
Suasana di ruangan itu berubah menjadi tegang. Hito lah yang sepertinya paling tidak terima dengan keputusan Kakek Mahendra. Bagaimanapun ia menyayangi Melodi, tentu saja ia tidak akan tega untuk menikahi orang yang telah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri. Yang Hito rasakan, ia menyayangi Melodi, tetapi tidak mencintainya. Selain itu, sebagai Kakak yang menyayangi adiknya, tentu saja Hito berharap suatu saat nanti ia dapat melihat Melodi bahagia dengan kehidupan pribadi nya, dan tentu saja semua kebahagiaan itu tidak akan Melodi dapatkan jika harus menikah dengan nya.
"Ya Tuhan, hukum saja aku, tapi jangan Melodi. Melodi berhak bahagia dengan masa depannya sendiri." Batin Hito.
Kakek Mahendra tidak berniat menunggu jawaban mereka saat itu juga, Mahendra memutuskan untuk memberi waktu untuk keduanya merenungkan semuanya.
"Kalian beristirahatlah! Kakek tidak harus menunggu jawaban kalian, atas dasar pembicaraan kita di awal, Kakek menganggap tidak ada lagi alasan kalian untuk menolak permintaan Kakek, kecuali jika kalian ingin Kakek mati lebih cepat." Ujar Mahendra seraya berdiri meninggalkan Hito dan Melodi yang masih terdiam. Theo dan Leo mengikuti Kakek Mahendra yang kini tengah berjalan menuju ruang kerja nya.
Setelah kepergian Kakek Mahendra, Hito terlihat frustasi, ia mengacak-acak rambutnya sendiri dan jika saja memungkinkan, rasanya Hito ingin sekali berteriak sekeras mungkin dan membuang semua benda yang ada di sekitarnya. Untunglah Hito masih memikirkan keadaan Kakek Mahendra yang rawan sakit dan terkena serangan jantung itu sehingga dirinya berusaha menahan diri sekuat mungkin.
"Melo, kenapa kau diam saja? dan tidak membujuk Kakek? bukankah kau cucu kesayangannya dan Kakek akan menuruti semua keinginan mu?" Hito berbicara kepada Melodi yang sejak tadi hanya mematung.
Jauh di lubuk hati Melodi, dirinya pun ingin berontak seperti Hito, tapi sebagai seorang dokter, ia lebih mengetahui resiko yang akan membahayakan nyawa Kakek Mahendra jika saja dirinya bersikap demikian.
Melodi menatap Hito, "Kakak, tanpa aku menjawab, aku yakin Kakak sendiri tahu, bahwa malam ini Kakek begitu berbeda dari biasanya. Aku lelah dan ingin beristirahat, kita akan mencari solusi nya esok hari." Melodi berdiri dan meninggalkan Hito sendirian.
***
Feli merasa dirinya tak bisa jika hanya berdiam diri saja, ia harus mendapatkan cara untuk membuat Hito mempercayai nya, sehingga mereka memiliki alasan untuk menikah. Tadinya, Feli berencana akan berpura-pura hamil setelah beberapa waktu ia berhasil menjebak Hito dan ia bisa memaksa Hito untuk menikahinya, akan tetapi, Feli baru menyadari, dengan kehadiran Melodi sebagai dokter dan orang terdekat Hito, tentu saja nantinya Hito akan mempercayakan pemeriksaan kehamilan nya kepada Melodi, dan semua kebohongan nya akan terbongkar dengan mudah.
Feli memutuskan untuk pergi ke kelab malam untuk menemui Sofi. Sahabat semasa kecilnya itu saat ini memang bekerja di sebuah kelab malam yang sering di kunjungi oleh kalangan elite atau artis.
Feli mengabari Sofi ketika dalam perjalanan bahwa dirinya akan datang, mereka bertemu di depan pintu masuk dan Sofi langsung menarik Feli untuk masuk kedalam.
Suasana Kelab begitu riuh karena suara musik dan teriakan para pengunjung yang sedang asyik berjoged. Feli meminta Sofi untuk membawanya ketempat yang lebih nyaman untuk mereka berdua mengobrol.
"Akhirnya kau mengunjungi ku di tempat ini, tak sulit untuk aku menebak, karena saat ini pasti kau sedang dalam masalah bukan?" Ucap Sofi yang memang sudah sangat mengenal karakter Feli. Sejak dulu, Feli hanya akan mencarinya ketika dirinya membutuhkan pertolongan saja.
"Sudahlah! kenapa kau ini cerewet sekali? malam ini temani saja aku minum!" Jawab Feli dengan wajah ketus.
Dalam perjalanan, Feli tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria.
