
Melihat Feli hanya terdiam dan mematung, Albert beranggapan Feli telah menerima tawarannya. Albert mendekati Feli dan kini posisinya sudah sangat dekat. Albert hendak mendaratkan kecupan di leher jenjang Feli, akan tetapi Feli yang baru saja tersadar dari lamunannya, spontan mendorong Albert cukup keras.
"Hentikan! jangan coba-coba menyentuhku?" Bentak Feli.
Albert mengerutkan dahi kemudian bertanya, "Apa ini berarti kau menolak penawaran ku dan melupakan surat bukti visum yang kau inginkan?"
Sempat terbesit keraguan lagi di hati Feli, ia memang sangat menginginkan surat itu, tapi bukan berarti dirinya harus merelakan tubuhnya untuk yang kedua kali kepada laki-laki asing di hadapannya.
"Kau laki-laki tidak tau malu! lupakan saja karena aku tidak rela menukar apapun dengan tubuh ku!" Umpat Feli kepada Albert, Feli kemudian meninggalkan Albert dan pergi dari Apartemen itu. Albert sama sekali tak menyangka bahwa Feli yang licik ternyata bisa menolak penawaran nya itu.
Albert tersenyum penuh makna, ia bisa melihat masih ada sisi baik dari seorang Feli yang terlihat licik, Albert beranggapan, Feli bersikap demikian karena ia sangat mencintai kekasihnya.
"Nona Feli, seandainya saja tak ada wanita lain di hati ku, maka akan ku pastikan, kaulah wanita yang berhak mendampingi ku." Gumam Albert setelah kepergian Feli.
Albert menjadi teringat dan sangat merindukan Melodi, wanita yang ia cintai dan satu-satu wanita yang ingin Albert miliki di dunia ini. Meskipun sampai saat ini cinta nya belum dapat terbalaskan, akan tetapi Albert tidak akan menyerah dan akan memanfaatkan waktunya selama di negara ini dengan baik, dengan harapan ia bisa pulang ke negaranya dengan membawa Melodi sebagai istrinya.
Albert tersadar dari lamunannya tentang Melodi ketika seseorang menekan bell. Albert membukakan pintu untuk tamu yang tak lain adalah Roy, anak buah Albert yang di tugaskan untuk menyelidiki jejak penculikan adik nya yang sedang ia cari.
"Selamat Malam, Tuan." Sapa Anak buah Albert.
Albert mengangguk, "Apa ada kabar terbaru?" Tanya Albert kepada anak buahnya.
"Belum ada perkembangan terbaru, tetapi sudah bisa di pastikan, penculik itu memang membawa adik Anda ke Negaranya ini." Jawab Roy.
"Benarkah? lalu apa yang membuat mu yakin? apa ada bukti yang berhasil kau dapatkan?" Tanya Albert kemudian.
"Saya telah menemukan kerabat dari Jeco, orang yang telah menculik adik anda. Menurut kerabatnya, Jeco tewas beberapa minggu setelah penculikan adik Anda dalam kecelakaan. Kecelakaan itu menewaskan seluruh penumpang termasuk Jeco dan 2 anak buah nya, dan menurut berita yang saya cari dari media pada masa itu, ada seorang anak perempuan berusia lima tahun yang ikut dalam kecelakaan tersebut, tetapi tidak ada yang menceritakan bagaimana nasib anak perempuan itu, bahkan kebanyakan orang menilai anak perempuan itu ikut meningg...," Belum selesai Roy melanjutkan kalimatnya, sebuah pukulan keras mendarat di pipinya, hingga terasa panas dan meninggalkan bercak darah di sana.
"Jangan pernah katakan bahwa adik kesayangan ku telah meninggal, karena sekali lagi kau mengatakan nya, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh mu!" Ancam Albert sambil menarik kerah baju Roy.
__ADS_1
"Ba..baik, Tuan. Maafkan kecerobohan saya!" Jawab Roy sambil membungkuk meminta maaf.
"Siapkan keperluan ku, aku akan tinggal lebih lama di Negara ini sampai dengan urusanku selesai!" Titah Albert yang langsung saja di sanggupi oleh Roy, "Baik, Tuan. Saya permisi!"
