Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Jebakan


__ADS_3

Dua tahun telah berlalu setelah kembalinya Melodi, dirinya saat ini sudah bekerja dan mengelola Rumah Sakit milik Kakek Mahendra. Di tahun pertama, Melodi mengambil pendidikan untuk menjadi dokter spesialis. Meskipun kedudukannya sebagai seorang Direktur Utama di rumah sakit itu, akan tetapi Melodi memutuskan untuk tetap terjun menangani pasien yang membutuhkan pertolongannya. Melodi menjadi sosok dokter yang ahli dan juga ramah. Semua keputusan strategis yang di ambil nya sebagai Direktur Utama, selalu membawa kemajuan untuk Rumah Sakit tersebut, tak heran saat ini Rumah sakit yang di kelola Melodi menjadi Rumah Sakit terbaik di beberapa Negara tetangga.


Melodi baru saja tiba di rumah sakit, ia melihat beberapa orang petugas rumah sakit membawa seorang anak perempuan berusia lima tahun yang baru saja mengalami kecelakaan. Mata anak itu dan Melodi bertemu ketika brankar yang membawanya melewati Melodi yang sedang berdiri memperhatikan, para petugas berhenti sejenak untuk memberi hormat kepada Melodi, tetapi yang dilakukan Melodi selanjutnya membuat terkejut para petugas rumah sakit itu, Melodi masuk diantara para barisan petugas dan ikut membawa anak itu keruang tindakan.


"Siapkan segala sesuatu nya, anak ini harus segera di operasi dan aku sendiri yang akan menanganinya!" Seru Melodi kepada dokter yang bertugas di Unit Gawat Darurat.


"Baik Direktur." Sahut dokter itu.


Melodi ikut mendorong brangkar dan berlari bersama yang lainnya menuju ruang operasi.


Dalam perjalanan, anak itu tiba-tiba menggenggam tangan Melodi, matanya penuh dengan permohonan kepada Melodi, mungkin saja, permohonan agar Melodi berusaha menyelamatkan nyawanya.


Aku harus menyelamatkan nyawanya. Anak ini tidak boleh mati!


*****


Akhir-akhir ini Hito sering sekali mengacuhkan Feli yang masih berusaha keras menaklukan sepenuhnya hati kekasihnya itu. Feli selalu merajuk minta di temani oleh Hito, hal itu malah membuat Hito semakin muak. Feli yang biasanya menjadikan sikap Ayahnya sebagai senjata untuk dikasihani Hito, akhir-akhir ini sepertinya alasan itu sama sekali tidak membuat Hito merubah sikapnya seperti biasa. Feli memutar otaknya, ia tidak boleh kehilangan Hito, dan bagaimanapun Hito harus menjadi miliknya seutuhnya.


"Sepertinya tak ada pilihan lain, aku harus membuat Hito menikahiku." Gumam Feli.


Feli menghubungi Hito yang saat ini masih berada di kantornya, Feli membuat janji bertemu dengan Hito dengan alasan ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Sebetulnya Feli memang hendak membahas soal pernikahan dengan Hito, akan tetapi ia tidak mengatakannya terus terang di telepon.Kali ini Hito menerima ajakannya untuk makan malam setelah jam kantor selesai.


Feli sudah memesan ruang privat untuk mereka menghabiskan makan malam bersama, dirinya saat ini tengah menunggu Hito diruangan itu.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Hito mengerutkan dahi ketika melihat ruangan tempat mereka akan menghabiskan makan malam begitu privat dan terhubung dengan sebuah kamar hotel.


"Apa kau tidak salah memesan tempat?" Tanya Hito kepada Feli.


Feli tersenyum canggung, kemudian dirinya menjawab, "Eh..kau benar. Aku salah memesannya, aku pikir ketika mereka menawarkan ruang privat itu seperti ruangan yang tetutup dan hanya ada satu buah meja di dalamnya, tetapi ternyata mereka memberikan ruangn ini. Apa kau ingin kita memesan tempat lain?" Tanya Feli kemudian.


