Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Mencari informasi


__ADS_3

Sejak beberapa jam yang lalu, Melodi berada di ruangannya dan tampak melakukan pencarian di internet terkait kalung liontin setengah hati yang ia terima dari Kakek Mahendra sebagai satu-satunya barang peninggalan orang tua kandung nya.


Entah apa yang bisa ia dapatkan dengan hanya mencari informasi seperti itu, hal itu ia lakukan dikarenakan Melodi tidak tahu dengan cara apalagi ia harus mencari informasi.


"Dalam situs ini menerangkan, biasanya setiap liontin yang berbentuk setengah hati seperti ini, akan memiliki pasangan. Apa mungkin seseorang memiliki kalung yang sama seperti ku?" Gumam Melodi.


Melodi menghentikan aktifitasnya ketika mendengar suara pintu terbuka. Hito dan Rey tampak masuk beriringan.


"Kak Hito, Kak Rey!" Seru Melodi.


"Melo, kenapa kau tidak menjawab panggilan ku? aku pikir kau sedang berada di ruang operasi?" Hito menggerutu karena beberapa kali ia menghubungi Melodi tetapi tidak mendapat jawaban.


Melodi melihat di sekeliling nya kemudian membuka tas dan laci mejanya untuk mencari dimana letak ponsel miliknya.


"Ah, Kakak, maafkan aku. Hari ini sepertinya aku lupa membawa ponsel." Jawab Melodi.


Hito mengernyitkan dahi, "Kau lupa membawa ponsel, dan kau baru menyadarinya sekarang? lalu sejak tadi apa yang kau lakukan sehingga melupakan sesuatu yang penting itu?" Tanya Hito heran.


Melodi tersenyum canggung sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Tingkah Melodi tersebut membuat Hito merasa gemas dan akhirnya berhenti marah.


"Ayo pulang!" Ajak Hito kemudian.


Melodi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata jam sudah menunjukkan waktu nya ia pulang.


"Ternyata sudah sore, aku sampai lupa waktu karena Kalung itu." Gumam Melodi.


Rey yang berada diantara mereka tak berkata apa-apa, Rey lebih memperhatikan hubungan keduanya yang terlihat unik dimata nya.


"Mereka begitu akrab layaknya Kakak beradik, apa jadinya jika mereka harus menjalani hubungan suami istri?" Batin Rey.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Dirumah kediaman Leo, Feli yang akhir-akhir lebih senang menyendiri tengah menghabiskan makan malam bersama keluarganya. Akhir-akhir ini, Feli kehilangan nafsu makannya, badan nya semakin kurus dan kurang terawat.


Leo memperhatikan tingkah Feli kemudian berkata, "Feli, habiskan makanan mu!" Titah Leo.


Bukannya menghabiskan makanan di piringnya, Feli malah hendak bangkit dari tempat duduknya, "Aku sudah selesai Ayah." Ucap Feli.


"Feli, duduk kembali di kursi mu!" Seru Leo.


Feli hanya memutar kedua bola matanya, ia tahu betul bahwa Ayah nya itu hendak menceramahi nya.


Leo berdecak kesal, "Feli, sudah berapa kali Ayah ingatkan, lupakan Tuan Muda Hito dan jalani hidupmu dengan baik!" Ujar Leo.


Feli tersenyum kecut, "Jalani hidup dengan baik? sejak kapan Ayah peduli dengan kehidupan ku?" Ucap Feli.


Leo menghela nafas panjang, mencoba mendinginkan kepalanya karena kali ini ia berusaha untuk berbicara baik-baik dengan putri nya yang keras kepala itu.


"Feli, Tuan Muda Hito akan menikah dengan Nona Melodi. Kau tidak akan bisa menghentikan itu. Ayah hanya ingin melihat mu bahagia" Ucap Leo.


Feli menarik sebelah bibirnya, "Bahagia? Ayah ingin aku bahagia? jika itu yang Ayah inginkan, maka buatlah Hito menikah degan ku Ayah!" Jawab Feli dengan sedikit nada tinggi.


