Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Kakak Posesif


__ADS_3

Rey masih di rumah kediaman Mahendra hingga larut malam, Kakek Mahendra banyak bercerita kepada Rey tentang Melodi, membuat gadis itu tersipu malu, "Kakek, karena cerita Kakek, aku semakin kagum kepada Melodi. Apakah saat ini Melodi sudah memiliki kekasih?" Pertanyaan yang mengejutkan terlontar dari mulut Rey, membuat Kakek Mahendra yang tengah minum tersedak dan batuk-batuk.


"Kakek, kau tidak apa-apa?" Melodi segera menghampiri Mahendra dan mengusap lembut punggung Kakek Mahendra.


Mahendra mengangguk tipis memberi isyarat keadaannya baik-baik saja.


Hito berdiri dan berusaha agar Kakek Mahendra tidak perlu menjawab pertanyaan Rey. "Rey, sudah larut malam, sebaiknya kau pulang ke Apartemen mu!" Titah Hito.


"Ah, aku sampai lupa mengatakan jika selama aku di negara ini, aku akan menginap disini. Kalian tidak keberatan bukan?" Jawab Rey.


Hito hendak menolak, akan tetapi Kakek Mahendra mendahului nya, "Tentu saja, kau cucu ku juga. Tinggalah disini kapan pun kau mau!" Jawab Kakek Mahendra membuat Hito berdecak kesal.


Hito tidak membenci Rey, hanya saja yang Hito takutkan Rey akan mengetahui rencana perjodohan nya bersama Melodi. Hito ingin fokus mencari cara bersama Melodi untuk menghentikan perjodohan itu.


"Terimakasih Kakek. Melodi, bisa kah kau menunjukkan dimana kamar ku?" Rey meminta Melodi untuk menunjukkan kamarnya, dan gadis itu sama sekali tidak merasa keberatan, akan tetapi Hito lah yang tampaknya keberatan.


"Kenapa harus Melodi yang mengantar mu? aku akan mengantar mu karena Melodi akan mengantarkan Kakek ke kamarnya seperti biasa." Ujar Hito.


Rey merasa aneh, kenapa Hito begitu sensitif jika ia mencoba mendekati Melodi, "Apa Hito betul-betul seorang Kakak yang posesif terhadap adik nya?" Batin Rey.


Tanpa ketiganya sadari ada senyum kecil merekah di bibir Kakek Mahendra, entah apa yang Kakek Mahendra pikirkan, ia malah meminta Melodi mengikuti permintaan Rey, "Melo, antarlah Rey, dia Kakak mu juga. Aku bisa pergi ke kamar ku sendiri." Ujar Mahendra.


Melodi yang tak pernah menolak permintaan Kakek Mahendra kemudian bersedia menemani Rey, "Kak Rey, ayo ikut! aku akan mengantarmu ke kamar mu." Ucap Melodi.


"Kak Hito, bisakah sekali ini kau yang mengantarkan Kakek ke kamarnya, aku akan menyusul setelah mengantar Kak Rey, untuk memastikan Kakek minum obat nya malam ini." Ucap Melodi kemudian.


Hito hanya mendengus kesal, tetapi tak urung Hito memapah Kakek Mahendra dan mengantar ke kamar nya sesuai permintaan Melodi.


***

__ADS_1


Albert meminta Roy, anak buahnya untuk membicarakan sesuatu yang penting.


"Selamat malam Tuan." Sapa Roy


"Roy, aku menemukan kalung peninggalan ibu untuk adik ku. Anehnya kalung itu ada pada Melodi. Aku ingin kau menyelidikinya dan mencari tahu bagaimana bisa kalung itu ada padanya, dan cari tahu juga tentang asal usul Melodi, karena menurut kabar yang aku dapatkan, Melodi bukanlah keturunan keluarga Kakek nya. Seseorang menyebutkannya anak pungut." Raut wajah Albert seketika menjadi murung karena memikirkan adik kandung nya dan juga rumor tentang status Melodi.


"Baik Tuan, saya akan melaksanakan perintah Anda. Apa ada lagi yang Tuan inginkan?" Tanya Roy kemudian.


Albert menggelengkan kepala nya pelan, "Tidak, kau boleh pulang!" Jawab Albert.


