
Rey dan seluruh pemilik rumah, baru saja selesai sarapan pagi, Rey ikut bangun ketika Melodi beranjak dari tempat duduknya, "Melodi, apa kau ingin ke rumah sakit? bolehkah aku mengantar mu?" Ucap Rey.
"Aku biasa membawa mobil sendiri Kak, jadi Kak Rey tidak perlu repot-repot mengantar ku. Lagi pula bagaimana aku pulang nanti jika aku tidak membawa kendaraan?" Melodi menolak halus tawaran Rey.
"Aku akan menjemputmu, kau tinggal menghubungi ku beberapa saat sebelum kau akan pulang." Rey masih berusaha membujuk Melodi untuk dapat pergi bersama.
Kemudian Hito berkata, "Melodi akan berangkat bersama ku. Ada suatu pekerjaan yang harus aku kerjakan berhubungan dengan rumah sakit." Ucap Hito.
Melodi mengernyitkan dahi dan hendak bertanya pekerjaan apa yang Hito maksud, karena seingat Melodi antara rumah sakit dan Perusahaan Hito sedang tidak menjalin kerja sama apapun, tetapi Hito sudah menarik tangan nya untuk pergi.
"Kakek, aku berangkat dulu. Sampai jumpa!" Melodi berteriak karena Hito tak memberinya waktu untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Kakek Mahendra.
Rey bedecak kesal, dan Kakek Mahendra dapat melihat ekspresi kekesalan Rey.
"Rey, aku memang belum menceritakan semuanya kepada keluarga mu. Aku berniat akan memberi kabar ketika waktu nya sudah dekat." Ujar Mahendra.
Rey yang tak bisa menebak arah pembicaraan Kakek Mahendra hanya mengernyitkan dahi, kemudian bertanya, "Kabar apa Kek? apa sesuatu yang penting?" Tanya Rey kemudian.
"Heemh" Mahendra mengangguk.
"Temani Kakek minum teh di taman, Kakek akan menceritakan semuanya kepada mu." Ajak Kakek Mahendra.
Rey bersama Mahendra pergi ke taman yang terletak di belakang rumah, sementara Bi Irah di minta menyiapkan dua cangkir teh dan makanan ringan untuk mereka berdua.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Kakek Mahendra menceritakan rencana perjodohan nya kepada Rey, membuat Rey kaget setengah mati, "Apa Kek? Kakek meminta Hito dan Melodi untuk menikah, dan mereka akan menikah dalam waktu dekat?" Tanya Rey cepat.
Kakek Mahendra sudah mengira Rey akan ikut kaget, tetapi tidak sampai seperti ekspresi Rey saat ini yang terlihat berlebihan, "Kenapa Rey? kau kan tahu mereka berdua bukan saudara kandung. Kakek melihat kasih sayang antara mereka berdua begitu besar, sehingga tak ada lagi keraguan Kakek untuk menyatukan mereka berdua, setidaknya, Kakek bisa pergi dengan tenang." Ucap Mahendra.
"Kakek, apa mereka menerima perjodohan itu?" Tanya Rey.
Mahendra menggelengkan kepala, "Saat ini mereka menolaknya, tetapi Kakek yakin suatu saat mereka akan menyadari bahwa mereka saling mencintai dan tak mungkin terpisahkan." Jawab Mahendra penuh keyakinan.
"Bagaimana jika sebaliknya Kek? Bagaimana jika mereka tidak bahagia karena pernikahan itu, karena ternyata selama ini mereka saling menyayangi hanya sebatas saudara?" Tanya Rey meyakinkan pernyataan Kakek Mahendra.
Mahendra terdiam, ia memang tidak pernah membayangkan selain kebahagiaan yang akan di rasakan Hito dan Melodi ketika mereka menikah.
"Kakek? kenapa Kakek diam?" Rey kembali bertanya.
"Rey, kau berkata demikian karena kau menyukai Melodi dan tak ingin Melo menikah dengan laki-laki lain, termasuk Hito bukan?" Mahendra menegaskan dugaannya terhadap Rey.
__ADS_1
Rey merasa canggung, "itu..a-aku...aku..ah, Kakek memang jenius sepanjang masa, siapapun sama sekali tidak akan pernah bisa berbohong di hadapan Kakek." Rey menghela nafas panjang, "Sejak aku dan Hito terpisahkan, kami sering bertukar kabar, dan semenjak Hito bertemu dengan Melodi, tak ada hal lain yang sering Hito ceritakan kepada ku selain tentang Melodi. Dan diam-diam, tanpa Hito ketahui, karena semua ceritanya lah aku menjadi kagum dengan Melodi dan berkeinginan suatu saat ketika aku harus menikah, Melodi lah yang akan aku datangi untuk aku lamar. Akhir-akhir ini, ibu dan ayah seringkali melayangkan protes karena aku terlalu sibuk bekerja dan ingin aku segera menikah. Untuk itulah aku datang dan berniat melamar Melodi untuk menjadi istri ku, Kek." Ucap Rey begitu terbuka dan mengatakan semuanya kepada Kakek Mahendra.
Kakek Mahendra tidak tampak marah sama sekali, Mahendra hanya menganggukkan kepalanya tipis.
"Rey, kau laki-laki yang baik dan bagaimanapun kau masih keturunan ku. Jika itu yang kau inginkan, Kakek rasa kita akan membuat perjanjian, dan siapapun yang kalah, harus menerimanya dengan lapang dada." Ujar Mehendra.
Meskipun tak faham dengan apa yang dipikirkan Kakek Mahendra, selama ia memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan Melodi, Rey tak ingin menolaknya, "Katakan Kek! apa pun itu, aku akan bersedia melakukannya." Jawab Rey.
"Hito dan Melodi akan tetap menikah kurang dari dua minggu lagi, meskipun mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri, Kakek yakin mereka melakukan nya hanya sebatas bersandiwara di hadapan ku. Kau bisa tinggal disini dan mencoba mengambil hati Melodi. Jika dalam waktu enam bulan kau berhasil membuat Melodi mencintai mu, dan tak tampak perubahan dalam pernikahan mereka. Aku akan meminta Hito menceraikan Melodi dan menikah dengan mu." Jelas Mahendra.
Mata Rey berbinar, ia merasa baru saja mendapatkan tawaran yang menarik. Bagaimanapun, di mata Rey, Hito dan Melodi sudah seperti saudara kandung dan tak mungkin bahagia dalam ikatan pernikahan yang akan mereka jalani. Rey merasa optimis, enam bulan waktu yang lebih dari cukup untuk membuat seorang wanita jatuh cinta kepadanya. Karena selama ini, Rey hanya butuh waktu satu jam untuk membuat wanita-wanita yang selama ini mendekati nya jatuh hati dan menyerahkan diri, hanya saja selama ini Rey tak mau meladeni mereka dan selalu bersikap dingin.
"Aku menerima kesepakatan itu, Kek. Aku berjanji akan menjadi suami dan laki-laki yang baik untuk Melodi. Terimakasih, Kakek." Rey lebih bersemangat dan sampai memeluk Kakek Mahendra.
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, dengan cara :
vote
like
komentar
Terimakasih 🤗**
__ADS_1