Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Rencana yang gagal


__ADS_3

Feli membuka matanya ketika ia mendengar alarm dari jam tangan yang ia kenakan. Feli memutuskan untuk tetap menyetel alarm di jam nya karena kali ini ia yakin bahwa suster yang sudah ia beri obat tidur tidak akan terbangun dan menggagalkan rencana yang telah ia susun.


Dengan perlahan Feli bangun dari tempat tidurnya. Ketika Feli berhasil mengenakan sandalnya dan mulai melangkah, tiba-tiba Feli mendengar suara seorang laki-laki yang ia kenal, "Mau kemana?" Tanya laki-lakinya itu yang tak lain adalah Albert.


Feli menjerit kaget kemudian menyalakan lampu yang ada di meja kecil di samping tempat tidurnya.


"Albert? Sejak kapan kau disini?" Tanya Feli ketika melihat Albert yang tengah berbaring di ranjang yang sama dengan nya.


"Sejak aku melihat mu memberikan obat tidur kepada perawat itu." Jawab Albert.


Albert memang memasang kamera cctv di kamar itu dan selalu mengawasi Feli dimana pun ia berada. Oleh karena itu, Albert dapat mengetahui semua kegiatan yang ada di sekeliling rumah itu, termasuk di kamar Feli.


Feli merasa Albert telah mengetahui rencananya saat ini sedang memikirkan alasan untuk memberikan penjelasan.


"Albert, sebetulnya aku hanya kasian dengan perawat itu. Dia selalu terjaga karena harus mengawasi ku selama dua puluh empat jam. Aku memberikan obat tidur itu, agar dia bisa tidur dan beristirahat. Bukankah niat ku sungguh mulia?" Feli memberi alasan dengan membanggakan dirinya sendiri.


Albert berdecak kagum dengan keahlian Feli berbohong, "Benarkah seperti itu kejadiannya? Wah..wah. Sepertinya, aku tak salah memilih wanita untuk aku nikahi. Ternyata kau begitu murah hati, Feli."


Feli bisa tenang karena merasa ia telah berhasil mengelabui Albert, tetapi ada perkataan Albert yang tiba-tiba mengganjal pikirnya, "Menikah? Kau sungguh-sungguh akan menikahi ku?" Feli menjadi gusar, ia sungguh tak ingin menikah dengan Albert karena hanya Hito satu-satunya lelaki yang ia cintai dan Feli hanya ingin menikah dengan nya.


Albert tersenyum tipis, "Ya, tentu saja aku sungguh-sungguh akan menikahi mu! Apa kau lupa saat ini kau sedang mengandung anak ku?" Albert menunjuk perut Feli dengan matanya.

__ADS_1


Feli mengelus perutnya dan berkata, "Albert, anak ini memang darah daging mu. Tetapi aku tidak akan menuntut mu untuk menikahi ku dan kau bisa bebas melanjutkannya hidup mu bersama wanita yang benar-benar kau cintai. Bukan kah kau tidak benar-benar mencintai ku? Jadi untuk apa kau menikah dengan ku?" Feli berusaha membujuk Albert untuk mengurungkan niatnya.


Tanpa Feli sadari, ucapannya telah menyinggung Albert dan membuat Albert tiba-tiba tersulut kemarahan. Albert mencengkram kedua lengan Feli dan menatap Feli dengan mata merah menyala, "Apa kau ingin memisahkan ku dengan darah daging ku, hah? Jangan mimpi!" Albert mendorong Feli hingga Feli terjatuh. Untung saja tubuh Feli jatuh tepat di tempat tidur empuk, jika tidak, mungkin tindakan Albert itu bisa saja membahayakan kehamilannya.


Kemarahan Albert membuat Feli ketakutan dan akhirnya menangis. Melihat Feli menangis, Albert tiba-tiba teringat dengan sosok Melodi dan membuat Albert lebih mengontrol emosinya. Albert selalu tidak tahan jika melihat seorang wanita menangis, karena dengan melihat itu, Albert selalu membayangkan Melodi dan mendiang Ibu nya dalam posisi yang sama.


