
Sudah sekitar setengah jam Hito menunggu Feli di taman kota. Tadi malam Hito menghubungi Feli untuk membicarakan rencananya sesuai dengan arahan Rey.
"Kenapa Feli belum juga datang? biasanya dia akan selalu bersemangat dan datang lebih awal setiap aku mengajaknya bertemu?" Gumam Hito setelah melihat jam di tangannya.
Hito meraih ponsel di saku celananya, ia berdecak kesal ketika baru menyadari ponselnya dalam keadaan mati. Hito pergi kedalam mobil untuk mengisi baterai ponselnya menggunakan alat charger yang terdapat di dalam mobil.
Sesaat ponselnya berhasil menyala, ada beberapa pesan masuk dan salah satunya berasal dari nomor ponsel milik Feli.
Hito mengikuti saran Feli lewat pesannya untuk menunggunya sebentar lagi karena Hito mempercayai alasan Feli yang mengatakan dirinya saat ini tengah memeriksakan diri di rumah sakit bersama Leo.
Setelah setengah jam berikutnya Hito menunggu, Hito mulai merasakan jenuh dan sedikit lelah karena ia datang ke taman kota setelah menghabiskan waktu seharian untuk bekerja di perusahaannya tadi.
Hito memutuskan untuk menghubungi Feli, tetapi suara yang terdengar ketika teleponnya terhubung adalah suara Leo.
"Paman, apa Paman masih berada di rumah sakit?" Tanya Hito dalam sambungan telepon.
Leo mengerutkan dahi dan seketika berpikir Hito bertanya demikian karena Feli telah berbohong kepada Hito untuk mengulur waktu pertemuan mereka.
"Tuan Muda, maafkan atas keteledoran putri ku. Sepertinya Feli lupa memberi kabar jika ia tak jadi menemui Anda hari ini, saat ini Feli sangat kelelahan dan tengah tertidur di kamarnya." Leo terpaksa berbohong untuk membuat Hito berhenti menunggu Feli, "Oya Tuan Muda, Bisakah Anda kembali kerumah Anda? Paman sedang bersiap untuk kesana juga untuk memastikan persiapan terakhir pernikahan Anda dan Nona muda." Leo mengingatkan kembali tentang pernikahan yang akan berlangsung esok lusa dan akan lebih baik jika Hito lebih memprioritaskan pikirannya untuk pernikahan itu.
"Baik Paman, terimakasih karena telah menjawab panggilan ku." Jawab Hito.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Rey begitu antusias menyambut Hito yang baru saja pulang, "Hey, bagaimana pertemuan mu dengan Feli? apa dia dapat menerima kenyataan dan bersedia menunggu mu selama enam bulan?" Tanya Rey sesaat tiba di dekat Hito.
Hito menggelengkan kepalanya lesu, membuat Rey semakin penasaran maksud dari gelengan kepala Hito.
"Tidak apa? jadi dia tetap akan memaksa mu membatalkan pernikahan lalu kemudian harus segera menikahinya?" Rey mempertegas pertanyaan nya.
Hito menjitak kepala Rey, "Sudahlah bodoh, apa kau tidak melihat aku sangat kelelahan? Berhentilah mengintrogasi ku seperti itu!" Hito mendengus kesal karena sikap Rey.
Rey tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah Rey perhatikan, Hito memang tampak sangat kelelahan. Mungkin semalam Hito tidak cukup beristirahat karena memikirkan keputusan nya hari ini, di tambah lagi urusan pekerjaan yang pasti menguras konsentrasi nya hari ini.
"Baiklah, aku akan melepaskan mu dan membiarkan mu berisitirahat terlebih dahulu. Aku akan menagih cerita mu setelah kita selesai makan malam nanti." Rey membiarkan Hito pergi ke kamarnya.
"Ya, dia di kamarnya.Melodi tidak pergi bekerja hari ini, aku mengantarkan nya untuk mencoba gaun pernikahan yang akan ia kenakan esok lusa sesuai perintah Kakek Mahendra. Hari ini adalah hari terakhir kau bekerja, karena besok Kakek tidak mengizinkan salah satu di antara kalian untuk keluar rumah." Jelas Rey.
Hito tak ingin menanggapi lebih jauh tentang Melodi dan gaun pernikahan nya, Hito tersenyum tipis, "Tak ku sangka seorang CEO muda, kaya dan sukses seperti mu ternyata sangat berbakat dan cocok menjadi seorang asisten Kakek." Hito memberi ejekan kepada Rey.
Rey hendak menjawab ejekan Hito, tetapi Hito terlebih dahulu melambaikan tangannya dan memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan menyegarkan tubuhnya dengan berendam air hangat.