Leo yang mulai habis kesabarannya, sampai menggebrak meja di depannya, " Kau ini..." Belum sempat Leo melanjutkan kalimatnya, Feli terlebih dahulu berbalik badan dan hendak kembali ke kamarnya, akan tetapi baru beberapa langkah saja, Feli merasakan pusing, dan menyebabkan dirinya jatuh ke lantai.


Leo cukup kaget dan menghampiri Feli, terlebih lagi ketika kemudian Feli tampak pingsan tak sadarkan diri.


"Feli, kau tidak apa-apa nak? bangunlah!" Leo mencoba membuat Feli tersadar, akan tetapi nampaknya Feli benar-benar pingsan, oleh karena itu, Leo segera melarikan Feli ke rumah sakit.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Selama hidupnya, baru kali ini Leo merasakan kakhawatiran kepada putrinya, Leo dan Feli memang lebih sering berdebat akhir-akhir ini, karena kesibukan Leo melayani keluarga Mahendra, Feli menjadi seorang anak yang kurang perhatian, terlebih lagi, hanya Leo lah orang tua Feli satu-satunya setelah Ibu nya meninggal dunia.


Leo menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan Feli. Dokter yang telah mengenal Leo sebagai tangan kanan pemilik Rumah Sakit kemudian memberi hormat sebelum memberitahukan perkembangan kondisi Feli.


"Tuan Leo, saya telah melakukan pemeriksaan kepada putri Anda, dan tampaknya saat ini putri Anda...." Dokter sedikit ragu menyampaikan hasil pemeriksaan, karena mengingat status Feli yang belum menikah.


Leo mengernyitkan dahi, "Kenapa? apa yang salah dengan kondisi putri ku?" Tanya Leo penasaran.


"Maaf Tuan, saya harus menyampaikan ini. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa putri Anda saat ini tengah hamil dua minggu. Memang masih terlalu dini, tapi hasil pemeriksaan keseluruhan menunjukkan putri anda saat ini memang tengah mengandung, Tuan." Jelas dokter.


Leo begitu terkejut, ia sama sekali tak pernah berpikir Feli bisa melakukan hal yang begitu memalukan. Leo tak mampu berkata dihadapan dokter itu, kemudian memerintahkan dokter itu untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


Leo menatap daun pintu ruangan yang didalamnya ada Feli yang tengah berbaring, Leo mengepalkan tangannya, kepalanya seperti terbakar api yang hendak meledak-ledak. Leo memasuki ruangan dan hendak memarahi Feli habis-habisan, akan tetapi yang Leo lihat, saat ini Feli tengah terbaring lemas karena telah mengalami muntah-muntah.


Leo memanggil perawat untuk memeriksa Feli, "Feli, kau tidak apa-apa?" Tanya Leo.


Feli menjawab dengan gelengan kepala. Ia telah mendengar hasil pemeriksaan dokter yang memeriksanya, dan Feli dapat memastikan, kabar tersebut saat ini pasti telah sampai di telinga Leo. Feli merasakan takut, karena ia tahu betul saat ini Leo pasti sangat marah dan hendak meluapkan kekesalannya.


Sebelum yang ia takutkan terjadi, Feli lebih memilih membaringkan tubuhnya dan berpura-pura seperti sama sekali tidak berdaya.


Siasat Feli pun berhasil, Leo saat ini merasakan Iba terhadap Feli sehingga ia bisa menahan seluruh amarahnya.


"Istirahatlah, Ayah akan kembali bekerja. Minta suster yang merawat mu menghubungi Ayah jika kau membutuhkan sesuatu." Ucap Leo.


Feli mengangguk tipis, dalam hatinya Feli merasa heran dengan perubahan sikap Leo. Akan tetapi Feli sangat bersyukur kali ini bisa terlepas dari kemarahan Ayah nya.


Leo meninggalkan Feli, bukan untuk kembali bekerja seperti ucapannya, melainkan Leo hendak pergi ke suatu tempat dimana istri kesayangan nya yang merupakan Ibu Feli disemayamkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2