Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Bertanggung Jawab.


__ADS_3

"Melodi...!" Hito segera memanggil Melodi ketika dirinya melihat Melodi tengah berjalan bersama seorang pria yang masih ia ingat dan pernah ditemuinya ketika di Prancis.


"Sedang apa laki-laki asing itu ditempat ini? dan sejak kapan mereka berdua saling bertemu?" Batin Hito sambil berjalan menuju keduanya.


"Kakak? Dia Albert teman semasa kuliah ku, dan sebetulnya kalian pernah bertemu, apa Kakak mengingat nya?" Melodi segera mengenalkan Albert kepada Hito.


"Tidak, aku tidak mengingat orang asing itu, lagi pula untuk apa aku mengingatnya?" Jawab Hito berbohong dan dengan nada ketus.


"Ah brother Hito, meskipun kau sudah melupakan ku, akan tetapi aku masih mengingat mu dengan baik. Apa kabar?" Sapa Albert.


Hito masih memasang wajah tidak senang, "Sudahlah tidak perlu berbasa-basi lebih lama. Bukankah kau akan pulang? pulanglah! aku datang untuk menjemput Melodi?" Tanpa menunggu tanggapan Albert, Hito sehera menarik tangan Melodi dan mengajaknya masuk kedalam mobil nya.


"Kakak, Tunggu!" Melodi menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Hito.


"Ada apa? apa kau ingin pulang bersama nya?" Dengus kesal Hito.


"Tidak, aku hanya ingin pergi ke ruangan ku untuk mengambil tas. Kakak tunggulah disini!" Jelas Melodi yang dijawab anggukkan oleh Hito.


***


Feli menghubungi Albert dan membuat janji untuk bertemu di Apartemen milik Albert. Meskipun Albert mencintai Melodi, tetapi tidak dapat di pungkiri, Albert merasa pertemuannya dengan Feli cukup menyenangkan. Terlebih lagi mereka telah menghabiskan malam bersama tadi malam, masih teringat jelas di benak Albert bagaimana kenikmatan yang diperolehnya ketika bercinta dengan Feli.


"Nona Feli ingin menemui ku di Apartemen tempat kami bercinta tadi malam? apa mungkin gadis itu pun merasa ketagihan?" Gumam Albert sambil tersenyum nakal.


Albert beranggapan tak ada salah nya jika ia memiliki cinta satu malam dengan seorang gadis manis seperti Feli, karena untuk mencintai wanita lain tidak mungkin Albert lakukan, selama hati nya masih sangat mencintai dan mengharapkan Melodi.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Feli telah lebih dulu sampai sesaat sebelum Albert tiba di Apartemennya, dikarenakan kunci Apartemen Albert masih ada pada Feli.


"Hallo Nona Feli, apa kau menunggu ku dari tadi?" Sapa Albert ketika mendapati Feli sudah berada di dalam Apartemen nya.


Feli merasa gugup, ia teringat kembali kejadian sebelumnya bersama Albert.


"Tidak Feli, kau harus tenang, tinggal selangkah lagi dan kau akan mendapatkan kebahagiaan mu!" Batin Feli berusaha mengendalikan perasaan nya.


"Tidak, aku baru saja tiba sesaat sebelum kau tiba disini." Akhirnya Feli berhasil menjawab Albert.


Mendengar ucapan yang terkesan menjijikan di telinga Feli, ia hanya bisa mengepalkan tangannya berusaha menahan untuk tidak menampar kembali mulut laki-laki yang ia anggap sudah melecehkan nya itu.


Lagi-lagi Feli berusaha menenangkan diri, ia menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata, "Aku ingin meminta tanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan terhadap ku!" Ucap Feli.


Dahi Albert mengerut, "Tanggung jawab? apa maksudmu aku harus menikah dengan mu? Ayolah Nona Feli, yang benar saha jika itu permintaan mu?" Sahut Albert.


"Tidak..tidak, bukan itu! Aku tidak ingin menikah dengan mu, lagi pula aku memiliki kekasih dan aku sangat mencintainya." Sangkal Feli.


