
Setibanya di rumah, Hito segera menanyakan keberadaan Melodi kepada pelayan yang menyambut kedatangannya.
"Bi, dimana Melodi?" Tanya Hito kepada Bi Irah.
"Nona sedang berada di kamar Tuan Besar, ia mengatakan kepada Bibi, malam ini akan tidur di kamar Tuan Besar dan menjaganya." Jawab Bi Irah.
"Baiklah, aku akan melihat ke kamar Kakek, Terimakasih Bi." Hito meninggalkan Bi Irah menuju kamar Kakek Mahendra.
Hito dengan lembut dan perlahan membuka pintu kamar Kakek Mahendra yang tidak di kunci. Pemandangan yang seketika Hito lihat membuatnya tertegun sejenak. Melodi tengah tertidur di ranjang Kakek Mahendra yang besar, dengan sebuah guling yang menjadi penghalang mereka, mungkin Melodi takut menyakiti Kakek Mahendra ketika ia tidak sadarkan diri dalam tidurnya dan bisa saja menendang Kakek Mahendra.
Hito melangkah dengan sangat perlahan, khawatir jika suara langkahnya akan membangunkan mereka berdua.
Ditatapnya kedua orang yang tengah tertidur itu dengan perasaan sedih dan haru.
Mereka adalah segalanya bagi ku. Tidak ada yang aku sayangi melebihi aku menyayangi mereka berdua dalam hidupku.
Hito meneteskan air mata, merasakan penyesalan yang amat dalam di hatinya, karena akhir-akhir ini ia tidak punya cukup waktu untuk memperhatikan mereka berdua.
Ketika Hito hendak keluar dari kamar, secara tidak sengaja Hito menyenggol bingkai foto yang terletak di meja kecil di kamar itu, Suara bingkai yang jatuh membangunkan Melodi yang tengah tertidur, untung saja Kakek Mahendra yang baru saja mengkonsumsi obat yang menyebabkan kantuk agar cukup berisitirahat tidak ikut terbangun.
"Kakak? sedang apa Kakak disini?" Melodi bertanya dengan suara berbisik, takut membangunkan Kakek Mahendra yang tertidur di sebelahnya.
Hito menempelkan telunjuknya di bibir nya, memberi tanda kepada Melodi untuk tidak bersuara "Sssttt...kemarilah!" Ajak Hito dengan gerakan bibir hampir tak mengeluarkan suara.
Melodi menganggukkan kepala, kemudian bergerak secara perlahan dan hati-hati untuk turun dari ranjang meninggalkan Kakek Mahendra yang tengah tertidur lelap.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
"Apa Kakak sudah makan?" Tanya melodi ketika mereka sudah berada di luar kamar.
Belum sempat Hito mengiyakan pertanyaan Melodi, tiba-tiba Hito bisa mendengar suara perut Melodi yang keroncongan minta di isi, karena sejak sore tadi Melodi sibuk mengurusi Kakek Mahendra sehingga ia melewatkan makan malam nya. Bi Irah berniat membawakan makan malam ke kamar untuk Melodi, akan tetapi ketika Bi Irah melihat situasi kamar Mahendra yang sudah sepi, Bi Irah mengira Melodi sudah tertidur dan tak ingin membangunkannya.
"Kenapa kau bertanya kepada ku? sedangkan kau sendiri kelaparan. Ayo makan ! aku akan menemanimu." Hito menarik pergelangan tangan Melodi dan menyeretnya ke meja makan.
Hito memperhatikan Melodi yang sedang makan dengan lahap, sudah lama mereka tidak melewatkan makan malam bersama dimeja ini, dulu ketika mereka kecil, mereka sering mengendap-endap ke dapur tengah malam ketika ingin makan mie instant, dan memakan nya bersama di meja ini.
Ada gurat senyuman di wajah Hito ketika ia membayangkan saat-saat bersamanya bersama Melodi. Sebelum kehadiran Melodi, Hito hanya seorang anak yang kesepian dan berhati dingin. Akan tetapi setelah Melodi hadir, Hito bisa melewati hari-hari nya seperti anak-anak lain. Bermain, bercanda, bahkan perasaan Hito jauh lebih peka terhadap orang-orang di sekitarnya karena tertular sifat baik dan ramah Melodi.
