa pertimbangan termasuk pertimbangaan keadaan Alisha yang masih terlihat las di tanah, akhirnya Jaja mengotong tubuh Alisha , dan membawanya masuk ke teras rumah yang terasa asri karena banyaknya tanaman hias di sekitar teras rumah bergaya klasik dua lantai yang di design langsung oleh tangan Erik sang arsitek dan pengusaha properti terkenal itu

__ADS_1


Mata Tita beredar dan berkelana menjelajahi setiap sudut teras rumah yang terasa bertambah adem karena lantai granit berwarna putih tulang, tiang tiang rumah khas gaya klasik yang kokoh menambah kesan mewah rumah itu, tanpa sadar mulutnya pun berdecak kagum.


Terbayang oleh Tita jika dirinya bisa tinggal di rumah nyaman itu, dia akan sangat senang karena hidupnya pasti tak akan jenuh meski hanya tinggal di rumah saja.


"Kau harus menjadi nyonya rumah ini, kita coret saja si Niko yang mulut bapaknya jahanam itu !" gumam Tita pada Alisha yang masih berpura pura memejamkan matanya sesaat setelah Jaja meninggalkan mereka di teras untuk menyuruh Yanti membuatkan minuman untuk Tita dan Alisha.


Belum juga Alisha menanggapi perkataan ibu tirinya itu, tiba tiba Tita menempelkan telunjuknya di depan bibirnya,


"Sssttsss,,,, diam lah, tetap di posisi mu !" titah wanita paruh baya itu sambil menyeringai senang saat melihat sebuah mobil memasuki pelataran rumah mewah itu.


"Apa yang kalian lakukan di sini ?!" teriak Mira.


Mira sedikit terkejut karena dua mahluk yang paling di hindarinya diuka bumi ingin .


"Tentu saja kami ingin menemui mu," ucap Tita seperti bIasanya tak mempunyai rasa malu sedikit pun.


"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi." tolak Mira.


"Aku mohon, selamatkan adik mu, biarkan dia tinggal di sini bersama kalian, setidaknya sampai bayi nya lahir " mohon Tita.


"Dia begitu lemah, kasian bila dia harus hidup sendiri, sementara ibu tak bisa lama lama tinggal di Jakarta," lanjut Tita.


"Tenanglah bu, aku juga masih hidup sampai sekarang, kok ! meski harus bener benar hidup sendiri " sarkas Mira.


"Anaknya boleh kamu ambil jika nanti Alisha sudah lahiran," ucap Tita yang membuat kaget semua orang.


"Erik tak perlu mengambil anak orang lain karena dia sudah punya anak sendiri dari ku !" seru Citra yang tanpa mereka sadari sudah berdiri di antara mereka.

__ADS_1


"Tuhan,,, apa lagi ini ? Para rombongan sirkus ini tak pernah membiarkan ku untuk tenang barang sebentar saja !?" keluh Mira yang merasa wanita wanita itu tak pernah berhenti mengganggunya.


__ADS_2