
Dua tahun sudah berlalu setelah kepergian Melodi dari rumah kediaman Keluarga Mahendra. Hito seringkali pulang hingga menjelang pagi. Karena selain kesibukan nya di kantor, Hito selalu di ajak Feli untuk bersenang-senang atau sekedar menemaninya.
Awalnya Hito selalu menolak ajakan Feli, akan tetapi karena gadis itu selalu punya banyak cara untuk membuat Hito merasa kasihan kepadanya, Hito pun menurutinya.
Suatu malam, Mahendra sengaja menunggu Hito pulang karena ingin menyampaikan rencananya untuk mengunjungi Melodi pekan ini. Mahendra sangat merindukan Melodi, karena sejak kepergiannya, suasana rumah sangat berbeda. Meskipun Melodi selalu menyempatkan untuk menelpon Mahendra di sela-sela kesibukan nya, akan tetapi Mahendra tetap saja merasa sangat kesepian.
.
.
.
.
.
Suara mesin mobil sport milik Hito baru terdengar memasuki halaman rumah pukul tiga pagi, Mahendra yang sebelumnya bersemangat karena orang yang ia tunggu sudah pulang, tiba-tiba dikejutkan karena melihat Hito pulang dalam keadaan mabuk.
"Hito, sejak kapan kau menjadi pria pemabuk seperti ini?" Mahendra menghampiri Hito yang berjalan sempoyongan.
Hito tak menghiraukan keberadaan Kakek Mahendra yang sejak tadi menunggunya, dengan sedikit kekuatan nya yang masih tersisa, Ia berjalan menaiki anak tangga hingga hampir tergelincir karena cara berjalannya nya yang tidak bisa tegak dan lurus.
Mahendra menahan amarahnya, karena ia tau, percuma saja memarahi orang yang sedang mabuk. Niat awalnya untuk berbicara kepada cucunya itu sudah tidak di minati nya lagi. Akhirnya ia mengutus seorang pelayan untuk membantu Hito berjalan hingga memasuki kamarnya.
***
Keesokan hari nya, Hito dan Mahendra bertemu di meja makan untuk menghabiskan sarapan bersama. Wajah Hito tampak pucat, ada lingkaran hitam di bawah matanya, hal itu tentu saja dikarenakan kondisi Hito yang habis mabuk-mabukan semalam, sehingga Hito mengalami hangover di pagi hari nya.
Mahendra memerintahkan pelayan untuk membawakan aspirin untuk Hito, "Minumlah, obat itu akan mengurangi sakit kepala mu!" Mahendra memberikan aspirin itu kepada Hito dan segera memerintahkan Hito untuk segera meminumnya.
__ADS_1
Hito merasa canggung ketika Kakek nya mengetahui kondisinya, akan tetapi tak urung ia meraih obat dan langsung meminumnya di depan Mahendra.
Apa Kakek melihatku dalam keadaan mabuk semalam?
"Te..rimakasih Kek" Hito mengucapkan terimakasih sambil terbata karena takut tebakannya benar dan Kakek nya akan murka kepadanya.
Di luar dugaan Hito, Mahendra hanya mengangguk tipis dan melanjutkan sarapannya tanpa ada pembicaraan lagi di antara mereka.
***
Selepas kepergian Hito untuk bekerja, Mahendra memaanggil Leo untuk menghadap nya di ruang kerja.
"Leo, aku ingin kau melakukan penyelidikan khusus untuk Hito", Mahendra menghela nafas panjang, "Anak itu, akhir-akhir ini sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Pastikan dengan siapa dia bergaul?" Perintah Mahendra kepada asisten nya, Leo.
"Baik Tuan."
Sampai dengan saat ini, Leo belum mengetahui tentang kedekatan Hito dan putrinya, Feli memang tidak berbohong ketika gadis itu mengatakan Ayah nya tidak memiliki waktu untuk nya dan hanya sibuk bekerja, kenyataannya Leo memang lebih sering menghabiskan waktunya untuk melayani Mahendra. Leo tidak akan berpikir dua kali ketika Mahendra menyuruhnya datang meskipun di hari libur. Entah apa yang akan terjadi ketika Leo mengetahui bahwa putrinya sendiri lah yang selama ini membawa pengaruh buruk untuk Hito.
"Feli....!!!" Teriakan Leo mampu terdengar di tengah keras nya suara musik di tempat itu.
