Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Dilema Leo


__ADS_3

Dalam map berkas itu, Albert juga mendapati sebuah plastik kecil transparan yang berisi sehelai rambut yang sepertinya rambut Melodi. Roy berhasil mendapatkan nya dari seorang petugas kebersihan yang biasa membersihkan ruangan Melodi. Albert memahami maksud Roy memberikan rambut Melodi adalah untuk melakukan tes DNA yang akan menunjukkan kebenaran tentang hubungan Albert dan Melodi.


Entah apa yang harus Albert ungkapkan untuk menggambarkan perasaan nya saat ini, Albert merasa bahagia karena jejak adiknya yang selama ini ia cari telah di temukan, tetapi disisi lain, Albert sangat terpukul jika kenyataan nya, satu-satunya wanita yang ia cintai dan ingin dinikahinya, ternyata tidak akan mungkin bisa ia miliki.


Setelah itu, Albert memutuskan untuk melakukan tes DNA terlebih dahulu untuk memastikan semuanya. Dihati kecilnya, Albert berharap hasil DNA itu menyatakan ia dan Melodi tidak memiliki hubungan darah, dan Albert akan terus mencari keberadaan adiknya yang hilang, tetapi tentu saja itu adalah satu kemungkinan dari dua kemungkinan yang ada, sehingga Albert tetap harus menyiapkan hati nya untuk menerima apapun hasilnya nanti.


.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya, Albert datang ke rumah sakit milik Melodi dengan membawa sampel rambut yang akan ia gunakan untuk tes DNA. Seperti biasa, Albert terlebih dahulu menemui Melodi diruangnnya.


"Albert? apa yang kau lakukan di rumah sakit sepagi ini? apa kau sedang tidak enak badan?" Tanya Melodi ketika menerima kedatangan Albert.


Albert tertawa kecil kemudian menjawab, "Aku dalam keadaan sehat dokter Melodi Cahaya Mahendra, dan apa dokter lupa bahwa aku juga seorang dokter yang tak akan membutuhkan perawatan rumah sakit ketika aku masih bisa berjalan seperti ini?"


Melodi menanggapi dengan senyum kecil, "Oh tidak, bagaimana bisa aku telah melupakan seorang dokter kelas dunia seperti mu? maafkan aku, jadi apa yang kau butuhkan, Dokter?" Tanya Melodi kemudian.


Albert terkekeh, kemudian mengeluarkan palstik kecil yang berisi rambut itu, "Aku ingin melakukan tes DNA dengan pemilik rambut ini, bisakah kau menolongku?"


Melodi mengerutkan dahi, "Rambut siapa ini? Ah...Ya Tuhan, apa ini memungkinkan rambut adik mu yang hilang?" Melodi baru mengingat nya kemudian bertanya kepada Albert.

__ADS_1


Albert menganggukkan kepalanya, "Kau benar, rambut ini milik seseorang yang kemungkinan adalah adik ku, dan aku berharap hasilnya menunjukkan negatif" Jawab Albert dengan pandangan penuh harap kearah Melodi.


Melodi merasa heran, kenapa Albert yang selama ini mati-matian mencari adik kandungnya yang hilang dan malah memiliki harapan sebaliknya ketika ia memutuskan untuk melakukan tes DNA dengan benda yang ia bawa.


Melodi tak ingin bertanya lebih banyak, ia meminta benda itu dari Albert, kemudian menyiapkan surat perintah untuk diberikan kepada dokter bawahannya.


"Oya, disini harus di tulis nama pemilik rambut ini, lalu siapa nama pemiliknya?" Tanya Melodi.


"Caren, tulis saja nama itu, karena sesuai dengan nama adik ku." Jawab Albert.


Melodi mengangguk kemudian menulis nama Caren dalam lembar yang tengah ia isi.


Albert menatap lembut Melodi yang tengah menulis, mata Albert menangkap kalung yang tengah dikenakan oleh Melodi.


"Semoga kalung itu kau kenakan karena kau berjodoh dengan ku, bukan karena kau adalah adik kandung ku " Gumam Albert dalam hati.


***


Disepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, tak ada percakapan yang mereka lakukan. Feli merasa heran, kenapa sampai saat ini Leo sama sekali tidak memarahinya, padahal tidak mungkin jika Leo belum mengetahui saat ini dirinya tengah mengandung.


Feli masih merasa sedikit pusing dan memijat kepalanya, tak seperti biasanya Leo menunjukkan kekhawatiran nya kepada Feli.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Leo sambil berusaha memapah Feli.


Feli menggeleng, "Tidak, hanya sedikit pusing saja." Jawab Feli.


Leo mengantar Feli hingga dikamar nya, membantu Feli bersandar di sandaran tempat tidur dan menutupi bagian bawah tubuh Feli dengan selimut.


Feli merasa sedikit canggung menerima perlakuan Leo yang tak seperti biasanya.

__ADS_1


"Kenapa Ayah bersikap seperti ini? apa ini pertanda baik?" Batin Feli.


"Tidurlah, jangan pikirkan apapun, atau..." Leo ragu melanjutkan kalimatnya, dan Feli hanya mengerutkan dahi menanggapinya.


Suara ponsel Leo berbunyi dan Feli yang dalam posisi bersandar di tempat tidur dapat melihat tulisan nama orang yang saat itu menelpon Leo.


Anehnya, meskipun dalam layar ponsel itu tertulis nama Tuan Besar, Leo tak langsung menjawab panggilan itu seperti biasanya. Leo mengabaikan panggilan masuk di ponselnya dan kembali berbicara kepada Feli, "Jaga anak itu baik-baik. Kita akan bicara nanti." Lanjut Leo kemudian meninggalkan Feli di kamarnya.


Feli mengusap lembut perutnya, kemudian bergumam, "Anak ini? apa Ayah akan menyuruh ku tetap menjaganya dengan baik jika Ayah mengetahui siapa sebenarnya Ayah biologis dari anak yang saat ini ada dalam kandungan ku?" Feli meneteskan air mata, entah karena rasa haru atau rasa sedih karena kenyataannya ia bukan mengandung anak Hito melainkan anak Albert, pria asing yang tak sengaja ia temui dan berakhir seperti saat ini.


.


.


.


.


.


Leo menghubungi Tuan Mahendra setelah keluar dari kamar Feli.


"Tuan Besar, maaf karena saya terlambat menjawab panggilan anda." Sapa Leo.


Tuan Mahendra menjawab, "Aku ingin kau segera menyebar undangan untuk pernikahan kedua cucu ku. Mereka telah setuju untuk menikah, dan itu berarti tak ada lagi yang mengganjal semua rencana ku." Perintah Tuan Mahendra kepada Leo.


Leo mendengar suara Mahendra yang tampak lebih bersemangat lalu menjawab datar, "Baik, Tuan."


Setelah panggilan itu berakhir, ada gejolak amarah di hati Leo sehingga tanpa sadar, Leo membanting ponsel di tangan nya.

__ADS_1


Leo mengepalkan tangannya karena marah mengingat perkataan Tuan Mahendra bahwa Hito telah menerima perjodohan itu. Hal itu dikarenakan, Leo beranggapan bahwa anak dalam kandungan Feli adalah anak dari Hito. Akan tetapi pada akhirnya, Leo berusaha berpikir jernih, tak ada yang bisa merubah keadaan, karena sejak awal, Leo mengetahui akan seperti apa akhir dari nasib putri nya yang malang, yang bahkan tak akan pernah sanggup ia bela ketika berurusan dengan keluarga Mahendra.


*Bersambung....


__ADS_2