"Tidak, tidak perlu memesan ruangan lain. Lagi pula kita bisa makan malam di tempat ini" Sahut Hito.


Feli tersenyum lebar, kemudian ia menyodorkan minuman untuk Hito. Hito mencium aroma minuman yang merupakan minuman keras itu, kemudian menyimpannya kembali di atas meja. "Aku tidak minum minuman ini lagi." Ujar Hito.


"Ayolah sayang, lagi pula ini bukan di kelab, aku berjanji kau tidak akan sampai mabuk." Bujuk Feli.


"Bawa kekasihku ke tempat tidur! kalian harus hati-hati dan jangan sampai membangunkan nya!" Seru Feli kepada dua orang suruhannya.


Hito dibaringkan di tempat tidur sebuah kamar yang terhubung dengan tempat makan privat yang di pesan oleh Feli.


"Setelah malam ini, kau akan seutuhnya menjadi milikku." Feli mengecup pipi Hito, kemudian melepaskan seluruh pakaian Hito dan pakaiannya dan membungkusnya dalam selimut yang sama.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Hito memijat kepalanya yang terasa pusing, suara isak tangis menambah dirinya harus memaksakan diri untuk membuka matanya pagi itu. Pandangan Hito masih samar, pertama kali yang ia lihat adalah pemandangan langit-langit kamar yang berbeda dari biasanya, "Dimana aku?" Gumam Hito.


Hito menolehkan kepalanya kearah suara isakan perempuan yang sejak tadi ia dengar, dilihatnya punggung polos tanpa pakaian yang di tutupi selimut hingga kebagian dada gadis itu, Hito mengenali bentuk rambut gadis di sampingnya kemudian ia berkata lirih, "Feli? apa itu kau?" Tanya Hito.


Feli beranjak duduk dan masih mempertahankan selimut yang dipakainya hingga menutupi dadanya, "Kau..su-dah bangun?" Suara Feli sedikit parau, kemudian dirinya menangis semakin kencang, membuat Hito mengerutkan dahi dan kembali memijat kepalanya yang bertambah sakit.


Hito mendudukkan tubuh nya, ia sangat terkejut ketika melihat penampilannya tidak jauh berbeda dengan Feli, tubuh Hito di tutupi selimut yang sama dan ketika ia melihat tubuhnya di balik selimut itu sama sekali tidak berpakaian, Hito melebarkan matanya, ia mencoba mengingat semua kejadian sebelum dirinya berada satu ranjang bersama Feli, tetapi semakin berusaha ia mengingatnya, kepalanya semakin sakit dan hampir membuat Hito ingin berteriak meronta kesakitan.


"Berhentilah menangis Feli! Katakan kepadaku, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" Hito mulai habis kesabaran nya, kemudian bertanya dengan suara keras kepada Feli.


"Berhenti membentakku! Apa kau sungguh tidak ingat apapun? Kau mabuk semalam, dan kau merayuku untuk menyerahkan kehormatan ku dan berjanji akan menikahiku, Hito!" Jawab Feli histeris.


Hito tersontak kaget. Ia sama sekali tidak mengingat semua yang di tuduhkan Feli kepadanya.


Tapi, mana mungkin Feli berbohong untuk masalah seintim ini?


"Arghh...." Hito berteriak geram, jika benar apa yang dikatakan Feli, bagaimana dia bisa melakukan semua kebodohan itu.


Setelah beberapa saat, Hito mulai mendapatkan ketenangannya, ia mencoba menenangkan Feli yang tak berhenti menangis.


"Feli, sudahlah. Maafkan aku karena telah membentak mu. Aku hanya bingung dengan apa yang terjadi. Berhentilah menangis!" Ujar Hito.

__ADS_1


Feli tersenyum licik dibelakang Hito, "Baguslah, sepertinya Hito mempercayai semua sandiwara ku." Gumam Feli dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2