Albert mendekati Feli, "Maafkan aku, Feli. Aku tidak bermaksud kasar kepada mu. Kedepannya, jangan pernah memancing amarah ku, karena aku tidak selalu bisa mengontrol emosi ku. Apalagi semua hal yang menyangkut dengan darah daging ku. Aku telah kehilangan dua orang yang memiliki hubungan darah dengan ku selama bertahun-tahun, dan aku tidak ingin mengalami nya lagi."


Feli berhenti menangis, entah kenapa kali ini Feli merasakan ketulusan dari ucapan Albert.


'Lebih baik, aku mengikuti kemauannya untuk sementara waktu, sampai aku benar-benar menemukan cara untuk melepaskan diri dari nya.' Batin Feli yang masih tak ingin menyerah.


***


"Kak Rey, aku rasa lebih baik Kak Rey bergabung di kantor pemasaran rumah sakit saja. Bukankah dengan begitu Kak Rey benar-benar bisa membantu memajukan rumah sakit ini?" Melodi berusaha mengusir Rey secara halus agar tidak selalu membuntuti nya.


"Aku memang berencana mengunjungi kantor pemasaran rumah sakit ini. Tetapi bukan sekarang. Di hari pertama ku bekerja, aku hanya ingin membantu meringankan pekerjaan pemilik rumah sakit ini." Rey mencari alasan agar ia selalu bisa bersama-sama dengan Melodi.


Melodi berdecak kesal, "Tapi Kak Rey sudah membuntuti ku seharian penuh. Aku rasa, aku sudah cukup terbantu. Untuk itulah Kak Rey bisa mengerjakan pekerjaan lain."


Bukannya merasa tersindir, Rey malah tersenyum senang dan membanggakan dirinya, "Sungguh? Aku benar-benar tersanjung atas pujian mu karena telah berhasil meringankan pekerjaan mu." Rey tertawa lepas, seakan dirinya benar-benar telah berjasa.

__ADS_1


Ketika Melodi dan Rey masih melakukan percakapan, Hito datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


"Rey, jadi ini pekerjaan mu? Bukannya membantu, kau malah mengganggu Melodi seharian ini?" Hito yang sempat mendengar percakapan mereka mendengus kesal kepada Rey.


"Hito? untuk apa kau kesini? Bukankah letak rumah sakit dan jalan pulang dari perusahaan mu berlawanan arah? Kenapa kau tidak langsung pulang dan malah ke rumah sakit?" Rey bertanya maksud kedatangan Hito yang tiba-tiba.


Hito mencari alasan agar mereka tak berpikir dirinya sengaja datang hanya untuk mengawasi Rey dengan Melodi.


"Aku..aku sedang sakit. Aduh...!" Hito kemudian memegangi perutnya yang sebetulnya baik-baik saja.


Berbeda dengan Rey yang mengetahui tipuan Hito, Melodi merasa cemas dan segera menghampiri Hito. "Kakak? Kau tidak apa-apa? Perut mu bagian mana yang terasa sakit? Biar aku memeriksa nya!"


Hito menunjuk beberapa titik di perutnya ," Disini, eh disini..dan di bagian ini juga."


Rey berdecak kesal, "Cih! Dia benar-benar pintar mencari perhatian Melodi." Gumam Rey.


Tiba-tiba Rey memiliki ide dikepalanya dan melakukan hal yang sama dengan berpura-pura sakit seperti Hito.


"Aw...sakit!" Rey berteriak berusaha menarik perhatian Melodi.


Hito dan Melodi menoleh kearah Rey bersamaan. Mereka melihat Rey sedang memegangi kepalanya dan berkata, "Kepala ku? Kenapa kepalaku tiba-tiba terasa sakit dan seperti ingin pingsan?"

__ADS_1


Hito merapatkan giginya karena kesal dan ingin sekali menarik rambut Rey, hingga Rey benar-benar merasakan sakit kepala seperti sandiwara nya kali ini.


Melodi hendak menghampiri Rey, akan tetapi Hito menahan dan menarik tangannya.


__ADS_2