Selama hidupnya, Albert tidak pernah merasakan kegundahan seperti malam ini, entah apa yang ia rasakan, Rey menghela mafas panjang, "Kenapa aku merasa takut?" Gumam Albert.


Albert mengambil sebuah kotak kecil di tas nya, benda yang yang selalu ia bawa kemana pun, kotak itu berisi kalung yang sama dengan kalung milik Melodi.


Albert mengenakan kalung itu, mengusap liontin berbentuk setengah hati itu, "Ibu, aku merindukan mu!" Air mata Albert menetes karena kali ini ia benar-benar merasakan kerinduan yang amat dalam kepada mendiang ibu nya.


****


Kakek Mahendra menggeleng menyaksikan tingkah Hito, "Sudahlah, biarkan saja mereka. Mungkin mereka sedang mengobrol untuk saling mengenal lebih jauh." Ucap Kakek Mahendra membuat Hito semakin berdecak kesal.


"Aku akan menyusulnya Kek." Hito hendak menyusul Melodi, akan tetapi beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka dan tampak Melodi yang baru saja tiba dan berpapasan di depan pintu.


"Kakak, kau mau kemana? kenapa kau meninggalkan Kakek sebelum aku datang?" Tanya Melodi.


"Kau lama sekali, aku memiliki pekerjaan dan hendak ke kamar ku. Apa yang Rey lakukan?" Tiba-tiba Hito bertanya hal aneh dan membuat Melodi mengerutkan dahi nya, "Apa maksud Kakak? aku hanya mengantar Kak Rey, dan kami berbincang beberapa saat. Lagi pula, apa salahnya jika Kakak menemani Kakek sebentar?" Jawab Melodi.


Kakek Mahendra ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat keributan kecil di depannya, tetapi Kakek Mahendra menahannya dan kemudian melerai mereka, "Sudahlah Melodi, biarkan Kakak mu itu pergi. Pekerjaan nya memang selalu lebih penting daripada aku?" Ucap Mahendra.


"Bukan begitu Kek..Ah...sudahlah aku akan ke kamar ku. Selamat malam Kakek!" Hito tak mengerti kenapa malam ini ia begitu kesal, Hito akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Hito hendak ke kamar nya, akan tetapi dalam perjalanan ia melihat pintu kamar Rey masih sedikit terbuka dan lampu kamar dalam keadaan menyala, menandakan penghuninya masih terjaga. Hito menghampiri kamar tersebut dan kehadiran Rey yang baru saja keluar kamar cukup mengejutkan keduanya.


"Hito?"


"Rey? kau mau kemana?" Tanya Hito kemudian.


"A-ku, eh...aku hanya ingin mengisi air di dapur, biasanya pada malam hari aku selalu terbangun dan butuh minum." Jawab Rey sedikit tergagap.


Mendengar jawaban Rey, Hito memperhatikan tangan ke Rey yang tampak tak membawa apapun, hal itu membuat Rey tertawa canggung dan akhirnya mengatakan yang sebenarnya, "Hemh, aku memang tidak bisa berbohong kepada sahabat kecilku ini. Sebetulnya aku hanya ingin mengetahui dimana letak kamar Melodi." Ucap Rey.


Hito mengernyitkan dahi kemudian bertanya, "Untuk apa? untuk apa kau mengetahui kamar Melodi? ingat Rey, kau jangan macam-macam, meskipun kita sudah kenal baik, tapi aku tidak akan pernah memaafkan mu jika kau bertindak bodoh!" Ancam Hito.


"Hahaha...rupanya aku salah berucap lagi. Ayolah Hito, bukankah kau tahu, aku ini lelaki baik-baik? aku tidak akan berbuat macam-macam, aku hanya ingin mengetahui letak kamar Melodi, itu saja." Jelas Rey.


"Selama Kakek sakit, Melodi selalu tidur bersama Kakek. Jika kau ingin tahu kamar Kakek, aku akan mengantarmu." Ucap Hito.


Rey tersenyum canggung, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian Rey berkata, "Tidak perlu, aku hanya tidak bisa tidur. Bagaimana jika kau menemaniku malam ini, kita bisa bermain game bersama seperti dulu." Ajak Rey.

__ADS_1


Hito memang cukup merindukan saat-saat mereka berdua bermain game bersama, akhir nya Hito menerima ajakan Rey.


Bersambung...


__ADS_2