***
Setelah beberapa minggu melewati hari yang cukup tegang, pagi ini Kakek Mahendra kembali menghabiskan sarapan bersama kedua cucu nya dalam suasana kembali tenang. Melodi dan Hito hampir saja melupakan permintaan Kakek Mahendra, karena memang Mahendra sama sekali tak pernah membahas itu.
Jauh dari harapan Hito dan Melodi, ternyata Kakek Mahendra malah menggunakan waktu beberapa minggu itu untuk mempersiapkan pernikahan mereka berdua.
"Hito, siang ini pergilah menemui Melo di rumah sakit, Paman Leo akan menemui kalian disana untuk menunjukkan sesuatu!" Ujar Mahendra.
Hito dan Melodi saling melempar pandangan, kedua nya tidak mengetahui untuk tujuan apa Kakek Mahendra meminta asistennya menemui mereka.
Melodi meminta Hito tak banyak protes di hadapan Kakek Mahendra dan segera mengiyakan ucapannya.
"Baik, Kakek, aku akan kesana." Sahut Hito.
***
"Gadis kecil, rupa nya kau sudah bangun. Apa kau tahu, Kakak dokter cantik di sebelah mu itu tak henti-hentinya menghawatirkan keadaan mu?" Ujar Albert sesaat setelah menghampiri keduanya.
Gadis kecil itu tak bereaksi karena ia merasa Albert adalah orang asing yang yang tidak dikenalnya.
"Albert, biarkan dia beristirahat! Apa kau ingin mengobrol di ruangan ku?" Melodi mengajak Albert meninggalkan gadis kecil dan pergi ke ruangannya.
Diperjalanan, Melodi memberitahukan kepada Albert bahwa ternyata anak kecil itu memiliki keluarga yang pasti saat ini tengah mencari nya.
"Nama nya Andini, dia sungguh pintar, dengan usia nya saat ini, ia bisa mengingat namanya, nama kedua orang tua beserta alamat rumah nya. Tidak seperti a...., ah sudahlah!" Melodi hampir menceritakan masa lalunya yang hampir sama dengan gadis kecil itu, bedanya ia sama sekali lupa ingatan dan tak bisa mengingat siapapun di masa lalu nya.
__ADS_1
"Benarkah? lalu apa keluarganya sudah di beri tahu?" Tanya Albert antusias.
"Heem, pihak rumah sakit segera menghubungi kepolisian, dan ternyata Andini memang terdaftar dalam pencarian anak hilang. Mungkin orang tua nya akan segera datang dan menemui Andini disini." Jelas Melodi.
"Syukurlah, keluarga Andini sangat beruntung. Pasti menyenangkan bisa berkumpul dengan keluarganya kembali." Ujar Albert sambil menyesali nasib adik kandungnya yang tak seberuntung Andini.
.
.
.
.
.
.
Hito dan Leo sudah berada di ruangan Melodi sejak lima menit yang lalu, ketika pintu ruangan itu terbuka Hito begitu antusias dan hendak protes karena kedatangan Melodi yang terlambat. Hito cukup terkejut sekaligus kesal ketika mengetahui Melodi tak datang sendiri melainkan bersama Albert.
"Kau? sedang apa kau disini? kenapa belum kembali ke negara asal mu?" Tanya kesal Hito kepada Albert.
"Kakak, sudahlah! Paman Leo, maafkan jika aku terlambat." Melodi menatap tajam kearah Hito agar dirinya tak memulai pertengkaran bersama Albert.
"Albert, aku melupakan siang ini aku ada janji bersama Kakak dan Paman Leo untuk suatu urusan penting. Bisa kah kau kembali di lain waktu?" Melodi meminta Albert meninggalkan mereka secara halus.
Albert dapat mengerti karena melihat bukan hanya ada Hito tetapi ada seorang pria yang sepertinya masih anggota keluarga mereka kemudian pamit meninggalkan mereka bertiga.
"Baiklah, sesuai ucapan mu tadi, aku pasti akan kembali menemui mu di lain waktu, permisi!" Albert berpamitan kepada ketiga orang yang yang berada dalam ruangan itu, meskipun salah satu nya sama sekali tak ingin menatapnya.
__ADS_1
*Bersambung...