
Rey kembali ke kamar Hito bersama perias pengantin Pria yang baru saja ia panggil kembali. Rey mengernyitkan dahi ketika tak menemukan Hito di tempat asalnya tadi ketika mereka terakhir berbicara, "Dimana dia?" Gumam Rey sambil mencari Hito di sekeliling kamar, termasuk di kamar mandi dan di ruang ganti pakaian, tetapi Rey tak juga menemukan Hito.
Tanpa Rey sadari, Hito mengikutinya keluar kamar secara diam-diam. Mengingat kesedihan Melodi tadi malam, membuat Hito tidak bisa tenang dan berniat menemui Melodi di kamarnya.
Hito tiba di kamar Melodi ketika gadis itu baru selesai di rias, kemudian ia meminta semua orang yang berada di kamar untuk meninggalkan mereka berdua.
"Kakak, ada apa?" Melodi bertanya kepada Hito yang baru saja tiba.
Hito tidak langsung menjawab pertanyaan Melodi, melainkan terlebih dahulu memperhatikan penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Hito berdecak kagum melihat Melodi terlihat sangat cantik menggunakan gaun pernikahan berwarna putih yang selaras dengan pakaian yang tengah Hito kenakan.
"Lihatlah, adik ku sangat cantik hari ini." Hito memuji Melodi sambil berjalan mendekat.
Bukannya senang karena mendapat pujian dari Hito, Melodi tersenyum pahit mengingat hari ini ia dan Hito akan menjalani pernikahan yang tak lebih dari sandiwara. "Sudahlah Kakak, tidak perlu memuji ku, Apa Kakak ingin aku memuji Kakak juga sebagai pengantin pria paling tampan di muka bumi ini?"
Hito tersenyum kecil, setidaknya ia mengetahui kondisi Melodi sudah lebih baik dari tadi malam. Hito meraih kedua tangan Melodi kemudian berkata sambil menatap dalam mata Melodi, "Bersabarlah, ini tak akan lama. Kau akan bebas dan kembali mencari kebahagiaan mu setelah enam bulan berlalu. Anggap saja hari ini kita sedang bermain pengantin-pengantinan, bukankah ketika kecil kau senang sekali mengajak ku bermain seperti itu?" Hito berusaha meyakinkan Melodi untuk tidak perlu khawatir menghadapi pernikahan mereka hari ini.
Melodi tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya bersama Hito, ia menganggukkan kepalanya, "Setidaknya itu lebih baik. Oya, bagaimana dengan Feli? Apa Kakak sudah mendapatkan kabar dimana Feli sekarang?" Melodi kembali mengingat Feli dan menanyakan kabarnya, karena salah satu yang membuat Melodi begitu berat menjalani pernikahan nya dengan Hito adalah karena kondisi Feli yang membutuhkan pertanggungjawaban dari Hito, "Kakak, seharusnya Feli lah yang menikah dengan mu hari ini, bukan aku." Wajah Melodi kembali murung ketika memikirkan nasib Feli.
__ADS_1
Hito menghela nafas dalam, sebetulnya ia pun sama seperti Melodi, masih memikirkan bagaimana nasib Feli yang saat ini keberadaan nya saja di rahasiakan oleh Leo. Hito berusaha menyembunyikan kecemasan nya di hadapan Melodi kemudian menjawab, "Aku sudah berbicara dengan Paman Leo, kita akan bicarakan masalah Feli setelah pernikahan selesai, dan kita akan meminta Paman Leo untuk membawa kita menemui Feli." Jawab Hito berusaha menenangkan hati Melodi.
Melodi menjadi sedikit antusias, "Baiklah, berjanjilah untuk menemui Feli untuk menjelaskan semuanya." Ucap Melodi.
Hito dan Melodi menoleh bersamaan ketika mendengar seseorang memasuki kamar dan berteriak kepada mereka, "Hei.. sedang apa kalian berduaan di kamar ini? kalian belum menikah dan itu di larang!" Rey berteriak kesal ketika akhirnya ia menemukan orang yang ia cari sedang berduaan dengan Melodi di kamarnya.