Feli yang masih dalam kesadaran penuh nya karena baru saja minum setengah gelas, tersontak kaget mendapati Ayah nya tengah berdiri dan meneriakkan namanya.
"A...ayah..." Mulut Feli menganga terbuka karena tak percaya apa yang ia lihat.
Leo melirik kearah Hito yang sama terkejutnya, ia melangkah hingga posisinya berada tepat di depan Hito.
Hito segera berdiri dari duduknya, ia hendak mengatakan sesuatu untuk membuat Leo tidak marah, akan tetapi di luar dugaannya, Leo masih bersikap sangat sopan dan membungkukkan punggungnya memberi hormat kepada Hito.
"Tuan Muda, sebaiknya Anda pulang, karena Tuan Besar menunggu mu di rumah." Ucap Leo sopan.
__ADS_1
"Ba...ik Paman" Hito melirik kearah Feli yang posisinya sudah berada di belakang Leo, seakan ingin bertanya bagaimana dengan gadis itu, apa dia akan pulang bersama mereka.
Leo memahami maksud Hito, kemudian berkata, "Anak buahku yang akan mengantarnya pulang, mari Tuan Muda saya antar."
Leo memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera membawa Feli dan mengantarnya pulang, setelah itu Leo mempersilahkan Hito untuk mengikutinya.
Ternyata benar, Paman Leo lebih memprioritaskan aku dan Kakek dibandingkan dengan putrinya sendiri. Kasian sekali Feli.
Hito merasa canggung di dalam mobil, Leo duduk di kursi depan bersebelahan dengan pengemudi, sedangkan Hito duduk di kursi penumpang yang ada di belakang. Hito mengawasi Leo dari kaca spion yang berada di bagian tengah mobil, memperhatikan apakah ada gurat kemarahan di wajah Leo karena selama ini ia memiliki kedekatan dengan putri nya tanpa Leo ketahui.
Ketika mobil yang membawa Hito tiba di halaman Rumah, Leo turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu Hito, dan setelahnya Leo mengajaknya untuk duduk di kursi yang berada di taman rumah itu, untuk berbicara empat mata.
"Tuan Muda, aku meminta maaf atas kelancangan putri ku kepada mu, ini semua karena ketidak mampuanku untuk mendidiknya dengan baik." Leo tiba-tiba meminta maaf atas kesalahan yang tidak di lakukan nya, membuat Hito tertegun dan merasa bersalah karena seharusnya ialah yang meminta maaf karena telah merahasiakan tentang kedekatan nya selama ini bersama Feli.
"Paman, akulah yang salah dalam hal ini, tolong Paman jangan minta maaf kepadaku. Aku tahu, pastinya Paman telah mendapatkan perintah dari Kakek untuk membututi ku setelah aku ketahuan pulang dalam keadaan mabuk kemarin malam."
Leo mengangguk tipis membenarkan apa yang di katakan Hito, akan tetapi Hito bisa melihat kekhawatiran di mata Leo, mungkin Leo sedang memikirkan, apa yang akan ia katakan kepada Mahendra jika ternyata orang yang membawa pengaruh buruk itu adalah putrinya sendiri.
"Paman, bolehkah aku meminta sesuatu?" Hito mengatakannya dengan antusias.
Leo menatap kearahnya, kemudian kembali menganggukkan kepalanya, "Kau minta apa Tuan Muda?"
"Tolong jangan katakan kepada Kakek, bahwa aku memiliki kedekatan dengan anak Paman, dan Kakek tidak akan pernah tahu, dengan siapa jika aku pergi mabuk. Paman bisa katakan kepada Kakek kalau aku pergi dengan seorang teman laki-laki." Hito menyampaikan rencana yang sebenernya untuk melindungi Leo dan putrinya.
Leo tertegun tanpa ekspresi, entah pertimbangan apa yang Leo pikirkan. Hito yang sudah mengenal Leo sejak kecil, Baru kali ini ia melihat lelaki paruh baya itu tampak bingung dan frustasinya dalam menjalankan tugasnya.
**Bersambung...
Hallo readers maafkan author karena menganak tirikan novel ini, itu dikarenakan author sedang fokus dengan Novel autrhor yang berjudul Menikahi Sopir Kaya. Kalian bisa baca juga di noveltoon/mangatoon.
__ADS_1
Ketika Author memiliki waktu luang, author akan tetap menyempatkan waktu untuk merilis novel ini. Jangan lupa like dan vote nya ya... Terimakasih 🤗**