***
Setelah kegiatan makan malam, Hito lebih memilih menemui Leo dibandingkan dengan menerima ajakan Rey yang sejak tadi menunggu ia bercerita tentang pertemuan nya dengan Feli.
"Paman, bisakah kita berbicara empat mata?" Ajak Hito kepada Leo.
__ADS_1
Leo menerima ajakan Hito dan mereka memilih untuk berbincang di taman rumah.
"Paman, bagaimana dengan keadaan Feli?" Hito memulai pembicaraan dengan menanyakan keadaan Feli terlebih dahulu.
Leo menghela nafas pendek ketika ia sendiri mempertanyakan bagaimana keadaan Feli saat ini dalam hati nya. Leo memutuskan untuk tidak akan menceritakan tentang kedatangan Albert yang telah membawa Feli bersamanya dan lebih memilih untuk berbohong, "Feli baik-baik saja, Tuan Muda. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Baru saja ia menghubungiku dan memberitahukan saat ini Feli sedang dalam perjalanan ke luar kota untuk beristirahat dan memulihkan diri disana." Jawab Leo.
Hito mengerutkan dahi, ketika melihat ekspresi Leo yang biasa saja ketika bercerita seperti kehamilan Feli bukanlah sesuatu yang penting yang harus ia urus.
"Paman, maafkan aku untuk semua yang telah terjadi, aku bukannya ingin lari dari tanggung jawab, tetapi seperti yang paman ketahui,...." Hito tak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Leo terlebih dahulu menyela, "Apa yang membuat mu harus minta maaf dan perlu bertanggung jawab, Tuan Muda? Bukankah kau yang mengatakan sendiri bahwa kau tak yakin anak yang dikandung Feli adalah anak mu?" Leo mengingatkan kembali pernyataan Hito sebelumnya yang sempat melukai hati Leo, tetapi setelah mengetahui kebenarannya dari Albert, saat ini Leo mengatakan nya dengan tulus.
Hito ingin meyakinkan Leo kembali, tetapi Leo tak memberinya kesempatan dan sudah bangkit dari duduknya dan hendak mengakhiri percakapan mereka.
Hito ikut bangkit dari duduknya, Leo menepuk pundak Hito dan berkata, "Saat ini, Tuan Muda hanya perlu memikirkan pernikahan. Berhentilah memikirkan Feli, karena itu akan lebih baik untuk semua orang!" Ujar Leo memberikan saran untuk Hito.
Hito merenungkan perkataan Leo yang saat ini sudah meninggalkan nya, "Jika saja semuanya semudah yang Paman katakan, mungkin aku tidak akan merasakan perasaan bersalah seperti ini." Batin Hito yang masih belum bisa tenang karena masalah Feli masih mengganggu pikirannya. Leo sudah Hito anggap seperti orang tuanya sendiri, karena selama ini, selain Kakek Mahendra, Leo adalah satu-satunya orang yang selalu mendukung nya. Apa yang terjadi dengan Feli membuat Hito merasa telah memberikan masalah besar dan menyakiti perasaan Leo, terlebih lagi kadaan Feli yang selama ini kurang perhatian dari Leo. Hito tidak bisa melupakan alasannya menjadikan Feli kekasih selama ini hanya untuk menebus rasa bersalah nya karena perhatian Leo yang seharusnya Feli dapatkan lebih banyak tercurah untuk nya.
Hito mengusap kasar wajahnya, hingga suara seseorang yang baru saja tiba mengagetkan nya.
*Bersambung...
Hallo semua..
Tak terasa cerita "Terjerat Cinta Segitiga Kakak" telah memasuki episode ke 51.
Mohon maaf karena selama rilis Novel ini banyak sekali keterlambatan update nya. Mohon di maklumi karena selain menulis masih ada kegiatan lain Author yang cukup menguras waktu tenaga dan pikiran.
Perlu kalian ketahui, semangat Author untuk menulis bertambah banyak ketika melihat vote dan komentar-komentar positif yang kalian berikan untuk Novel ini. Author akan berusaha maksimal untuk segera menyelesaikan cerita ini semampu yang Author bisa.
Untuk itu, jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tanda jempol dan berkomentar yang baik, kemudian berikan juga vote terbaik kalian dalam bentuk koin maupun poin.
__ADS_1
Untuk kalian yang belum membaca Menikahi Sopir Kaya, Author sarankan untuk membaca karya pertama Author itu. Karena Alhamdulillah respon yang Author dapatkan dari pembaca Menikahi Sopir Kaya cukup mengesankan. Tetap setia dan dukungan selalu karya-karya ku ya.. terimakasih 🤗🤗