"Dasar otak mesum, kau pikir apa yang akan kami lakukan? bahkan dari kecil aku seringkali menemui adik ku di kamar nya." Hito mengutuk Rey yang seenaknya menuduh mereka.
Rey tersenyum canggung, apalagi ketika melihat wajah Melodi yang tiba-tiba merona malu seperti tomat. Rey memperhatikan penampilan Melodi yang membuat matanya melebar. Jika saja pernikahan hari ini adalah pernikahan sungguhan, Rey akan menganggap Hito adalah orang yang beruntung karena memiliki pengantin wanita tercantik yang pernah ia lihat. Rey semakin mengagumi Melodi dan ingin batas waktu pernikahan Hito dan Melodi segera berakhir, agar suatu saat Melodi bisa menjadi pengantin nya. Rey tersadar dari lamunan nya kemudian berkata, "Maafkan aku, aku mencari mu karena riasan mu belum selesai. Acara pernikahan akan segera di mulai, dan Kakek Mahendra sudah tidak sabar menantikan kalian berdua keluar." Rey mengingatkan mereka berdua harus segera bersiap karena acara pernikahan akan segera di mulai.
Hito mengikuti arahan Rey dan akhirnya meninggalkan Melodi, setelah Hito berjalan beberapa langkah, ia baru menyadarinya Rey tetap berdiri pada posisinya sambil menatap Melodi.
"Bukankah kau meminta ku untuk buru-buru? lalu untuk apa kau tetap berdiri disitu?" Dengus kesal Hito.
"Sialan! Dia tak bisa memberikan aku waktu sedikit saja untuk menikmati pemandangan di depan ku." Batin Rey sambil berjalan mengikuti Hito.
***
__ADS_1
Albert berhasil membawa Feli ke Negara tempat ia tinggal. Tidak seperti janji Albert yang mengatakan akan mengenalkan Feli kepada keluarganya, akan tetapi Albert membawa dan menempatkan Feli di sebuah rumah mewah milik nya yang terletak di sebuah pulau dan jauh dari keramaian. Albert sengaja membawa Feli ketempat seperti itu karena khawatir Feli akan melarikan diri.
"Albert, kembalikan aku pada Ayah ku, ku mohon!" Feli yang tak mengetahui dimana Albert membawa nya, hanya bisa memohon untuk dilepaskan.
Albert mendekati Feli dan duduk di sebelahnya, Albert mendekatkan wajahnya dengan wajah Feli kmudian berkata, "Kau sedang mengandung anak ku, jadi disinilah tempat mu, Feli." Ucap Albert dengan lembut.
Feli yang sejak tadi menahan untuk tidak menangis akhirnya menangis sambil terus merengek untuk di lepaskan. Feli kehilangan kesabarannya ketika Albert sama sekali tak menghiraukan nya akhirnya berteriak histeris, "Persetan dengan anak ini! Lebih baik aku mati bersamanya dari pada harus dikurung seperti ini oleh mu!" Feli menangis berteriak sambil mencoba memukuli perutnya sendiri.
Albert mencoba menghentikan gerakan Feli, akan tetapi emosi Feli sulit untuk di redakan hingga akhirnya Albert terpaksa harus menampar gadis itu.
Feli tersentak kaget, rasa panas di pipinya tidak lebih sakit dari hati nya saat ini. Pandangan Feli menjadi gelap, ia mulai kehilangan kesadaran dan akhirnya jatuh pingsan.
Albert tersenyum pahit kemudian bergumam, "Kau memang sulit untuk dikendalikan, Feli. Untuk itu, aku memilih bersedia mengorbankan seluruh hidup ku untuk mengatasi mu, dari pada kau harus menjadi duri dalam kehidupan Adik ku."
Albert memejamkan matanya, terbayang wajah Melodi yang tengah tersenyum lembut seperti mengucapkan terimakasih atas semua pengorbanan yang akan ia lakukan. Albert berpikir setidaknya apa yang ia lakukan saat ini, bisa menebus kekurangannya selama ini yang tidak bisa menjaga Melodi layaknya sebagai seorang kakak yang baik.
"Hari ini kau akan menikah, dan aku harap semoga kau berbahagia, Caren!" Batin Albert.
__ADS_1
*Bersambung...