
Hito sedang mengerjakan beberapa pekerjaan yang selama beberapa hari ini tertunda karena ia ikut berjaga di rumah sakit. Tepat jam makan siang, Feli mendatangi nya ke kantor untuk mengajak Hito makan siang di luar seperti biasanya.
"Sayang, beberapa hari ini kau sibuk di rumah sakit dan kita tidak pernah lagi makan siang bersama. Ayolah, aku belum makan dari pagi karena tidak berselera, tetapi dengan membayangkan makan siang bersama mu, aku sungguh menjadi sangat kelaparan dan ingin sekali makan." Bujuk Feli dengan gayanya yang manja.
Hito hendak menerima ajakan Feli, karena rasa bersalah nya terhadap gadis itu, Hito pikir tidak ada salahnya jika hanya menemani Feli makan siang. Beda hal nya jika Feli mengajaknya ke Kelab, Hito akan langsung menolaknya, karena pengalaman terakhir membuat Hito sadar dan tak mau lagi pergi ketempat itu.
Kakek terkena serangan jantung karena tidak suka aku mabuk-mabukan di tempat itu. Aku akan berhenti mabuk demi Kakek.
"Baiklah, aku akan menemanimu makan siang, tapi di restoran yang berada di lingkungan perusahaan ini. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku tidak bisa berlama-lama." Sahut Hito.
Feli menganggukkan kepalanya bersemangat, meskipun makan siang di sekitar sini, menurut Feli, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Mereka berjalan beriringan menuju restoran yang bisa di jangkau dengan berjalan kaki, akan tetapi, baru saja mereka melewati pintu utama, ponsel Hito berdering menandakan panggilan masuk.
Feli memperhatikan ekspresi Hito ketika menerima panggilan tersebut, mata Hito tiba-tiba berbinar setelah mendengarkan pemberitahuan dari seseorang yang menelpon.
Kenapa Hito senang sekali? sebenarnya siapa yang menelpon?
Feli mengerutkan dahi, mencoba menebak siapa yang menelepon Hito dan memberikan kabar baik kepadanya.
"Feli, Melodi mengabari ku, Kakek telah siuman, aku akan ke rumah sakit, maafkan aku tidak bisa menemanimu makan siang hari ini!" Hito menjelaskan kepada Feli kemudian ia lari terbirit-birit menuju parkiran mobil tanpa mempedulikan ekspresi Feli yang masih berdiri kaku menahan kekesalannya.
__ADS_1
Melodi? kenapa Melodi yang menelpon? apa itu berarti gadis itu ada disini?
Feli berdecak kesal dan hanya bisa menatap punggung Hito yang semakin lama semakin menjauh dari posisi nya berdiri.
***
Hito tiba di rumah sakit dan membuka pintu ruang perawatan Kakek Mahendra dengan perlahan. Kakek Mahendra terlihat lebih baik saat ini, seluruh alat kesehatan yang menempel di tubuh nya sudah di lepas, hanya selang infus yang masih terpasang di salah satu punggung tangan nya. Hito mengintip dari pintu yang sedikit terbuka, ia menyaksikan begitu telaten nya Melodi merawat Kakek Mahendra, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan kepada Kakek Mahendra, bahkan ketika Melodi tidak bersama mereka, bisa di bilang, tidak ada yang merawat Kakek kecuali para pelayan di rumahnya.
"Jika aku perhatikan, Kakek nampak sudah berumur sekali, kerutan di wajahnya semakin banyak. Kakek merawat ku sejak kecil, tapi apa yang sudah aku lakukan untuk Kekek? aku malah menyakitinya dan membuat nya sakit" Lirih Hito sambil memperhatikan Kakek Mahendra yang penampilannya semakin tua di matanya.
"Kakek, jika Kakek makan banyak seperti ini, aku yakin Kakek bisa cepat pulang." Bujuk Melodi sambil menyuapi Kakek Mahendra.
Mahendra tersenyum lembut, mengusap kepala Melodi, "Karena keberadaan mu lah, Kakek menjadi sangat sehat, tentu saja Kakek akan segera pulang." Sahut Mahendra.
"Kakak? kau disini?" Tanya Melodi smbil berdiri dan berniat memberikan kursi nya kepada Hito.
"Duduklah, aku bisa berdiri disini, Kakek lebih membutuhkan mu di sisinya." Hito tersenyum lembut kepada Melodi.
"Ka..kek...maafkan a...ku!" Hito terbata-bata meminta maaf kepada Kakek Mahedra, akan tetapi Kakek Mahendra memberikan isyarat kepada Hito untuk tidak membahas kejadian yang menyebabkan ia masuk rumah sakit di depan Melodi.
Melodi mengerutkan kening, berusaha memahami apa yang disampaikan Hito.
__ADS_1
Belum sempat ia bertanya, Kakek Mahendra segera menimpali, "Ya tentu saja aku memaafkan cucu kandungku yang sibuk bekerja dan tidak bisa menemaniku setiap saat ketika aku sakit."
Melodi membulatkan mulutnya hingga membentuk huruf O, "oo..Kakak, tidak perlu merasa bersalah dan minta maaf! seharusnya aku yang minta maaf karena aku berada jauh dari Kakek, sehingga tidak bisa merawatnya", disela ucapannya tiba-tiba Melodi mengingat sesuatu yang belum sempat ia katakan, "Ah..aku hampir lupa memberi tahu kalian, aku lulus dengan predikat cumlaude, dan aku akan akan mendapatkan gelar dokter, dan itu artinya, aku akan kembali tinggal bersama kalian." Melodi memberitahukan pencapaian nya dengan bersemangat kepada Hito dan Mahendra.
"Benarah?" Kakek Mahendra dan Hito bertanya secara bersamaan, membuat Melodi terkejut dan segera menganggukkan kepalanya.
Hito dan Mahendra tampak bahagia, mereka memberikan selamat dan memeluk Melodi secara bergantian.
Ketika Hito memeluk Melodi, entah kenapa ada kecanggungan diantara mereka berdua, pipi Melodi merona, hal itu membuat Hito tidak bisa menahan diri untuk menggoda nya.
"Kakek, lihatlah gadis kecil kita sudah dewasa dan menjadi dokter sekarang, tingginya sudah mendekati tinggi badan ku, dan sepertinya sebentar lagi dia akan memiliki kekasih, atau mungkin sudah ada tapi kita tidak mengetahui nya?" Hito memandang lekat mata Melodi dan menunggu reaksinya.
Melodi malah mendengus kesal, dan menghentakkan kakinya kemudian berbalik dan berjalan keluar melewati pintu.
Mahendra dan Hito terkekeh melihat tingkah Melodi yang selalu menggemaskan seperti dulu.
Hito menatap Mahedra dan mohon izin untuk menyusul Melodi dan minta maaf karena telah menggodanya, Kakek Mahendra mengizinkan dengan anggukan tipis.
Aku akan pergi dengan tenang jika sudah memastikan mereka berdua akan selalu seperti ini. Selalu menyayangi satu sama lain.
Tidak ada pasangan yang lebih cocok untuk keduanya selain mereka sendiri. Bagaimanapun, aku harus dapat menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1
Mahendra sejak lama memiliki niat dan tekad dalam hatinya untuk menyatukan Hito dan Melodi sebagai sepasang suami istri. Dimata Mahendra, mereka berdua adalah pasangan serasi yang bisa saling melengkapi satu sama lain. Kasih sayang mereka berdua begitu nyata, dan Mahendra harus memastikan kasih sayang itu berubah menjadi cinta yang akan menyuburkan pernikahan mereka kelak.
Bersambung...