
Albert mengerutkan dahi ketika Feli terus saja melontarkan tuduhan kepada nya, "Kenapa kau menuduhku telah menjebak mu? apa sebelumnya kau pernah menjebak orang lain, sehingga otak mu langsung berpikir seperti itu?" Tanya Albert, tak terima karena Feli yang semalam menyerahkan tubuhnya dengan sukarela malah memojokkan nya.
"Eh itu...aku.., tidak! kenapa kau bertanya? hanya aku yang boleh bertanya kepada mu!" Feli menjadi gugup, karena dugaan Albert memang benar, ia lah yang jelas-jelas sudah menjebak Hito agar terkesan mereka telah melakukan hubungan intim.
"Jawab saja, apa yang telah kau lakukan kepada ku semalam!" Ucap Feli kemudian.
Albert meraih celana pendeknya, kemudian mengenakannya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mendekat kearah Feli
"Ayolah Nona Feli, kenapa kau lupa bahwa dirimu sendiri yang menggoda ku semalam? aku pikir kau memang sudah biasa melakukannya, tapi..." Ujar Albert yang tak sampai melanjutkan kalimatnya karena Feli tiba-tiba bertanya, "Tapi apa? katakan!" Seru Feli.
"Tapi aku cukup terkejut ketika mengetahui dirimu masih gadis, dan akulah orang pertama yang meniduri mu." Ungkap Albert sambil tersenyum bangga, Albert masih membayangkan kenikmatan yang ia peroleh semalam, Feli yang menggodanya semalam tak disangka ternyata masih memiliki selaput perawan utuh yang akhirnya berhasil di robek oleh nya. Karena membayangkannya, Albert menjadi bernafsu kembali dan hendak menjamah tubuh Feli, akan tetapi tanpa di duga, Feli malah menampar nya dengan keras.
"Plakkk..." Bunyi tamparan Feli yang mendarat di pipi kanan Albert cukup menggema diruangan itu.
Albert merasakan panas di pipinya, kemudian mengusap pipi yang baru saja di tempar Feli dengan telapak tangannya.
Setelah menampar Albert, Feli sama sekali tak bereaksi, dirinya mematung, tatapan Feli menjadi kosong sampai akhirnya butiran-butiran air mata berjatuhan semakin deras melewati kedua pipinya.
Feli menangis sejadi-jadinya, ia tak pernah berpikir untuk menyerahkan kegadisannya kepada laki-laki lain selain Hito. Feli selalu membayangkan saat-saat dirinya dan Hito menikah dan melewati malam pertama yang indah. Tubuh Feli jatuh ke lantai dalam posisi duduk, ia menyandarkan kepalanya di tepi ranjang. Feli terus saja menangis, meratapi kesialan demi kesialan yang akhir-akhir ini menimpa nya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Albert baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian rapi nya karena ia memiliki janji bertemu dengan seseorang, Albert sebetulnya tak sampai hati meninggalkan Feli dalam kondisi seperti sekarang, tapi tetap saja Albert tak melupakan tujuan awal ia datang kenegara ini adalah untuk sebuah urusan penting.
Feli masih dalam posisi sama seperti ketika Albert meniggalkan nya ke kamar mandi hanya saja kali ini Feli sudah berhenti menangis.
"Nona, maafkan aku! aku harus pergi untuk suatu urusan penting. Ini kartu namaku, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu." Albert menyodorkan sebuah kartu nama miliknya, karena Feli tak juga meraihnya, akhirnya Albert meletakkan kartu nama itu di lantai tepat di hadapan Feli tengah duduk.
Setelah kepergian Albert, Feli baru mendapatkan ketenangan nya, ia mengusap kasar wajahnya yang dipenuhi air mata yang hampir mengering disana. Feli menyadari, tak ada gunanya ia terus menangis, karena sama sekali tidak akan merubah keadaan.
