Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Ibu


__ADS_3

Pesta pernikahan Hito dan Melodi akan di gelar di rumah kediaman Mahendra. Pesta yang awal mulanya akan di buat secara besar-besaran pada akhirnya hanya mengundang beberapa kerabat dekat saja. Hal itu dikarenakan permintaan langsung yang di ajukan Melodi kepada Kakek Mahendra.


Mahendra akhirnya mengikuti permintaan Melodi, karena baginya, bukan menjadi persoalan jika acara itu di adakan secara sederhana. Hito dan Melodi bersedia menikah saja itu sudah lebih dari cukup bagi Kakek Mahendra.


Melodi tak bisa memejamkan matanya malam ini, kenyataan dirinya harus menikah dengan seseorang yang ia anggap Kakak kandungnya, membuat perasaan Melodi dihantui kegelisahan, terlebih Melodi masih memikirkan nasib Feli yang belum ada kepastian.


Melodi mengusap liontin kalung setengah hati yang sedang ia kenakan, "Ibu, jika kau bersama ku, apa kau akan bahagia ketika melihat putri mu akan menikah?" Gumam Melodi.


Melodi tiba-tiba merasakan kerinduan yang teramat dalam kepada sosok Ibu yang bahkan wajahnya saja tidak ia ingat. Biasanya, di hari-hari bahagia menjelang pernikahan putrinya, seorang Ibu akan sangat antusias mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan.


Melodi memutuskan pergi ke dapur untuk mengisi botol minum nya yang kosong dengan air putih, ia melihat Bi Irah yang masih tampak sibuk mondar-mandir dan ikut mempersiapkan kebutuhan pernikahan.


"Bibi sedang apa? kenapa bekerja sampai larut malam seperti ini?" Tanya Melodi kepada Bi Irah.


Bi Irah menghentikan sejenak aktifitas nya dan menghampiri Melodi, "Nona, kenapa kau disini? apa kau membutuhkan sesuatu? Katakan saja pada Bibi! Bibi akan menyiapkannya untuk mu." Bi Irah balik bertanya tentang kedatangan Melodi kemudian menawarkan bantuannya jika ada yang gadis itu butuhkan.


Melodi tersenyum lembut, seketika ada rasa haru yang menyeruak di hati nya, ia baru saja membayangkan sosok Ibu kandung yang entah berada dimana, sedangkan di hadapannya, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah, tetapi bagi Melodi, Bi Irah lah yang selama ini menjadi Ibu bagi nya.


Melodi membuat Bi Irah terkejut karena tiba-tiba memeluknya, "Bi, terimakasih karena selama ini Bibi telah menjadi Ibu yang baik untuk ku." Ucap Melodi sambil memeluk Bi Irah.


Bi Irah kehabisan kata-kata untuk menjawab perkataan Melodi. Bi Irah tiba-tiba menangis karena haru, Melodi memang sudah Bi Irah anggap seperti putri kandungnya sendiri, tetapi mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Melodi, membuat Bi Irah menangis bahagia.


"Sama-sama Nona, sudah menjadi tugas bibi untuk merawat mu dengan baik." Bi Irah menjawab sambil terisak dan mengelus punggung Melodi dengan lembut.


Melodi dan Bi Irah berhenti menangis haru, Bi Irah meminta Melodi untuk beristirahat, tetapi di luar dugaan Bi Irah, Melodi malah mengajak Bi Irah untuk menemaninya tidur malam ini.

__ADS_1


"Bi, maukah Bibi tidur bersama ku malam ini?" Pinta Melodi.


Bi Irah ingin menolak karena merasa tidak pantas, tetapi wajah memelas Melodi akhirnya membuat Bi Irah menerima ajakan itu.


"Baik Nona, biarkan Bibi berganti pakaian dulu di kamar, dan Bibi akan menemani mu tidur malam ini." Bi Irah menjawab lembut sambil mengusap rambut Melodi.