__ADS_1
"Sial..," Feli hendak memaki, akan tetapi ketika ia melihat seorang pria asing berperawakan tinggi, berhidung mancung dan memiliki iris mata nerwarna biru, Feli seketika terhipnotis dengan penampilan lelaki itu, sehingga dirinya tak menyadari bahwa sejak tadi lelaki yang menabrak nya itu tengah memanggilnya.
"Nona...nona...!!"
"Ah, maaf. Aku tidak sengaja." Ujar Feli dengan sedikit gugup.
"Bangunlah Nona!" Pria asing itu mengulurkan tangan nya untuk membantu Feli berdiri.
Feli beranjak bangun kemudian mengulurkan tangan nya dan berkata, "Terima kasih, Tuan..."
"Albert, nama ku Albert Adalard, kau bisa memanggil ku Albert!" Sahut lelaki itu yang tak lain adalah Albert, teman kuliah Melodi selama di Paris.
"Albert? apa kau berasal dari Luar Negeri? Ah, maaf aku Feli." Jawab Feli.
"Ya, aku berasal dari Prancis, dan aku kesini untuk urusan pekerjaan. Kebetulan aku juga memiliki seorang teman di negara ini, dan aku berniat untuk mengunjungi nya setelah semua pekerjaan ku selesai." Jelas Arbert.
Feli membulatkan bibir nya sambil mengangguk tipis, memberi tanda bahwa dirinya mengerti tentang penjelasan Albert.
Feli seperti tidak percaya, pria tampan dihadapannya dengan mudahnya mengajaknya minum bersama, seperti mereka sudah bertemu sebelumnya.
"Baiklah, tentu saja, aku juga tidak sedang ada teman untuk minum." Jawab Feli.
Mendengar jawaban Feli, Albert mengarahkan pandangannya kepada Sofi yang sejak tadi berdiri di antara mereka. Feli menyadari tatapan Albert, kemudian berkata, "Ah, dia teman ku. Tadinya aku ingin mengajaknya minum, tetapi dia sungguh bukan sahabat yang baik, karena sudah menolak ajakan ku, dan memilih melanjutkan pekerjaannya disini." Jelas Feli.
Sofi berdecak kesal mendengar kebohongan Feli, karena jelas-jelas ia tidak pernah menolak ajakan teman nya itu, tetapi begitulah persahabatan mereka. Siapapun yang salah, tetap saja Sofi yang harus mengalah dan menerima semua perlakuan Feli terhadapnya.
"Baiklah Tuan dan Nona, silahkan memilih tempat duduk kalian, dan aku akan membawakan minuman terbaik untuk kalian berdua!" Ucap Sofi, seraya meninggalkan Feli dan Albert.
"Cih, selalu saja seperti itu? sampai kapan aku akan bersedia diperlakukan seperti ini?" Batin Sofi yang masih kesal terhadap Feli.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Albert dan Feli akhirnya minum bersama sambil mengobrol dan mengenal satu sama lain, mereka berdua tampak akrab meskipun baru pertama kali bertemu.
Feli melupakan seluruh masalah nya sebelum dirinya bertemu Albert, ia minum tanpa henti, membuat dirinya mabuk dan kehilangan kesadaran nya. Albert hendak mengajak nya pulang. Albert menanyakan alamat rumah Feli untuk mengantarkannya pulang, akan tetapi Feli tidak bisa mengingat nya dalam keadaan mabuk berat seperti saat ini, Feli hanya terus bergumam dan kadang dirinya tertawa tanpa sebab.
Sebetulnya Albert sama mabuknya seperti Feli, akan tetapi Albert masih bisa menahan nya dan masih sanggup berjalan meskipun dengan sedikit sempoyongan.
"Nona, bisa kau panggilkan Nona Sofi, ia bekerja disini." Albert bertanya kepada seorang pelayan yang melewatinya.
"Nona Sofi sudah pulang kerumah nya Tuan." Jawab pelayanan tersebut.
Albert melihat kearah Feli yang hampir tak sadarkan diri, tidak mungkin ia meninggalkan seorang gadis sendirian di tempat seperti ini dalam keadaan mabuk berat
Albert memutuskan untuk membawa Feli ikut bersamanya pulang ke Apartemen yang Albert sewa tak jauh dari tempat itu.
*Bersambung...
Hallo semua...
Jika kalian suka dan ingin Author melanjutkan Novel ini, yuk bantu Author beri vote yang banyak.
Jangan lupa like dan komen juga di setiap episode.
Sambil menunggu bab terbaru novel ini, kalian bisa baca novel Author yang lain, yang berjudul "Menikahi Sopir Kaya." Sudah tamat loh.
__ADS_1
Terimakasih ya...🤗🤗