Albert mengingat ucapan Feli ketika dirinya mabuk dan menggoda Albert hingga kejadian percintaan mereka, kemudian mencoba menebak, "Apa kekasih mu itu yang kau panggil sayang, dan tertidur ketika kalian menghabiskan malam bersama? atau mungkin, kau menjebaknya agar tertidur tak sadarkan diri dan mengatakan kekasih mu itu telah menodai mu dan kau minta di nikahi?"


Kali ini tebakan Albert benar dan membuat Feli malu sekaligus marah.


"Sebetulnya apa yang aku katakan malam itu? kenapa aku bodoh sekali membiarkan orang asing ini mengetahui semua masalah ku?" Batin Feli, mengutuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku ingin kau bertanggung jawab dengan cara lain! bukan dengan menikah apalagi memeras mu, aku hanya ingin kau melakukan satu hal untuk ku, Albert!" Ujar Feli.


Albert mengerutkan dahi nya, "Kenapa aku harus bertanggung jawab? bukankah jelas-jelas malam itu kau yang menggoda ku hingga kita melakukannya tanpa paksaan satu sama lain? Tapi, karena hari ini perasaan ku sedang bahagia, aku akan mendengarkan permintaan mu terlebih dahulu dan akan mempertimbangkan nya. Jadi, katakanlah apa mau mu!" Tanya Albert kemudian.


Feli mencoba menyampaikan keinginannya, akan tetapi dirinya tetap saja malu jika harus mengakui ia telah menjebak kekasihnya sendiri dengan cara yang memalukan.


"Ayolah Feli, kau hanya perlu mengatakan nya. Lagi pula dia orang asing dan tak lama lagi akan kembali ke negara asal nya. Jadi kenapa kau harus malu?" Batin Feli.


"A..aku.., aku ingin kau membantu ku membuatkan surat hasil visum, bahwa aku sudah tidak gadis lagi! Bukankah kau seorang dokter? Kau bilang tujuan mu kesini untuk menangani pekerjaan bukan? dan aku yakin, kau pasti mengenal banyak dokter di negara ini." Akhirnya Feli berhasil mengatakan keinginan nya.


Albert tak bisa menahan tawa nya, "Hahaha...jadi benar dugaan ku? kau menjebak kekasih mu dengan tuduhan dia telah meniduri mu? Aku menjadi penasaran, siapa laki-laki bodoh yang menolak tubuh mu yang masih perawan itu, Nona Feli?" Ujar Albert.


Merasa dirinya di tertawakan, Feli menjadi geram. Feli berdecak kesal dan hampir mengumpat Albert, tetapi Albert berkata lagi, "Tapi, aku rasa itu hal yang sangat mudah untuk aku lakukan, hanya saja..."


"Hanya saja apa?" Potong Feli.


"Hanya saja aku aku tak akan melakukannya untuk bertanggung jawab sepeti yang kau minta, karena aku tak merasa melakukan suatu kesalahan kepada mu, Nona! Kecuali,..." Albert menahan kalimat nya, membuat Feli mengerutkan dahi dan kemudian bertanya, "Kecuali apa? kenapa kau ini sepertinya senang sekali main tebak-tebakan?" Dengus kesal Feli.


"Kecuali jika kita burter dan saling menguntungkan satu sama lain!" Jelas Albert.


Feli berdecak kesal, tapi dirinya tak urung menanyakan apa yang Albert inginkan.


"Katakanlah, apa yang kau inginkan agar aku mendapatkan surat itu!" Tanya Feli.


Albert menjawab, "Baiklah, karena kau memaksa ku, aku akan mengatakan keinginan ku. Aku ingin kita mengulang malam itu, malam dimana kau menyerahkan tubuh mu dengan sukarela kepada ku. Aku tidak terbiasa bercinta dengan seorang wanita yang tidak menginginkan ku. Jadi, jika kau melakukannya setengah hati, aku sarankan kau lebih baik menolak nya, dan lupakan saja surat itu!"


Feli berdecak kesal, "Apa laki-laki itu benar-benar gila? mana mungkin aku harus mengulang sesuatu yang aku sesali, dan bagaimana bisa aku harus melakukannya dengan suka rela?" Batin Feli.


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2