Melodi berhenti mengunyah ketika menyadari Hito menatap nya sejak tadi, " Kakak, kenapa kau hanya memperhatikan ku makan? memangnya Kakak tidak ingin makan?"
"Eh.. iya, aku lupa mengatakan kalau aku sudah makan tadi." Sahut Hito
.
.
.
.
.
.
"Melo, apa kau jadi kembali besok?" Tanya Hito
"Hemem.." Jawab Melodi menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Bolehkah aku ikut bersama mu? aku bisa mengambil cuti, dan kita akan berangkat bersama." Tiba-tiba Hito berniat hadir di acara kelulusan Melodi.
Mata Melodi nampak berbinar mengetahui niat Hito, akan tetapi seketika ia menepisnya ketika Melodi mengingat kembali kondisi Kakek Mahendra.
"Kakak, aku senang kau bisa hadir, akan tetapi menjaga Kakek jauh lebih penting daripada menghadiri acara kelulusanku. Jika ini bukan acara yang penting untukku, aku pun akan memilih menjaga Kakek saja hingga Kakek pulih, sayang nya aku tidak bisa meninggalkan acara ini, jadi siapa lagi yang bisa aku percayai untuk menjaga Kakek selain dirimu?" Bantah Melodi.
Tiba-tiba Bi Irah yang sedang membereskan piring kotor bekas Melodi makan menyahuti, "Kalau begitu Bibi saja yang merawat Tuan Besar, Nona dan Tuan Muda jadi bisa berangkat bersama ke acara kelulusan itu. Lagi pula Bi Irah tidak tahu bagaimana cara memegang kamera dan membuat video, Bibi rasa Tuan Muda lebih ahli untuk hal itu." Bi Irah memang sudah menganggap kedua anak muda itu seperti anak-anak nya sendiri, karena memang sejak kecil Bi Irah lah yang merawat mereka, dan untungnya Hito dan Melodi pun merasakan kedekatan yang sama terhadap Bi Irah, mereka tidak memperlakukan Bi Irah layaknya pelayanan, akan tetapi seperti keluarga nya sendiri.
Hito dan Melodi saling melempar pandangan, berusaha menyamakan pendapat tentang usulan Bi Irah, kemudian mereka berdua menganggukkan kepala dan tersenyum penuh semangat.
"Bi Irah, terimakasih karena sudah banyak membantu..muah..." Melodi bangkit dan menghadiahkan Bi Irah sebuah ciuman di pipinya, membuat wajah Bi Irah merona karena malu.
"Kakak, aku akan kembali dan tidur di kamar Kakek, aku akan mengatakan tentang rencana kita esok pagi kepada Kakek dan kita akan berangkat sore hari."
"Baiklah, aku juga akan pergi ke kamar dan menyiapkan keperluanku."
Dan kemudian, dua kakak beradik angkat itu berpisah dengan hati yang sama-sama riang, membayangkan untuk pertama kalinya mereka bisa bepergian bersama ke luar negeri. Meskipun tujuan awal mereka menghadiri acara kelulusan Melodi, tentu saja mereka akan menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan berkeliling negara itu.
.
.
.
.
Hito terlebih dahulu membersihkan diri, kemudian ia berniat menghubungi asistennya untuk mengambil alih semua pekerjaan selama beberapa hari ketika ia sedang berada di luar negeri.
Ketika melihat layar ponselnya, yang pertama kali ia lihat adalah pemberitahuan panggilan tak terjawab dari Feli sebanyak tujuh belas kali. Hito tak menghiraukan nya apalagi berniat menghubungi Feli sesuai pesan yang di kirim kan ke ponselnya, Feli meminta Hito menghubunginya ketika ia membaca pesan masuk dari nya. Hito hanya menanggapi pesan itu dengan menaikan kedua bahunya, seolah sudah muak dengan segala sesuatu yang menyangkut Feli. Keinginan Hito saat ini adalah bisa menghabiskan beberapa hari di luar negeri bersama Melodi. Hito pikir akan sangat menyenangkan jika mereka bisa berjalan-jalan atau berkeliling kota yang ada disana. Membayangkan semua itu, Hito menjadi tidak sabar dan ingin segera mempersiapkan semua keperluan nya disana.
Hito, menutup layar pemberitahuan kemudian melanjutkan niatnya untuk menelpon asisten nya di kantor.
Bersambung..
__ADS_1