Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Saran Rey


__ADS_3

Rey menyambut kedatangan Hito dan Melodi yang baru saja tiba di rumah, Rey mengerutkan dahi ketika melihat wajah keduanya yang tampak kusut.


Melodi sempat meyapa Rey sebelum dirinya memutuskan pergi ke kamar, "Kak Rey, aku akan ke kamar ku untuk mandi." Sapa Melodi.


Rey mengangguk sambil tersenyum lembut, "Baiklah, berendamlah air hangat supaya lebih segar." Sahut Rey.


Melodi mengangguk pelan ,ia rasa berendam air hangat adalah ide yang baik untuk saat ini. Setidaknya ia bisa melepaskan semua penat nya karena harus memikirkan semua masalahnya hari ini.


Setelah jarak Melodi semakin jauh, Rey menarik tangan Hito dan bertanya, "Hei, ada apa ini? apa kalian bertengkar?" Tanya Rey.


Hito merasa enggan menjawab pertanyaan Rey, ia hanya menjawab dengan menaikan kedua bahunya, kemudian ikut meninggalkan Rey dan menuju ke kamarnya.


Rey berdecak kesal, "Pernikahan hanya tinggal tiga hari lagi, dan mereka tampak tidak akur. Apa yang sebenarnya terjadi? Tapi ini bagus, karena dengan demikian, aku bisa mendekati Melodi dan mencuri perhatiannya." Gumam Rey.


.


.


.


.


.


Jam makan malam telah tiba, Rey hanya berdua dengan Kakek Mahendra di meja makan, Hito dan Melodi belum menampakkan diri sama sekali sejak mereka kembali tadi sore.


"Kakek, bolehkah aku menemui Hito di kamarnya? Aku perhatikan Hito dan Melodi sangat kelelahan ketika pulang kerja tadi, mungkin saja mereka tak sengaja tertidur dan melupakan waktu makan malam." Ucap Rey.


Kakek Mahendra mengangguk setuju, "Pergilah! Biarkan Bi Irah yang menjemput Melodi ke kamarnya." Sahut Kakek Mahendra.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Rey mengetuk pintu kamar Hito dan tak lama kemudian Hito menjawab nya dengan bertanya siapa yang datang, "Siapa?" Teriak Hito.


"Aku Rey, biarkan aku masuk!" Seru Rey di balik pintu.


Selang beberapa saat, Hito membukakan pintu untuk Rey dan bertanya, "Ada apa? aku sedang ada pekerjaan. Katakan pada Kakek, aku akan makan di kamar."


Rey memperhatikan di sekeliling kamar Hito, meja kerja Hito tampak rapi, dan itu berarti saat ini Hito tengah berbohong dan tidak sedang bekerja.


Rey menerobos masuk dan langsung duduk di tempat tidur Hito. "Kau tidak perlu membohongi ku. Malam ini bukan hanya kau yang tak turun untuk makan malam, tapi Melodi juga tak keluar dari kamarnya sejak tadi sore."


Tiba-tiba Hito hendak keluar, namun tentu saja Rey menghentikan nya.


"Kau mau kemana?" Tanya Rey.


"Menemui Melodi di kamarnya dan mengajaknya makan malam, dia tak sempat makan tadi siang, dia bisa sakit jika malam ini tak makan juga." Jawab Hito.


"Tidak perlu, Kakek sudah meminta Bi Irah menjemputnya. Apa kau ingin tetap di kamar mu? Jika benar, ceritakan kepada ku apa yang sebenarnya terjadi, bukankah aku ini jenius dalam menangani semua persoalan?" Ucap Rey yang masih berusaha mengorek informasi.


Hito menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, ia mengusap kasar wajahnya.


Sepertinya tak ada salahnya jika ia menceritakan semuanya kepada Rey, dan Rey bisa saja benar-benar dapat membantu.

__ADS_1


Hito menghela nafas panjang sebelum akhirnya bercerita. "Rey, Feli hamil." Ucap Hito.


"What?" Rey cukup terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar, " Feli, kekasih mu? dia hamil? dan itu berarti dia hamil anak mu?" Rey bertanya untuk memastikan.


Hito menggelengkan kepalanya, "Entahlah, aku benar-benar masih tidak percaya jika anak yang di kandung Feli adalah anak ku. Tetapi, jika itu benar, lalu bagaimana aku menjelaskannya kepada Kakek?" Hito tampak semakin frustasi.


"Apa Melodi tahu?" Tanya Rey kemudian di balas anggukkan oleh Hito.


"Ya Tuhan...!!" Rey menepuk keras keningnya sendiri.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? apa kau berniat membatalkan pernikahan mu dengan Melodi untuk mempertanggungjawabkan semua itu?" Tanya Rey lagi.


"Aku sudah bilang jika aku tidak yakin itu adalah anak ku. Aku kehilangan kesadaran ku malam itu, apa mungkin seseorang yang tidak mengingat apa-apa bisa bercinta dengan seorang wanita?" Hito tetap pada pendiriannya, "Lagi pula, jika itu memang anak ku? apa mungkin Kakek akan menerimanya dan semua akan berjakan baik-baik saja? Bagaimana jika Kakek mengalami serangan jantung yang lebih parah?" Hito semakin frustasi membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Apa kau sudah menemui Feli dan berbicara dengan nya?" Tanya Rey.


Hito menggekan kepalanya, "Belum."


Rey bangkit dari duduknya, ia tampak berfikir sambil mondar-mandir di hadapan Hito.


"Berhentilah mondar-mandir di hadapan ku! kau membuat kepalaku semakin ingin pecah!" Seru Hito.


Rey mencoba bersikap tenang dan kembali duduk, beberapa saat kemudian, barulah Rey mengatakan usulannya.


"Hito, terlepas benar atau tidak anak yang dikandung Feli adalah anak mu, temui saja dia. Katakan padanya dan minta dia menunggu mu selama enam bulan. Bukankah kau berencana menjalankan pernikahan mu dengan Melodi hanya dalam waktu enam bulan saja? Setelah enam bulan berlalu, barulah kau memikirkan kebahagiaan mu dengan Feli."


"Kebahagiaan kepala mu?" Hito memukul kepala Rey, "Dia memang kekasihku, tetapi aku tidak yakin akan bahagia jika menikah dengan nya." Jelas Hito.


Rey semakin bingung karena Hito berbicara seperti ia tak pernah mencintai Feli kekasihnya. Rey memilih tidak membahas perasaan Hito terhadap Feli lebih jauh, yang Rey pikiran, bagaimana masalah Feli tak akan menggangu rencana mereka yang tinggal selangkah lagi.


"Baiklah, aku kira membuat Feli mengerti adalah satu-satu nya jalan keluar yang ada. Terserah kau mau menikahinya atau tidak di kemudian hari. Yang terpenting saat ini adalah pernikahan itu tetap terjadi dan Kakek akan baik-baik saja." Ujar Rey.

__ADS_1


Hito berpikir keras, mempertimbangkan saran dari Rey, "Baiklah, aku akan menerima saran mu, Rey. Pergilah! pastikan malam ini Melodi menghabiskan makan malam nya!" Hito memilih merenungkan nya sendiri, ia meminta Rey meninggalkannya dan kembali untuk makan malam bersama Melodi dan Kakek Mahendra.


***Bersambung....


__ADS_2