
Sudah hampir satu jam Melodi berada di dalam ruangan, luka diperut penyelamat itu cukup dalam, sehingga Melodi harus melakukan tindakan operasi dan memastikan tidak ada organ tubuh penting yang ikut terluka.
Melodi menemui Hito dan Rey saat ia telah selesai melakukan operasi. "Kakak, Kak Rey, lebih baik kalian pulang dan temani Kakek. Aku akan tetap disini sampai orang yang menyelamatkan ku sadarkan diri."
Melodi sempat menceritakan seluruh kejadiannya di sela-sela waktu ia memerintahkan para petugas rumah sakit untuk menyiapkan segala keperluan untuk tindakan operasi. Tentu saja cerita Melodi membuat Hito dan Rey terkejut dan merasa khawatir. Mereka bersyukur Melodi berhasil selamat kali ini. Tetapi disisi lain, mereka bertanya-tanya tentang dalang dari pelaku penculikan itu dan apa motif mereka melakukannya.
"Aku akan tetap disini dan pulang bersama mu, Melo! Bagaimana jika penculik itu masih mengincarmu dan berniat melakukannya lagi?" Ujar Hito.
"Aku juga! Aku tidak akan pergi dan akan memastikan keselamatan mu!" Sahut Rey mengatakan hal serupa.
"Jika kalian disini? Apa yang harus kita katakan kepada Kakek? Apa aku harus menceritakan yang sebenarnya dan membuat Kakek khawatir? Beda halnya jika Kakak dan Kak Rey pulang, kalian bisa mengatakan kepada Kakek bahwa aku sedang ada pekerjaan darurat di rumah sakit!"
Hito dan Rey tampak mencari alasan yang tepat, tetapi Hito lah yang lebih dulu mendapat ide, "Aku tahu! Bukankah aku dan Melodi saat ini sudah menjadi suami istri? Jika aku dan Melodi tidak pulang kerumah, Kakek akan memahaminya, bahkan mungkin Kakek akan sangat bahagia. Rey, kau saja yang pulang dan beri tahu Kakek, bahwa aku dan Melodi malam ini tidur di Apartemen ku!"
Rey ingin membantahnya, tetapi saat ini ia tak memiliki pilihan selain mengikuti saran dari Hito. " Baiklah! Aku akan pulang dan mengikuti saran mu." Jawab Rey dengan wajah cemberut.
"Terimakasih Kak Rey! Aku sangat mengandalkan mu kali ini. Dan satu lagi, tolong beri tahu Bi Irah untuk memastikan Kakek tidak lupa minum obat malan ini!"
Mendengar Melodi berterimakasih kepadanya, Rey menjadi luluh dan kali ini ia meninggalkan Melodi bersama Hito dengan hati yang lebih ikhlas.
"Tenang saja, itu hal mudah untuk ku. Dan kapan pun kau membutuhkan bantuan ku, kau bisa selalu mengandalkan ku, Melodi." Rey membanggakan dirinya.
Melodi mengangguk sambil tersenyum lembut kepada Rey, membuat Rey ingin cepat-cepat pulang dan tidur, agar esok hari ia bisa bertemu kembali dengan gadis itu.
"Hito, aku pulang dulu! Jaga istri sementara mu itu dengan baik!" Bisik Rey di telinga Hito.
Hito ingin mengumpat Rey, tetapi ia sadar, Rey mengatakan yang sebenarnya. Melodi tidak benar-benar menjadi istrinya, dan pernikahan mereka hanya akan berlangsung sementara sampai mereka memiliki alasan khusus untuk berpisah dan mencari kebahagiaan mereka masing-masing.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Melo, apa kau ingin kembali ke ruangan mu dan beristirahat disana?" Hito melihat kelelahan di wajah Melodi dan bertanya kepada adik sekaligus istrinya itu.
Melodi menggeleng, "Tidak Kakak! Aku akan tetap disini dan menunggu nya sadar. Lebih baik, Kakak saja yang beristirahat di ruangan ku. Aku akan memberikan kuncinya." Melodi hendak mengambil kunci di saku jas dokternya, tetapi Hito menolaknya, "Tidak perlu! Aku belum ingin istirahat dan akan menemani mu disini!" Jawab Hito.