Melodi tersenyum bahagia kemudian dirinya lebih dulu pergi ke kamar nya dan menunggu Bi Irah disana.


Pemandangan mengharukan antara Melodi dan Bi Irah di saksikan oleh Hito yang sejak tadi diam-diam berada di sekitar mereka. Hito merasa terenyuh dengan kedekatan keduanya, karena sebetulnya malam itu bukan hanya Melodi yang merindukan sosok seorang Ibu, melainkan juga Hito. Hito tidak pernah lagi merasakan belayan lembut Ibu nya sejak ia berusia sepuluh tahun, dimana ketika itu Ayah dan Ibu Hito harus meregang nyawa dalam peristiwa kecelakaan maut. Hito bisa mulai menerima takdirnya ketika Tuhan dengan baiknya menghadiahkan sosok Melodi untuk keluarga mereka. Melihat Melodi menangis sambil memeluk Bi Irah di malam menjelang pernikahan mereka, Hito merasa hal itu disebabkan karena Melodi menjalani pernikahan itu dengan terpaksa.


"Melodi, aku berjanji, suatu saat nanti kau akan mendapatkan kehidupan yang seharusnya kau dapatkan. Aku hanya ingin kau bahagia." Janji Hito pada dirinya sendiri.


***


Hito mendengar panggilan Rey dalam tidurnya, hanya saja ia berharap itu semua hanya mimpi. Karena usaha keras Rey, akhirnya Hito terbangun dan mulai membuka matanya, "Ternyata ini bukan mimpi." Lirih Hito.


"Mimpi kepala mu? Ayo bangun dan bersiaplah untuk acara pernikahan mu dengan Melodi!" Rey melempar tubuh Hito dengan bantal.


Seketika Hito mengingat wajah kesedihan Melodi tadi malam, ia menghela nafas dalam, "Melodi? Apa Melodi masih sedih seperti tadi malam?" Batin Hito.


Karena tak tahan mendengar Rey yang terus mengoceh, Hito memutuskan untuk menurut dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Seusai mandi, sudah ada beberapa orang perias pengantin yang sudah berada kamar Hito. Hito yang hanya mengenakan celana pendek tersentak kaget melihat orang-orang dilamarnya, terlebih lagi ada beberapa perias pengantin dan pelayan yang berjenis kelamin perempuan.


"Kalian keluarlah! aku bisa mengenakan pakaian ku sendiri!" Titah Hito kepada orang-orang di kamarnya.


Rey memperhatikan sekitarnya, kemudian memberi perintah kepada beberapa orang disana untuk keluar terlebih dahulu, "Tinggalkan pakaian itu disana, aku yang akan membantu nya berpakaian." Titah Rey.


Para pelayan itu mengikuti perintah Rey dan meletakkan baju pengantin yang akan di kenakan Hito di atas tempat tidur.


Hito mengenakan setelan jas tiga potong berwarna putih, baju tersebut di rancang khusus sesuai dengan ukuran tubuhnya, sehinga sangat pas ketika dikenakan dan membuat Hito tampak lebih gagah.


"Wow, tak ku sangka ternyata kau setampan ini, mungkin saat ini sedikit telah melewati ketampanan ku." Puji Rey ketika melihat penampilan Hito yang baru selesai mengenakan pakaian nya.


Hito tersenyum kecut, "Bahkan kau tetap bersikap sombong ketika kau sedang memuji orang lain." Sahut Hito.


Rey tertawa kecil karena merasa berhasil menggoda Hito. "Duduklah dulu, aku akan memanggil orang yang akan merias wajah mu, karena sepertinya kau membutuhkan sedikit bedak dan lipstik agar hari ini kau benar-benar terlihat lebih tampan dari ku." Rey kembali menggoda Hito, kemudian dirinya keluar kamar untuk meminta perias pengantin masuk dan merias Hito.


Hito berdecak kesal melihat tingkah Rey, "Anak itu kenapa bahagia sekali? sebenarnya siapa mau menikah?" Gumam Hito.


*Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2