Feli mandi dengan sangat lama, ia merasa tubuhnya begitu kotor, hingga seberapa banyak pun air keluar dari shower dan mengguyur tubuhnya, tak pernah cukup untuk membersihkan dirinya. Feli kembali menangis di kamar mandi, setelah dirinya kembali puas menumpahkan penyesalan nya, barulah Feli keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian nya kembali.
Feli hendak melangkah keluar, tetapi matanya menangkap sebuah kertas kecil tergeletak di lantai. Feli meraihnya dan kemudian membaca tulisan yang tertera dalam kertas itu.
"Dr. Albert Adalard? jadi orang asing itu adalah seorang Dokter dan ia berasal dari Paris?" Setelah membaca kartu nama itu, barulah Feli mengetahui identitas Albert, seringai kecil nampak dari bibir Feli, seakan tak ada lagi kesedihan atau penyesalan yang beberapa saat menghampirinya.
"Ah, sepertinya kali ini takdir berpihak kepadaku, tanpa aku sadari aku telah mendapatkan jalan keluar dari masalah ku untuk menghadapi Hito." Gumam Feli senang.
Feli mengelus kartu nama itu, kemudian memasukkannya kedalam dompet, seperti dirinya baru saja mendapatkan sesuatu yang berharga.
__ADS_1
***
Sore ini di rumah sakit Melodi mendapatkan kejutan dengan keadatangan seorang teman lama semasa kuliahnya dulu, dia adalah Albert. Seusai memenuhi janji nya dengan seseorang yang ia anggap untuk urusan penting, Albert memutuskan untuk menemui Melodi di rumah sakit miliknya. Tak sulit untuk Albert menemukan rumah sakit Melodi, dikarenakan, rumah sakit milik Melodi adalah rumah sakit terbesar di negara yang sedang Albert singgahi.
"Albert? sungguh kejutan aku melihat mu disini." Sapa Melodi yang terlihat sumringah ketika mendapat kunjungan dari Albert.
Albert hendak memberikan pelukan seperti yang biasa dilakukan di negaranya ketika baru bertemu teman lama, akan tetapi Melodi malah mundur satu langkah dan tak merespon pelukan Albert. Hal itu dikarenakan dirinya belum terbiasa melakukan kontak fisik dengan laki-laki lain, selain Kakek Mahendra atau Hito yang ia anggap sudah seperti kakak kandungnya sendiri.
"Oh..ma-af, aku hanya senang bisa bertemu dengan mu lagi, Melodi." Ucap Albert canggung.
Melodi pun merasa tidak enak hati dan menyadari suasana menjadi sedikit canggung, ia mencoba mencairkan nya dengan mempersilahkan Albert duduk di kursi tamu nya.
"Silahkan duduk! aku akan meminta seseorang untuk mengantarkan minuman untuk kita. Apa kau ingin minum kopi?" Tanya Melodi kemudian.
"Wow, tentu saja, kopi di negara ini sangat enak, dan aku memang sedang ingin minum kopi." Jawab Albert.
Melodi mengangguk sambil tersenyum lembut, kemudian menghubungi seseorang melalui telepon di ruangannya untuk segera mengantarkan dua kopi untuk nya dan Albert.
"Jadi Albert, apa sebetulnya yang membawa mu ke negara ini, dan sampai menyempatkan waktu untuk menemui ku?" Tanya Melodi.
Albert menjawab, "Aku sedang ada urusan penting di negara ini, dan karena aku sudah berada disini, sangat merugikan jika aku tidak menemui mu. Lagi pula aku merindukan mu." Albert tak sungkan mengatakan dirinya sangat merindukan Melodi, karena memang hal itulah yang dirasakan oleh Albert. Perasaan nya kepada Melodi sejak dulu sama sekali tidak berubah. Albert menyukai Melodi meskipun ia pernah menerima penolakan dari gadis yang di cintai nya itu.
Melodi berusaha santai menanggapi pernyataan Albert, ia menganggap Albert berkata demikian seperti hal nya Albert merindukan seorang teman lama.
__ADS_1
*Bersambung...