Melodi mengangguk kemudian duduk di sebelah Hito. Mereka berdua menunggu di ruang tunggu pasien yang letaknya tak jauh dari ruang pemulihan pasien yang baru selesai di operasi.
Hito menyelipkan rambut Melodi yang sedikit berantakan ke belakang telinga gadis itu hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Melodi yang tengah tertidur di bahu nya.
Ada perasaan damai di hati Hito ketika ia menatap wajah Melodi dari jarak yang begitu dekat. Sejak kecil, mereka memang sangat dekat, tetapi semenjak Hito mengenal Feli, mulai ada jarak di antara mereka berdua.
Hito menghabiskan masa dewasanya dengan mengurusi perusahaan dan mengikuti kemauna Feli yang selalu memaksa untuk ia turuti. Sedangkan Melodi, gadis itu belum lama kembali setelah belajar di luar negeri dan kemudian lebih sibuk menjalani profesinya sebagai Dokter dan pemilik Rumah Sakit.
"Ternyata, Melodi begitu cantik ketika sedang tidur." Gumam Hito dalam hatinya.
Hito yang tanpa sadar ingin sekali mencium kening Melodi kemudian melakukannya dan membuat Melodi terbangun dari tidurnya.
"Ah...apa aku tertidur?" Gumam Melodi setelah berhasil membuka matanya.
__ADS_1
Hito menjadi gugup lalu meminta maaf, "Maaf! Maafkan aku karena telah membuat mu terbangun. Kau bisa tidur lagi sekarang dan aku berjanji tidak akan mengganggumu." Ujar Hito.
Melodi mengerutkan dahi, tak mengerti kenapa Hito sampai meminta maaf. Melodi memang merasa ada sesuatu yang membuatnya terbangun, tetapi Melodi tak menyadari bahwa baru saja Hito telah mencium keningnya.
Di saat yang sama, seorang perawat memberi tahu bahwa pasien di dalam telah sadarkan diri.
"Direktur, pasien nya sudah sadar dan saat ini dalam kondisi stabil."
Melodi langsung bangkit dari duduknya dan berlari kedalam ruangan pasien untuk memastikan sendiri keadaan orang yang telah menyematkan nya.
Melodi memeriksa keadaan pasien, dan membuang nafas lega ketika ia yakin pasien itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Pak, anda dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi, anda tidak boleh bergerak dan berbicara terlebih dahulu. Berikan aku isyarat dengan kedipan mata jika anda mengerti."
Pasien itu memberi isyarat dengan kedipan matanya. Melodi tersenyum puas, karena meskipun efek samping obat bius nya masih tersisa beberapa persen, pasien itu sudah dapat merespon nya dengan baik.
"Anda akan di pindahkan keruang perawatan, aku akan menyuntikan beberapa obat, termasuk obat tidur agar Anda bisa beristirahat lebih lama, dan besok akan ku pastikan kondisi anda akan lebih baik." Ucap Melodi dengan lembut.
Melodi meminta para petugas rumah sakit untuk memindahkan pasien tersebut ke sebuah ruang perawatan VVIP yang berada di rumah sakit itu. Melodi merasa perlu memberikan perawatan yang terbaik, karena apa yang terjadi dengan orang yang saat ini terbaring lemas di hadapannya itu karena orang itu telah menyelamatkan nyawa nya.
Setelah menyuntikkan beberapa obat kepada pasiennya, Melodi memutuskan untuk pulang dan beristirahat, "Kakak, ayo kita pulang dan beristirahat!" Ajak Melodi.
"Pulang? Bagaimana dengan Kakek? Bukankah kita meminta Rey mengatakan kepada Kakek bahwa malam ini kita tidak akan pulang dan tidur di Apartemen?" Hito mengingatkan Melodi tentang percakapan mereka sebelumnya.
***
Bersambung...
__ADS_1